25 Sep 2018

Ajakan Kemenkes Eliminasi Kaki Gajah dalam Belkaga


Temu Blogger Kemenkes dalam tema Eliminasi Kaki Gajah - dok WAG


Apalah Kalian pernah melihat, orang yang terkena penyakit kaki gajah/ filariasis? Kalau belum, cukup mudah menemukenali tanda- tanda, orang dengan jenis penyakit ini. Sesuai namanya, penyakit ini ditandai dengan membesarnya kaki – bisa satu bisa dua-duanya.

Saat masih merantau di Surabaya, saya pernah menemui orang dengan kaki membesar. Jalannya agak miring ke kanan, karena tidak sanggup menyangga badan secara seimbang.
Kala itu saya berkesimpulan, orang yang saya lihat terkena penyakit Kaki Gajah/ filariasis.

Temu Blogger yang diadakan di kantor Kementrian Kesehatan, membuka pengetahuan dan mengenal lebih dekat apa itu Filariasis.
Penyakit Filariasis, merupakan penyakit menular menahun, disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan oleh nyamuk. Ingat ya, cacing filaria berarti bisa disebabkan oleh nyamuk apa saja.

So, kalau di lingkungan rumah sedang ada kegiatan penyemprotan nyamuk (fogging). Kemudian RT mengedarkan obat (biasanya seperti serbuk), untuk di masukkan ke bak mandi berfungsi sebagai pembunuh jentik.
Sebaiknya jangan diabaikan, karena sangat penting untuk pemberantasan bibit nyamuk.
Mungkin dampaknya tidak langsung dirasakan, tapi akibat kedepannya ternyata sangat besar.

Menurut, Dr Elizabeth Jane Sopeardi, MPH, Dsc, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, sekaligus bertindak sebagai narasumber di acara Temu Bloger, menyampaikan, bahwa akibat cacing Filaria, akan menimbulkan kecacatan menetap, stigma sosial yang membebani penderita, hambatan psikologis (terkait dengan stigma), menurunkan kualitas SDM dan berakibat pada kerugian ekonomi.

Orang terdampak cacing filaria, tentu akan terhambat dalam beraktivitas. Enggan bersosialisasi dengan orang sekitar, cenderung menutup akses diri karena ada perasaan minder. Dan semua akibat menyakitkan ini, dimulai dari nyamuk – notabene binatang kecil.

Jadi nyamuk –apapun— adalah biang dari vektor Filaris, di Indonesia sendiri terdapat 23 spesies nyamuk diketahui bertindak sebagai vektor (seperti Genius, Mansonia, Culex, Anopheles, Aedes, Armigeres dan lain sebagainya.
 *Skema penularan ada di gambar.

Skema Penularan Filariasis - materi presentasi
Kaki Gajah terjadi secara bertahap, terbagi mulai stadium I sampai stadium VII. Namun namanya penyakit, serendah apapun –stadiumnya-- harus segera dicegah.
Ya, meski baru masuk filarias stadium I, dengan tanda-tanda relatif samar , berupa bengkak yang bisa hilang pada saat bangun pagi, kemudian belum ada lipatan kulit, kulit juga masih halus dan normal, pitting endema, tetap saja musti diwaspadai

Sementara untuk filarias stadium II, sudah mulai bisa dideteksi keberadaannya. Semakin bertambah stadium, maka akan semakin kentara dan menganggu aktivitas yang akan mempengaruhi produktifitas.

Kementrian Kesehatan (Kemenkes), menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga). Pada bulan Oktober ini secara serentak, ditetapkan minum obat pencegah penyakit kaki gajah secara serentak di seluruh daerah endemis di Indonesia. (tampak di gambar daerah endemi filarias yang berwarna kuning)

Tahun ini adalah tahun ke empat Belkaga, rencana akan dicanangkan di alun-alun kabupaten Sorong. Akan diisi dengan aneka kegiatan, seperti lomba mewarnai, melukis, tarian kreatif dengan lagu jingle Belakaga. Acara puncak yaitu pencanangan POPM, kemudian dilakukan minum obat bersama.
daerah endemis Filariasis - insert penyakit Kaki Gajah

Kesadaran kita – sebagai individu bagian terkecil di masyarakat—sangat penting, terutama aware dalam membasmi sarang nyamuk.  
Pikiran saya langsung tertuju pada pengurus RT di rumah, yang mengadakan fogging secara berkala. ternyata kegiatan ini sangat penting, sebagai upaya menghindarkan warga dari gigitan dan memberantas nyamuk penular.
Ki-Ka : Moderator Indra Rison (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes), Dr Elizabeth Jane Sopeardi, MPH, Dsc, Prof. Dr. Dra. Tania Supali - dokpri

Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) penyakit kaki gajah, telah dan terus dilakukan Kemenkes, memiliki fungsi ganda, yaitu mencegah filarias dan mencegah cacingan.
POPM Filarias bertujuan untuk menurunkan kadar mikrofaria di dalam darah, sehingga tidak lagi terjadi penularan walaupun POPM sudah dihentikan. Semakin besar proporsi penduduk minum obat dilaria, semakin besa untuk memutusrantai penularan filaria.

Menurut Prof. Dr. Dra. Tania Supali, Anggota National Task Force Folariasis, yang hadir sebagai narasumber kedua di Temu Blogger, POPM sebaiknya diminum setahun sekali, dilakukan secara rutin selama lima tahun. Obat diminum sesudah makan, langsung diminum dihadapan petugas.

Namun ada pengecualian untuk tidak minum obat Filarias, yaitu pada ibu hamil, anak di bawah 2 tahun dan orang sakit keras yang harus berbaring di tempat tidur. (Note ; ibu menyusui sudah diperbolehkan)

Mulai sekarang, tindakan preventif musti kita lakukan dari lingkungan terkecil yaitu rumah,
Saatnya kita mulai rajin, membersihkan sumber sarang nyamuk. Jangan membiarkan sudut rumah kotor, berpotensi sebagai sarang nyamuk. Betapa sebenarnya, hal besar -- termasuk sakit-- dimulai dari hal kecil dan sederhana tapi kerap diabaikan. - salam sehat-

2 komentar:

  1. Nah itu dia yang ngingetin setiap 5 tahunnya yg ga ada, suka kelewat mas agung... orang di daerah kami aja fogging selalu setelah ada yang kena dbd... ga terjadwal.. kalau terjadwal ada yang bilang ini mah jadi proyeknya pengurus. Sama seperti minum obat tadi hanya sebatas himbaun bukan paksaan.. kalau menurut saya baiknya dipaksa dan diingatkan oleh petugas medis biar purna eliminisai kaki gajah di Indonesia ini.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA