Home

1 Jun 2022

Menikmati Sudut Batavia di Stasiun Tanjung Priok


Disclaimer; artikel ini juga ditayangkan di Kompasiana 

Hallo Kompasianer, kalian yang suka naik KRL commuter rasanya kudu ke stasiun Tanjung  Priok. Stasiun yang berlokasi tidak jauh dari pelabuhan, vibes heritage-nya masih kental dan terasa banget. Saya dibuat girang, kali pertama menginjakan kaki di stasiun berstatus cagar budaya ini.

Banyak keunikan-keunikan didapati, saya seperti ditarik ke belakang oleh mesin waktu. Berada di awal abad 19, ketika negeri ini masih dikenal dengan sebutan Hindia Belanda.

Dan tempat yang saya datangi hari ini, dulu menjadi pintu gerbang Batavia. Layaknya Bandara Internasional Soetta Cengkareng masa kini.

------

Kompasianer yang pernah ke Kota Tua, saya yakin bisa merasakan suasana masa lampau. Melihat bangunan-bangunan teguh berjajar, meski tua tetapi (saya menangkap) menyampaikan kesan angkuh berwibawa. Kekuatan bangunan terbukti, sanggup melintasi jaman dan gempuran masa.

“Orang jaman itu, belum marak korupsi kali ya” celetuk seorang teman.

Saya menjawab dengan senyum, sekilas membandingkan dengan keadaan sekarang. Bangunan dibangun jaman kolonial memang sangat kuat, sekaligus menunjukkan kualitas (untuk soal bangunan) manusia jaman itu.

Pun, stasiun Tanjung Priuk. Saya tak kunjung berhenti mengagumi.

----

Sekilas Stasiun Tanjung Priuk

Stasiun Tanjung Priuk masa kini, melayani KRL Commuter Line dan KA barang angkutan peti kemas. Kali pertama dibangun tahun 1883, diresmikan 2 November 1885 oleh Burgerlijke Openbare Werken. Sebagai salah satu bagunan tua, stasusnya bangunan cagar budaya DKI Jakarta.

Stasiun ini sempat terlantar, dihidupkan tahun 2009 terkait rencana pengoperasian KRL Commuter Line Tanjung Priuk. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan, dengan ramainya  Pelabuhan kebanggaan masa Hindia Belanda. Keanggunan stasiun bergaya neoklasik,  art deco, dan kontemporer, cukup berjaya di masanya.

Pe- nonaktifan stasiun Tanjung Priuk di awal 2000, salah satunya karena kondisi bangunan. Atapnya sudah lepas, kaca banyak yang pecah, kerangka banyak yang karatan termakan usia. Peron stasiun dan emplasemennya dihuni tunawisma, pendapatan bocor akibat penumpang gelap. Sehingga kerugian tak bisa dielakkan, pemasukan dari karcis peron semakin minim.

Tahun 2008 PT Kereta Api merenovasi total, terhadap fisik bangunan, rehabilitasi fasilitas rel serta pembangunan perangkat sinyal elektrik. Tanggal 28 April 2009, stasiun Tanjung Priuk diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  Keberadaannya kini sangat unik, berbeda dengan stasiun-stasiun lainnya di Jabodetabek.

(disarikan dari wikipedia ditulis ulang versi penulis)

Menikmati Sudut Batavia di Stasiun Tanjung Priok


Saya bisa merasakan atmosfir heritages Batavia, bahkan dari trotor tepat di depan stasiun. Design dan model pagarnya, bentuk lampu taman, penampakan gedung dari depan mencerminkan kentalnya suasana masa lampau.

Memasuki pintu gerbang, masih di halaman disambut tembok dengan jam dinding tua di atasnya. Begitu melintasi bagian ini, kita terhubungkan dengan pintu masuk menghadap empat pilar megah.  Kita musti scan aplikasi peduli lindungi dan cek suhu tubuh, baru diperbolehkan masuk.

Begitu masuk stasiun disambut ruangan hall sangat lega, di bagian kanan ada loket dan vending machine top up KMT. Sementara di bagian kiri, ada ruangan bersekat untuk loket tiket kereta jarak jauh.

Hawa kolonial terasa kuat, begitu melihat langit-langit menjulang, dipertegas lapisan dinding marmer. Ruangan terasa begitu terang, berasal dari cahaya yang masuk dari deretan jendela kaca di bagian atas. Tidak ketinggalan jam dinding bulat dengan model khas, tepat di atas bagian tengah dinding hall.

Masih ada satu hall lagi di tengah, pada sayap kanan kiri masing-masing terdapat ruangan. Menurut petugas kebersihan yang saya tanya, difungsikan untuk kegiatan apel. Ada satu ruangan kecil, untuk tangga naik ke atap stasiun (tampak di gambar). Selanjutnya kita masuk ruang tunggu, sebelum melewati pintu tap dan masuk peron.

Saya sangat menikmati suasana, ketika mendongak ke atas disuguhi ornamentasi berlanggam art deco. Sepanjang penglihatan, didominasi struktur baja berkesan kokoh dan megah. Bangunan ditumpu ratusan tiang pancang, dengan penutup dari beton dan seng tebal. Di atas delapan peron, dinaungi kuda-kuda berbentuk melengkung—seperti di stasiun Kebayoran Baru.

Stasiun Tanjung Priok adalah stasiun ujung, rel berakhir pada bangunan stasiun dan kedudukan sepur tegak lurus dengan peron. Memiliki enam jalur dalam peron, dan dua di luar peron. Di bagian ujung peron saya melihat rumah sinyal, berfungsi untuk mengatur sinyal lalu lintas kereta api. Namun sekarang sudah tidak diaktifkan, mengingat sinyal diatur secara otomatis.

----

Meski hanya beberapa jam di stasiun Tanjung Priok, kesan heritage itu menempel di benak. Kompasianer yang penasaran, silakan langsung ke stasiun Tanjung Priuk.  Cukup dengan naik KRL commuter dengan tiket sangat terjangkau, kita bisa mengeksplor stasiun dengan suasana tempo doeloe ini.

Atau kalau mau lebih mendapati suasana batavia, bisa keluar dan menjelajah di sekitar stasiun. Beberapa bangunan lama masih berdiri kokoh, ada taman, masjid sembari berjalan ke pelabuhan. Saya benar-benar merasa, diajak menikmati masa kejayaan Batavia dari sudut stasiun Tanjung  Priuk. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA