Home

10 Sep 2023

Kerajinan Baduy dan Digitalisasi Ala Narman

Sumber ; jayakartanews.com

Setiap mendengar kata Badui, terbersit di benak saya adalah hukum adat yang kuat. Pernah saya diajak teman, membuat kelas video pemula di Badui luar. Tetapi akhirnya berhenti di wacana, karena beberapa kendala membuat ciut penyelenggara.

Konon di Badui, penggunaan gadget masih sangat dibatasi. Jaringan internet belumlah sampai, karena larangan mendirikan menara provider. Para ketua adat memegang otoritas dengan teguhnya, demi keberlanjutan tradisi Badui.

Maka ketika membaca nama Narman, pemuda pelopor jualan online di Badui, saya menyimpan decak kagum. Seperti mematahkan stigma tentang Badui, yang selama ini berkecamuk di benar. Dan melalui Narman, produk kerajinan Baduy mengemuka melalui teknologi.

Norman, pemuda kelahiran 1991, menjadi terdepan bagi warga suku badui. Perlahan melangkah, mengajak masyarakat beradaptasi dengan teknologi.

------- 

Secara geografis, Baduy di kabupaten Lebak Provinsi Banten. Sudah menjadi pandangan orang luar, bahwa Badui relatif tertutup untuk perkembangan teknologi. Sehingga warga Baduy, dikenal tidak akrab dengan teknologi dunia luar.

Kalau di Jabodetabek, orang Baduy sering terlihat di jalan menjual madu hutan. Dengan pakaian khas warna hitam, menyematkan kain udeng di kepala dan tak beralas kaki. Uniknya, saudara kita dari Badui tidak berkendara.

Tetapi pada 2016, Narman memulai berjualan aksesoris Badui secara online. Mula-mula melalui Instagram, terbukti ada yang tertarik dan bertransaksi. Dalam waktu 1- 2 tahun, mulsi bsnysk yang tahu akun IG @Baduicraft.

Tidak hanya orang luar, tetapi tetangga dan orang terdekat mulai mengetahui Instagram. Sampai Narman ditegur Kokolot Baduy (Ketua Kampung) Wa Ailin, mengingat seluruh kegiatan berkaitan teknologi dilarang.

Tetapi selanjutnya banyak yang mengikuti, untuk memenuhi kebutuhan diperbolehkan. Selama tidak terlalu mengejar jaman, yang dianggap cenderung membawa mudhorot. Para sesepuh memberi wejangan, penggunaan sosmed sebatas promosi produk.

Maka ketika marak marketplace, Narman menjual aksesoris di Tokopedia dan Bukalapak. Kemudian untuk repeat order, dilayani melalui Whatsapp. Dan dari sisi omset terjadi peningkatan, dari 2 juta/ bulan menjadi 10-15 juta per-bulan.

Ketika masa Pandemi tiba, penjualan mengalami penurunan drastis. Narman memutar otak, berjualan dengan sistem konsinyasi/ titip jual. Sistem selayaknya di kampung Badui, titip barang dan dibayar kalau sudah laku.

Target produk aksesorisadalah end user, karena bukan produk kebutuhan utama. Dan produknya cenderung ikonik, yang tergantung selera individu terhadap seni.

Pada event pameran dengan tema Nusantara, bisanya menjadi moment besar. Pengunjung adalah orang yang paham tentang seni, tentang produk budaya suatu daerah. Konsumen jenis ini, lazimnya tidak lagi mempermasalahkan harga.

Event besar demikian, kerap diadakan di sekitar Jabodetabek. Dan omset terbesar Narman, ketika ikut pameran di JCC Jakarta. Dalam rentang 4-5 hari, omsetnya mencapai 70- 80 juta. Padahal omset rata-rata pameran, di kisaran 15- 20 juta.

Untuk segala jerih payah Narman, agar masyarakat Baduy melek teknologi. Pada tahun 2018 narman mendapat penghargaan, yaitu UMKM Kewirausahaan dari Satu Indonesia Awards bya Astra International.

Kerajinan Baduy dan Digitalisasi Ala Narman

sumber ; merdeka.com

Masalah keterbatasan signal disiasati Narman, mengatur waktu jualan layaknya jam kerja di kantor. Berangkat jam 6-7 pagi, kemudian pulang jam 17-20 malam. Membuat basecamp di perbatasan Ciboleger, yang terjangkau listrik dan signal internet.

Awal merintis dibela-belain PP setiap hari, tapi kini cukup dua kali dalam seminggu. Hal ini sangat membantu managemen waktu, antara waktu bekerja dan waktu di rumah. Menurut Narman, bahwa waktu atau kegiatan di rumah disetarakan dengan kegiatan adat. 

---

Meski sudah meraih penghargaan bergengsi, Narman sangatlah rendah hati. Mengaku banyak keterbatasan, baik dalam berkomunikasi, pengetahuan teknologi, bahasa intelek, dan lain sebagainya. Maka Narman selalu terus belajar, baik dari sisi digital marketing, fotografi dan video.

Sehingga foto atau video yang diposting, musti disertakan caption yang menarik. Sehingga dari jualan online, Narman bisa belajar banyak tidak hanya soal jualan, tapi juga soal mendia sosial. Termasuk mengaku belajar bahasa Indonesia dan bahasa inggris, mengingat fitur di gadget ada yang berbahasa asing.

Kiprah Narman tentu bukan hal sepele, karena bisa menginspirasi warga baduy lainnya. Bahwa Narman yang dulunya bertani, namanya kini tercatat sebagai pribadi berprestasi. Bahwa Baduy yang memiliki kesan terpinggirkan, nyatanya tidak sepenuhnya benar.

Bahwa menjadi maju adalah sebuah pilihan, tetapi jangan pula kebablasan. Menurut pesan orangtua Baduy, bahwa kemajuan kalau dikejar tidak ada ujungnya. Ujung kemajuan adalah kehilangan arah, kehilangan jalan. Maka penting menjaga tradisi, agar memiliki akar yang kuat untuk berpijak pada budaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA