Pemutarannya dihadiri langsung oleh sang sutradara Hanung Bramantyo, serta salah Anya Zen selaku pemeran utama. Kehadiran mereka menandai langkah penting film ini dalam perjalanannya menembus panggung global dan menuju penayangan resmi di bioskop Indonesia tahun ini.
Penayangan The Hole
pada ajang IFFR 2026 menjadi momen penting yang kembali membawa nama Indonesia
ke panggung global. Ini juga menandai film kedua Hanung Bramantyo yang
berhasil masuk seleksi resmi IFFR, setelah sebelumnya film Gowok: Kamasutra
Jawa juga tayang di festival yang sama.
Hanung menyampaikan, bahwa The Hole lahir dari kegelisahannya terhadap peristiwa G30S yang terus menghantui bangsa Indonesia setiap bulan September setiap tahunnya. Film ini juga menjadi ekspresi dari keresahan serta bentuk kritik Hanung Bramantyo terhadap maraknya praktik korupsi dan penyelewengan kekuasaan yang membuat rakyat rugi dan menderita.
“Setiap tahun kita selalu
berhadapan dengan peristiwa G30S, sebuah tragedi besar yang hingga hari ini
masih menyisakan banyak pertanyaan. The Hole adalah ruang eksplorasi
saya terhadap trauma tersebut. Saya tidak ingin memberi jawaban tunggal, tetapi
melalui film ini saya ingin menghadirkan perspektif lain yang berangkat dari
kondisi sosial, kepercayaan, dan ketakutan yang hidup di masyarakat pada
masanya,” ujar Hanung.
Anya Zen mengenakan busana khas dengan sentuhan Indonesia, mengungkapkan kesannya dapat bergabung dalam film ini.
“Sebagai pemain yang
masih tergolong baru, bisa menjadi bagian dari film ini adalah sebuah kehormatan
besar. Sejarah selalu jadi subjek yang aku minati sejak lama, dan lewat The
Hole, kita tidak hanya melihat ke belakang, tapi juga membuka kembali
percakapan tentang hal-hal yang selama ini sering ditutup atau
dihindari.”
Terinspirasi dari berbagai
cerita rakyat dan narasi yang tumbuh di sekitar peristiwa Gerakan 30 September,
The Hole merupakan film horor–misteri yang akan membawa penonton ke masa
yang penuh gejolak sosial dan ketegangan politik.
Film ini berfokus pada
serangkaian pembunuhan misterius yang terjadi di Desa Lobang Buaya. Sebuah pola
aneh muncul: setiap korban ditemukan tewas pada tanggal 30 setiap bulannya,
dengan kondisi tubuh berlubang dan pesan-pesan aneh tertulis di wajah mereka.
Tidak menceritakan sejarah secara gamblang, The Hole hadir sebagai
“pembacaan ulang” luka kolektif masyarakat Indonesia lewat kacamata mistis dan
simbolik.
The Hole, akan segera hadir di bioskop seluruh Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA