28 Sep 2019

Dekat, Singkat, dan Dadakan Menjadi Tren Wisata dari Google Search

dokpri


Saya yakin, nyaris semua orang (usia produktif) punya akun medsos, baik itu Facebook, Instagram atau Twitter. Khususnya Instagram, tak ubahnya seperti etalase untuk menunjukkan eksistensi diri. Tempat tempat yang instagramable bermunculan, menjadi pilihan banyak orang untuk menampilkan dirinya di medsos.
Jadi jangan kaget, kalau pemilik akun IG sebagian besar pernah publish foto saat berwisata. Entah sekali atau dua kali, setidaknya pernah upload keseruan saat berwisata.

Perubahan perilaku warga net, membawa pengaruh pada tren wisata di tanah air. Belakangan, wisata sudah menjadi kebutuhan kelas menengah (sebelumnya kelas atas). Mengacu data Google Search, terjadi kenaikan sebesar lima kali lipat, untuk penelusuran akomodasi murah. Ini artinya, kebutuhan orang akan akomodasi mengalami kenaikan.

------

Saya beruntung, berkesempatan hadir di acara “Indonesia Travel Insight 2019” yang diadakan di kantor Google Indonesia di kawasan Jakarta selatan. Acara keren ini, membuka wawasan saya tentang tren pariwisata di Indonesia.
Dalam rangka Hari Pariwisata Sedunia, yang jatuh pada 27 September 2019, Google membagikan hasil analisis penting perkembangan pariwisata di Indonesia. Dari hasil tangkapan mesin pintar, terhitung dari awal 2018 terjadi kenaikan 39% penelusuran Google terkait wisata.
Menurut saya, temuan ini cukup masuk akal, kalau dikaitkan dengan kebiasaan netizen berbagi kebahagiaan di tempat wisata domestik di negeri tercinta.
Ryan Rahardjo-dokpri

Menurut Ryan Raharjo, selaku Kebijakan publik dan Hubungan Pemerintah Google Indonesia, bahwa dari laporan Pasific Asian Travel Assosiation 2018, menyatakan penggunaan data dan penggunaan platform digital mampu mendorong bisnis pariwisata. Penggunaan data sangat penting, untuk memberikan efek positif di bisnis pariwisata. “Pelaku UKM di industri pariwisata bisa memanfaatkan data untuk meingkatkan bisnis,” jelas Ryan.

Melalui data pelaku bisnis wisata, bisa mengenali kebutuhan traveler, untuk memberikan jasa yang dibutuhkan secara berkualitas. Tak dipungkiri, bahwa data juga berperan meningkatkan kompetisi industri wisata, baik secara lokal, nasional maupun global.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata, mengakui bahwa industri pariwisata saat ini, sudah mengarah ke era digital. Ari Prasetyo, Asistan Deputi Management Strategis Kemenpar, menyampaikan bahwa ASN di lingkungan Kemenpar dituntut punya kemampuan dan ketrampilan digital tinggi.

Hal ini sejalan dengan kebijakaan Menteri Pariwisata, bahwa dunia pariwsata kini memasuki era tourism 4.0. Revolusi perilaku traveler, bisa diolah sedemikian rupa, guna menghadirkan pengalaman travelling yang semakin mengesankan.
Ari Prasetyo-dokpri

------
Senang, melihat instagram feed teman-teman saya. Ada yang melewatkan liburan bareng keluarga, dengan pergi ke Malang, Bromo, Lombok, Bali dan banyak tempat indah di Indonesia. Satu hal yangg bikin mupeng, mereka bisa menyiasati liburan dengan budget yang minim.
Seperti memanfaatkan promo tiket pesawat, kereta, sewa kendaraan, atau naik Bus. Ketika sampai di tujuan, menginap di hostel atau hotel kapsul yang harganya sangat terjangkau.

Menyimak pemaparan Zulfi Rahardian, selaku Industry Manager Google Indonesia, di “Indonesia Travel Insight 2019”, ternyata dalam 18 bulan terakhir terjadi lonjakan minat wisata, khususnya pada akomodasi murah, baik branded maupun non branded.
Dari fitur dan layanan akomodasi, naik mencapai angka 138% pada paruh pertama 2018. “Wisatawan makin selektif dan menginginkan layanan seperti pengembalian dana, pengubahan jadwal dan penundaan pembayaran,” ujar Zulfi.
Sessi QnA -dokpri

Tren kenaikan wisata, diaminkan brand aggregator perjalanan online (Online Travel Aggregrator – OTA). Data dari Traveloka, Tiket.com , dan Pegipegi, benar terjadi kenaikan sebesar rata-rata 20% secara aggregat.
Sementara untuk akomodasi hemat, dalam kategori branded naik 5% pada paruh pertama 2018 hingga paruh pertama 2019.

Serlina Wijaya selaku CMO Pegipegi, pada sesi tanya jawab menyampaikan pemaparan, bahwa sekira 70% pengguna Pegipegi adalah Milenial dan Gen Z. Sebagai OTA terkemuka, Pegipegi berkomitmen membuka kemudahan akses perjalanan kepada seluruh masyarakat dengan harga kompetitif, didukung produk dan layanan lengkap dan praktis.

Saya sepakat, kepraktisan alias tidak ribet dan ramah budget menjadi kata kunci, untuk merangkul market kaum milenials.
Kembali ke cerita teman yang ke Malang menginap di hotel kapsul, beberapa bulan berikutnya kembali menginap, dengan membawa rombongan lebih banyak—waw keren kan.

Bagi stakeholder terakit, melihat tren pertumbuhan wisata, sudah semestinya dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan. Menjadi kesempatan Brand, untuk menjangkau pelanggan baru di seluruh Indonesia.

Mengacu Google Search, penelusuran lokal yang kerap muncul dari wisatawan, adalah “mall terdekat” dan “tempat wisata terdekat” (naik 3 kali lipat).
Taman hiburan yang paling banyak dicari, adalah Dufan, Taman Safari, Trans Studio Bandung, dan Jatim Park. Sementara untuk atraksi paling populer bagi pelancong, terdeteksi, Dieng, Gunung Bromo dan Borobudur.

Masih menurut Zulfi, penelusuran terkait wisata, naik (rata-rata) 20% di akhir tahun, paling atas ditempati Jakarta dan Bali. Sementara ada pergeseran pencarian, muncul kota Purwokerto, Padang, Banjarmasin dan Cirebon, sebagai kota dengan peningkatan di pencarian Google selama satu tahun terakhir.
Untuk penelusuran wisata internasional naik 5%, tujuan regional teratas yaitu Singapore, Bangkok, dan KL. Kemudian Paris dan Dubai, pengalami pertumbuhan volume sangat cepat.
Foto Session-dokpri

Ika Paramitha, Vice Presiden Marketing Airy menyampaikan, bahwa Airy akan tetap mempertahankan posisinya sebagai operator jaringan akomodasi nomor satu di Indonesia. kini terdapat lebih dari 2000 partner hotel tersebar di lebih dari 100 kota. “Insight dari Google, sangat membantu untuk mengetahui tren wisata di Indonesia dan menjadikan dasar dalam menyusun strategi digital yang menyeluruh,” imbuh Ika.

Bagi pemerintah (melalui Kemenpar) adanya artifisial intelegent,  memudahkan mengcreate kebijakan pariwisata.
Pada satu sisi, penerapan teknologi akan menghasilkan distrubtif effect, bahwa travel agen konvensional akan kalah bersaing dengan travel online.

Ari prasetyo menegaskan, bahwa travel agen konvensional harus menyesuaikan perkembangan jaman. Bisa dimulai dengan marketing melalui medsos, agar lebih efektif dan efisien.
dokpri

2 komentar:

  1. Wah ini google semakin keren, dan ditiru oleh treveling online juga.
    Lihat aja, aplikasi situs online, hampir serupa
    Kenpa saya tidak dapat undangan dari google ya hehehe

    BalasHapus
  2. سریال مانکن قسمت اول دانلود سریال مانکن قسمت
    1 …

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA

Daftar Blog Saya