Home

22 Sep 2019

Pentingnya Peran Suami Dukung Istri agar Tak Stres Hadapi Kehamilan

simajro.id


Masih ingat, video viral di commuter line. Seorang gadis marah-marah, karena kursinya diminta untuk duduk ibu Hamil. Sontak menyulut reaksi kontra netizen, atas sikap tak pantas anak muda yang sudah seharusnya mengalah.
Saya sepakat, bahwa orang tua, penyandang disabilitas dan ibu hamil, mendapat prioritas di semua fasilitas publik.  Khususnya ibu hamil saya menaruh perhatian lebih, karena di rahim sedang mengandung janin, sehingga perlu dijaga secara menyeluruh.

Kehamilan sangat perlu dijaga, mulai dari kualitas kesehatan termasuk kecukupan gizi, serta kondisi psikologisnya. Kehamilan adalah moment stimewa bagi ibu dan ayah pastinya. Sudah semestinya, orangtua ingin mempersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Danone berkomitmen, turut memastikan tingkat kehidupan yang lebih baik bagi generasi sekarang dan yang akan datang, melalui pemenuhan nutrisi selama 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Menurut  Arif Mujahidin, Corporate Affairs Director Danone Indonesia, bahwa pemenuhan gizi ibu hamil sangat relevan, karena setiap manusia membutuhkan gizi apalagi ibu hamil.  Ciri makhluk hidup bereproduksi, maka kehamilan ibu harus selalu dijaga, karena bayi tergantung dengan asupan dari sang ibu.
Ibu harus menjaga kehamilan dan memenuhi gizi, agar bayi bisa tumbuh dengan baik selama proses kehamilan,” ujar Arif.
Arif Mujjahidin-dokpri

Pertemgahan September ini, Blogger dan Jurnalis hadir dalam acara Bincang Gizi, sebuah forum diskusi rutin yang merupakan bagian dari komitmen Danone Indonesia untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya nutrisi pada tahapan-tahapan pentin kehidupan.
Khusus membahas kehamilan resiko tinggi, Danone menggandeng narasumber kredibel, yaitu Dr.dr Ali Sungkar SpOG9K) dan Putu Andini, M.Psi.,

-----

Data Riskesdas 2018, 48,9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia (kekurangan darah), 1 dari 5 ibu hamil tercatat mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK). Sementara 1 dari 2 ibu hamil, mengalami kekurangan asupan protein (SKMI 2014). Dan lebih dari 50% ibu hamil mengalami kekurangan zat besi, zinc, kalsium serta vitamin A & C (SEAFAST 2016).

Saya terkesan dengan analogi Dr. dr. Ali Sungkar SpOG(K), Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan, bahwa benih tanaman yang dilempar sekedarnya ke tanah, atau benih yang sengaja ditanam, keduanya punya kemungkinan sama, yaitu berpotensi tumbuh dan berkembang. Tetapi, beda dengan benih yang sengaja ditanam. Benih ini dipersiapkan, sehingga diperhatikan kecukupan air dan media tanam.
Dr. Ali Sungkar- dokpri

Demikian pula dengan ibu hamil. Btw, saya kurang setuju, kalau ada ibu hamil kemudian dia bilang kecolongan. Biasanya sih, si ibu bilang hamil anak ketiga atau keempat. Tapi, maksudnya apa coba, masak hamil kok kecolongan—hehehe.
Saya jadi kasihan dengan janin, kesannya dia hadir karena tidak disengaja (kasarnya tidak diinginkan). Padahal, ayah dan ibunya melakukan dengan penuh kesadaran kan.

Menurut dokter Ali, kehamilan yang dipersiapkan, bisa menanggulangi terjadinya kehamilan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) merupakan masa penting, yang mempengaruhi kondisi kesehatan dan tumbuh kembang buah hati di masa mendatang.  Kehamilan beresiko tinggi, kalau tidak ditangani dengan baik, berpotensi kurang bagus pada janin di kandungan.
Setiap orangtua pasti tidak menginginkan, janin tumbuh kurang sempurna, berat janin kurang, kelahiran prematur atau bayi dengan stunting.

“cara penting penanganan kehamilan resiko tinggi adalah dengan memenuhi kebutuhan nutrisi makro dan mikro yang bervariasi di tiap tahapan,” jelas Dr Ali.

Menjaga nutrisi pada ibu hamil, berarti mencegah kehamilan resiko tinggi seperti pre-eklampsia. Bagi ibu hamil dengan resiko pre-eklampsia, perlu bijak memilih konsumsi makanan.  Perbanyak konsumsi makanan dengan anti oksidan (buah, sayur), cukup protein (zat pembangun organ tubuh si kecil).
“asupan nutrisi yang baik pada masa kehamilan akan bermanfaat bagi si kecil secara jangka panjang, akan menurunkan resiko sejumlah penyakit kronis di masa dewasa kelak, seperti hipertensi, diabetes, jantung dan berbagai penyakit lainnya,” imbuh Dr. Ali.

So, kalau ada ibu hamil dan bilang kecolongan, please ya, jangan begitulah—hehehe.

Kehamilan adalah milik Suami Istri

Saya sepakat, dengan yang disampaikan narsum Putu Andini, M.Psi., Psikolog dari Tiga Generasi, bahwa masa kehamilan istri seharusnya juga menjadi masa kehamilan suami juga. So sweet, kalau melihat suami berempati kepada istri sedang hamil.  Bagi saya, suami yang super keren, adalah suami yang menyediakan diri untuk direpotkan istri sedang hamil.
Putu Andini -dokpri

Menyoal perhatian suami, ternyata berpengaruh pada kondisi psikologis istri. Ibu hamil normalpun, sebenarnya dihadapkan pada tantangan stres (karena perubahan psikologis), apalagi ibu dengan kehamilan resiko tinggi. “Kehamilan beresiko tinggi, tentunya bisa melipatgandakan tingkat stres ibu dan memberikan dampak negatif pada ibu dan janin” ujar Putu Andini.

Bagaimana cara menanggulangi? Tidak lain adalah support system, baik dari diri sendiri, suami, orang terdekat, teman dan seterusnya. Suami bisa menunjukan support, dengan memperhatikan asupan gizi, dengan terpenuhi zat penting bagi janin, niscaya bisa meminimalisir dampak kehamilan resiko tinggi.

Nah, para suami, yuk mulai aware dengan kehamilan istri. Karena buah hati di janin belahan jiwa, adalah buah cinta suami dan istri tentunya. Semoga bermanfaat !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA