Home

23 Apr 2018

Musuh Berat Seorang Penulis


dokumentasi pribadi
Kegiatan menulis, pasti menjadi “makanan” sehari- hari seorang blogger, jurnalis, penulis dan atau pekerjaan yang berhubungan dengan literasi.

Jari-jari ini rasanya gatal, kalau sehari saja tak bertemu dan bersentuhan dengan tooth laptop atau notebook.

Bagi seorang penulis, pekerjaan menulis smestinya menjadi sebuah keasyikan, sekaligus kebutuhan layaknya  kegiatan makan dan minum.

Merangkai kata menjadi kalimat, menyusunnya menjadi sebuah cerita, tentu sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan.

Kalau dinikmati dengan baik, niscaya hasilnya menghadirkan kepuasan tak terukur dengan apapun juga.

Saya kagum, dengan penulis produktif dalam berkarya, sekaligus – anggap saja bonusnya – mendapat perhatian banyak pembaca.

Tentu butuh stamina tidak sedikit bagi penulis rajin semacam itu, effort dikerahkan juga tidak bisa sembarangan.

So, bagi yang tulisannya sedikit pembaca, tak perlu rendah hati (menasehati diri sendiri). Bukan alasan berhenti, anggap saja bagian dari proses di ranah kepenulisan.

Keadaan yang ada saat ini, justru menjadi kesempatan belajar lebih giat, memacu diri meningkatkan kemampuan lebih baik

Mengembangkan diri, dengan belajar tentang tehnik menulis, memperkaya diksi dengan banyak membaca buku.

Mungkin tidak semua hal bisa dikuasai (kalaupun bisa itu sangat bagus), tetapi bisa mengemas ide dengan cara sendiri itu saja sudah keren.

Setiap orang memiliki keunikan, karena setiap orang, memiliki perjalanan berbeda. Untuk satu cerita yang sama, setiap orang memiliki cara berbeda saat menuliskannya.
Dokumentasi Pribadi


Musuh Seorang Penulis.
Aneka blog competition, akhir akhir ini marak diselenggarakan berbagai pihak (kantor pemerintah, BUMN, kantor swasta, UMKM dan lain sebagainya).

Menawarkan beragam hadiah, mulai dari barang eletronik, gadget, voucher belanja atau menginap, plesiran bahkan uang tunai.

Atas iming-iming hadiah wah, menarik minat peserta mengerahkan segenap daya dan kreatifitas terbaik dimiliki.

Semua –mungkin-- memiliki satu tujuan yang sama, mencatatkan nama sebagai pemenang di pengumuman akhir kompetisi.

Dari sudut pandang pertandingan, --meski sesama peserta saling mengenal—pasti terbersit rasa bersaingan dan mengerahkan strategi.

Artinya antara satu peserta lomba dengan peserta lomba lainnya, menjadi ‘musuh’ yang harus (kasarnya) dikalahkan.

Lazimnya sebuah pertandingan dan atau perlombaan, persaingan dan adu strategi menjadi sebuah kewajaran.

Meskipun akhirnya, keputusan mutlak dan tidak bisa diganggu gugat, ada di tangan juri lomba menulis tersebut.

Andai saja tidak menang, bagaimana dengan semangat menulis tersebut. 
Apakah tetap akan menulis, meskipun bukan job review atau tanpa upah di belakangnya.

Menulis tanpa  embel-embel apa-apa (baca ; marteri), mungkin tidak semua orang mau melakukan dengan senang hati.

Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri, sebuah proses menulis butuh energi, pikiran, waktu dan butuh kuota untuk mempublish –pengalaman pribadi nih, hehehe.

Perlu pertimbangan – berkali-kali--, hanya untuk sekedar menulis tanpa ada imbalan (kalau pilihan maunya pasti yang berbayar).

Lalu siapakah musuh berat seorang penulis? Jawabnya satu –kalau mau dipanjangin bisa panjang-- adalah “Diri Sendiri”.

Keenganan untuk memulai (karena tidak ada imbalan), rasa malas (untuk meluangkan waktu, tenaga dan pikiran), serta sederet alasan keberatan lainnya.

Saya sendiri, termasuk yang masih kalah dengan ego. Keengganan, kemalasan dan keberatan lain kerap menyertai diri saya pribadi.

Sampai detik ini, saya tak henti meluruskan niat dan membenahi mental, agar bisa ajek menulis, belajar menghilangkan penghalang kegiatan menulis.

Diri Sendirilah, muara dari semua masalah sekaligus solusi dalam menulis. Silakan, mau memilih yang mana !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA