Home

18 Okt 2019

Saatnya Kita Peduli, Penyelamatan Air Tanah di Jakarta !

dokpri

Saya turut prihatin, mendengar dan membaca berita, bahwa kota Jakarta mengalami penurunan tanah 7 – 12 cm/ tahun. Kalau hal ini terus dibiarkan, betapa ngerinya kondisi Jakarta pada sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang. Kepedulian kita sangat dibutuhkan, karena kalau bukan kita siapa lagi.
Kementrian ESDM RI melalui Badan Geologi, melakukan kampanye penyelamatan air tanah Jakarta. Diantaranya melalui Car Free Day (CFD) pada minggu 15 September 2019, kemudian juga mengundang awak media dan Blogger pada Media Gathering Penyelamatan Air Jakarta pada 15 Oktober 2019.

----

Tak dipungkiri, air tanah merupakan sumber air tawar terbesar di bumi, sekira 50% penduduk bumi bergantung pada air tanah untuk berbagai kebutuhan dasar.
Coba kita perhatikan, setiap hari kita mencuci baju, mengepel, menyiram tanaman, mencuci kendaraan dan sebagainya dengan air tanah. Kalau separuh penduduk bumi melakukan kegiatan serupa, maka berapa banyak air tanah yang ada di planet bumi ini digunakan.

Sementara di Jakarta saja, kebutuhan masyarakat akan air bersih diperkirakan mencapai 847 juta meter kubik per tahun. Sedangkan layanan air bersih PDAM Jakarta, baru memenuhi sekitar 62% sisanya masih menggunakan air tanah.
Pengambilan air tanah yang masif, niscaya akan menyebabkan turunnya muka air tanah sekaligus penurunan tanah (landsubsidence).
Media Gathering bersama mentri ESDM Ignasisus Jonan-dokpri


Tiba-tiba saya kepikiran, satu gedung pencakar langit saja di jalan protokol Jakarta, berapa ribu meter kubik air tawar dibutuhkan perharinya. Padahal, ratusan gedung pencakar langit ada di metropolitan.
Pada acara Media Gathering, diputar video yang mengabarkan di wilayah Jakarta Utara telah  terjadi penurunan muka air tanah dan intrusi air laut secara nyata. Pada 2013, di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta sekitar – 45 meter di bawah permukaan laut (m.dpl). Kemudian pada 2018 mengalami perubahan positif, terpantau muka air tanah terendah di Jakarta Utara pada level – 35 m.dpl.

Laju penurunan permukaan tanah tertinggi, adalah 12 centimeter/ tahun di daerah Ancol Jakarta Utara terpantai alat GPS Geodetik. Faktor lain penyebab penurunan tanah di Jakarta, adalah kompaksi tanah secara alamiah, pembebanan akibat pembangunan dan geotektonik.
 
penurunan permukaan tanah- dok satuharapan.com
Kementrian ESDM melalui Balai Konservasi Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi, pada 2014 membentuk Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) di Jakarta. 
BKAT ini berfungsi untuk mengelola air tanah di CAT Jakarta, agar upaya penanganan permasalahan air tanah bisa dilakukan secara lebih serius melibatkan semua stakeholder terkait.

Sejauh ini yang sudah dilakukan BKAT, adalah memantau kondisi air tanah, memantau penurunan permukaan tanah, optimasi upaya konservasi dengan pengembangan tekonologi konservasi, pelayanan rekomendasi teknis, pelayanan data serta informasi air tanah secara elektronik.
Dan (menurut saya) terlihat tegas, adalah kerjasama Kementrian ESDM dengan Pemprov DKI Jakarta melakukan pengetatan pengambilan air tanah, dan penindakan terhadap pengguna aiar tanah yang tidak sesuai aturan.
Pengadaan sumur pantau - dokpri

Saya percaya pepatah “hasil tak mengkhianati usaha”, ada perubahan positif terkait kebijakan tegas ini.  beberapa wilayah CAT di Jakarta Utara, terjadi kenaikan kedudukan muka air tanah. Misalnya di Kawasan JIP Pulogadung, melalui sumur pantau Badan Geologi, pada tahun 2016 tercatat kenaikan muka air tanah ada 2,45 meter dan muka airtanah saat ini pada posisi 20,01 m.dpl.
Sementara hasil pemantauan kualitas air tanag pada 277 titik sumur, memperlihatakan bahwa akuifer tertekan dengan kedalaman akuifer 40-140 meter memiliki ptensi aortanah dengan kualitas lebh baik dibandingkan dengan akuifer tidak tertekan (kedalaman 0-40 meter).

Perubahan positif ini perlu dibarengi dengan pengembangan teknologi artificial recharge seperti pembuatan sumur resapan, sumur imbuhan, biopori dan kolam resapan untuk membantu proses peresapan air hujan ke dalam akuifer.

Sehingga dapat dimanfaatkan secara sustainable, melihat resapan wilayah CAT jakarta semakain sedikit dikarenakan pembangunan yang semakin pesat setiap tahun.
Bloger di Media Gathering ESDM-dokpri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA