“Kayanya gemukan lagi nih”
Kalimat ini terdengar, ketika saya bersua dengan teman, hampir empat bulan tidak bertemu. Saya tidak menyangkal, mengingat belakangan lubang gesper bergeser menjauh.
Waktu sholat duduk tahiyat akhir, bagian pinggir perut seperti ada yang terlipat. Fixs, berat badan naik lagi, seperti alarm membangunkan dari tidur.
Meski rajin jalan kaki, saya sudah jarang olah raga –push up, sit up, lari pagi. Pun soal makanan, saya mulai toleransi. Sesekali makan gorengan, konsumsi makanan berbahan tepung dan manis. Dari sesekali demi sesekali itulah, akhirnya merasa nyaman dan keterusan.
Setelah introspeksi, saya mengaku tidak konsisten. Bahwa yang semula telah diniatkan, di tengah jalan berbelok arah.
-00oo00-
“Sekarang kurus ya...bagus badannya,” ujar teman lama
Ya, Saya merasakan sendiri, lingkar perut mengecil, celana longgar, ukuran kaos berubah L. Saya benar-benar menjaga pola makan, rutin minum air putih, banyak konsumsi buah dan sayur. Stop gorengan, menggantinya dengan yang direbus, diungket, dishangrai atau paling berat di bakar.
Namanya manusia, susah menjaga niat dari dalam diri. Mula- mula sekedar incip, besok benar- benar dimakan. Sementara olah raga mengendur, dengan berbagai alasan pembenaran.
Semua hal besar, dimulai dari yang kecil diulang-ulang. Saya mulai push up dan sit up, rasanya badan berat dan nafas ngos-ngosan lagi. Kalau saya konsisten, tidak perlu mengulang diet dari awal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA