21 Agu 2022

Memendar Kasih di Pelosok Tabanan


Setitik cahaya, niscaya tampak di ruang pekat. Sebentuk  kasih dari sebentuk hati, niscaya kan terungkap.  Demikian hukum semesta berlaku, akibat bagi yang berbuat tak memandang apa dan atau siapa.

Saya menemui setitik cahaya, di desa Bantas Tabanan Bali. Ketika saya berkesempatan, mengunjungi anak-anak di rumah SOS Childern's Villages. Adalah bapak I Gusti Agung Made Suweca, selaku kepala di asrama anak-anak butuh kasih sayang.

O’ya, Sos Indonesia adalah organisasi non profit, yang memerjuangkan hak-hak anak khususnya dalam hal pengasuhan. SOS Indonesia Childern's Villages menghadirkan pengasuhan alternatif berbasis keluarga, menggiatkan Program Penguatan Keluarga di sekitar lokasi Village.

SOS Childern's Villages berdiri sejak 1949, tersebar di 134 negara termasuk Indonesia. Selain di Tabanan Bali,  asrama SOS Childern's Villages ada di Bandung, Jakarta, Semarang, Medan dan Aceh. SOS

-----

SOS Childern's Villages Bali, memiliki 12 rumah masing-masing memiliki 4 kamar. Setiap rumah dihuni 12 anak, dengan satu ibu asuh. Layaknya sebuah keluarga ideal, selain ibu ada yang menjadi kakak pun adik.

Saya menyambangi dan bersapa hangat, dan setiap rumah memiliki keunikan sendiri- sendiri. Di dinding terpasang aneka penghargaan, dan juga karya anak-anak dan foto-foto saat berlomba.

Satu anak sedang hangat diperbincangkan, adalah Semy yang menyabet medali perak dan perunggu di olympiade Los Angles dari cabang olah raga Ateletik. Prestasi yang tidak sembarangan, sudah tingkat international.

Semnetara anak yang dewasa, telah bekerja dan merantau, ada yang menjadi perawat, ada yang di Kapal Pesiar, tentara, dan masih banyak yang lainnya.

Anak yang tinggal di SOS Childern's Villages otomatis menjadi keluarga besar, ketika anak-anak yang mandiri pulang mengadakan reuni. SOS Children's Village seperti sebuah kampung, dengan fasilitas penunjang dan kehangatan dibutuhkan anak-anak.

Ibu asuh di setiap rumah, menyayangi anak-anak seperti anak kandung. Bu Gusti salah satu ibu asuh, telah puluhan tahun mengabdi. Di usianya 60 tahun lebih, tak lelah mencurahkan perhatian pada anak-anak.

Memendar Kasih di Pelosok Tabanan


Saya datang ke tempat luar biasa ini bukan tiba-tiba, melalui sebuah lomba blog. Malam harinya digelar malam budaya, menampilkan tari, atraksi Yoga dan penampilan Band. Pengisinya adalah anak-anak SOS, sebagai wadah unjuk bakat.

Kami turut berpartisipasi, ada yang mendongeng cerita rakyat Palembang, saya nembang lagu dolanan Jawa. Satu teman dari Gorontalo, menyanyikan lagu khas daerah tersebut.

Kemeriahan malam budaya berlanjut di pagi hari, ada Cheff Juna yang akrab di layar televisi. Mengajak ibu-ibu memasak, dan hasilnya dinilai oleh chef kenamaan. Enda Nasution, bapak blogger Indonesia, memandu kelas menulis bersama kami para blogger.

Sepanjang dua hari di SOS Children, tak ada yang memenuhi hati kami kecuali bahagia. Cinta berpendar dalam hati, menanamkan optimis tak berkesudahan. Anak-anak dengan keceriaannya, menjadi bekal kehidupan masa mendatang.

Kita para orang tua, seharusnya mewarisi sikap kasih. Agar diteladani anak-anak, sehingga dicopas ketika mereka dewasa. Alangkah indah kehidupan, apabila keindahan juga yang ditanamkan.

Setitik demi setitik cahaya kalau disatukan, niscaya bisa menjadi lentera. Tak ada kegelapan yang abadi, selama mash ada sebentuk hati yang memendam kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA