Home

24 Sep 2023

Susahnya Bersikap Konsisten

“Kayanya gemukan lagi nih”

Kalimat ini terdengar, ketika saya bersua dengan seorang teman, kebetulan cukup lama –hampir empat bulanan – kami tidak ketemu. Saya mengamini kalimat ini, mengingat dalam seminggu terakhir lubang gesper mulai bergeser menjauh.

Fixs, berat badan naik lagi, seperti alarm membangunkan saya dari tidur. Kemudian mulai menelusuri kebiasaan harian, yang longgar terhadap asupan. Meskipun saya tetap rajin jalan cepat, beberapa minggu terakhir jarang olah raga –seperti push up, sit up, lari pagi—dengan alasan ada kegiatan.

Pun masalah makanan, mulai mentoleransi diri sendiri, terhadap nasi putih, sesekali gorengan (sesekali tapi sering , hadeuh), bahan pangan dari tepung dan yang manis manis.

“sesekali gak apa,” ujar istri melihat suaminya pengin makan ini dan itu

Dari sesekali demi sesekali itulah, akhirnya benak merasa nyaman dan selalu ada bisikan “tidak apa-apa sesekali ini.” Dari hasil introspkesi diri, memang ada yang salah dengan masalah konsistensi. Bahwa apa yang semula telah diniatkan, di tengah jalan ahirnya berbelok arah.

Mungkin anda pernah melakukan hal yang sama, terlalu longgar memberi kebebasan pada diri, meski melanggar kesepakatan yang telah dibuat – antara keinginan dengan kebutuhan.

 -----

Terhitung, Ramadhan –yang akan masuk -- tahun ini adalah dua kali puasa saya menjalani diet. Ketika mudik pada lebaran tahun lalu, ibu, kakak- kakak, saudara dan tetangga di kampung, nyaris memberi komentar seragam.

“Sekarang kurus ya...bagus badannya.”

Ya, Saya merasakan sendiri, bagaimana ketika lingkar perut mengecil, celana mulai longgar, ukuran kaos berubah menjadi L. Senang dong pastinya, pakai baju tidak perlu repot dengan ukuran , kalau foto lebaran tidak perlu tahan nafas – hehehe.

Saya benar-benar menjaga pola makan dan gaya hidup, mulai dari rutin minum air putih, memperbanyak konsumsi buah dan sayur. Stop gorengan dalam bentuk apapun, menggantinya dengan makanan yang direbus, diungket, dishangrai atau paling berat di bakar.

Maka kalau ada acara kondangan atau apapun, piring saya berisi penuh buah potong, sumber protein saya dapat dari ayam dibakar, kalau belum kenyang ambil gado-gado.

Namanya manusia, kadang suka susah menjaga niat dari dalam diri. Mula- mula sekedar incip jajanan pasar – biasanya kan manis-manis tuh-- , besok nyoba arem-arem atau ketan. Lusa makan nasi uduk – karena sarapan anak tidak habis--, setelah itu makan roti bakar isi cokelat dan keju, begitu seterusnya dan seterusnya.

Sementara olah raga mengendur, dengan alasan sudah jalan cepat menuju tempat kerja, minggu pagi ada kerjaan, sabtu pagi antar anak kursus dan seterusnya. Semua yang besar, memang dimulai dari hal yang kecil tapi diulang-ulang. Contoh paling nyata, adalah peningkatan lemak yang ada di tubuh saya – baru deh sekarang nyesel.

“Iya kang, saya musti olah raga dan jaga pola makan lagi nih” saya menjawab komentar teman.

Sampai di rumah, kembali push up dan sit up, rasanya badan berat dan nafas ngos-ngosan lagi—seperti awal diet.

Dua hari ini, saya benar benar stop nasi dan hanya konsumsi rebusan, kepala sempat pusing sedikit—ingat saat memulai diet. Coba kalau saya konsisten, tentu tidak perlu mengulang diet dari awal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA