Sabtu, 28 Maret 2015

Surga yang Paling Dekat [Review Film]



Poster Ada Surga Di Rumahmu (dokpri)
"Wahai Rasulullah siapa yang harus aku hormati" tanya seorang sahabat suatu ketika.  "Ibumu" Jawab  Rasul.
"Kemudian siapa lagi Ya Rasul"tanya sahabat.  "Ibumu" ulang Rasulullah.
"Kemudian siapa lagi wahai Rasul"sahabat bertanya lagi.  "ibumu" jawab Rasulullah lagi.
"Kemudian siapa lagi Rasulullah" sahabat  masih bertanya. "Ayahmu" Jawab Rasulullah
Penggalan percakapan  Rasulullah dengan seorang  sahabat, menjadi penguat keberadaan ibu yang begitu penting. Bahkan  manusia pilihan itu menjawab tiga kali, perihal letak kedudukan seorang ibu,  sebelum yang keempat barulah ayah.
Sutradara Aditya Gumay mengangkat pesan penting ini, dalam sebuah karya bertajuk "Ada Surga Di Rumahmu" (ASDR). Melalui bendera Mizan Production, menjadi kerjasama kedua setelah "Emak Pengin Naik Haji". 
Fenomena yang berlangsung dewasa ini, memang sungguh miris dan memprihatinkan. Kerap terkabar di media massa, anak tega membunuh ibu atau ayahnya karena persoalan sepele. Bahkan ada yang membawa masalah dengan orang tua, ke ranah hukum sampai ibu atau ayahnya di sidang. Jaman yang semakin renta, anak sudah jauh dari kata berbakti. Berangkat dari keprihatinan ini Mizan Production, mempersembahkan alternatif tontonan bagi pecinta bioskop tanah air.
*****
Suasana Conpres (dokpri)

Ramadhan bocah tinggal di sekitar sungai Musi Palembang, setiap sore rajin mengaji di musholla dekat rumah. Memiliki cita cita menjadi artis terkenal, kerap tampil di televisi dan banyak duit. Berasal dari keluarga kebanyakan, sang ayah memiliki warung dan ibu menjahit. Suatu ketika sang ayah melontarkan ide, Ramadhan dimasukkan ke Pesantren. Kebetulan pengasuh pondok adalah sang paman (adik dari ayah), jadi bisa dititipkan secara khusus. Dunia pesantren tak terlalu detil diterjemahkan, namun secara garis besar bisa ditangkap penonton.
Ramadhan mulai tumbuh besar, bersama dua sahabat mejadi pengajar di Pesantren. Sesekali mengujungi rumah, menemui ibu ayah dan gadis tetangga bernama Nayla. Sejak kecil gadis ini ibunya sudah meninggal, menganggap ibu Ramadhan seperti ibunya sendiri. Tak disangka antara ramadhan dan Nayla tumbuh, perasaan ketertarikan layaknya seorang lelaki dan perempuan. Ustad Attar pengasuh pondok pesantren semakin tua, didera penyakit gagal ginjal. Raganya tak begitu kuat, sehingga kalau ada undangan ceramah diwakilkan. Ramadhan yang direkomendasikan kepada pengundang, mengisi ceramah dihadapan majelis pengajian. Kerap mengisi ceramah membawa satu keberuntungan, Ramadhan dihubungi stasiun televisi untuk tampil.
Ramadhan anak yang berbakti, selalu teringiang nasehat ustad Attar. Bahwa Ridho Allah tergantung Ridho orang tua, bahwa surga bisa diraih melalui bakti pada orang tua. Tak perlu lagi jauh jauh mencari surga, sesungguhnya surga terdekat ada di rumah yaitu ibu, ibu, ibu, kemudian ayah.
***
Adegan ASDR (dokpri)

Cerita yang tertuang dalam film ini dikemas ringan, penonton tak perlu mengerutkan kening mengikuti kisahnya. Tak terlalu menonjol adegan kekerasan dan menegangkan, aman membawa serta anak anak karena nihil adegan dewasa. Aksi pemain rata rata cukup bagus, tak ada acting yang terlalu kaku. Husein Idol yang dipasang sebagai bintang, cukup bisa memegang peranan.
Sepanjang scene yang melibatkan perasaan bakti pada ibu, penonton akan dikuras air mata. Penataan musik mampu menghidupkan suasana, menyatu dengan pesan yang hendak disampaikan. Saya pribadi tak lepas dari rasa haru, ketika si Ramadhan menunjukkan bakti pada ibu dan ayahnya.
Sedikit yang saya cermati dan agak janggal, adalah seorang ustad muda mengekspresikan rasa suka pada Nayla. Pergi berdua melewatkan waktu di pinggir sungai Musi, bahkan sempat selfi berdua dengan kamera handphone. Kemudian juga berboncengan dengan vespa berdua, meski nayla bilang bukan mahram. Meski saat conpres sang pemain bilang tidak ada adegan sentuhan, namun tetap terasa kurang pas. Bukankah seorang ustad pasti sudah tahu ilmunya, bahwa apabila ada dua orang berlainan jenis berduaan maka yang ketiga adalah setan.
Selebihnya film ini menjadi tontonan yang menghibur, dan pesa yang disampiakan sukses ke benak penonton. Jadi tak perlu mencari surga di tempat lain, ternyata ada di setiap rumah yaitu ibu. (salam)

Jumat, 27 Maret 2015

Menempuh Onak Duri, Hingga ke Abon Jambrong Unia


Abon Jambrong Unia (dokpri)

Perjalanan kehidupan manusia sangat dinamis, drastis naik pun turun tanpa dinyana. Bisa saja suatu saat berada di atas berjaya, selang beberapa waktu  jatuh tersungkur. Semua skenario dipersembahkan Sang Pencipta, tak ada yang sia sia bagi manusia itu sendiri. 
Kita mahkluk istimewa dianugerahi akal dan budi, mampu dan dimampukan melampui segenap peristiwa kehidupan. Mengambil hikmah dari setiap keadaan, bertransformasi menjadi fitrah diri yaitu sebagai makhluk mulia. 

Rabu, 25 Maret 2015

Jalan ke Khusyu Itu [Resensi Buku]


Cover Buku "Ijinkan Aku Bertutur" (dokpri)
Siapa tak kenal nama Neno Warisman, Penyanyi, Pemain Sinetron dan Bintang Film era 80-an. Kualitas vokalnya tak diragukan, melengking menggapai nada nada tinggi. Semasa jayanya beberapa lagu hits sudah dicetak, sebut saja  lagu berjudul  Matahariku, Kulihat Cinta di Matanya, Kebangkitan, Biar Saja. Bahkan satu lagu duet dikenang hingga sekarang, adalah Nada Kasih yang dibawakan bersama Fariz RM. Tak berhenti  hanya merambah di dunia tarik suara, teater yang menjadi background berkesenian diseriusi. Maka satu judul Sinema Elektronik TVRI, bertitel  Sayekti dan Hanafi sutradara Irwinsyah mematri namanya. Kualitas akting yang mumpuni dan prima, memantaskan nama beliau menjadi pemain papan atas. Sebagai bukti atas keberhasilannya, Piala Vidia menjadi ganjaran atas sukses tokoh mbok gendong yang diperani.
Setelah masa berlari jauh berlalu, lagu Nada Kasih direkam ulang oleh penyanyi muda. Vokal dari penyanyi Rio Febrian berduet dengan Erra farzira, menjadi lagu Nada Kasih versi dan aransemen baru. Pun tak mau tertinggal Sinetron dengan cerita dan judul yang sama, kembali diproduksi memasang bintang muda sebagai pemerannya. Melalui tangan dingin sutradara Hanung Bramantyo, menghadirkan Widi Mulia (Sayekti) dan Agus Kuncoro mengganti peran Wawan Wanisar sebagai Hanafi.
Hingar bingar dunia keartisan perlahan ditinggal, setelah Neno memutuskan berhijab. Dunia dakwah dan parenting ditekuni, membentuk karakter sungguh beda hingga kini. Meski namanya tak lagi moncer di dunia hiburan, namun ketokohannya mulai diakui masyarakat. Dengan sapaan akrab Bunda Neno, lekat image  religius disematkan padanya. Bunda Neno memakai bakat menyanyi dan berakting, untuk memperkuat pesan dalam berdakwah.
******
Dokumen Pribadi

Melengkapi perjalanan kehidupannya, bertepatan pada usia 40 tahun (pada 2004) melakukan gebrakan. Menerbitkan buku hasil karya perdananya, dengan judul "Ijinkan Aku Bertutur". Beliau menulis semacam puisi esai, atau puisi yang sedang bercerita. Tak mengherankan kalau puisinya panjang, kemudian beliau menyebut dengan tuturan. Itulah yang menjadi alasan buku pertama, diberi judul "Ijinkan Aku Bertutur".  Rasa keagamaan kental dalam tuturannya, di akhir puisi disertai ulasan yang melatarbelakangi tercetus ide menulis.
Dokumen Pribadi

Satu permenungan yang cukup dalam (menurut saya) adalah puisi terdapat pada halaman 68. Terpapar judul yang menyentuh, "Jalan Ke Khusyu Itu"
Jalan ke khusyu itu bersimbah peluh
Mau berlambat -lambat melafal
Hingga paham semua makna tersurat dan tersirat
Bukan lambat jika datang dipanggil
Melainkan sabar meniti bacaan dengan tartil

Jalan ke khusyu itu
Cepat bersimbah wudhu sebelum waktu
Ketika adzan kumandang, badan tegak dan hati lapang
Buang semua pekerjaan dan pikiran
Ingatnya hanya satu;
Allah, Tuhan, Pengasih Penyayang

Pada puisi ini jelas sekali rasa religinya, bahwa apapun musti melalui sebuah proses. Keseharian dalam kehidupan yang penuh dinamika, tak ubahnya proses menanti waktu menuju haribaan-NYA. Khusyu bisa diartikan dalam ibadah wadag (sholat, puasa), pun bisa diaplikasikan dalam ranah yang lebih luas. Khusyu berperan sebagai ayah atau suami dengan sebaiknya, baik dalam pencarian nafkah pun menjadi nahkoda keluarga. Khusyu sebagai istri atau ibu dengan selurusnya, baik dalam mendidik anak dan mengabdi pada suami. Hanya dengan kekhusyukan akan menyentuh esensi, akan menjumpa dengan kesejatian fungsi akan keberadaan diri. Pada bagian akhir puisi, tertoreh kalimat indah.
Jalan ke khusyu itu
Tak dapat dibuktikan siapa-siapa
Kecuali nanti, sesudah bertemu sendiri melihat WAJAHNYA
Atas izin-NYA kumpul kembali
Sesudah mengelana dalam alam fana
Dan menanggung rindu terindu rindu aduh aduh nian...
*****
Neno Warisman bukan lagi nama seorang selebritis, beliau pernah mengungkapkan lebih nyaman sebagai hamba Allah. Seolah tak hendak melupakan "habitatnya", sesekali masih tampil bernyanyi dan berperan. Namun lagu atau tokoh yang diemban, diselaraskan dengan dakwah dan keagamaan.
Ilustrasi buku (dokpri)

Total ada 41 tuturan bunda Neno tertorehkan, dengan judul yang membuat penasaran. "Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu", "Aku Berdzikir", "Kasih Ibu di Mangkukku", "Hatiku di Antara Dua Jari- jari di Jemarimu". Sketsa dari satu putra dan dua putri beliau, menjadi pelengkap sekaligus ilustrasi puisi. Sehingga terasa pas dan saling mendukung, dengan isi puisi yang disampaikan.
Kini setelah buku ini, sudah menyusul karya beliau berikutnya. " Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi" dan " Semua Ayah Adalah Bintang ". Semoga ranah kepenulisan bisa menjadi lahan, untuk perjuangan Bunda Neno setelah mengurangi drastis nyanyi dan seni peran.

Selasa, 24 Maret 2015

Bukan Sembarang Cinta [Resensi Novel]



Cover Novel (dokpri)

Judul Novel     : No Ordinary Love (Beri Cinta Sedikit Waktu)
Penulis             : Ita Sembiring
Penerbit           : Jogja Great Publisher
Halaman          : 200 Hal
Cinta menjadi tema abadi tak berpenghabisan, untuk diangkat dalam sebuah karya. Mungkin sudah tak terhitung lagi, berapa banyak novel, lagu, film yang memasang tema cinta. Kreatifitaslah yang akan menentukan, akankah tema cinta menjadi menarik, biasa, atau justru membosankan. Dengan mengangkat cinta dari berbagai sudut padang, niscaya menjadi tampilan yang berbeda.
Remo lelaki muda dan tampan blasteran Prancis, sedang menjalin hubungan dengan Ligaya. Sebegitu dalam cintanya lelaki sabar dan tekun ini, meniti hari dengan perempuan pujaan. Meskipun kenyataan tak mengenakkan dialami, Ligaya belum mampu melupakan Dello Langit. Cinta pertama Ga panggilan sayang Ligaya, pada sutradara film nyentrik yang dikenalnya. Namun petaka dialamai Ligaya yang sedang kasmaran, Dello membut pengakuan yang mengejutkan. Pria berambut gondrong ini ternyata beristri dengan satu anak, akhirnya cinta terpaksa tak dilanjutkan. Alasan klise tak ingin meninggalkan keluarga, tapi kenapa masih main api juga ya.
Ligaya bukan berarti tak mencintai Remo, secara tak sengaja sering membandingkan. Dua lelaki yang berbeda sifat dan pendirian, yang pernah dan sedang mengisi hatinya. Setiap pergi ke suatu tempat atau makan atau sekedar panggilan dari Remo, kebetulan mengingatkan Ga ada Dello. Hingga akhirnya Remo merasa jengah, memilih untuk menyudahi hubungan. Remo yang berperangi tidak temperamen, memutuskan berpisah dengan baik baik. Sebuah selimut bergambar hati dan sebuah CD lagu "selimut Hati" dari group band Dewa, dipersembahkan saat putus cinta dengan Ligaya. Tak seperti cerita sinteron, keduanya berpisah baik baik dan menjadi teman.
Putusnya hubungan Ligaya dan Remo, membuka kesempatan perempuan lain mengisi hati Remo. Satu nama Fey adalah perempuan teman sekantor, sejak lama memendam hasrat dengan Remo. Namun perempuan manis ini cukup pintar, membungkus perasaan sehingga tak terlalu nampak. Terlebih saat lelaki yang ditaksir masih berstatus pacar Ligaya, Fey tetap menahan dirinya sendiri. Hubungan keduanya bak sahabat, sering ngobrol dan berbagi kisah. Remo tak sungkan menggoda Fey dengan sebutan jomblo, termasuk curhat soal kekasihnya si Ligaya. Hingga akhirnya kesempatan terbuka bagi Fey, mengisi hati Remo pasca putus dengan Ligaya. Saat yang dinanti akhirnya tiba, Remo megungkapkan maksud hati pada Fey. Ibarat Pucuk dicinta ulampun tiba, Fey menerima dengan tangan yang terbuka.
Menjalin hubungan dengan Remo tak seindah bayangan, Fey musti menelan kekecewaan sikap Remo. Sementara Ligaya mulai dilandai kecewa, telah mengabaikan Remo dari hatinya. Pada bagian akhir Novel ini pembaca akan mengetahui, keputusan Remo yang berada dipersimpangan dua perempuan.
****
Penulis Bersama Ibu Ita Sembiring (dokpri)

Cerita yang dituangkan Ita Sembiring sang penulis, cukup ringan dan meghibur. Setting Bali yang dipilih menjadi latar, cukup membawa imajinasi pembaca pada keindahan Pulau Dewata. Nama tokoh sangat mewakili generasi masa sekarang. Ligaya, Fey, Punia, Remo, Dello, adalah nama yang sangat enak di dengar. Setiap judul sub bab dibuat unik, memakai nama tempat dan waktu sebagai patokan cerita. Entah di Pantai, Mall, atau lokasi lain, lengkap dengan jam terjadinya. Sejauh saya membaca banyak novel, baru sekali menjumpai cara yang lain ini.
Selain sebagai penulis Ita Sembiring juga sebagi dosen dan public speaking, karakter ini terasa dalam gaya penulisan. Bahasa tulis yang dipakai mengalir cukup enak, pembaca dibuat geli pada bagian tertentu. Tingkah konyol Fey saat hendak meraih hati Remo, diiringi kesebalan pada Ligaya. Meski nyata nyata naksir pada lelaki teman kantor ini, tapi masih jaim tak melupakan adat sebagai orang timur. Saat monolog Fey di dalam hatinya, adalah kalimat kalimat lucu yang membuat pembaca tersenyum.
Bok Signing bu Ita S (dokpri)

Saya peribadi pernah hadir di kelas ibu Ita sembiring, yang begitu cair dan hangat suasananya. Tak jarang ketika bu Ita sedang di depan kelas, memakai kalimat dan gerak tubuh yang luwes. Kami dalam satu kelas tak bisa menahan tawa, saat menyimak penjelasan beliau. Pada novel ini saya menjempai karakter tersebut, sehingga membuat cerita tak membosankan dan terasa lebih hidup.
Cinta memang perlu kesabaran dan ketelatenan, dan tentu butuh sedikit waktu. Itu pesan yang ingin disampaikan penulis, dan memang benar adanya. Novel yang berjudul "No Ordinary Love", bisa menjadi referensi bagi pembaca. Tak harus anak muda saja, bagi kaum dewasa tak ada salahnya "melahap" novel ini. untuk Ibu Ita Sembiring sukses selalu, ditunggu karya selanjutnya. (salam)

Rabu, 11 Maret 2015

Menjadi Ayah Sejati [Resensi Buku]


Buku Semua Ayah Adalah Bintang (dokpri)
Peran ayah bukan peran sembarangan, memikul tanggung jawab utama keluarga. Mencari nafkah demi istri dan anak anaknya, menjadi nahkoda penentu arah kapal keluarga. 
Setiap lelaki sudah semestinya bangga, fitrah kehidupan menyematkan tugas utama. Bahwa menjadi ayah (juga suami), laksana membentangkan jalan mulia. 

Minggu, 08 Maret 2015

Perjalanan Menjadi Orang Tua (Resensi Buku)


Buku "matahari Odi Bersinar Karena Maghfi" (dokpri)

Tak ada orang tua tak menginginkan, memiliki putra putri yang soleh dan solehah. Tumbuh dan berkembang sehat dalam keutuhan, baik fisik maupun mental. Anak  anak yang menempuh jalan tak berkelok, bisa menjadi kebanggaan hati orang tua. Pun kelak ketika ayah dan ibu berusia lanjut, buah hati penuh perhatian dan sepenuh sayang. Melapangkan dada untuk memeluk hangat, dua orang sepuh yang mulai ringkih badannya.
Bayangan ideal setiap orang tua, tak mustahil bisa terwujud pada saatnya kelak. Namun tak ada hasil datang secara ujug ujug, semua musti melalui sebuah proses. Perjalanan orang tua mempersiapkan putra putri, sedini usia menjadi fundamen yang penting. Para orang tua yang ingin membentuk generasi penerus, musti memulai dari dirinya sendiri.
Ketika ruh belum ditiupkan dalam rahim seorang ibu, alangkah eloknya sepasang suami istri membenahi diri. Mengisi dan mempersiapkan diri, dengan keilmuan yang mumpuni. Saat janin masih bersemayam di gua garba, peran penting parenting nyata dimulai. Mengajak anak berkomunikasi, membelai dan mengelus lembut. Bisa menjadi cikal sang anak, merasai curahan kasih sayang ibunya.
Perjalanan menjadi orang tua bagai mendaki bukit, banyak tikungan dan jalanan terjal dilalui. Aneka lika liku lengkap tersaji, memeras rasa dan raga demi perjuangan. Keayahan juga keibuan akan teruji, setelah melampaui onak duri itu. Tanpa melewati perjuangan menguras energi dan air mata, mustahil kekokohan kuda kuda orang tua akan terbentuk.
Buku berjudul "Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi", berisi keseharian penulisnya bersama tiga putra putrinya. Sulung bernama Gifari bersama adik tengah Maghfira, kemudian menyusul bungsunya Raudya (dipanggil Odi). Sang ibunda Neno Warisman, layaknya ibu pada umumnya yang perhatian pada tiga buah hati. Mengajak tiga buah hati memaknai kejadian, agar memiliki value yang bisa dipetik.
*****
Acara Parenting Journey di Ibf (dokpri)

Kisah "Jatuh Cinta" Maghfi pada Nabi Musa, cukup menggetarkan kalbu saya sebagai pembaca. Gadis kecil ini kerap memohon ibunya, memperdengarkan kisah ini berulang ulang. Permintaan yang disampaikan mulut sejatinya atas perintah otak, ajaibnya pengulangan ibarat proses penebalan informasi. Semakin sering informasi (cerita) dikabarkan, semakin menancap di benak si penerima.
Masa Golden Opportunity pada anak terjadi, adalah hingga usia buah hati mencapai tujuh tahun. Para pecinta pendidikkan menganjurkan, ada baiknya waktu dan ruang dilewatkan berdua dengan anak secara bergantian (ayah dan ibu). Hal ini demi membangun hubungan kedekatan dan mengesankan, hal itu harus "diciptakan" agar anak nyaman. Kelak mampu menjadi bekal yang sangat berharga, dalam keserasian hubungan juga bekal mengantar anak menggapai kesuksesan. , Subhanallah !!
Maghfi yang saat itu berusia lima tahun, sedang menatap lembayung senja bersama ibunya. Tak lama kumandang Adzan maghrib bergema "Ibu Wudhu dulu ya, nak..!
Gadis kecil menggeliat memungut boneka yang jatuh, tetap duduk tak bergegas bangkit mengikuti langkah ibunya. Gadis ini justru asyik dengan boneka di tangan, tampak sengaja ia bergeming. Mungkin juga ingin menunjukkan bahwa sedang tidak tertarik, dengan ide shalat yang diajukan ibunya.
Mungkin kejadiaan semacam ini dialami banyak orang tua, saat mengajak anak anaknya menunaikan shalat. Akan tetapi, mungkin belum belum banyak para orang tua, bersedia mengorbankan waktu untuk "sekedar" menanamkan keinginan shalat dengan cara yang bijak. Tindakan yang banyak dilakukan adalah dengan cara instan, marah, pokoknya ikut aturan, atau ancaman.
Pada kisah ini si ibu berangkat mengelus hati, mulai dari tokoh yang dikagumi gadisnya yaitu Nabi Musa. Bagaimana Sang Nabi yang dikagumi menomorsatukan Sang Pencipta, menjadi senjata ibu yang gundah. Sampai bertumbuh keinginan melaksanakan kewajiban shalat, tanpa merasa dipaksa apalagi "diintimidasi".
****
Neno Warisman yang memiliki background ilmu teater, membangun keseharian di rumahnya cukup demokratis. Menghidupkan kisah layaknya panggung drama, penuh naik turun emosi dan berdinamika. Sekecil hikmah yang kadang sepele, tetapi menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Saya cukup salut dengan pola komunikasi ibu dan anak, bisa menjadi teman berdiskusi untuk banyak hal.
Kisah tentang permainan ular tangga yang sederhana, menjadi entry point yang luar biasa. Satu anaknya sering kalah main ular tangga, bahkan ketika hampir mencapai kotak berangka seratus. Ada jebakan maut pada angka 98 terdapat ekor ular, sehingga pemain harus turun ke angka yang lebih rendah. Konon Maghfi sering kecut hati, tak berhasil menghindari dua kotak sebelum akhir. Alhasil sering kalah dan kalah dalam permainan, membuat hatinya sedih bertambah sedih.
Layaknya sebuah pertempuran di medan peperangan, kakak dan ibunya tak rela dengan situasi tak menguntungkan. Bertiga akhirnya membuat kesepakatan, akan melibatkan Allah dalam segala hal. Langkah bidak kecil ular tangga sudah di baris atas, tiba saat giliran Maghfi berjalan. Perlu tiga kotak lagi untuk melangkah, kemenangan akan menyelamatkan perasaan gadis mungil ini. Yang membuat berdebar adalah, satu kotak didepannya ada ekor ular yang memupus harapan. Maka sebelum dadu dikocok ketiganya berdoa khusyu,  agar angka yang keluar sepenuhnya berpihak pada gadis cantik ini.
Detik ke detik berjalan begitu lambat, jarum jam seperti ditarik ujung magnet. Setiap kocokan iramanya melambat, seolah menampilkan gerakan slow motion pada sebuah film. Wajah wajah yang menunggu dengan melongo, perasaanpun campur aduk antara harap harap dan cemas. -KLUTIK- dadu terjatuh ke lantai, wajah penasaran tak sabar melihat bulat kecil di sisi dadu. Ketiga pasang mata melotot tak berkedip, tak mau sedetikpun kehilangan momentum berharga. Sampai akhirnya tampak tiga titik kecil warna hitam, bergelempang di sisi dadu paling atas. Ibu dan dua anak bersorak gembira, memecah belah udara di dalam ruangan. Konon itulah kemenangan, yang menyelamatkan hati Maghfi.
Kunci yang musti digarisbawahi, jangan sungkan melibatkan Allah dalam segala hal. Kini Maghfi sudah berada di bangku kuliah, di sebuah Kampus Negri ternama yang susah sekali masuknya.
*****
Neno Warisman (dokpri)
 
Book Signing (dokpri)

Perjalanan mejadi orang tua adalah perjalanan kesejatian, perlu kesabaran ketekunan yang tak berbatas. "Kalau tak sabar bukan orang tua namanya" ujar Neno.
Buku yang dilabeli Trilogi Opera Keluarga, menjadi buku pertama bisa jadi akan berlanjut pada buku kedua dan ketiga. Sejauh pengetahuan saya sudah tiga kali ganti cover, untuk sub judul "Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi". Kisah yang diangkat sangat wajar, namun disikapi dengan luar biasa. Saya sebagai ayah dengan dua anak, merasa harus belajar banyak menggali ilmu pengasuhan. Sedikit yang saya koreksi dari buku ini, sang ayah dimunculkan sangat minim. Mungkin ada pertimbangan lain yang pembaca tidak tahu, tapi secara keseluruhan buku ini bagus. Menjadi referensi bagi orang tua dengan anak masih kecil, untuk mempersiapkan buah hati beranjak dewasa.
"Saya bukan pakar, dan tidak merasa lebih pandai dari ayah dan bunda" Ujar Neno merendah "Apa yang diterapkan pada anak saya, belum tentu cocok untuk anak lain".
Namun lebih jauh dari sekedar ahli atau tidak, upaya belajar menjadi orang tua yang lebih baik itu point penting. Perjalanan menjadi orang tua tak usai setelah anak mentas, bahkan ketika mereka sudah menikah dan mempersembahkan cucu. Ayah dan ibu tetaplah orang tua, yang akan melapangkan dada. Menerima dengan dua tangan terbuka, meraup setiap duka buah hatinya. (salam)

Daftar Blog Saya