8 Des 2019

Menyoal Perspektif Perempuan dan Perannya bagi Kemajuan Bangsa

WAG Vivatalk

Kalian pasti ingat dong, kalimat “Perempuan adalah Tiang Negara”. Memang begitu kenyataannya, bahwa kita anak –anak bangsa (tak bisa menyangkal) lahir dari rahim seorang perempuan. Kalau selama masa kehamilan sang ibu sehat lahir dan batin, niscaya akan melahirkan anak-anak yang sehat.
Saya membayangkan, bagaimana kalau anak-anak sekarang tumbuh sehat dan kuat. Mereka akan bersemangat belajar, mewujudkan mimpinya masing-masing. Maka pada beberapa masa ke depan, bangsa ini akan menjadi bangsa yang kuat dan disegani bangsa lain di dunia-amin.

Dan kita harus sadar, bahwa semua rangkaian ini, bermula dari seorang perempuan (atau ibu). Ibu menjadi muasal sekaligus muara, generasi- generasi hebat di masa yang akan datang.
------

Desember identik dengan (salah satunya) hari ibu. Penetapan hari ibu oleh Presiden Sukarno, melalui Kepres nomor 316 tahun 1959, tentang Hari hari nasional yang Bukan Hari Libur. Mengingatkan kita pada 91 tahun yang lalu (22/12’1928), pada saat Kongres Perempuan Indonesia digelar.
Konggres yang membahas peran pempuan, sekaligus menjadi kali pertama diadakan di Indonesia bertempat di Yogyakarta. Konggres ini menjadi moment penting, telah diukir dengan tinta emas dalam perjalanan sejarah bangsa ini.

Perempuan perempuan hebat, berasal dari 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Mereka bersepakat, menyatukan semangat dan berjuang menuju kemerdekaan.  Menjelang peringatan hari ibu tahun ini, Viva menggelar acara VIVATALK, “Perempuan Berdaya Indonesia Maju- Perempuan di Era Digital”.
Henky Hendranaantha -dokpri

Menurut Henky Hendranantha, selaku Chief Operating Officer at Viva Networks, bahwa peringatan hari ibu bukan sekedar perayaan. Tetapi menjadi tonggak emansipasi, dan peran besar perempuan dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Tema “Perempuan Berdaya Indonesia Maju, mengajak masyarakat, sadar akan pentingnya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Mendorong perempuan indonesia kreatif dan membuat indonesia maju.

Kita pasti kerap mendengar pemaparan di forum- forum resmi, bahwa pada rentang tahun 2030-2040 di Indonesia terjadi Bonus Demografi. Masa dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak, konon diperkirakan mencapai 64%.
Kondisi ini bisa menjadi berkah atau bisa menjadi bencana. Ya, menjadi bencana kalau SDM tidak siap, dan menjadi berkah kalau sedari sekarang anak anak dibekali dengan pendidikan dan ketrampilan mumpuni.

Perempuan memegang peran penting, karena “al ummu madrastul ulla” ibu adalah madarasah pertama. Eit’s, laki-laki juga tidak boleh egois. Fungsi supporting system tak kalah penting, kehadiran dan peran laki-laki menjadi pendorong kekuatan perempuan.
Kebayangkan kan, kalau perempuan pengin berdaya tetapi direcokin kaum laki-laki. Yang ada perempuan tertekan, sehingga tidak bisa mengembangkan diri dengan maksimal.
Indra Gunawan-dokpri
Selaras dengan sambutan Indra Gunawan, Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia, bahwa ibu dan anak tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Komitmen Internasional, dilahirkan melalui berbagai konferensi. Hal ini dilakukan, demi mencegah berbagai bentuk diskriminasi terhadap isu perempuan. Termasuk isu perempuan tertinggal dalam konteks pembangungan.

Tujuan pembangunan berkelanjutan, yaitu menjadikan perempuan sebagai subyek pembangunan bukan obyek. Saat ini angka kematian ibu melahirkan masih tinggi, dtambah isu stunting yang semakin marak. Kondisi ini mengindikasikan, ada masalah pada 1000 HPK (Hari Pertama Kelahiran) tentang ketercukupan nutrisi.

Pemerintah terus melalukan upaya, agar kebutuhan laki-laki dan perempuan terakomodasi dan seimbang. Dituangkan melalui RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) dan RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang). Bahwa mainstreaming gender menjadi mainsreaming yang mendapat perhatian khusus.
Termasuk di dalamnya,  isu pemerataan kesempatan usaha pada perempuan, yang ternyata berkontribusi dalam meningkatkan PDB di Indoensia.

Beberapa hal sempat menjadi perhatian Presiden, seperti peran perempuan dalam pengasuhan anak. isu kekerasan perempuan dan anak, ekploitasi anak, pekerja anak, pernikahan usia dini dan upaya mengurangi angka perkawinan anak.

-------

Pernah nggak, mendengar pertanyaan “kalau kerja gini, anak di rumah siapa yang ngurus?”. Pertanyaan ini, lazim ditujukan kepada perempuan yang bekerja. Tetapi pertanyaan yang sama, tidak mungkin ditanyakan kepada laki-laki bekerja.  
Pertanyaan yang sekilas terkesan wajar ini, menurut Eko Bambang Sugiantoro, narsum dari Aliansi Laki-laki Baru, sebagai persoalan konstruksi gender. Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan, secara inhern memiliki kemampuan yang sama.

Berbeda dengan kodrat, bahwa perempuan punya siklus menstruasi, kemudian hamil melahirkan dan menyusui.  Selebihnya karena terkukung konstruksi gender, menyebabkan (seolah) pemisahan atau pembedaan kemampuan laki-laki dan perempauan.

Sebagian masyarakat masih menganggap, bahwa laki- laki dianggap lebih produktif dan aktif, rasional dan logis. Atas anggapan ini, laki-laki mendapat peran dan dianggap layak sebagai pemimpin.
Perempuan dianggap lebih emosional dan reproduktif, pembawaannya lemah lembut sehingga porsi pekerjaannya juga lebih kecil. Banyak perempuan dilemahkan, sehingga akses menuju pemberdayaan terbatas.
Ki-ka , moderator, Sri Danti, Eko Bambang

Nah, memasuki era digital, kesempatan dan kemampuan setiap individu bisa berkembang. Era digital membuat akses informasi tidak terbatas, memungkinkan akses keterberdayaan tidak terbatas. Perempuan yang tadinya hanya hadir di ruang domestik, telah mampu mengakselarasi kemampuan dengan maksimal.
Ya, digital telah berfungsi membantu dan mengembalikan kemampuan perempuan. Sehingga semakin banyak industri kreatif, yang membuka kesempatan bagi banyak perempuan untuk selangkah lebih maju.

Perlu kita tanamkan di mindset, bahwa jika perempuan sukses, maka bisa meringankan beban ekonomi keluarga. Laki-laki tidak harus selalu merasa, bahwa dirinya yang harus menaggung beban tanggung jawab keluarga. Sinergi keduanya sangat dimungkinkan, justru akan membawa pada kemanfaatan.

Dr Sri Danti Anwar, selaku Pakar Gender menambahkan, ada perbedaan antara kodrat dan konstrusi gender. Kodrat adalah given dari kehidupan, seperti melahirkan dan menyusui hanya dimiliki perempuan, sementara laki-laki diberi kemampuan membuahi.
Dalam konstruksi gender, ada peran gender yang disematkan (dan disepakati) masyarakat pada laki-laki dan perempuan. Misalnya laki-laki menjadi pemipin dan yang mencari uang, sedang perempuan menjaga rumah dan anak. “Tetapi konstruksi gender bisa dirubah  tergantung komitmen,” ujar Dri Danti.

Peringatan hari ibu, sebagai moment untuk memaknai perempuan sebagai pejuang. Sekarang banyak permepuan, menempuh pendidikan tinggi. Meskipun masih ada isu ketimpangan gender, tetapi tingkat partisipasi perempuan dalam pembangunan mulai meningkat.
Masalah konstruksi gender, bisa diatasi dengan bagaimana suami istri berbagi tugas. Dan sekarang mulai tampak, laki-laki tidak canggung belanja di Supermarket banyak chef justru laki-laki.

Era digital memungkinkan perempuan bekerja, bahkan tidak harus dari kantor, misalnya melalui online shop dari rumah. Dampak positifnya, bisa menambah income dan keluarga tetap harmonis.
Masih menurut Sri danti, penyadaran pembagian peran, melibatkan partisipasi semua pihak. Bisa menggandeng tokoh masyarakat, tokoh organisasi profesi, media dan lain sebagainya. Sehingga prespektif tentang gender bergeser, kemudian didukung oleh kebijakan dan undang-undang.

“Perlu dekonstruksi ulang tentang maskulintias” tegas Sri Danti. Maskulin bukan lagi, laki-laki yang jago berkelahi, ototnya kekar dan berpenampilan sangar. Tetapi laki-laki yang penuh kasih sayang, tidak melakukan KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), bertanggung jawab terhadap keluarga mendorong terhapusnya kekerasan.

----
Diajeng Lestari-dokpri

Membincang perempuan berdaya, di acara Vivatalk hadir Diajeng Lestari, Founder HIJUP. Perempuan 33 tahun ini, adalah pengusaha fesyen e-commerce dan dulunya adalah karyawan swasta di sebuah perusahaan ternama.
Diajeng memulai bisnis fesyen muslim e-commerce tahun 2011, berawal dari ruangan 3 x 3 meter. Dan dirinya sebagai direktur, merangkap sebagai manager, hingga office girl untuk dirinya sendiri. sedangkan untuk urusan IT, dibantu sang suamu, Ahmad Zaki yang pendiri bukalapak.com

Dalam acara VIVATALK, Diajeng Lestari berbagi tips untuk memaintenance dan menggandakan semangat dalam berkarya. HIJUP menerapkan Coprotae Values, Trusted (Amanah), Helpful (Fathonah/ Sidiq), Empower (Tabligh) Lean (QS Al Isra; 27) Open (QS Al Isra) Result Oriented (QS Thoha 111 dan 112), Dynamic (Ar Rad ; 10).

Masih menurut Diajeng Lestari, bisnis yang cenderung unik, bisa membedakan identitas bisnis yang dijalankan. Jangan lupa berdoa, setelah semua upaya dikerahkan semaksimal mungkin.
Diajaeng Lestari, adalah contoh perempuan yang mengambil peran demi kemajuan perempuan. Masih banyak perempuan lain, dan anda perempuan Indonesia jangan pantang berkontribusi untuk masyarakat sekitar.

Semoga Bermanfaat !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA