8 Agu 2018

Obesitas Pada Anak dari Berbagai Sudut Pandang

sumber foto ; tonfeb.com

Orang tua mana yang tidak sayang anak, nyaris semua kemauannya dituruti. Minta junk food dibelikan, pengin minuman bersoda dikabulkan. Akhirnya badan anak melebar, geraknya tidak selincah sebelumnya.

Saya pribadi, suka gemeees melihat anak bertubuh gemuk. Saking gemesnya, pengin nyubit pura-pura, hehehe. Anak bertubuh gemuk, biasanya memang terllihat lucu ya.

Eit’s, anak gemuk jangan sampai keterusan. Rasa sayang orang tua, bukan berarti memanjakan dengan makanan kesukaan. Pasalnya obesitas pada anak, memberi dampak kurang bagus.

Saya saja yang sudah senior – (((senior))) hehehe-, sempat merasakan tidak enaknya obesitas. Kepala kerap pusing, tubuh cepat lelah untuk beraktivitas.
Apalagi bagi anak-anak, semestinya senang bermain dan beraktivitas fisik. Kalau mereka kegemukan, kasihan juga dengan perkembangannya.

Acara “Media Gathering RS Royal Progress” memberi “asupan” ilmu, tentang dampak obesitas pada anak ditinjau dari beberapa aspek.

Pemateri pertama, dr. Lucie Permana Sari, SpA, dokter senior di RS Royal Progress ini mengetengahan tema “Kenali Obesitas Pada Anak.”
sumber ; royalprogress.com

Apa itu obesitas?
Adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan, sehingga berat badan seseorang jauh di atas normal.

Saya pernah membaca, cara hitung sederhana berat badan ideal. Tinggi badan dikurangi berat badan, (dikatakan ideal kalau) hasil pengurangan direntang angka 100 – 110.

Misalnya seorang anak dengan tinggi 130 cm, berat badan ideal antara 20 kg – 30 kg (130- 20 = 110). Apabila melebihi angka dari bobot tersebut, menjadi peringatan over weight.

Beberapa faktor penyebab Obesitas
Faktor lingkungan : Minimnya ruang gerak, seperti taman kota, tanah lapang, atau fasilitas olahraga, menjadi faktor penyebab anak terbatas aktivitas fisik.

Pola Makan dan Perilaku Makan: Nah ini dia yang kerap terjadi, kita orang tua sering tidak tega.
Saat anak merajuk makan di restorant siap saji, orang tua mengalah daripada anak tidak makan. Padahal menu disajikan, asupan kaya karbo plus gorengan, ditambah minuman soft drink.
Kalau sesekali tidak masalah, tapi kalau sering jadi ketagihan.

Faktor Genetik : kok saya setuju, orang tua obesitas berati orang tua belum menerapkan pola makan dan asupan dengan benar. Akibatnya pola makan serupa, akan diterapkan pada anak-anaknya.

ada penelitian, orang tua obesitas menyebabkan 80% anak obesitas, kalau salah satu dari orang tua obesitas menyebabkan 40% anak obesitas,” jelas dr Lucie.

Pepatah lama mengatakan, “orang subur tanda makmur” saya termasuk yang menyangkal. Justru orang gemuk, biasanya menjadi “lahan” aneka penyakit.

Obesitas pada anak (orang tua juga) dapat mengakibatkan, gangguan fungsi saluran pernafasan, sindrom metabolik, gejala asma, pelemakan hati (ngeri saya bayangin yang ini).
Obesitas pada anak juga, penyebab pubertas datang lebih awal, gangguan pertumbuhan tulang dan sendi, serta gangguan dalam interaksi sosial.

Gangguan Sosial Emosi pada anak Obesitas


Saat masih duduk di bangku SD, saya punya teman sekelas berbadan subur. Pada saat tertentu (bahkan sering), teman ini dijadikan bahan ledekan.

Saya yakin maksud teman lain bercanda, tapi tetap saja nampak raut muka sebal. Akibatnya, si teman lebih suka berdiam diri dari pada bergabung dengan teman lain.

Pemaparan narasumber Nadia Rachman, M.Psi, Psikolog, membuka wawasan baru. Bahwa respon emosi pada masa kanak, akan menjadi sesuatu yang berarti.
Anak-anak akan selalu ingat baik negatif atau positif, sesuatu yang dialami hingga dewasa.

Emosi itu bisa positif atau negatif tergantung seseorang menyikapi” jelas Nadia

Saya saja masih ingat, ketika kelas empat SD disatroni dua teman di kelas atas. Kalimat yang diucapkan saat mengancam, kata per-kata masih saya ingat sampai sekarang.

Seiring berjalannya waktu, kami sudah saling memaafkan. Ketemu saat lebaran, kami memaklumi kejadian semasa kanak-kanak dulu, hehehe.

Demikian juga gangguan emosi pada anak obesitas, bisanya mempengaruhi mental dan perilaku anak tersebut.

Sebuah penelitian di UCLA, menunjukkan anak obesitas pada usia 10 – 17 tahun, memiliki resiko dua kali lipat mengembangkan masalah kesehatan fisik, mental dan ketidakmampuan belajar.
Ki-Ka : dr. Lucie Permana Sari, SpA, Nadia Rachman, M.Psi, Psikolog, Dr. dr. Rika Haryono, SpKO

Berikut, tanda-tanda gangguan sosial emosi pada anak. :
- Hubungan keluarga, teman sepermainan, teman sekolah, biasanya ditangapi dengan tidak menyenangkan.
- Segan bergaul atau merasa terasing.
- Suka melarikan diri dari tanggung jawab.
- Kurang percaya diri
- Gugup
- Mengeluh
- Sikap yang introvert
- Mudah Murung
- Mudah merasa tersingung

Sudah menjadi sunatullah, bahwa setiap masalah selalu disediakan jalan keluar. Pun dengan gangguan sosial emosi pada anak obesitas, bisa diatasi dengan beberapa langkah.
- Lebih mendekatkan diri pada anak, bantu anak menjaga pola makannya.
- Beri kesempatan anak mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bakat.
- Beri pujian setiap anak melakukan hal yang baik dan berprestasi.
- Ajak anak mengikuti kegiatan – kegiatan yang melatih kepercayaan dirinya.

-00o00-

Pada awal saya memutuskan diet, selain pola makan ada hal paling ditekankan oleh dokter saat konsultasi. Adalah punya jadwal rutin berolahraga, tujuannya untuk membakar kalori berlebih.

Pada bagian tubuh tertentu (lengan, pinggang dan paha), sebagai tempat aman bagi lemak bersembunyi.

Exercise Tepat untuk Anak Obesitas” oleh Dr. dr. Rika Haryono, SpKO, mengupas cara mengatasi obesitas dari sisi aktivitas fisik.

Berdasarkan klasifikasi, angka obesitas pada anak usai 6 – 9 tahun, berada pada angka 16.5% di tahun 2016.
Mengatasi masalah obesitas, erat kaitannya dengan gerak atau beraktifitas. Sementara dilema terjadi, tubuh anak dengan obesitas lebih terasa berat.

Salah menggerakkan anggota badan, mengakibatkan kaki (berpeluang) berbentuk "O" akibat menopang beban tubuh.
Tidak sembarang gerakan bisa dilakukan, musti ada standart pengaturan aktifitas fisik.

Standart pengaturan, meliputi : frekwensi (misal 3 kali seminggu), Intensitas (stabil), type (menyesuaikan berat tubuh) dan waktu.

“Banyak keterbatasan pada anak obesitas” jelas dr Rika

Selanjutnya, Dokter Rika menganjurkan, sebaiknya anak obesitas diajak bergerak melalui permainan. Hal ini sangat membantu, agar anak tertarik untuk bergerak.

Anak tidak bisa langsung dilepas sendiri, ada beberapa tahapan dijalani sehingga aktivitas fisik menjadi aman. Latihan fisik dengan intensitas tinggi, menyebabkan cidera pada bagian tubuh tertentu.
dr. Pulina Toding M. Gizi, SpGK dan Cgef Ferdy (paling kanan) - dokpri

dr.Pulina Toding M.Gizi, SpGK, menjadi pemateri di sesi akhir, bersama Chef Ferdy yang menyiapkan dua menu khusus diet.

Dikutip dari jurnal pediatric, 1 dari 10 anak di perkotaan terkena obesitas. Hal ini terjadi, karena salah pilih jenis makanan dan salah mengolahnya. Jenis makanan tinggi kalori dan rendah gizi, penyebab terjadinya obesitas.

Chef  Ferdy, sudah dua tahun di RS RoyalProgress, mempersembahkan dua menu khusus untuk sarapan dan makan siang/ makan malam.

Roti gulung  raw good sayur, menu yang cocok untuk sarapan, dengan bahan kentang, wortel, buncis, jamur kancing, telur, keju, bumbu dengan roti tawar sebagai bahan dasar.

Sementara menu steak tempe, pas dipilih untuk makan siang/makan malam, terbuat dari bahan tempe, daging vegetarian, jamur, buncis, wortel, brocoli, bawang , telur.

Satu lembar roti tawar, dengan kalori 120 kalori (kebutuhan anak 130 kal) dicampur sayur dan susu menyesuaikan kebutuhan kalori. Roti dengan cokelat dan susu selai, menyulap roti menjadi tinggi asupan gula.

Pengolahan dengan cara di-oven atau panggang, bisa menjadi cara mengurangi kalori. Pun kita tidak bisa menghilangkan minyak sama sekali, hanya kuantitasnya musti diperhatikan.

Menurut dr Pulina, pemberlakuan diet pada anak obesitas berbeda  dengan diet pada orang dewasa. Bagaimanapun juga, anak tetap membutuhkan asupan untuk tumbuh kembang.

“Orang tua mesti memberi contoh,” jelas dr Pulina.


Keteladanan orang tua penting, mengajak anak gemar makan serat (buah dan sayuran). Mustahil anak mau sayur dan buah, tanpa diberi contoh oleh ayah dan ibunya.
-00o00-
Foto session - dok WA Group

Saya masih ingat, nasehat nutrisionis saat konsultasi diet. Kunci mengurangi lemak berlebih, adalah kalori yang keluar musti lebih banyak daripada kalori yang masuk.

Melakukan Olahraga secara teratur (termasuk aktivitas fisik), perbanyak konsumsi bahan pangan kaya serat (sayur dan buah), rajin minum air putih, membuat metabolisme tubuh jauh lebih baik.
Kurangi konsumsi makanan, yang  diolah dengan minyak (digoreng), kurangi asupan gula dan garam, istirahat yang cukup dan kelola stress, sehingga tubuh lebih sehat.


Penerapan pola makan dan gaya hidup sehat, memang butuh perjuangan. Namun hasilnya, akan dirasakan sendiri oleh pelakunya. – salam sehat-

29 komentar:

  1. Anak memang sesuatu yang mesti di jaga, dirawat, di among supaya sehat jiwa dan dan raganya... Thats it :)

    BalasHapus
  2. Bener nih, Mas. Banyak orang tua yang lebih milih anaknya kegemukan karena katanya lucu. Padahal kan malah berbahaya buat anaknya ya.

    BalasHapus
  3. 2 keponakanku ada yang obesitas, suka kasian liatnya ketika tidur suka engap nafasnya tersenggal-senggal, dan nilai akademiknya juga turun, sering dibuly temannya juga dibilng gendut, jadi kurang PD memang..

    BalasHapus
  4. Dulu anak gemuk itu dianggap lucu ya, tapi sekarang anak yang berat badannya mulai berlebihan perlu dikontrol

    BalasHapus
  5. sharingnya bermanfaat banget nih, alhamdulillah anakku BB nya normal. secara fisik sih keliatan kurus dan meninggi hehehhe

    BalasHapus
  6. Kalau pada anak, faktor keteladanan orang tua ini pengaruhnya besar mas. Jadi yah role model anak mau makan sehat ya orang tua.

    BalasHapus
  7. Baru tahu nih, kalau obesitas juga mempercepat pubertas pada anak

    BalasHapus
  8. hmm obesitas pada anak ternyata perlu juga ya di treatment, karena kadang ortu kadang pengen anak2 gemuk karena lucu hihi

    BalasHapus
  9. PR banget mengatur pola makan dan menu sehat anak. Paling mudah ya roti selai padahal gulanya tinggi ya >,<

    BalasHapus
  10. Suka miris liat anak yang Obesitas. Waktu kecil gemuk dianggap lucu makin besar makin sulit menurunkan yang repot ya anak dan orang tua juga akhirnya. Nice sharing kak

    BalasHapus
  11. Huhu si sulung udah obesitas dikit nih, tp sekarang dia lagi tak sibukin renang sama basket sih. Btw baru tau kalau obesitas bisa mempercepat pubertas.

    BalasHapus
  12. Iya makanya plis deh jgn suka membully anak gendut. Dia pasti ga nyaman juga dgn kondisinya ya kan? makanya perlu kekuatan tekad (tega) utk para ibu utk mengendalikan makan anaknya

    BalasHapus
  13. salah satu tips ku untuk menjaga berat badan anak yaitu dengan selalu menyiapkan makanan dan cemilan homamade aka dimasak sendiri di rumah.

    BalasHapus
  14. Karna memang banyak juga sih orang tua yg belum ngerti. Maksud mereka mungkin sayang dengan "memanjakan" si anak bebas makan junk food, padahal di satu sisi itu malah berdampak buruk juga kan ya buat si anak.

    BalasHapus
  15. Olahraga dan atur makan bisa menanggulangi obesitas yah pak, karena kasihan nanti masa depan anak-anak kalau mereka nggak ditangani masalah obesitas ini.

    BalasHapus
  16. Ngomong-ngomong soal obesitas, aku tuh suka kepikiran sama anakku yang sekarang berat badannya naik terus. Selepas liburan panjang kemarin dan habis di sunat, badannya jadi tambah mekar. Tapi untuknya sekarang sudah mulai beraktifitas sekolah, jadi agak mendingan lah.

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah.. sejak konsisten 1th belakangan ini untuk jalan kaki dan naik transportasi umum tiap berangkat kerja. Berat badan berkurang 8 kilo. Dari 68kg/69kg. Sekarang turun jadi 60kg. Kuncinya banyak gerak emang dan atur pola makan. Ga musti diet ketat kok.

    BalasHapus
  18. padahal nurunin bb gampang banget yah mas, gak perlu diet2 berlebihan, tapi emang dasar manusia pengennya jalur cepat aja... hahahha.. note ah nasehat nutrisionis biar makin sehat

    BalasHapus
  19. Kadang olahraga paling males padahal itu yang lebih mudah menurunkan BB dengan di imbangi makanan yang bergizi yah kakak

    BalasHapus
  20. Anak-anak ini memang perlu sekali dijaga asupannya, karena kalau sudah obesitas kasihan juga mulai mengatur pola makannya karena gak semua anak nyaman dengan situasi itukan. Terima kasih ya mas untuk sharingnya

    BalasHapus
  21. beratnya jadi orangtua apalagi kayak aku yang doyan makan tapi malas olahraga

    BalasHapus
  22. anak chubby memang gemesin tetapi patut diperhatikan juga jangan sampai over weight karena nggak baik buat kesehatan

    BalasHapus
  23. Aduh aku nih obesitas. Tapi memang dua tahun terakhir ini nggak makan nasi, ngurangi karbi dan gula. Intinya memang dukungan orang terdekat (keluarga) penting bagi anak obesitas

    BalasHapus
  24. Bener nih, anak-anak banyak di rumah, kurang gerak, dampaknya jadi ke berat badan, berat naik jadi ga sehat, ga semangat, ga produktif.

    BalasHapus
  25. Mengatur pola makan anak ini kadang susah ya. Banyak anak2 yg sulit untuk makan teratur dan sehat. Jafi ortunya yg kudu telaten dan sabar

    BalasHapus
  26. Aku cuma mau komen soal RS-nya aja. Pelayanannya oke banget, kemarin tunanganku itu DBD dan dirawat di sana pakai BPJS itu enak banget! Pelayanannya cepet dan teratur. Kalau ada acara-acara serupa di RP jadi pengen ikutan.

    BalasHapus
  27. Wah, jadi orangtua kudu pintar-pintar ngatur pola makan anak ya. Noted buat nanti aku juga nih :D

    BalasHapus
  28. Banyak orang tua yg suka dan gemes ihat anak imbul2 yah padahal kayak gt mesti di cek selalu kesehatannya jangan sampai lengah.

    BalasHapus
  29. Obesitas pada anak penting diperhatikan.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA