25 Jan 2018

Tantangan Mewujudkan Indonesia Emas 2045



ajtual(dot)com


Pernah dengar Stunting ? Ya. Stunting adalah istilah untuk tubuh pendek.
pernah mendengar obesitas ? pasti sudah pernah, obesitas adalah kelebihan berat badan.
Masalah stunting, gizi buruk dan atau obesitas, ternyata tidak hanya terjadi di daerah pelosok di Indonesia –seperti Papua--, bahkan di Jakarta sekalipun juga terjadi.

Apa yang menyebabkan stunting. gizi buruk dan obesitas.
Untuk membahas malah tersebut, bertepatan dengan “Hari Gizi Nasional 2018,” Muslimat NU dan YAICI (Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia), menyelenggarakan diskusi publik.

Acara diselenggarakan di Gedung Utama Kemendikbud, mengambil tema “Mewujudkan Indonesia Emas 2045 Anak Indonesia Zaman Now- No Malnutrisi, No Obesitas ; sayangi anak dengan makanan gizi seimbang.”

WHO, menetapkan batas toleransi stunting, maksimal 20% dari jumlah keseluruhan balita. Mengacu pada angka prosentase tersebut, WHO mengkategorikan Indonesia sebagai Negara dengan status gizi buruk –sedih ya--.

Sulawesi Tengah, adalah daerah dengan status stunting tertinggi di Indonesia, atau sebesar 16.9%. Sementara Sumatera Utara, sebagai provinsi dengan status stunting terendah di angka 7.2%.

Untuk mengatasi keadaan ini, pemerintah menetapkan 100 Kabupaten prioritas, kemudian dilanjutkan 200 Kabupaten lainnya, mendapat perhatian dan penanganan khusus perihal stunting.

Data Menkes bulan November 2017, 17.8% bayi usia di bawah lima tahun (balita) di Indonesia, mengalami masalah gizi, berdasarkan indeks berat badan menurut umur.
Sementara, bayi dibawah usia dua tahun (Baduta) mengalami masalah gizi mencapai 14.9 %. Hal ini tentu menyedikan, mengingat masa depan bangsa ini, pada tangan anak-anak ini.

Gizi terkait erat dengan kesehatan, akan mempengaruhi kualitas hidup. Gizi juga sangat membantu, sebagai upaya efektif dalam masa pemulihan saat pengobatan.
Gizi dan atau nutrisi, merupakan faktor yang meningkatkan kekebalan tubuh. Nutrisi yang baik, memberikan bahan yang dibutuhkan sel-sel kekebalan tubuh.
Pembukaan Diskusi Publik dalam rangka Hari Gizi 2018 -dokpri

Tantangan Pemerintah saat ini cukup besar, tingginya angka stunting menjadi indikator tingginya kejadian gizi buruk di negara ini,” Jelas Siti Masrifah Chifa, anggota Komisi IX DPR RI.

Lebih lanjut Siti Masrifah menilai, penanganan gizi buruk pada anak harus menjadi prioritas pemerintah. Hal ini penting, karena terkait dengan masa depan anak, yang notabene menjadi penerus pembangunan bangsa ini.

Selain masalah gizi buruk, masalah obesitas anak juga terjadi di Indonesia. Anda pasti ingat, Arya  Permana bocah asal Karawang yang mengalami kelebihan berat badan.
Arya dengan badannya yang obesitas, terpaksa berhenti sekolah, karena tidak kuat berjalan akibat bobot yang berlebihan.

Menyoal obesitas pada anak di Indonesia, pada 2011 di angka 11% meningkat menjadi 15.5% pada tahun 2016.
Penyebab obesitas, adalah penerapan pola makan yang tidak seimbang. Kerap mengonsumsi makanan tinggi kalori (karbohidrat, lemak), tinggi natrium, terlalu manis dan rendah serat.

Penambahan satu porsi makanan manis, berhubungan dengan kenaikan indeks masa tubuh selama setahun.
Makanan dan atau minuman manis, merupakan faktor penyumbang pada berat badan anak-- dan orang dewasa pastinya--.

Sementara Natrium tinggi pada anak, berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Peningkatan IMT (Indeks masa Tubuh) pada anak, dipengaruhi oleh konsumsi minuman manis dan makanan lemak tinggi.

Pola makan lemak tinggi dan rendah serat, secara lotingudinal berkaitan dengan peningkatan adipositas.

Dodik Briawan MCN, pengajar dan peneliti Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB, hadir selaku narsumber diskusi publik pada Hari Gizi Nasional mengatakan, “Intervensi gizi, perlu dilakukan dalam bentuk edukasi secara berkesinambungan kepada masyarakat terutama orang tua. Orang tua harus paham betul kebutuhan nutrisi anak, makanan yang baik dan tidak baik, tidak terpengaruh gaya hidup yang serba instan serta iklan- iklan produk makanan anak yang kadang menjanjikan hal yang berlebihan.”

Hasil penelitian Sartika (2011), menunjukkan adanya hubungan antara asupan energi dan protein, dengan obesitas pada anak.
Kemungkinan disumbang oleh konsumsi makanan cepat saji, yang tinggi energi, tinggi lemak, tinggi garam dan rendah serat.
(searah jarum jam) Siti Masrifah Chifa, Prof. Dr. Dodik Briawan MCN, , Dr. Musridah Thahir, Dr. Damayanti Rusli S, SpAK, Phd,  (dokpri)

Dr. Damayanti Rusli S,SpAK, Phd, anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI, mengatakan, fator utama tingginya masalah stunting di Indonesia salah satunya adalah buruknya asupan gizi sejak janin masih dalam kandungan, baru lahir sampai anak berusia dua tahun.

Kekurangan gizi pada dua tahun pertama kehidupan, dapat menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki. Investasi gizi pada 1000 HPK ( Hari Pertama Kehidupan), merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar.

Permasalahan gizi tidak hanya mengganggu perkembangan fisik dan mengancam kesehatan anak, namun juga dapat menyebabkan kemiskinan. Pertumbuhan otak anak yang kurang gizi tidak akan optimal sehingga akan berpengaruh pada kecerdasannya di masa depan. Dengan demikian, peluang kerja dan mendapatkan penghasilan lebih bakal lebih kecil pada anak stunting,” Jelas Dr Damayanti.

Sementara Ibu Mursyidah Thahir dari PP Muslimat NU sekaligus anggota koimisi fatwa MUI, mencoba melihat prespektif sehat tidak dari fisik saja, tapi juga sehat mental, spiritual maupun sosial.

Al-Qur’an telah jelas, mengatur dan mengajak konsumsi makanan (tidak hanya) sehat, bergizi, (paling utama) dan halal. Mengonsumsi makanan halal, identik dengan bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT.

Keluarga merupakan madarasah pertama, untuk menerapkan prisip hidup sehat. Keluarga pula, melindungi seluruh anggotanya dari ancaman berbagai penyakit, dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Dr. Musridah Thahir, menyampaikan, “Di sini peran keluarga sangat penting, terjadinya gizi buruk berawal dari keluarga yang tidak bisa mencukupi kebutuhan gizi bagi anak-anaknya. Akibatknya stuntung tidak bisa dihindari dalam masyarakat kita.”

Upaya masif perlu dilakukan dari sekarang, demi generasi mendatang. Semoga pada satu abad usia kemerdekaan –yaitu tahun 2045--, Indonesia bisa bebas stunting, sehingga bisa bersaing dengan negara di dunia. 
dokumentasi pribadi

44 komentar:

  1. Sedih banget ya Mas kalo bicara soal gizi buruk yang masih banyak dialami oleh anak-anak Indonesia. Semoga permasalahan ini dapat segera dituntaskan.

    BalasHapus
  2. WHO mengkategorikan Indonesia sebagai Negara dengan status gizi buruk *glek*
    Semoga angka stunting dan permasalahan gizi anak Indonesia bisa makin menurun tahun ini dan tahun2 berikutnya yaa.. sesama ortu bisa saling berbagi informasi dan saran supaya anak2 terjaga kesehatannya. karena mereka adalah masa depan kehidupan

    BalasHapus
  3. Miris juga Indonesia masuk peringkat lima dunia.. ini harus diperbaiki lagi.

    BalasHapus
  4. Tantangan berat tapi bon berarti gak hisa. Kenalkan Dan berikan gizi terbaik sejak dalam perut ibu agar anak2 Sehat Dan tumbuh dong baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakay bun, 1000 HPK musti diperhatikan

      Hapus
  5. Pemerintah harus selektif dan mendata daerah-daerah yg rawsn gizi buruk dan memberikan sosialisasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. pemerintah dengan dukungan masyarakat pastinya

      Hapus
  6. berasa sentilan nih buat ibu-ibu yang malas masak

    BalasHapus
  7. Orang Indonesia emang tingginya masih terbilang di angka rendah ya, Om, faktor olahraga juga kali ya om. Terus kena panas matahari aja takut. Hihihi. Harusnya berjemur terus tiap pagi.

    BalasHapus
  8. Aku jd inget tulisan mas Agung yang di kompasiana.. hmm yg di Jakarta aja masih banyak kasus balita stunting.. krn salah asuhan salah asupan. Apalagi yang disana ya.. huwaaaa sedih

    BalasHapus
  9. Setuju, kestabilan makanan sehat berawal dari keluarga, dan menjadi tantangan berat jika orangtua tidak bisa memenuhinya, kasian anak-anak generasi selanjutnya, apalagi kalo stunting kan suka jadi minder

    BalasHapus
  10. Sbagai ibu,harus kreatif menyajikan menu bergizi tuk anak setiap.hari nya agar terpenuhi nutrisinya

    BalasHapus
  11. Tantangan terbesar bagi suatu negara untuk mensejahterakan rakyatnya. Semoga Pemerintah Indonesia bisa wujudkan Generasi Emas 2045 yang BEBAS dari Stunting

    BalasHapus
  12. Nggak sabar melihat anak-anak Indonesia bebas stunting di 2045. Yuk! Kita ambil peran untuk mewujudkan hal itu :)

    BalasHapus
  13. Aduh ngomongin tema ini gw jadi merasa tertohok, pria semampai sepertiku suka minder klo bahas tema begini mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehee, tapi bukan berarti kalau pendek otomatis stunting mas, karena ada juga faktor genetik

      Hapus
  14. Semoga Indonesia segera bebas dari kasus gizi buruk.

    BalasHapus
  15. Anakku juga kayaknya terlalu gemuk, duh warning nih buat aku, tapi Alhamdulillaah anakku masih suka makan sayuran sih dan konsumsi air putihnya banyak.

    BalasHapus
  16. Sebagai orangtua kita wajjb ya memperhatikan asupan si kecil. Jangan keliru dengan kandungan nutrisi, bisa obesitas kalau ga kurang gizi

    BalasHapus
  17. Sedih melihat anak anak kita masih banyak kekurkekur gizi. Masalah serius ini, harus segera diselesaikan

    BalasHapus
  18. Duh, masih banyak banget ya ternyata anak yang kekurangan gizi. :(

    BalasHapus
  19. Suka sedih kalau lihat anak yang stunting atau obesitas. Biasanya jadi minder di pergaulan dan kadang suka dibully teman-temannya. Semoga aku bisa memberikan gizi lengkap buat anak-anak aku.

    BalasHapus
  20. Emak emak kudu memperhatikan gizi sang anak jangan obesitas dan kerja keras agar anaknya tidak mengalami gizi buruk

    BalasHapus
  21. Waduh terancam generasi penerus bangsa ini. Miss jadi sedih

    BalasHapus
  22. Pemenuhan gizi yang baik emmabg harus paling diperhatikan ya mas

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA

Daftar Blog Saya