Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2018

Kisah Perjalanan "The Best Contact Center in The World" dalam Buku "Journey to Find Happines in HalloBCA"

Maskot HalloBCA dan buku Journey to Find Happines in HalloBCA -dokpri

Saya pribadi – bisa jadi anda juga-, tidak asing dengan HalloBCA. Namun, perjalanan HalloBCA menjadi the best contact center in the world, pasti tidak semua orang mengetahui. Melalui buku ‘Journey to Find Happines in HalloBCA,’ bisa membantu menjawab rasa penasaran masyarakat awam. Sekaligus pembaca bisa menyerap inspirasi, semangat dan perjuangan tanpa kenal menyerah.

Sungguh saya tercerahkan, bahkan ketika baru membuka bab ‘Pendahuluan.’ Rupanya kunci sukses HalloBCA, terinpirasi dari hidup burung elang. (oo, ini alasan dibalik pemilihan maskot HaloBCA—saya manggut-manggut).

Kamis, 08 Februari 2018

[Review Buku] Mengaplikasikan “Aplikasi Pencari Rejeki” dalam Keseharian



membaca buku "Aplikasi Pencari Rejeki - dokpri
  “Rezeki datang karena kita berusaha mencintai Sang Pemilik Rezeki. Rezeki model ini datang tanpa diduga, berlimpah dan terkadang tidak sesuai logika manusia. Mari berlomba mencapainya” – Jamil Azzaini

Buku berjudul “Aplikasi Pencari Rejeki” ditulis
Wusda Hetsa dan Achi TM, memilih kalimat kekinian yang sedang happening.
Aplikasi, sebagai representasi kehadiran era digital saat ini. Kita manusia modern, pasti tidak asing dengan kata “Aplikasi.”

Nyaris semua urusan hidup kita, dipermudah dengan kehadiran Aplikasi, yang dilahirkan oleh perusahaan start up.
Mulai pesan alat transportasi, pesan antar makanan, jual beli online, pengepakan dan pengiriman barang, antar jemput sekolah, dan lain sebagainya.

Pendek kata, teknologi telah menghadirkan budaya kehidupan baru. Konon,  semua yang semula manual bertransformasi menjadi digital.
 
Lalu apa, hubungan Aplikasi dengan rezeki ?
Rezeki, merupakan hak prerogatif Sang Pemilik Rejeki. Terdapat strategi mendatangkannya, sehingga rejeki yang diterima berkah.

Minggu, 27 Agustus 2017

Memamah Kisah dalam Novel Janadriyah - Sebuah Perjalanan –



Novel Janadriyah , Sebuah Perjalanan -dokumentasi pribadi

Coba bayangkan di benak anda, sebuah keluarga muda yang tengah hidup di negara orang.  

Tinggal di kontrakkan atau flat sederhana, hanya ada perabot minim dimiliki seperti karpet gulung dan kasur tiup.
Hidup jauh dari sanak saudara, kalau ada masalah tak bisa berkesah pada orang terdekat.

Rahmat nama ayah muda, mengajak istri dan anaknya pindah karena bekerja di Riyadh Qatar.

Mai sang istri, sedang mengandung buah hati kedua. Masalah serius tiba-tiba menghampiri, ketika usia kandungan masih delapan bulan.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Sebuah Ajakan Memaafkan dari Novel “Anak Rantau” Karya A. Fuadi



Novel Anak Rantau -dokpri

Bagi kutu buku dan pecinta novel, saya yakin nama A.Fuadi sudah tidak asing lagi. Novel Triloginya yaitu ”Negeri 5 Menara”, “Ranah 3 Warna” dan “Rantau 1 Muara”, berhasil melejitkan namanya sebagai penulis serta masuk rak best seller.
Sabtu siang (5/8’17) bertempat di Gedung Pos Kota Tua Jakarta, Blogger hadir dalam acara soft launching novel terbaru A. Fuadi berjudul Anak Rantau. Suasana dan atmosfir masa lalu di Kota Tua begitu terasa, seolah mengajak saya naik mesin waktu ke masa silam.
Kebetulan saya sendiri seorang perantau, dunia rantau turut membenturkan saya menjadi pejuang setidaknya bagi diri sendiri. Bayangkan saja, dalam perantauan kita musti belajar tentang banyak hal. Mulai mengatasi  masalah keseharian, perlahan-lahan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Ada yang istimewa lho, acara soft launching novel Anak Rantau dihadiri banyak peserta. Ada yang datang dari Malaysia, Karawang, Jogjakarta, Padang, Bogor, Tangerang Selatan dan banyak tempat jauh lainnya.
Begitu tersanjung dengan antusiame peserta, Fuady mengutip sebuah hadist sekaligus kepercayaan anak pesantren, “orang yang berjalan jauh untuk menuntut ilmu akan didoakan Malaikat bahkan ikan di laut.” (cuplikan hadis ini pernah ditulis dalam novel negri 5 menara)
Menurut saya buku ini semakin keren, meskipun baru dijual secara online ternyata sudah ada yang membajak. Artinya buku ini calon best seller dong, terbukti pembajak sudah mengendus gelagat tersebut.
-0o0- 
A. Fuadi dan Miftah Sabri - dokpri
Kisah dalam Novel Rantau sangat kekinian, bisa menjadi representasi dengan kondisi yang terjadi di negara kita.
Sejak Pilpres dan Pilkada yang begitu heboh, menyisakan luka yang tidak kunjung sembuh sampai sekarang. Ada dua pihak yang saling berseberangan, selalu melihat satu peristiwa dari dua sudut pandang.
Kalau luka fisik bisa diobati, kalau luka hati dan luka batin susah diobati,” ujar Fuady.
Tokoh utama dalam novel Anak Rantau bernama Hepi, seorang anak kota yang diajak pulang ke kampung ayahnya untuk diproses menjadi orang baik. Namun kenyataan di kampung si ayah, Hepi menemukan teman baru dan orang orang yang terluka.
Salah satunya adalah kakeknya sendiri, yang dulunya seorang pejuang dan dilukai oleh kebijakan negara sendiri. Pada akhir novel, si kakek menemukan pencerahan bahwa sakit hati hanya menambah luka, obatnya hanya satu adalah memafkan dan lupakan.
Tema merantau bermula dari kampung halaman, yaitu romantisme Fuady akan danau Maninjau, kemudian dibalut tema detektif yaitu kisah datuk dan anak muda terkena narkoba.
Namun pesan kuat novel ini, sangat mendasar adalah mengobati luka untuk menumbuhkan banyak maaf pada masa silam.
Buku setebal 370 halaman ditulis selama 4 tahun, karena proses pengeraman ide dan riset membutuhkan waktu tidak sebentar. Sempat kesulitan mengembangkan cerita, namun setelah riset, wawancara dan permenungan akhirnya ketemu ruh cerita.
Untuk melancarkan proses penulisan, Fuadi menempel mind map di dinding guna membantu garis besar tulisan. Demi munculnya ide, si penulis tinggal beberapa waktu di kampung halaman, ngobrol dengan alim ulama, tokoh adat dan perantau yang sudah kembali ke kampung.
Untuk memperkuat kisah tetang narkoba, tak tanggung tanggung Fuady melakukan riset kepada intel BNN.
Soft Launching Anak Rantau semakin lengkap dan keren, dengan kehadiran Miftah Sabri CEO Selasar. Miftah adalah orang yang membaca Anak Rantau  sejak dalam bentuk draft, sehinga Fuady merasa ada sidik jari Miftah di novel terbarunya.
saat membaca tokoh Hepi, saya seperti membaca diri sendiri” ujar Miftah.
Miftah Sabri adalah seorang piatu, tak lama setelah lahir ke dunia ibunda langsung berpulang. Kemudian dibawa ayahnya ke kampung, sangat bisa merasakan bagaimana suasana hati Hepi.
Miftah kagum dengan penulis yang bisa menulis dengan sederhana, novel Anak Rantau ditulis dengan gaya bahasa sederhana. Berangkat dari point of view seorang Hepi yang anak puber, benar benar keluar dari pengalaman pribadi Fuady yang pernah dituangkan dalam Novel sebelumnya.
Potret yang ada di buku ini, bisa terjadi dan ada di seluruh daerah di Indonesia. Fuady bagaikan sosiolog, memotret sebuah kampung yang mewakili kampung di negeri kita,” tambah Miftah.
Blogger dalam Soft Launching Anak Rantau -dokpri
-0o0-
Dalam commuter line menuju stasiun Manggarai, Novel Anak Rantau saya baca baca sekilas. Dalam kereta merenungkan perjalanan hidup, pada usia yang kepala empat banyak sudah peristiwa dihadapi.
Pada kisah yang menyesakkan berpuluh tahun silam, rasanya sulit sekali menghapus dalam ingatan. Memaafkan memang butuh perjuangan, namun kalau tidak dilakukan hanya menambah luka semakin dalam.
Ternyata, saya masih harus banyak belajar memaafkan pada orang yang pernah melukai diri sendiri.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Think Fresh, Mantra Meyakinkan Diri Dari Danny Oei Wirianto

Danny Oei Wirianto  - dok penyelenggara
Bagi saya pribadi, nama Danny Oei Wirianto sudah tidak begitu asing. Sosok di balik suksesnya komunitas terbesar Kaskus, selain itu beliau berperan dalam pengembangan belasan perusahaan digital. Sebut saja Semut Api Colony, Klix Digital, MediaXasia, MerahPutih Inc., Mindtalk, Bolabob, DailySocial, Infokost.net, KrazyMarket, Kincir, Lintas.me, OneBit, semua nama yang saya sebutkan di bawah bendera Merah Cipta Media Group (MCM). 
Melalui beragam upaya dan kerja keras, apa yang disentuh tangan dingin Danny seolah berubah menjadi emas. Perjalanan untuk menjadi "seseorang" bukan hal yang mudah, ada proses luar biasa dibaliknya. Pun Danny melalui kawah candradimuka, membuatnya bisa sekokoh karang.
"Tahun pertama membangun bisnis, saya tidur di kantor" Ujar Danny saat acara Launching buku Think Fresh di Kinokinuya Plaza Senayan pada kamis 29/9'16.
Apapun Yang Instan Itu Tidak Baik (inspirasi satu - Buku Think Fresh - hal. 152 )
Lihat saja, bahkan mi instan tidak diproses secara instan. Begitu pula kesuksesan, tidak mungkin diraih secara instan. Untuk sukses, seorang akan melalui masa-masa sulit yang penuh kerja keras dan pengorbanan. Banyak yang tidak melihat bahwa keberhasilan dia adalah berkat adanya persiapan, kerja keras, dan belajar dari kegagalan.

Cuplikan satu paragraf dari buku Think Fresh ini, bukan sekedar omong kosong atau sekedar teori belaka. Kalimat ini terasa dalam, karena ditulis/ dikisahkan oleh orang yang mengalaminya sendiri,
Danny menuntut ilmu di Kendall College of Art and Design, Michigan, Amerika Serikat. Untuk membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah, mengambil pekerjaan sampingan sebagai Office Boy.
Bayangkan kawan, menjadi office boy, saya yakin tak semua orang sanggup melakoni. Apalagi bagi seorang berpendidikan, pasti ada pergolakan ego. Mungkin masih ada sebagian orang menganggap, OB jenis pekerjaan dalam kasta tak diperhitungkan. Tapi siapa nyana, Danny Oei Wirianto dengan gagah menjadikan batu pijakan. Kelak lelaki rendah hati ini, bisa membuktikan bahwa seorang office boy pun bisa sukses.
Danny Oei Wirianto  - dok penyelenggara

Hidup itu seperti bola tennis, kata salah seorang rekan kerja saya, David Wayne Ika (inspirasi dua- buku Think Fresh hal. 38 )
Jika dijatuhkan ke sofa yang empuk, bola tennis tidak akan melambung tinggi. Tetapi jika dijatuhkan ke tanah yang keras, dia akan melambung tinggi. Hidup kita pun demikian, akan melambung tinggi atau rendah mengikuti lingkungan yang kita pilih untuk kita tempati. Keberhasilan kita juga tergantung pada kekuatan tekad serta usaha keras kita untuk mencapai hasil yang kita inginkan.


SURROUND YOURSELF WITH POSITIVE PEOPLE

Danny melentingkan dirinya, melalui tempaan hidup satu diantaranya pilihan sebagai office boy. Ketekunan bekerja dan belajar, menjadikannya mahasiswa yang cerdas. Akhirnya banyak teman kampus yang ingin belajar darinya, Danny memutuskan berhenti sebagai office boy. Kemudian Danny mendapat penghasilan lebih, melalui pekerjaan yang baru sebagai pengajar.
Lihatlah hukum bola tenis sedang terjadi, Danny membenturkan diri pada kerasnya hidup. Bola itupun mengikuti sunatullah (hukum alam), melompat tinggi bahkan bisa lebih tinggi lagi.

Inovasi, tidak hanya perlu dilakukan oleh perusahaan untuk menciptakan produk yang bisa menjawab kebutuhan orang banyak. Sebagai individu, kita pun perlu ber- INOVASI. (Inspirasi tiga - buku Think Fresh hal. 57)
Kita perlu sadar bahwa kemampuan untuk ber-INOVASI bukanlah hal yang kita bawa sejak lahir. Kemampuan itu tercipta dari kemauan kita mencari tahu.

Setelah lulus dan kembali ke Indonesia, Danny mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan. Kala itu lamaran masih difotocopy, sehingga kalkulasi biaya  cetak portfolio lumayan besar. Pada tahun 1997, Indonesia baru beradaptasi dengan internet (btw saya masih ingat, dulu menjamur kursus komputer)
Nah, Danny putar otak menyiasati kondisi. Akhirnya menyajikan sesuatu yang beda, yaitu membuat portfolio dalam bentuk softcopy. Sehingga bisa lebih efisien, tak makan banyak budget untuk membuat lamaran.

Launching Buku Think Fresh, di Kinokinuya Plaza Senayan (ki-ka ; Rene H, Danny Oei. W, Giring G -dokpri
Beruntung saya bisa hadir, di acara peluncuran Buku Think Fresh. Saat mengisi buku tamu di meja regristasi, disodori air mineral bertutup orange dengan tempelan Think Fresh. Dominasi warna orange terus berlanjut, mulai dari backdroup, ornamen di atas panggung, sampai pernik- pernik di meja narasumber.
Kehadiran Rene Suhandono sebagai pemandu acara, sungguh membuat acara hidup. Selain Danny Oei Wirianto sebagai penulis, hadir Giring Ganesha penyanyi sekaligus sahabat Danny.
Sepanjang acara launching buku, sejak mulai sampai penutup hanya satu kata dapat saya simpulkan "FRESH".
Seolah tak sabar, saya membaca buku yang sudah ditandatangani sang penulis. Lembar demi lembar saya buka, membaca kata demi kata seperti sebuah rangkuman perjalanan penulisnya.
Think Fresh, menurut saya bukan sekedar kumpulan kalimat motivasi/ mantra. Namun kalimat yang diolah, buah dari sebuah perjuangan panjang yang telah dilalui. Kalimat per kalimat terasa dalam, sungguh itu benar saya rasakan sendiri.
Saya jadi ingat sebuah tausiyah dari ustad ternama, "Apa yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati." itulah perumpamaan, yang bisa saya gambarkan dengan buku bercover orange ini.
Ilustrasi dan warna yang diterapkan setiap halaman lain dari yang lain, sehingga mata ini tidak cepat lelah saat membaca. Bayangkan saja, halaman per halaman dibuat berwarna-warni (tidak monoton). Misalnya ada satu lembar, didesign dasar hitam dengan tulisan putih. Lembar berikutnya, dasar merah dengan tulisan putih, begitu seterusnya. Tulisan tidak hanya dituang dalam halaman biasa, tapi dibingkai dengan bulat, kotak, disertai ilustrasi pendukung yang begitu menarik.
Pemilihan front huruf juga beda-beda, menyesuaikan tema yang sedang dibahas.  Ukuran huruf juga tak seragam, bisa jadi, satu halaman isinya hanya satu kalimat terdiri empat kata. Saya berhasil dibuat penasaran, kira-kira apa yang akan terjadi di halaman berikutnya.
Tak perlu waktu panjang membaca, karena kalimatnya ringkas dan mengena di hati.
Dengan ukuran yang mungil, buku ini praktis dibawa kemana-mana. Readable pokoknya, baik sambil nunggu di halte, naik commuter line sambil berdiri juga oke. 
Buku Think Fresh - dokpri

Saya sengaja mencuplik, hanya tiga kalimat inspirasi pada Buku Think Fresh. Padahal masih banyak kalimat lain, bertebaran di 177 halaman di buku ketjeh ini.
Sungguh, menurut saya buku ini terlihat dipersiapkan dengan sangat teliti dan detil. Sampai-sampai mengajak pembaca berpartisipasi, memberi tanda sticker apabila menemukan 5 kejanggalan. Buku Think Fresh seolah representasi perjalanan hidup Danny Oei, berproses menjadi pribadi yang luar biasa.
Kiprahnya dibidang advertising yang digeluti, telah membawanya meraih beragam penghargaan. Prestasi terbaru diukir dibidang bisnis dan investasi, yaitu Top 3 Best Mentors of Founder Institute in Asia (2013)
Jadi kalau anda ingin merasakan sensasi lain membaca buku, beli deh Think Fresh. Saya menjamin anda merasa beruntung, membeli sekaligus mengoleksinya. 
"Royalti dari buku Think Fresh, akan digunakan untuk mewujudkan mimpi anak negeri"Ujar Danny saat acara (keren kan).
So jangan lama-lama, segera ke toko buku. Jangan sampai kehabisan, ntar nyesel lho ! -salam Think Fresh-

Minggu, 02 Oktober 2016

Kunci Itu Ada Dalam Diri Sendiri #ThinkFresh

Buku Think Fresh, Karya Danny Oei Wiranto -dokpri
Anda harus percaya ! *MaksaNih
Bahwa setiap manusia diciptakan special, makanya setiap pribadi adalah one and only in the world. Tuhan menciptakan setiap manusia, tentu tidak sembarangan atau sekadarnya. Sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga hanya satu versi untuk satu orang.
Jadi deal ya, tak ada yang menyamai diri anda apalagi mengcopy paste.
So, kenapa anda harus minder, galau, rendah diri, merasa paling hina, nista. Padahal pribadi yang seperti anda, dijamin tidak ada lainnya atawa hanya satu-satunya di dunia. Sehingga anda bisa menjamin, tak ada yang bisa menyamai segala tindak tanduk anda.

Rabu, 09 Desember 2015

Panduan Menjadi Onlinepreneur dalam 5W1H Karya Yoris Sebastian



Yoris S bersama Dian Sastro (dokpri)
"Kita berada di era yang terbaik, era di mana peluang terbuka untuk siapa saja, di mana saja". Kaimat keren ini saya cuplik dari lembar Introduction, pada buku 5W1H karya Yoris Sebastian.
Siapa tak kenal nama Yoris Sebastian ?
Seorang praktisi kreatif, telah menyabet aneka penghargaan bergengsi.  Peraih International Young Creative Entrepreneur of The Year Awards 2006 dari British Council, kemudian tercatat  sebagai  GM Hard Rock Cafe termuda di Asia dan termuda kedua di dunia. Pada  April 2014, dinobatkan sebagai salah satu The Progresive Figures oleh Majalah Forbes Indonesia.
Rentetan prestasi Yoris yang lain tentu masih ada, semakin mengokohkan namanya sebagai tokoh muda Indonesia.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Sepotong Kesah dalam Secangkir Kopi


Secangkri Kopi (dokpri)
Pagi belum terlalu sempurna, langkah kaki kecil itu sudah terlampau jauh menjejak. Yu Sukirah nama perempuan tangguh ini, tubuhnya yang kurus ternyata menyimpan tenaga yang perkasa. Dua bongkokkan (ikatan besar) ranting kering, mampu diangkat dengan punggungnya. Dua hari sekali menyusuri jalanan dari sudut hutan dekat rumahnya, menuju pasar desa kecamatan terdekat. Kebiasaan ini sudah dilakukan puluhan tahun, hingga anak gadis satu satunya lulus Sekolah Dasar. Kang Parno sang suami biasanya turut mendampingi, lelaki berkulit legam membawa lebih banyak bongkokan. Sebagai buruh tani Kang Parno terpaksa absen jualan kayu, ketika musim panen padi beranjak datang. Seperti dini hari ini Yu Sukirah berjalan sendiri, karena sang suami musti memetik padi yang sudah menguning.
Kumandang panggilan subuh bergema, penanda saat menghentikan langkah sarat beban. Saat melepas penat ditanggung punggung, menghempas sesak terpendam di dada. Air wudlu membasahi wajah, kaki dan tangan, sejenak menghantar aroma segar. Mukena lusuh terselip antara ranting digendongan, kini membungkus tubuh kurusnya. Menyisakan sebentuk wajah kuyu, dan telapak tangan dengan garis kasar. Menegakkan dua rakaat wajib tiada ditinggal, kecuali saat siklus bulanan sebagai perempuan datang. Shalat adalah hakekat kehidupan, meski hidup seolah berwajah tak ramah. Segala peluh yang ditanggung jatuh, mengalir beriring manik embun dari sudut mata. Serangkaian bacaan bahasa arab imam musholla, didengar sungguh meski tak dimengerti maksudnya. Beruntung doa yang dilantunkan, memakai boso jowo halus yang sangat dipahami. Usai menghadap pemilik kehidupan, ada rasa lega di dada. Perasaan yang tidak bisa diterjemahkan, namun membuat Yu Sukirah terasa berlipat semangat.
Jarak dari musholla ke pasar sudah tak begitu jauh, ditempuh kurang dari setengah kilometer. Maka sambil menunggu langit sedikit terang, satu kelaziman mampir di warung pojok lapangan. Hati pemilik warung yang welas,  pun seluas lapangan bola disamping  tempat jualannya. Bu Sadilah sama sekali tak keberatan, menyediakan ruang untuk Yu Sukirah. Membantu pekerjaan apapun sebisanya, bersama Yu Yem batur*(pembantu) tetap bertahun tahun. Mencuci piring dan gelas kotor, serta menggoreng jajanan dagangan. Hingga semburat sinar pagi muncul, artinya Yu Sukirah musti ke pasar menjual kayunya. Atas kerelaan membantu pekerjaan di dapur, secangkir kopi dan gethuk menjadi upah. Tak ada kamus hitung hitungan bayaran, yang ada ketulusan atas dasar rela dan direlakan. Saat menikmati secangkir kopi, sembari duduk di atas dingklik di sudut dapur.  Adalah momentum istimewa, yang melegakan rasa menghempas sejenak duka. Kalau sedang sepi pengunjung, Bu Sadilah membuka obrolan apa saja. Tak ketinggalan kopi menemani, berada di meja tempat empunya warung.
Kopi (dokpri)
"Piye anakmu Yu.." obrolan dimulai "jadi  ngenger* di mana?" (*ngenger = bekerja sebagai pembantu)
Pertanyaan Bu Sadilah membuat gundah mencuat, hati perempuan kurus seperti terkoyak. Cangkir kopi yang masih panas diraihnya, disruput  langsung beriring satu tarikan nafas panjang. Kopi yang masih penuh uapnya mengepul, menghadirkan wajah Waginem anaknya. Gadis tanggung sedianya ditawari bekerja di warung ini, namun tak kunjung menjawab pertanda menolak.
"mboten ngertos  saya budhe,  wong mau anaknya pengin jadi TKW di Arab" ujarnya berat
Aroma kopi masihlah lekat di indra penciuman, sejanak melumerkan hatinya yang risau. Yu Sukirah perempuan tak berdaya, tetapi perkasa memanggul beban hidupnya. Cawan ceper diraih dituang air kopi, agar panasnya setidaknya sedikit berkurang.  Entah sensasi apa yang dihadirkan dari setiap sesapan, tapi ada satu perasaan yang menjadi lebih ringan. Asap yang mengepul diresapi, dengan mata merem sambil dihirup dalam. Dalam kesahajaan hidup yang utuh, ternyata tak mengambil sepenuh hak untuk sebuah kenikmatan. Kenikmatan yang didapati dengan cara sederhana, melalui secangkir kopi yang dituang di atas cawan kecil.
Kopi di warung Bu Sadilah terkenal enak, yu yem menggoreng sekaligus ndeplok sendiri. Kopi mentah dibeli dari langganan di pasar, hanya warung bu Mitro yang menjual kopi jenis khusus ini. Meski harganya sedikit berbeda, namun rasa yang ditawarkan tentu berbeda juga. Yu Yem yang telaten dan cekatan, menggoreng di atas tungku menggunakan wingko (wajan dari tanah). 
Kopi dibolak balik sampai menghitam, menyemburkan hawa panas di sela sela biji. Setelah  setiap butiran kopi dipastikan matang, dideplok mengunakan lumpang batu. Proses ndeplok perlu beberapa waktu dan kesabaran, sampai butiran demi butiran kopi matang hancur. Langkah selanjutnya serbukan kopi disaring, memakai ayakan dengan lubang tipis. Agar kopi yang dihasilkan dijamin halus, bisa larut dengan air saat disajikan.
"Yu yem,...kapan kapan aku diajari goreng kopi kaya gini yo.."rajuk Yu Sukirah memendam penasaran.
"enak yo rasane,...." senyum Sayem merekah bangga " iyo yu... nanti tak ajari"  
Racikan favorit pelanggan terpenuhi, melalui adonan tangan pemilik warung. Dalam takaran yang terukur, tersaji kopi nasgitel alis panas, legi, kenthel. Dengan aneka pilihan jajanan, membuat secangkir kopi terasa lebih nikmat. Pelanggan kebanyakan bapak bapak sepuh, datang saat malam tiba. Mereka membincangkan keseharian dengan gayeng, ditemani secangkir kopi Bu Sadilah. Penjual sayuran atau blantik sapi, hadir biasanya sebelum subuh. Cita rasa kopi warung ini tersebar, melalui cara efektif yaitu mulut ke mulut.
Bu Sadilah adalah generasi pemula, sedikit memendam gundah seperti Yu Sukirah. Anak mbarepnya sudah bekerja di Mojokerto, sedang ragilnya kelas dua SMA di Magetan. Kedua anaknya tak ada yang tertarik, meneruskan warung rintisan ibunya.
Ada kesah yang serasa turut tertuang, beriring kucuran kopi diatas cawan. Semerbak aroma kopi yang menyentuh ujung hidung, merampas sedikit kepedihan yang ditanggung. Dua perempuan berbeda kelas, dengan cita rasa kopi yang sama. Saling gudo roso (berbagi perasaan) yang hinggap, meski dengan sudut pandang sendiri sendiri.
Satu sruputan kopi ditingkah potekan gethuk, mengganjal perut Yu Sukirah yang nyaris keroncongan. Wejangan Budhe Sadilah yang mengalir, membuat kenikmatan kopi semakin paripurna. Secangkir kopi tak lagi sekedar secangkir kopi, tetapi menjelma sebuah perhatian dan ruang lapang.  
Yu Sukirah datang dua atau tiga hari sekali, bergilir jualan ranting kayu di desa lain. Sehingga ke warung Budhe Sadilah, menjadi pengobat rindu pada secangkir kopi. Selain menjaga diri atas rasa sungkan, kalau terlalu sering mampir.
"memang maunya anak sekarang sudah beda" celetuk budhe Sadilah "penginnya dapat duit gedhe"
Tak gamblang maksud kalimat Budhe Sadilah, bisa jadi mewakili perasaannya sendiri juga. Yu Sukirah hanya diam mendengarkan, tak tahu musti menjawab dengan kalimat apa. Dirinya seperti berada dipersimpangan, antara melepas dan menahan Wagiyem. Anak wedhok satu satunya, kalau sudah punya kemauan cukup keras hati. Apalagi setelah melihat teman semasa SD, menjadi TKW pulang membawa perhiasan dan duit banyak. Tapi Yu Sukirah justru mengedepankan rasa khawatir, ketika mendengar berita TKW disiksa majikan, atau pulang tinggal nama.
Secangkir kopi dengan aroma tak terkira, sejenak telah mengusir kesahnya. Sruputan demi sruputan dilalui, menemani sepotong pagi yang ke entah. Mengelupas rasa tak menentu, namun tak ada pilihan kecuali dijalani. Secangkir kopi meninggalkan residu pekat, sepekat kebimbangan batinnya. Secangkir kopi mengandung banyak hal, kadang sama sekali tak dipahami perempuan setangguh Yu Sukirah.
"Budhe nuwun sewu langitnya sudah terang, kulo pamit dulu" ujarnya sambil berkemas.
"Yo yu, sing ati ati" balas pemilik warung.
foto dipinjam dari http://slametriyadi.com

Kerekatan batin dua perempuan ini, terjalin erat melalui secangkir kopi. Aromanya yang ngangeni, menjadi hak siapa saja mengecap tanpa memandang kasta. Langkah kaki yang sempat berat, mendadak menjelma ringan sarat semangat. Secangkir kopi telah mengalirkan energi, bersama kelapangan hati pemilik warung. Meskipun beban tetaplah beban, yang tak diketahui akan kemana bermuara. Bayangan Waginem disimpannya, menjemput keringat demi keringat untuk dibawa pulang nanti siang.  

Daftar Blog Saya