3 Feb 2019

Berat Badan Ideal, Tanda Tumbuh Kembang Anak Optimal


Ilustrasi -dokpri


Siapa yang bisa menjawab, peringatan Hari Gizi setiap tanggal berapa ? Sssst, saya sendiri juga baru tau, kalau jawabannya adalah tanggal 25 Januari - hehehe.
Kita semua musti jujur, bahwa gaung hari gizi  belum terlalu santer terdengar, perayaannya tidak sesemarak (misalnya) Hari Kartini, Hari Ibu, (apalagi) Hari Kasih Sayang.

Padahal masalah gizi adalah masalah krusial buat kelangsungan semua orang, apabila tidak segera ditangani berdampak jangka panjang.
Nutricia Sarihusada, mengajak semua pihak aware masalah gizi, termasuk blogger yang menjadi corong di linimasa media sosial.

Dilansir dari data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018, satu dari lima anak Indonesia mengalami berat badan kurang.
Keadaan ini musti segera diintervensi, agar selama masa tumbuh kembang, abak tidak terancam gizi kurang, dan yang lebih bahaya adalah stunting (tubuh kerdil).

Acara ‘Bincang Gizi’ yang diadakakan oleh Nutricia, sebagai bentuk komitmen Nutricia selalu mendukung upaya perbaikan gizi.
sebagai perusahaan yang memiliki komitmen mendukung perbaikan gizi, tidak hanya menyediakan produk nutrisi dengan kualitas terbaik dan harga terjangkau, kami juga secara berkesinambungan memberikan edukasi mengenai gizi” jelas Arif Mujahidin, selaku Communication Director Danone Indonesia.
Arif Mujahidin- dokpri

Nah untuk peduli gizi, bisa dilakukan dari hal paling sederhana, yaitu secara rutin melakukan pemantauan (salah satunya) melalui penimbangan berat badan anak.
Danone menyediakan platform website, di www.cekberatanak.co.id , langkah ini untuk memudahkan orang tua memantau kapan saja dan di mana saja.

Gizi Seimbang untuk Tumbuh Kembang
Sumber daya manusia (SDM) adalah modal utama sebuah bangsa, kualitasnya dipengaruhi oleh (salah satunya) asupan yang nantinya berdampak pada tumbuh kembang.
Bahan asupan harus diperhatikan sejak 1000 HPK, agar calon bayi tidak kurang gizi, dan lebih parah lagi terdampak stunting.

Mengacu data Riskesdas 2018 (lagi), presentase underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang), pada kelompok balita Indonesia mencapai 17,7%.
Angka tersebut termasuk tinggi, karena melampaui ambang batas yang ditetapkan Badan Kesehatam Dunia (WHO) yaitu 10%.

Kondisi ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke 5 stunting dunia, akan memiliki dampak buruk baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Indikasi kekurangan nutrisi, sebenarnya bisa diketahui dengan adanya perlambatan pertumbuhan (growt faltering), kalau tidak segera ditangani akan berkelanjutan stunting.
Sementara faktor penting masa tumbuh kembang anak, mencakup Genetic, enviroment, Nutrition (ASI, MPASI, Makanan Keluarga).

Kekurangan nutrisi bisa terjadi, karena bayi tidak diberikan ASI eksklusif, kemudian berlanjut pada MPASI yang tidak bagus. Kondisi air dan sanitasi yang buruk, berkaitan erat dengan diare, infeksi berulang, arsenik, stimulasi dan pola asuh bayi yang salah dan mengakibatkan ibu depresi.

status gizi kurang, merupakan salah satu permasalahan pertumbuhan yang mengacu pada kondisi berat badan yang ideal menurut tinggi badan.Kondisi ini dapat diakibatkan oleh asupan gizi yang kurang, penyakit kronis, masalah kesulitan makan, praktek pemberian makan yang salah dan ketidaktahuan orangtua,” jelas Dr. Dr. Conny Tanjung Sp.A (K)
Ki-Ka : Dallas Pramata, Kadhita Ayu, dr Conny Tanjung -dokpri


Anak dengan status kurang gizi, rentan terjadi penurunan sistem daya tahan tubuh, rentan terhadap penyakit, anak tumbuh tidak optimal cenderung pendek.

Nutrisi memegang peran penting, dengan memperhatikan kecukupan nutrisi sejak awal kehidupan, akan mendukung masa depan anak yang lebih.
Kecukupan nutrisi  mempengaruhi manusia untuk melakukan aktivitas, mengoptimalkan fungsi tubuh, pendukung tumbuh kembang dan fungsi terapy.

WHO merekomendasikan, untuk menyusui secara dini (< 1 jam dari kelahiran) memberi ASI ekslusif selama 6 bulan, dilanjutkan MPASI setelah 6 bulan (pemberian MPASI tepat dan benar)
MPASI ASI diberikan secara tepat waktu, Aman dan Higenis, Adekuat (memebuhi kebutuhan energi, protein, mikronutrient) dan siberikan secara responsif.

Kandungan MPASI yang musti diperhatikan, ada unsur karbohidrat, protein (hewani, ikan) bahan makanan mengandung susu, kacang-kacangan, buah sayur, lemak.

selain mengupayakan pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan untuk mengejar berat badan ideal, orang tua juga perlu aktif melakukan pemantauan rutin pertumbuhan anak di layanan kesehatan yang paling mudah dijangkau, untuk memantau stats gizi dan mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan,” tambah dr Conny.

Dukungan Positif Keluarga Mencapai Berat Badan Ideal

Setuju nggak, bahwa perbaikan gizi dimulai dengan peran aktif keluarga ? ya, keluarga terutama orang tua, harus memperhatikan pola makan, demi kecukupan gizi.
Saya pernah menjumpai seorang ibu, yang anaknya kerap diberi mie instan, “Abis anak gue seneng, makannya banyak kalau pakai mei,” si ibu beralasan.

Menjadi orang tua, akan membawa perubahan kondisi psikologis, musti melihat satu hal dari beberapa sisi, termasuk mengatasi pola makan anak.
Menjadi orang tua, musti belajar tidak egois, menyediakan diri untuk belajar, giat mencari informasi untuk mengreasikan menu agar anak tertatik mengonsumsi aneka makanan.

Dalam prespetif pola asuh, orang tua juga perlu turut andil memberikan contoh kebiasaan pola makan yang baik di rumah dan menyediakan waktu bersama yang berkualitas dengan anak,” ujar Psikolog Ajeng Reviando.

Pepatah arab mengatakan, “Al ummu madrasatul ulla” ibu adalah madarasah pertama, bermula dari ibu anak menyerap informasi pertama kali.
Ibu musti tak lelah menyampaikan kalimat positif, agar tertanam afirmasi yang baik di benak anak tentang makanan.

Orang tua musti mau memberi contoh nyata, menerapkan kebiasaan makan yang baik, menyediakan waktu berkualitas bersama anak.
Menyoal kebersamaan keluarga inilah, yang diterapkan pasangan selebriti Kadihta Ayu dan Dallas Pratama.

Ki-Ka ; dr Conny, Arif, Ajeng, Kaditha, Dallas -dokpri
Di rumah, saya dan suami menerapkan untuk selalu memberi contoh yang bisa diteladani anak. Misalnya kalau ingin anak makan sayur, maka saya juga harus makan sayur, jadi tidak perlu menggunakan paksaan untuk mendukung asupan gizi anak tercukupi,” ujar Kaditha Ayu.
  
penting bagi orang tua untuk berpikir terbuka dalam menerima masukan dari lingkungan dan objektif dalam menerima rekomendasi akhli kesehatan untuk mengikuti petunjuk pemulihan gizi yang disarankan,” imbuh Ajeng.

Saya sepakat, bahwa keluarga adalah tonggak utama kesadaran gizi, orang tua musti upgrade pengetahuan tentang gizi.
Dengan rutin mengecek pertumbuhan anak (melalu web beratanak – link di atas), orang tua lebih siap dan waspada mencari solusi dan konsultasi pada ahlinya.

2 komentar:

  1. Very nice blog post. I definitely appreciate this site.

    Continue the good work!

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA

Daftar Blog Saya