Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2018

Percepatan Pembentukan Sekolah Ramah Anak, Melalui “Hari Belajar di Luar Kelas”


Anak sedang berangkat sekolah - dokpri


“Main mulu, kapan belajarnya”
Sewaktu saya masih seragam merah hati putih, kalimat di atas kerap diucapkan para orang tua.
Termasuk ibu saya, mengucapkan kalimat serupa kepada anak-anaknya (biasanya sambil marah).

Asumsi belajar kala itu adalah, si anak duduk di kursi sambil memegang buku di tangan. Termasuk di dalamnya, terdapat kegiatan menulis dan atau membaca.

Sementara aktivitas selain itu (tidak seperti asumsi di atas), tidak masuk dalam kategori belajar. Bermain ya bermain, belajar ya belajar.

Rabu, 11 Oktober 2017

IPEKA IICS Jakarta Hadirkan Transformasi Pendidikan Abad XXI ‘Digital Classroom’



IPEKA Digital Classrom -dokumentasi pribadi

Era digital, membawa dampak perubahan di semua sektor kehidupan. Tak hanya di sektor ekonomi, sosial, budaya atau politik, sektor pendidikan juga mulai bertransformasi.
Konsep belajar digital menjadi sebuah keniscayaan, mendorong pengembangan kemampuan siswa dan guru, baik dalam komunikasi, komputasi, kolaborasi dan berpikir kritis serta kreatif.
Teknologi memiliki peranan penting, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Teknologi di dunia pendidikan, mampu menjadi sarana pembelajaran yang baik bagi siswa dan atau guru sekaligus.
Berdasarkan survey yang dilakukan Deloite pada Oktober 2016, 75% guru percaya, bahwa konten pembelajaran digital akan menggantikan buku teks cetak dalam sepuluh tahun ke depan.

Jumat, 06 Oktober 2017

Kampanye Philips Lighting ‘Terangi Masa Depan’ Dukung Program UNICEF ‘Kembali ke Sekolah’



Ki-Ka: Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong, Country Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar, Deputy Representative UNICEF Indonesia Lauren Rumble dan Chief of Partnership UNICEF Indonesia Gregor Henneka saat seremoni penandatangan nota kesepahaman untuk “Kampanye Terangi Masa Depan Periode 2017-2018” oleh Philips Lighting Indonesia dan UNICEF, di Jakarta, Selasa (3/10). Dalam kemitraan ini, Philips Lighting berkomitmen untuk menggalang dana sebesar 2 miliar rupiah dari penjualan bohlam Philips LED dalam kemasan “Beli 3 Gratis 1” yang berlogo UNICEF. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung program “Kembali ke Sekolah” UNICEF. 

Tak bisa dipungkiri, pendidikan ibarat kunci gerbang menuju kualitas hidup lebih baik. Semua kegelapan pengetahuan terjadi, sejatinya bermula dari ketiadaan pendidikan.
Siapa nyana, meski sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tercatat 4.6 juta lebih anak usia sekolah, belum memiliki kesempatan mengeyam pendidikan dasar. Menurut Survey Sosial Ekonomi Nasional 2016 (Susenas), alasan anak-anak tidak bersekolah atau putus sekolah, lazimnya terkait kondisi ekonomi keluarga, terbatasnya akses pendidikan, disabilitas fisik atau mental dan budaya.

Senin, 04 September 2017

Perjuangan Mengenyam Pendidikan dalam Film Jembatan Pensil


Pressconf Jembatan Pensil -dokpri

Masih ingatkah anda, peristiwa putusnya jembatan kayu di daerah Dusun Krikilan, Desa Gratituton, Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan Jawa timur. Peristiwa terjadi awal tahun 2017, sempat mendapat perhatian masyarakat Indonesia.
Kondisi putusnya jembatan memaksa warga, turun ke sungai untuk menyebrang ke desa seberang.  Anak anak berseragam Sekolah Dasar, rutin membelah air mencapai tempatnya menuntut ilmu.
Sungguh peristiwa ini membuat miris, sekaligus pada sisi lain menumbuhkan haru. Putra-putri tunas bangsa, rela menempuh apa saja demi belajar. Pendidikan menjadi barang berharga, diyakini akan melepaskan dari keterkungkungan.
Hal krusial menjadi koreksi pemerintah, betapa pemerataan pembangunan infrastruktur harus mendapatkan perhatian lebih.
Saya kok yakin, minim sarana prasarana belajar masih banyak dialami saudara kita di sudut negeri. Program pemerintah yang dikenal dengan Nawacita, semoga bisa menjadi ikhtiar bersama. Bahwa pembangunan berhak dirasakan oleh masyarakat, bahkan yang berada di daerah terpencil, pelosok dan perbatasan.
Semoga bisa menjadi kenyataan, Amin.
-0o0-
Akhir pekan di awal bulan maret, Gala Premiere Film berjudul Jembatan Pensil dihelat di IMAX XXI Gandaria City. Film keluarga berlatar persahabatan, pendidikan dibalut cinta, mengambil lokasi shooting di Muna Sulawesi Tenggara.
Tak ayal pemandangan laut indah membentang, sangat memanjakan indera penglihatan. Tampak nelayan sibuk menjala ikan, demi pemenuhan kebutuhan hidup sehari hari. selain melaut, Sulawesi Tenggara khususnya Kabupaten Muna juga terkenal dengan kain tenun.
Adalah Inal, Nia, Aska, Yanti dan Odeng, lima sahabat yang berjuang demi mendapatkan pendidikan. Setiap hari menempuh perjalanan panjang, demi mencapai sekolah sederhana berada di pinggir pantai.
Satu paling epic saat pergi dan pulang, empat sahabat harus menyebrangi jembatan kayu yang sudah mulai lapuk. Odeng (diperankan Didi Mulya) anak berkebutuhan khusus, setia menunggu empat karibnya di ujung jembatan.
Odeng dengan segala keterbatasan dimiliki, ternyata punya kelebihan dalam bidang menggambar dan berhati mulia. Gambar laut yang dihasilkan, menjadi persembahan bagi ayah dikasihi yang juga seorang nelayan.
Melihat usaha keras teman-teman dicintai, Odeng menyimpan tekad membuat jembatan kayu baru. Serupiah dua rupiah uang jajan dari ayahnya ditabung, demi mewujudkan cita cita mulianya.
Odeng dan sang ayah tinggal bersama Gading (diperankan Kevin Julio), pemuda putus kuliah ikut melaut karena orang tuanya meninggal. Setiap malam Odeng tinggal di rumah sendiri, sementara ayah dan Gading kakaknya pergi melaut.
Malam naas akhirnya terjadi, petir menyambar ombak besar dan cuaca sangat tidak bersahabat. Keesokkan pagi ketika  sampan merapat, terlihat Gading pingsan di atasnya sementara ayah tidak tampak. Odeng dan Gading masing masing menjadi anak yatim piatu, Gading berjanji akan menjadi kakak dan menjaga Odeng.
Foto Session bersama cast Jembatan Pensil - dokpri
Bagaimana Odeng menghadapi kenyataan pahit, sekaligus cara mewujudkan mimpi membangun jembatan. Film Jembatan Pensil, akan menjawab rasa penasaran penonton bioskop di tanah air.
Film Jembatan Pensil ditulis oleh Exan Zen, sedikit banyak diadaptasi dari kisah masa kecil sang penulis. Semasa sekolah dasar, Exan berjalan jauh ke sekolah. Menempuh puluhan kilometer dengan sepatu dijinjing, berseragam kedodoran agar awet.
Hasto Broto selaku Sutradara jeli memilih lokasi, sepanjang film penonton benar benar dimanjakan dengan pemandangan indah. Musik yang ditata Anwar Fauzi, berhasil membuat penonton baper pada adegan sedih.
Tampak penonton di kursi sebelah saya, beberapa kali mengusap mata ketika tokoh Odeng menangis. Kisah cinta yang menjadi bumbu dalam film ini, tidak terlalu diangkat hanya sekedar lewat sekilas.
Selebihnya, silakan saksikan sendiri ya. Film Jembatan Pensil akan tayang serentak, pada 7 September 2017. Saya berani menjamin, film ini aman untuk semua umur. – salam-

Rabu, 20 Juli 2016

BINUS SCHOOL Bekasi Persembahan untuk Dunia Pendidikan

Akhirnya kaki ini sampai juga menjejak, di lokasi BINUS SCHOOL  Bekasi yang berada di jalan Saraswati No 1 Vida Bekasi.  Saya yakin anda pasti sudah tidak asing nama Bina Nusantara (BINUS), selama 35 tahun berpengalaman memberikan pendidikan terbaik bagi Indonesia.
Saya pribadi pernah menjumpai, BINUS di daerah Senayan, FX Sudirman, Simprug, Summarecon Bekasi. Mungkin pembaca bisa menambahkan, daftar BINUS di daerah yang belum saya tahu (pasti banyak dong)
BINA NUSANTARA SCHOOL Bekasi (dokumentasi pribadi)
BINUS SCHOOL Bekasi  pada tahap awal dibangun pada lahan seluas 2 hektare, secara bertahap dikembangkan hingga 4 hektare. Konsep yang diterapkan adalah green living, mulai beroperasi pada 28 juli 2016.
Pada saat acara tour school, saya dan rekan blogger's meyaksikan sendiri tentang keamanan/ safety diutamakan. Bagi orang tua tak perlu kawatir, di BINUS SCHOOL Bekasi keamanan buah hati sangat diperhatikan.

Daftar Blog Saya