25 Feb 2019

Yuk, Konsumsi Buah dengan Benar !

metakompor.blogspot


Siapa tak tergoda, siang hari saat sedang terik-teriknya, disuguhi soup buah segar di sajikan dalam mangkok bening bermotif daun.  

Warna-warni potongan buah menarik hati, daging buah melon berbentuk bulat kelereng, bertumpuk potongan buah naga, daging buah pepaya dengan bulatan serupa.
Masih ada lagi, irisan tipis buah pisang, dipadu kerokan alpukat warna kuning berlapis hijau, serutan tipis daging kelapa muda, potongan dadu buah nangka.

Warna- warni irisan buah semakin menggoda, diatasnya ada serutan es batu, disiram syrup warna merah nyala, kemudian ditutup lelehan creamer kental manis.
Tidak berlebihan, secara reflek tangan mengambil, tenggorokan kerontang tak tahan menikmati sesendok demi sesendok.

Setiap suapan soup buah, citarasa potongan buah campur sirup, es batu serut dan kental manis terasa menempel di lidah dan membebaskan dahaga.
Dan, keesokkan hari, pengin membeli lagi dan lagi, saking tergiur manisnya sirup, kental manis dan potongan buah.

Enak sih, tapi sehat ga ya ?
Dulu, saya penggemar berat segala jenis asupan manis. Ketemu tukang soup buah, es campur, bubur kacang hijau, cendol, tak segan mampir.
Saking gemarnya,  saya bela-belain menyetok sendiri beberapa jenis buah, plus syrup dan kental manis disimpan di kulkas kost-an.

Sewaktu-waktu pengin tinggal bikin sendiri, tak peduli siang, sore atau malam, terbuka akses untuk menikmati asupan manis.
Lalau Ramadhan tiba, berbuka puasa dengan minuman manis dan segar, selesai maghrib nambah kolak dan makan besar, selesai taraweh dilanjut lagi.

Ngabuburit selalu repot memikirkan takjil, sore ini soup buah,  besok es teller, lusa es kelapa muda, lusanya lagi kolak begitu seterusnya--perhatikan, semua ada unsur manis.
Alhasil, mendekati lebaran pipi semakin tembem, tubuh makin subur bobot tubuh naik drastis, angka jarum timbangan menjauh dari kata ideal.

Lazimnya, segala yang enak-enak dampaknya tidak selalu enak, segala hal yang memanjakan, berujung pada celaka.
Dalam agama selalu diajarkan, agar tidak melakukan sesuatu secara berlebihan, termasuk dalam mengonsumsi makanan manis (atau apapun)

-0oo0-

Belakangan, saya cukup aktif mengikuti vlog di channel presenter senior Dewi Hughes. Presenter terkenal dengan tubuh tambunnya, berhasil menurunkan berat badan cukup banyak.
Saat  menulis artikel ini, bobot Dewi Hughes  berada pada angka 59 kg, menyusut separuh lebih dari berat semulai 151 kg – luar biasa kan.

Rahasia keberhasilan luar biasa dibagikan, satu diantaranya adalah rajin mengonsumsi real food (ingat ya, REAL FOOD).
Ya. makanan sejati, makanan yang tidak dicampur ini dan itu, dan buah (saja) termasuk dalam kategori real food.
Real Food - dokpri

Apa itu Real Food ?
Adalah makanan yang tumbuh dari bumi, disinari matahari, disirami air dan diolah alam.  Buah yang matang di pohon, itulah real food dan  tidak perlu diolah lagi dan lagi.
Manis dari saripati pepaya, mangga, melon, nanas, jambu, semangka, jeruk, pisang dan buah buahan lainnya, sebenarnya lebih dari cukup.

Sejatinya tidak perlu buah-buahan dipotong, untuk kemudian dicampur syrup atau lelehan susu kental manis.
Buah buahan tidak perlu diblender, dicampur pemanis buatan, yang justru akan merusak manis sejati hadiah dari alam.

Meresapi pemaparan Hughes, salah satu faktor pemicu kegemukan saya, adalah menggunakan cara yang salah dalam konsumsi buah.
Kegemaran soup buah, es teller, kelapa muda campur syrup dan minuman manis sejenisnya membuat tubuh ini mengembang.

Uniknya manusia, baru sadar setelah ditimpakan satu kejadian. Satu malam saya tidak bisa bangkit dari ranjang, badan ini kesakitan ketika digerakkan.
Keesokkan hari periksa ke dokter, hasil diagnosa adalah saya berpotensi terkena beberapa penyakit, satu diantaranya pelemakan hati.

Sejak saat itu, saya berusaha keras untuk move on, demi anak dan istri yang masih butuh kehadiran si kepala keluarga.
Saya mulai rutin mengonsumsi buah, yang sangat mudah bisa dibeli di berbagai tempat dengan harga sangat terjangkau.

Pisang menjadi buah favorit, karena ketersediaan sepanjang waktu tidak terikat musim, kemudian pepaya, mangga atau buah yang ada sesuai musim.
Setelah berat badan dirasa stabil, kondisi tubuh mulai membaik, saya mulai mengonsumsi asupan lain secukupnya (alias tidak berlebihan).

Terhitung sejak pertengahan 2016, saya rajin konsumsi buah, dibarengi mengurangi konsumsi gula, karbohidrat, tepung, menghindari gorengan dan rutin gerak badan.
Dua atau tiga tahun terakhir, pipi chubby mulai lenyap, perut buncit kian rata, pusing dan masuk angin sangat jarang saya rasakan.

Saya semakin menyadari, di usia yang semakin bertambah, tidak mau sembarang pilih asupan. Dan Real Food adalah pilihan tepat, tak perlu dibuat es atau soup buah. Pilih cara konsumsi yang simple, tidak perlu dicampur ini dan itu. -Salam Sehat-

2 komentar:

  1. pepaya dan pisang itu favorit saya, karena murah dan gampang mencarinya

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA