Home

27 Jan 2020

Mengenal Stunting dan Cara mencegahnya di Festival Anak Ceria Yayasan Al Hadi

Festival Anak Ceria Yayasan Al Hadi- dokpri

Senang bisa hadir, di Festival Anak Ceria, yang diselenggarakan oleh Yayasan Al Hadi Taman Aries. Acara yang didukung oleh Mayora ini, menggelar Talkshow dengan tema ‘Mengenal Stunting dan Cara Mencegahnya”.

Hj. Anifah Qowiyatun, selaku Ketua Yayasan Al Hadi Taman Aries, menyampaikan dalam sambutannya, bahwa selain talkshow, juga digelar acara lomba mewarnai, lomba kaligrafi untuk anak anak PAUD. Sementara untuk para ibu, diadakan lomba daur ulang barang bekas.
Yayasan Al Hadi sendiri, selain memiliki Day Care, Paud, Bimbel dan sekolah Tahfidz, telah mendapatkan akreditasi B dengan sistem pengasuhan islami.

Festival Anak Ceria, diadakan bertepatan dengan Hari Gizi Nasional. Dan semakin istimewa, dengan hadirnya Ibu Wury Ma’ruf Amin (Ibu Wakil Presiden).
Dalam sambutannya, Ibu Wury menekankan, bahwa tumbuh kembang anak di usia dini dipengaruhi oleh asupan gizi. Sehingga penting bagi orangtua, untuk memberikan asupan gizi yang mencukupi.

Isu stunting sudah menjadi isu nasional, menjadi kepentingan seluruh masyarakat untuk bersinergi.
Paling utama adalah memperhatikan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), pemenuhan asupan bagi ibu hamil serta asupan bergizi untuk bayi. Dengan sinergi semua pihak, kita semua yakin masalah stunting bisa diselesaikan bersama.

Selanjutnya Ibu Wury mengingatkan, bahwa asupan gizi musti dibarengi dengan teladan dari orangtua dan pendidik. Karena anak adalah peniru ulung, mereka akan mencontoh yang dilihat dari orangtua dan  guru.

Ibu Wury Ma'ruf  Amin (paling kanan) membuka secara resmi Festival Anak Ceria, didampingi Hj. Anifah Qowiyatun, (dua dari kanan) selaku ketua Yayasan Al Hadi -dokpri


Mengenal Stunting dan Pencegahannya

Narsum Dr. Sandy Prasetyo, SPOG, IDI, dokter anak RSIA Brawijaya, menjelaskan stunting adalah kondisi anak yang ketika bertumbuh, tetapi tingginya tidak sama dengan tinggi teman sebayanya.
Stunting terkait erat dengan kurang gizi, dan kondisi ini dipengaruhi sejak masa kehamilan ibu.

Penting ayah dan ibu muda, mempersiapkan diri menghadapi kehamilan, termasuk persiapan mental sejak awal memasuki perkawinan.

Ibu Atalia Ridwan Kamil menambahkan, bahwa stunting tidak selalu identik dengan kemiskinan. Sebagian kasus stunting di Jawa Barat, justru ditemukan di kalangan menengah perkotaan.
Masalah stunting terkait dengan minimnya pengetahuan, karena kecukupan gizi sebenarnya bisa didapat dengan mudah dari alam.
Seperti buah, sayuran, ikan, telur atau bahan pangan yang sekiranya bisa diupayakan diperoleh dari alam.

Selaras dengan pemaparan Ibu Farah Amini, Tim percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting), pada 1000 HPK adalah masa genting, memastikan gizi ibu dan janin bagus.
Ya, sembilan bulan masa kehamilan, dilanjutkan dua tahun usia balita, menjadi pondasi pemebentukan otak anak.

Maka untuk mengantisipasi stunting, dokter Sandy menekankan pentingnya ibu hamil rutin kontrol ke dokter.
Fungsi kontrol ke dokter, bagi ayah dan ibu akan dapat memantau perkembangan janin. Semakin besar usia kehamilan, maka perubahan semakin dinamis.

Sementara di Provinsi Jawa Barat, ibu Atalia Ridwan Kamil tengah menggalakkan kegiatan Posyandu. Ibu hamil di pelosok dengan akses ke dokter terbatas, bisa konsultasi dengan tenaga kesehatan.

Ki-Ka ; Sandy Prasetyo, Lia Amalia, Hj Netty Herawati, Reisa Subroto, Farah AMini, Atalia Ridwan Kamil-dokpri

------
Kawan’s, saya dibuat terkeget-kaget, mendapati kenyataan bahwa 1 dari 3 anak Indonesia mengalami gagal tumbuh karena kurang gizi kronis. Gizi didalam tubuhnya, tidak maksimal untuk memenuhi proses tumbuh kembang. 
Tidak berlebihan, apabila ibu Farah Amini mengutip pernyataan Michele Obama, bahwa "Satu kampung membesarkan satu anak". Artinya tumbuh kembang satu anak, dipengaruhi oleh (utamanya) orangtuanya, kemudian kakek neneknya, kerabatnya, tetangga, dan lingkungan.

Untuk amannya, dokter sekaligus public figure Reisa Subroto Asmoro, mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan (terutama tangan) sebelum memegang anak.
Di rumah, begitu datang dari bepergian masuk rumah Reisa langsung cuci tangan dengan antiseptic, baru kemudian memegang anak.

Karena virus atau kuman sangat bisa menempel di tangan, dengan rutin cuci tangan (dengan sabun) bisa meminimalisir terjadinya perpindahan virus atau kuman.

Dan ada satu pesan dari dokter Reisa, ayah dan ibu rutin minum mineral 8 gelas atau dua liter setiap hari. Le Mineral produksi Mayora, dalam kemasan botol selain praktis bisa menjadi pilihan.

dokpri

Setelah melewati masa 1000 HPK, tumbuh kembang anak musti terus dipantau. Bagi orangtua yang sibuk, perlu bergandengan tangan dengan pihak ketiga demi perkembangan anak yang optimal.

Yayasan Al Hadi Taman Aries, hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pedidikan yang berkualitas dan aman untuk anak.
Membantu mendampingi tumbuh kembang anak, tetap sehat dan mempunyai kreativitas tinggi.

Menurut, Prof. Dr. Ir. Hj  Netty Herawati, M,Si, dari HIMPAUDI Pusat, bahwa lembaga PAUD bertugas untuk mendidik anak usia dini, namun musti diteruskan oleh ibu dan ayahnya di rumah.
Selanjutnya ibu Netty, mengajak peserta Talkshow, untuk mempraktekkan kebiasaaan, “Senyum, Salam, Usap (kening sampai ubun-ubun - sembari didoakan) Cium (pipi kanan, pipi kiri dan kening).

Sementara ibu Lia Amalia, ST.,SS., MT, dari LPPOM MUI Pusat menambahkan, bahwa sekedar asupan gizi saja tidak cukup. Tetapi musti makanan yang thayib (yang baik), karena makanan halal akan berpengaruh pada pembentukan akhlak anak di masa mendatang.

----
dokpri

Saya ayah dua buah hati, sangat banyak belajar banyak dari para narasumber hebat di Festival Anak Ceria persembahan Yayasan  Al Hadi Tama Aries.  Pengetahuan yang saya reguk tentang stunting, komplik dari berbagai sudut pandang.

Dan ada satu quote dari dokter Sandy Prasetyo, bahwa tumbuh dan kembang adalah dua hal berbeda. Tumbuh mencakup tinggi, berat dan panjang anak, sementara kembang adalah pada perilaku dan akhlak si anak.

Hari itu, saya merasa sangat sedikit ilmu dan masih perlu banyak belajar menjadi ayah yang lebih baik.
Mempersembahkan segenap kemampuan, membawa pulang nafkah terbaik (bergizi dan halal) untuk keluarga.
Wallahu’alam bisawab- Semoga bermanfaat.

8 komentar:

  1. Peran orangtua sangat penting nih, untuk menjaga gizi, kesehatan dan lainnya agar kelak calon anak kita tidak terjadi stunting.

    BalasHapus
  2. Untuk kalangan menengah perkotaan apa penyebabnya kak? Anak susah makan bisa jadi salah satu penyebabnya kah?

    BalasHapus
  3. Kalau lewat Kemenkes selalu liat spanduk cegah stunting dengan cuci tangan. Bingung apa hubungannya. Ternyata baru ngeh dengan penjelasan di sini kalau stunting juga bisa diakibatkan virus dan bakteri dan salah satu cara nyegahnya adalah dengan cuci tangan sebelum makan.

    BalasHapus
  4. Penting banget bagi masyarakat utk mengetahui bgmna mencegah stunting. Ini erat kaitannya utk menciptakan generasi masa depan yg sehat ya

    BalasHapus
  5. Stunting memang menjadi salah satu peer besar di negara kita. Bagus juga ini penjelasannya. Asupan gizi saja ternyata tidak cukup. Tetapi, juga harus diperhatikan kehalalannya. Juga harus mencuci tangan

    BalasHapus
  6. Wah nice quote dari dokter Sandy Prasetyo, dan selama ini aku masih menyakini bahwa tumbuh kembang itu sama lho.. "tumbuh dan kembang adalah dua hal berbeda. Tumbuh mencakup tinggi, berat dan panjang anak, sementara kembang adalah pada perilaku dan akhlak si anak" well noted pak dokter Sandy

    BalasHapus
  7. Wah, stunting ini emang gak kenal kelas ekonomi Ya pak agung. Soal kepedulian terhadap pemenuhan gizi di 1000 hpk guna tumbuh kembang anak yg optimal.

    BalasHapus
  8. Anak-anak itu peniru ulung alias copas yang tercepat plus mirip banget ya mas. Makanya menjadi org tua itu harus cerdas ketika mengambil sikap

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA