Home

11 Mar 2019

Apa Jadinya Dunia Tanpa Menulis

dokumentasi pribadi

" Menulis dan membaca adalah saudara kembar keterampilan yang sama-sama harus ditunaikan. Wajib, bukan makruh atau mubah".

Oleh sang maha Pencipta, dunia memang dihadirkan dengan begitu indahnya, menjadi samudra ilmu luas tiada batas.
Banyak perumpamaan dibuat, guna menggambarkan keterbatasan dimiliki manusia, dibandingkan ketersediaan ilmu yang ada di alam semesta.

Saking kerdilnya manusia, ibarat kita memasukkan ujung jari telunjuk pada air dipinggir lautan kemudian jari itu diangkat.
Nah, ilmu yang dimiliki manusia, seperti setetes air yang jatuh dari ujung jari telunjuk, sedangkan luasnya ilmu itu bagai hamparan lautan itu sendiri.

Keluasan Ilmu Allah SWT, kalaupun air samudra dijadikan tinta, maka sampai air itu habis tidak akan cukup menyelesaikan ilmu Sang Khaliq.
Dan atas alasan keterbatasan itulah, maka manusia musti mengikat pengetahuan dengan tulisan, agar tidak diserang lupa.

---

Setelah Baginda Rasulullah SAW wafat, beberapa hari selesai perang Yamamah, 70 kaum muslim didapati mati syahid.
Bagaimana pada perang ke perang berikutnya, niscaya jumlah kaum muslimin akan berkurang dan berkurang.

Adalah dua sahabat Rasulullah, Khalifah Abu Bakar dan Omar Bin Khatab mencemaskan hal ini, perihal jumlah kaum muslimin yang menjadi sedikit.
Mereka penghafal Al Qur’an yang sahid di medan pertempuran, membuat kitab suci (lama-lama) ditelan jaman.

Tindakan tepat harus segera diambil, segera membukukan Al Qur’an agar terjaga dan terdokumentasi dengan aman.
Seorang yang kuat ingatan bernaa Zaid bin Tsabit,  diberi amanah mengumpulkan wahyu Allah SWT yang disampaikan melalui malaikat jibril.

Zaid bin Tsabit, pemuda rendah hati berujar, "Kalau saja ada pilihan lain lebih baik, dirinya rela ditugaskan memindahkan gunung daripada mengemban tugas yang sangat memberatkan ini".

Kedua khalifah tak patah semangat, menguatkan lelaki pintar berbudi. Hingga terlaksana  "proyek" mengumpulkan mushaf mushaf kitab suci ini.
Pengumpulan dimulai, mulai menyatukan mushaf yang sudah ada (di pelepah daun kurma, media lain, mengandalkan ingatan / hapalan para sahabat lainnya).

Membaca dan Menulislah

‘IQRO” (seperti kita ketahui) adalah wahyu pertama yang di terima kanjeng nabi, ketika sedang tafakur di gua Hiro
Sebagai ajakan bagi kita umat akhir jaman, untuk rajin membaca, karena membaca adalah sumber pengetahuan.
dokumentasi pribadi

Membaca saja tidak cukup, kita musti mengajarkan dan membagikan kepada orang lain, tidak lain melalui tulisan.
Tulisanlah yang terpatri di pikiran, persis seperti istilah “setajam-tajamnya pikiran tidak menandingi ketajaman pena”.

Seiring berjalannya usia, manusia dengan segala keterbatsan, sanngat mungkin bisa diserang kepikunan dan kelupaan.
Maka tulisan akan mematrikannya, bahkan melampaui wakktu, ketika kelak sang penulis sudah menghadap Sang Pencipta.

Maka tidak perlu takut menulis (karena merasa tulisan jelek), setiap tulisan akan menemui dan dicari pembacanya oleh sendiri.
Bayangkan, bagaimana jadinya apabila dunia kita huni tanpa tulisan, akan sepi tak ada imajinasi yang berkembang bisa saja memutus rantai peradaban.

Menurut saya, tiada cara berbagi yang lebih indah, selain berbagi pengetahuan yang dimiliki melalui goresan tulisan.

Semangat menulis tak ubahnya semangat berbagi, berbagi semampu yang kita bisa, agar menjadi manfaat bagi orang lain.

2 komentar:

  1. Setujuu..
    kalau enggak nulis, rasanya ada yang mengganjal. :D

    Kayak ada yang kurang

    Apalagi kalau sudah kebiasaan nulis, pasti menulis terasa menyenangkan

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA