24 Feb 2024

Rutin Olah Raga tapi Berat Badan Tidak Turun

Acara Healthy takshow liputan 6 dan lightHOUSE, memberi manfaat sekaligus membuka wawasan baru bagi saya. Pembicara ketiga atau terakhir adalah dr. Sophia Hage, dokter spesialis olah raga dari lightHOUSE Indonesia. Beliau memaparkan dengan tema Sedentary, setelah pemateri sebelumnya dr. Grace Judio  dan Psikolog Tara de Thouars, B.A, M.Psi. (lihat tautan di akhir artikel)

Saya pribadi termasuk berpandangan salah, menggangap olah raga sebagai sebuah program untuk sehat. Kalau lagi semangat diet, baru deh menjadwalkan waktu khusus untuk olah raga. Atau kalau sedang ada pekerjaan di luar kota, baru ikut acara senam pagi yang biasanya diadakan panitia.

Sebenarnya pandangan semacam ini salah, selaras dengan pernyataan dr Sophia Hage

"sesungguhnya olah raga adalah gaya hidup sehat atau pola hidup aktif. Olah raga tidak harus berkeringat, karena memasukkan unsur olah raga dalam aktivitas sehai hari sangat mungkin".

Perilaku sendentary

Adalah segala aktivitas yang dilakukan di luar waktu tidur, melibatkan posisi duduk/ berbaring. Energi  yang dikeluarkan sangat sedikit, jumlah energi ada di atas tidur tapi dibawah aktivitas fisik diluar tidur.

Misalnya ;

Duduk sambil menonton teve, duduk sambil menulis di laptop/ smartphone, rebahan/ tengkurap sambil membaca buku, banyak kegiatan lain masuk dalam perilaku sedentary (silakan teruskan contohnya sendiri).

Berdasarkan sebuah riset, terkait perilaku sedentary terjadi trend kenaikan pada tahun 2012-2013. Orang dewasa menghabiskan 9-10 jam untuk perilaku sedentary, tentu hal ini bisa tidak disadari atau disadari.

Sebenarnya untuk mengurangi gaya hidup sedentary, tidak harus identik atau bukan hanya olah raga saja. Tetapi melakukan kegiatan atau aktivitas fisik, seperti berjalan, berdiri, mengangkat dsb adalah bagian dari mengurangi perilaku sedentary.

Jadi jangan heran, ada lho orang yang rutin berolah raga tapi berat badan tidak turun.

Bisa jadi hal ini disebabkan, dalam sehari lebih banyak waktu dihabiskan untuk perilaku sedentary dibanding olah raga.

Coba kita hitung, selama bekerja di kantor sekitar delapan jam atau lebih lebih banyak duduk. Kemudian sampai di rumah atau hangout dengan teman, lagi-lagi lebih banyak duduk. Bukan tidak mungkin, kebiasaan sehari- hari yang diulang ulang akan terakumulasi pada suatu saat.

Yuk kurangi waktu duduk!

Duduk terlalu lama, menjadi penyebab penurunan penggunaan otot tubuh. Kalau kita pada posisi berdiri, terdapat pengaruh gaya grafitasi bumi sehingga ada upaya mempertahakan postur tubuh. Selain itu ada keuntungan lain, saat berdiri akan terjadi kontraksi otot besar di tubuh.

Perilaku sedentary disinyalir, sebagai penyebab otot tubuh tidak mengalami kontraksi. Sehingga  impact gula dan impact emak turun, akibat tubuh tak membutuhkan terlalu banyak energi. Ketika impact lemak dan gula turun, maka kadar gula di dalam darah dan kolesterol akan tinggi.

Orang duduk lebih dari 8 - 11 jam sehari, Plasma LDL (kolesterol buruk) tinggi dan Plasma HDL  (kolesterol baik) rendah. Resiko mengalami gangguan impact gula tinggi, memang belum termasuk diabetes tapi sudah ada gangguan dalam menyerap gula.

Kalau hal ini dibiarkan terus terjadi, niscaya resiko terhadap kesehatan meningkat. Bisanya kerap diiringi, resiko obesitas meningkat pula. Diabetes, syndrom metabolis, merupakan kumpulan gejala pinggang membesa, kemudian kolesterol tinggi mengarah pada penyakit kardiovaskuler. Kalau dirunut, penyakit ini akibat dari perilaku sedentary. (Waduh, Ngeri yaaa!!)

Dokter Sophia Hage, memberi rekomendasi

- Mengurangi frekwensi perilaku sedentary

- Interupsi atau bangkit berdiri 2-3 menit setelah duduk 2-3 jam

- Mengurangi aktivitas sedentary  seperti nonton tv sambi berdiri/ bergerak tidak duduk

- Mengurangi durasi waktu duduk. Misal mengetik dengan standing, karena duduk terlalu lama, menyebabkan kualitas kesehatan menurun jumlah hari sakit meningkat.

Prinsipnya adalah "aktif mendorong pembatasan waktu untuk perilaku sedentary dalam jangka waktu panjang". Semakin sedikit waktu untuk duduk, sejatinya justru semakin baik untuk kesehatan.

Ini catatan penting !

Perilaku sedentary lebih dari 8 jam/ hari, dapat berakibat buruk. Sedangkan perilaku sedentary lebih dari 11 jam/ hari, pasti berakibat buruk.

Sungguh disayangkan ya kawan's, bagi yang sudah rutin berolah raga tapi masih berperilaku sedentary.

Menyimak materi ini, saya seperti ditampar oleh diri sendiri. Betapa saya masih termasuk, golongan enggan olah raga plus pelaku sedentary. Acara healthy talkshow liputan 6 bersama lightHOUSE Indonesia, benar-benar ibarat cahaya di ruang gelap pengetahuan saya.

Terimakasih banyak dr. Sophia Hage atas pencerahannya, informasi dan ilmunya sangat bermanfaat. (salam)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA