31 Mei 2024

Sebuah Dedikasi Tanpa Batas yang Ada di Ininnawa: An Island Calling

 

Indonesia dengan kekayaan alam yang luas, menyimpan tantangan besar. Salah satunya dalam pelayanan kesehatan, khususnya di daerah-daerah terpencil.  Dan dari tantangan ini, lahirlah pahlawan medis yang mengabdikan diri tanpa pamrih.

Nama-nama yang cukup dikenal dalam hal pengalamannya mengabdikan diri di daerah terpencil antara lain:

Dr. Lie Dharmawan ; pendiri Rumah Sakit Apung (RSA) swasta pertama di Indonesia. Dengan pelayanan medis gratis, RSA telah menjangkau berbagai penjuru Nusantara, dari Kepulauan Kei di Maluku hingga Pulau Panggang di Kepulauan Seribu.

Dr. Fransiskus Xaverius Sudanto ; akrab disapa dr. Sudanto, dikenal sebagai sosok berjasa. Dengan bayaran yang sangat murah, sebesar Rp2.000, atau bahkan hanya dengan sagu, rempah-rempah, atau kayu bakar, tetap gigih mengabdikan diri untuk masyarakat Papua.

Drg. Muhammad Hirzi Nugraha ; dokter gigi lulusan UGM, memilih praktik di daerah terpencil. Pernah dibayar dengan ikan oleh masyarakat di tempatnya mengabdi, karena mayoritas warga berprofesi sebagai nelayan.

Dr. Fretsdinand Lengah ; lulusan Universitas Sam Ratulangi Manado, adalah satu-satunya dokter di Puskesmas Limboro, Maluku. Meski akan mengakhiri masa mengabdinya di sana pada Agustus 2024 mendatang dan hanya bertugas selama dua tahun, ia adalah dokter pertama di daerah tersebut, memberikan pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan masyarakat pedalaman.

Dr. Praluki Herliawan ; Akrab disapa dr. Luki, pernah bertugas di Puskesmas Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Tantangan yang dihadapinya, seperti akses jalan yang ekstrem dan listrik yang mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), tidak mengurangi semangatnya untuk membantu masyarakat setempat. Pernah membantu pasien yang harus melahirkan pukul 04.00 pagi waktu setempat dalam kondisi mati lampu,

Berbagai kisah dan tantangan para dokter di atas rasanya mewakili juga seperti yang terjadi di film Ininnawa: An Island Calling, sebuah film dokumenter yang mengungkap tantangan besar yang dihadapi negara kepulauan terbesar di dunia dalam menyediakan layanan kesehatan.

Melalui kisah sebuah keluarga yang berdedikasi untuk melayani kesehatan di pulau-pulau terpencil di Laut Flores, film ini menggambarkan kewajiban dan pengorbanan yang mereka hadapi.

 

Mimi, ibu dua anak, rela meninggalkan anak pertamanya untuk bekerja di pulau-pulau yang memerlukan lebih dari 30 jam perjalanan laut dari Sulawesi Selatan. Suaminya, Hasri, berpisah dari keluarga demi menjalankan panggilan hidupnya.

Ibunya, Rabiah, seorang perawat veteran, yang kini pensiun, tetap berkontribusi sebagai tenaga perawat tidak resmi.

 

Film ini menggambarkan ketakutan dan kecemasan Mimi saat memulai pekerjaannya di daerah terpencil, serta pertanyaan mengenai seberapa lama ia mampu bertahan dan berpisah dengan keluarga kecilnya, dan berapa lama Rabiah dapat menolak panggilan dari pulau-pulau tersebut.

Ininnawa: An Island Calling telah meraih berbagai penghargaan, termasuk Piala Citra untuk Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2022, serta berbagai penghargaan internasional lainnya.  Film ini disutradarai oleh Arfan Sabran dan diproduksi oleh Two Islands Digital.

 

Kisah-kisah menginspirasi dari para pahlawan medis ini memang patut mendapat apresiasi luar biasa. Jika ingin merasakan lebih dekat perjuangan mereka, jangan lewatkan untuk menonton Ininnawa: An Island Calling di Bioskop Online. Film ini mengungkap tantangan besar yang dihadapi dalam menyediakan layanan kesehatan di pulau-pulau terpencil, dan mengajak kita menghargai pengorbanan yang telah mereka lakukan demi kesehatan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA