Tampilkan postingan dengan label Organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organik. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Mei 2018

Susahnya Bersikap Konsisten


waktu sedang kurus - dokpri


“Kayanya gemukan lagi nih”
Kalimat ini terdengar, ketika saya bersua dengan seorang teman, kebetulan cukup lama –hampir empat bulanan – kami tidak ketemu.
Saya mengamini kalimat ini, mengingat dalam seminggu terakhir lubang gesper mulai bergeser menjauh.
Waktu sholat sampai duduk tahiyat akhir, perut bagian pinggir seperti ada yang mengganjal dan terlipat.

Jumat, 19 Mei 2017

Blogger’s Visit dan Mengenal Gasol Organik



Dokumentasi Foto : Upiet

Perjalanan dari Jakarta dengan waktu tempuh sekitar empat jam (include macet), akhirnya membawa langkah kaki blogger sampai di desa Gasol Cianjur.
Saya pribadi cukup familiar dengan kota Cianjur, nama kota ini selalu identik dengan tanaman padi. Sebagai konsumen saya kerap membeli beras Cianjur, cukup mudah didapat di warung dekat rumah dengan kualitas pilihan.
Memang banyak jenis beras Cianjur dijual di pasaran, tersedia pilihan kualitas dan jenis yang beraneka ragam. Nah kalau anda cermati, diantara banyak brand terdapat nama “Gasol Organik”.
Perjalanan blogger pada selasa (16/5’17), hendak mengunjungi pabrik pengolahan Gasol Organik. Sekalian blogger’s diajak mampir ke sawah, kebun, kandang kambing sekaligus tempat pembuatan pupuk alami.  
Perjalanan kami menuju lokasi semakin istimewa, karena disertai Pak Flaming Wong selaku owner dari perusahaan Gasol Organik. Tak pelak sepanjang perjalanan, cerita tak pernah berkehabisan mulai dari beras organik atau topik lainnya.
Sehingga mobil terasa riuh rendah dengan canda, namun sesekali hanya terdengar suara mesin, karena blogger’s sudah kelelahan alias ngantuk.
Sekilas Gasol Organik
Ketika mobil mulai masuk daerah Gasol, saya seperti diajak pulang kampung di desa tanah kelahiran. Melihat sekeliling, tampak hamparan sawah yang luas membentang. Pepohonan  tumbuh dengan rimbun dan rindang, berjajar rapi di sepanjang jalan bebatuan.
Merasakan udara  yang masih sangat bersih, hidung ini menghirup dalam-dalam oksigen bebas dari polusi. Penduduk ramah dan bersahaja, menyapa dan berbincang dengan logat bahasa sunda kental.
Suasana semakin menyatu, ketika melihat gabah sedang dijemur di pelataran. Mata ini menjadi terang dan asri, sembari menikmati panganan tradisional gethuk yang disediakan.
Gasol adalah nama sebuah desa di kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur, terkenal sebagai salah salah satu sentra produksi beras lokal terbesar di Jawa Barat. Hal ini cukup terkuatkan, ketika melihat struktur dan tekstur tanah plus unsur hara di kawasan Gasol sangat bagus. Kondisi yang menguntungkan petani, mendukung Gasol (atau Cianjur pada umumnya) sebagai penghasil beras kualitas nomor satu.
Pak Flaming (baju hitam) sedang berkisah tentang Gasol Organik -dokpri
Gasol Organik berdiri tahun 2004, diwujudkan dengan pembangunan rumah kayu oleh suami istri yaitu Pak Flaming dan Ibu Ika.
Pasangan suami istri ini memang asli orang Cianjur, bertekad menanam padi secara organik. Gasol Organik sebagai penghasil olahan pertanian, selalu mengedepankan penanaman padi varietas lokal dengan sistem budidaya secara organik.
Saat blogger berkunjung, kami diajak ke kebun di belakang pabrik. Terdapat beraneka macam tanaman buah dan sayuran, tanaman inilah yang menjadi sumber bahan makanan. Kemudian sampah berupa kulit pisang, daun-daun atau sayur yang sudah tidak terpakai dijadikan pupuk.
Selain kebun yang ada didekat pabrik, beberapa lahan sawah juga menjadi milik Gasol Organik. Berbagai varietas pada lokal tampak menuju pra panen, seperti varietas Omyok, Peuteuy, Pandan Wangi dan jenis varietas lainnya.
Gasol Organik melakukan pengadakan pupuk secara mandiri, selain di dekat pabrik ada tempat khusus pembuatan kompos. Kira kira berjarak sekitar satu kilo dari pabrik, Bloger’s melihat lokasi pembuatan pupuk yang berdampingan dengan kandang kambing.
Ternyata dari kotoran kambing inilah, bisa dijadikan campuran bahan pembuatan pupuk kompos. Binantang ternak dipelihara Gasol Organik dengan sistem kemitraan bersama warga sekitar, melalui sistem bagi hasil setelah kambing dijual.
Proses Pembuatan Pupuk
Mula-mula disiapkan cerobong dengan dinding yang sudah diberi lubang, kemudian dimasukkan kayu dari bawah cerobong dan dibakar. Pada lubang bagian atas cerobong ditutup, sehingga asap dan api dari dalam lari ke lubang di dinding cerobong.
Pembuatan pupuk Kompos -dokpri
Sekam yang sudah dikering ditata, membentuk gunungan memenuhi pinggir cerobong. Proses ini memang dengan metode pengasapan, supaya sekam tidak terbakar dan menjadi abu. Setelah sekam berubah warna menjadi hitam, bari dicampur dengan kotoran ternak, ganggang atau rumput dan daun- daunan.
Nah pupuk kompos inilah, nantinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi. Saya mengangguk paham, sembari meyakini bahwa bahan-bahan ini dijamin alami. Benar-benar tanpa bahan kimia sintetis, seperti yang terdapat dalam pupuk buatan pabrik.
Pengerjaan pengelolaan tanah di gasol Organik, masih mengandalkan alat bajak dengan tenaga kerbau (tradisonal). Konon tanah bajakkan kerbau hasilnya berbeda, dibanding tanah yang diolah dengan alat seperti traktor.
Pemberlakuan rotasi tanaman pada lahan, sawah yang baru panen padi akan diganti dengan tanaman jenis lain. Dengan demikian tanah bisa istirahat, sehingga unsur-unsur yang terkadung dalam tanah tetap terjaga.
Kunjungan bloggers semakin lengkap, ketika masuk ke dalam pabrik pengolahan tepung. Saya sempat kaget dan bingung, ketika masuk lokasi pengolahan musti melalui tahapan yang begitu ketat.
Bloggers diharuskan memakai sepatu khusus, melewati pintu yang dibuka dengan kode tertentu. Kaki musti melewati proses pencucian, dua telapak tangan di sabun dengan cairan khusus.
Mulai dari lantai, dinding sampai langit-langit tampak begitu bersih, benar benar terasa di ruangan yang sangat steril. Masuk ke ruangan steril diharuskan memakai masker, lengkap dengan penutup rambut dan baju layaknya baju operasi.
Setelah menyusuri ruangan demi ruangan, tampak ibu-ibu  sebagai tenaga pegolahan bahan mentah menjadi bahan baku. Dengan seragam khusus, tak ketinggalan memakai masker dan sepatu booth.
Terlihat bekerja dengan tekun di ruang berpendingin, bahkan semua peralatan dalam kondisi super bersih. Terdapat kertas checklist di setiap bagian produksi, setiap pekerjaan harus dijalankan sesuai dengan  SOP (Standar Operational Prosedur)
Dokumentasi foto - Iwan
Setalah masuk ke ruang demi ruang pengolahan, kemudian blogger’s naik tangga ke tempat pengeringan di rumah kaca. Suhu yang semula dingin berubah panas, kami tidak betah berlama-lama di ruang pengeringan ini.
Akhirnya Bloggers berada di tempat paling akhir, melihat tepung Gasol sudah dalam kemasan plastik. Terdapat beberapa box container, berisi aneka macam tepung Gasol Organik yang siap dimasukkan kardus.
Doumentasi Foto -Iwan
Melihat serangkaian proses yang dilakukan, sungguh meyakinkan saya dari awal hingga akhir dikerjakan sangat terjaga.
Mulai dari pengadaan bahan yang berkualitas, dengan menerapkan pola penanaman alami. Sebagai tepung murni, diproduksi tanpa bahan tambahan pangan untuk konsumsi lebih baik dan lebih sehat.
Kini sudah tersedia di pasaran, berbagai jenis tepung MPASI untuk bayi dan bahan olahan makanan keluarga. Terdiri dari Beras Cokelat, Beras Merah, Sorgum, Kacang Hijau dan Kacang Merah. 
Sawah - dokumentasi pribadi
Untuk beras merah dan cokelat, memiliki kelezatan alami, saat dimasak bisa pulen dengan aroma menggugah selera. Sedangkan untuk Sorgum, Kacang hijau dan kacang merah dengan rasa gurih dan manis, melengkapi kenikmatan saat dikonsumsi.
Mengapa Anda Perlu Memilih Tepung Gasol
  1. Benih yang ditanam adala bibit unggul bukan hasil rekayasa
  2. Proses penanaman secara organic di lahan pertanian Cianjur
  3. Lokasi pabrik di sekitar lahan pertanian, jauh dari polusi udara
  4. Tanpa pengawet, perasa, pewarna buatan
  5. Bersertifikat HACCP ( proses produksi memenuhi standart International untuk keamanan pangan ).
Yuk mulai aware terhadap kesehatan, dengan konsumsi bahan makanan organik. Benar kata sebuah pepatah, bahwa mencegah lebih baik dari mengobati. –salam-

Daftar Blog Saya