4 Jan 2020

Terapkan Budaya "Zero Waste" dalam Produksi Film Detak


dokumentasi Aenigma Picture


Sebuah  karya film, lazimnya akan melalui proses panjang dan melelahkan. Karena melibatkan banyak orang, maka membutuhkan logistik tak sedikit. Coba bayangkan, kalau di film tersebut ada 60 personel saja.


Dalam sehari butuh tiga kali makan, belum snacknya, belum kopi atau ngetehnya, belum ngrokok (bagi yang perokok). Maka akan ada piring, gelas, asbak dan perlengkapan pendukung.

Aenigma Picture, rumah produksi sedang mempersiapkan karya perdana berjudul Detak. Tak mau abai dengan kemungkinan berlangsung di lapangan selama produksi film. Yaitu menerapkan budaya zero waste, dan menyepakati dengan seluruh crew dan cast-nya.

-----

Percuma mengangkat budaya jika kita tak berbudaya” Yongki Ongestu - Sutradara

Bicara budaya, sebenarnya tidak perlu yang jauh-jauh dulu. Karena apa yang kita lakukan saban hari, sejatinya cerminan budaya diri sendiri.
Misalnya membuang sampah pada tempatnya, bicara sopan dan menjaga sikap, berempati kepada tetangga kesusahan, menghormati yang lebih tua.  Dan banyak contoh kecil, erat kaitannya dengan kehidupan keseharian.
dok Aenigma Pictures

Saya antusias menyimak,  ketika Ibu Aryanna Yuris (Produser)  menjelaskan, bahwa selama shoting seluruh tim dan Cast dibagikan tumbler. Startegi ini, sebagai cara mengurangi air minum dalam kemasan (sekali pakai dibuang).
Ngopi atau ngeteh, menggunakan gelas besi (ditempel nama). Makan  dengan prasmanan, pring berbahan rotan dan enamel yang digunakan. O’ya, asbak bukan sembarang asbak. Puntung rokok dan serbuknya, ditampung dalam asbak portable.
dik Aenigma Pictures

Secara kasat mata, sudah terbayang limbah gelas plastik, limbah botol plastik, limbah styrofoam dapat dinihilkan. Menurut Pak Yongki shoting selama 16 hari, dengan sekira 70 personel. Itu bisa berton-ton limbah terselamatkan.

Sinopsis
Warga setempat mulai hilang, sejak kedatangan seorang doter dari kota. Dibalik penampilan yang sopan dan pendiam, ternyata dr. Jati adalah seorang psikopat.

Sukma, calo penari lengger. Warga setempat mempercayai, bahwa si penari yang bisa menjauhkan desa dari malapetaka.

Apakah kepercayaan warga, dapat menyudahi hilangnya penduduk desa. Adakah sesuatu bisa dilakukan, untuk menghentikan aksi dokter aneh ?

------
dok Aenigma Pictures

Untuk produksi film Detak, Aenigma Picture melibatkan pekerja kreatif, dan seniman daerah setempat. Sebagian besar  crew dan cast, baru kali pertama terlibat produksi layar lebar.
Ibu Aryanna dan Pak Yongki yakin, banyak potensi lokal bisa digerakkan dalam film Detak.  Selain memberi kesempatan seniman daerah unjuk gigi, berdampak pada penyebaran ekonomi kreatif dan menumbuhkan potensi lokal.

Film Detak, bisa dikatakan pengejawantahan perpaduan seni modern dan seni tradisional. Yaitu mengangkat tari lengger dan pemain calung tradisional asal Banyumas, sehingga bisa dikenal masyarakat lebih luas.

Kapan film Detak tayang di bioskop? Tunggu kabar selanjutnya ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA