Home

17 Apr 2018

Melestarikan Kuliner Nusantara Melalui "Festival Jajanan Bango 2018"


Arena Festival Jajanan Bango 2018 Jakarta - dokpri


Setiap datang di acara kuliner, pertama kali saya cari adalah makanan tradisional. Selain mengobati rasa kangen, saya ingin turut melestarikan kuliner Nusantara.

Kesannya idealis ya –hehehe, tapi bagi saya makanan tradisonal –tertentu—memiliki kisah dengan perjalanan hidup dilalui.

Maka pada gelaran Festival Jajanan Bango 2018 (FJB 2018) di Jakarta, saya bersemangat mencari gudeg dan rujak cingur pilihan.

Dulu, saat kost di Jogja, Gudeg daerah Wirobrajan—nyaris-- menjadi menu keseharian. Selain harganya akrab di kantong, si penjual berbaik hati memberi gratis teh manis.
Makanan berbahan dasar nangka muda ini, semakin nikmat disantap bersama krecek, opor ayam, tahu atau tempe bacem—sesuai selera.

Pun setelah saya pindah dan menetap di kota pahlawan, rujak cingur daerah Masangan Kulon Sidoarjo lumayan rutin disambangi.
Sambal petis asli sidoarjo, dicampur rebusan kangkung, irisan buah dan tidak boleh ketinggalan potongan tipis cingur sapi terasa semakin mantap.

Bagi saya kurang lengkap rasanya, menikmati gudeg atau rujak cingur tanpa Kecap Bango. Bahkan nyaris semua makanan, --bagi saya - tak lengkap rasanya tanpa Kecap Bango.  

Rujak Cingur Sedati - dokpri

Festival Jajanan Bango 2018, dijamin akan memanjakan pengunjung dengan aneka kuliner warisan Nusantara.

Terdapat 80 stand lebih, berpartisipasi dalam event akbar ini. Terdapat Pojok Kudap, Pojok Goreng, Pojok Bakar, Pojok Cuci mulut, Kampung Soto dan Pojok Kuah.

Anda bisa menemui Ayam Bakar Madu Sibangkong, Sate Klatak Mak Adi,  Sate Ayam Apjay, Rujak Cingur Sedati, Bebek Sinjay, Ketoprak ciragil dan aneka makanan lainnya.
Booth Ice Cream dan air minum disediakan di dispenser, keduanya bisa dinikmati secara gratis bagi pengunjung FJB 2018 Jakarta.

Tidak sekedar tenda makanan dan minuman lho, FJB 2018 menyediakan sarana prasana penunjang yang cukup lengkap. Mulai mobil ATM, Nursery, Toilet, Mushola, Tenda Medis, Cuci Tangan, Arena main anak, photo booth, penukaran hadiah.

Sajikan acara dari panggung utama tak kalah menarik, ada pemutaran film layar tancap, demo masak, tarian, paduan suara serta acara menarik lainnya. Satu lokasi cukup lapang dan menarik perhatian pengunjung, adalah Galery Bango yang menggambarkan perjalanan 90 tahun Kecap Bango.

-00o00-

Mungkin anda pernah melihat film berjudul Tabula Rasa?  Konon disebut sebagai film Indonesia pertama, yang mengangkat kisah tentang food –masakan padang--.

Emak (diperankan Dewi Irawan) sang pemilik rumah makan Padang, punya kisah dibalik masakan Gulai kakap.

Memasak gulai kakap, bagi emak seperti berziarah pada anak sulung yang ditelan gempa. Namun, saya tidak membahas cerita film ini secara detil.

Ada satu scene membuat saya berdecak kagum, dalam film ini ada adegan proses mengolah masakan Padang yang cukup unik.

Mulai dari mengulek bumbu, mengiris daging, memarut kelapa untuk santan, ternyata tidak bisa dikerjakan sembarangan.

Pun pada saat memasak di atas tungku – bukan kompor ya--, betapa mengatur besar kecilnya api akan mempengaruhi cita rasa masakan.
Pengunjung antre di Nasi Goreng Kebon SIrih  FJB 2018-dokpri

Saya yakin, masakan dari berbagai daerah di Nusantara yang lain, pasti tidak kalah unik baik dari cara mengolah maupun cita rasa.

Tak heran, kalau setiap masakan tradisonal Nusantara memiliki kekhasan. Sehingga setiap orang, memiliki kesan  dan –bisa jadi--kisah dibalik setiap masakan.

Perhelatan akbar tahunan “Festival Jajanan Bango,” sebagai cara Kecap Bango untuk turut serta  melestarikan Kuliner Nusantara.

Khusus FJB 2018, bertepatan dengan 90 tahun Kecap Bango yang mengangkat tema “Melezatkan Setulus Hati.”

-00o00-

Setiap menelusuri beranda medsos, saya kerap menjumpai postingan foto teman – bersama keluarga atau sahabat-- sedang berwisata.

Ekspresi bahagia jelas terlihat, tampak dari garis di wajah, bahasa tubuh atau suasana yang menyertai foto tersebut.

Selain foto berlatar pemandangan di lokasi wisata dipilih, hal paling jamak dilakukan adalah foto makanan yang hendak disantap.

Menikmati makanan tradisional dari daerah yang didatangi, seolah menjadi hal wajib tidak boleh dilewatkan.

Kuliner menjadi alokasi dana terbesar kedua, setelah biaya untuk penginapan saat berwisata –selain tiket transportasi.

Orang rela mengeluarkan dana khusus,  demi menikmati sajian kuliner khas sepanjang kegiatan berwisata. 

Kalau saja kuliner nusantara tidak dipertahankan dari sekarang, bisa-bisa generasi mendatang tidak kenal dengan makanan nusantara.
Festival Jajanan Bango 2018 Jakarta - dokpri

Perhelatan tahunan Festival Jajanan Bango, sebagai cara strategis berkontribusi demi melestarikan kuliner nusantara.

Jujur saja, melalui FJB 2018, saya tercerahkan tentang beberapa nama kuliner Nusantara. 

Sebut saja, hidangan lezat Pindang Patin yang berasal dari Palembang Sumatera Selatan.
Pindang Patin dengan cita rasa yang segar dari asam, serta sedikit pedas dari kuahnya, dilengkapi dengan rempah  khas Indonesia serta Kecap Bango tentunya.

Rostini Kartolo dan Wijaya Halim, pasangan pemilik Pondok Wong Palembang, menjadikan Pindang Patin sebagai menu andalan.

Nasi Goreng Kebon Sirih, adalah kuliner legendaris dari Ibukota Jakarta, didirikan oleh H.Nein pada tahun 1958.

Berawal dari sebuah kedai sate kecil di sudut raya kebon sirih, H.Nein mengembangkan dagangan dengan menu khas nasi goreng kambing.

Siapa sangka, Bango menjadi kecap paling pas, mendampingi bahan baku rempah- rempah hidangan nasi goreng kebon sirih ini.

Satu kuliner ini, langsung saya kenali asalnya, setelah mendengar dari namanya. Adalah Tata Ribs Daeng Tata, saya yakin anda sudah bisa menebak asal kuliner ini.

Betul, kuliner ini berasal dari Makassar Sulawesi Selatan. Tata Ribs terbuat dari daging sapi panggang, dilumuri dengan bumbu kacang gurih, dilengkapi cita rasa manis Kecap Bango.

Masih banyak pencerahan kuliner lain saya dapati, seperti Mie Aceh Seulawah, Nasi Goreng Kebuli Apjay, Sate dan Tongseng Pak Budi, Lontong Balap Pak Gendut, dan lain sebagainya.

O’ya, ngomong-ngomong Tata Ribs Daeng Tata, saya jadi ingat. Bahwa FJB 2018 digelar di dua kota lho, yaitu Jakarta dan Makassar. FJB 2018 Jakarta sudah diadakan pada pertengahan April, FJB 2018 Makassar akan diselenggarkan pada 5-6 Mei 2018 di Lapangan karebosi.

Yuk warga Makassar dan sekitarnya, datang dan ikut ambil bagian berkontribusi dalam Melestarikan Kuliner Nusantara !

32 komentar:

  1. Klo wiskul bawaanya laperrr apalagi klo kecapnya pas jadi mantap heheee

    BalasHapus
  2. Huhuhu sedihhh kemarin cuma lewatin aja, tapi nggak sempet mampir ke sini :((

    BalasHapus
  3. waaah telat banget baca infonya, hiks semoga bisa dating tahun depan

    BalasHapus
  4. Wah udah 90 tahun aja ya ini kecap. Dari aku kecil ampe sekarang jadi ibu pakai kecap ini. Selalu antusias uang dengan acara ini. Kayaknya bango ya yang pertama mempelopori kuliner nusantara kumpul gini?

    BalasHapus
  5. Huuuaaaaa... aku melewatkan si festival Bango ini ;((

    BalasHapus
  6. eendeeuus... bango atau bangau? ahahha.. ini malika ya?

    BalasHapus
  7. Kecap yang dipakai di rumahku nih mas, enak. Ternyata sudah lama ya kecap ini ada

    BalasHapus
  8. Uwowowo.. Bango favoritkuuuu!
    Semoga Festival Bango mampir di Surabaya juga. Mupeng banget niih
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
  9. Nungguin di jakarta 😊

    BalasHapus
  10. Jadi dapet pencerahan nih, kecap nanti bisa dikombinasikan dengan masakan apa aja

    BalasHapus
  11. inget kecap langsung inget telor mata sapi anget, dikasih kecap manis, sama ditemani pakai nasi hangat. Sedap

    BalasHapus
  12. Saya juga suka banget kalau ada festival kuliner nusantara gini. Kudapan yg sudah jarang beredar biasanya bisa dijumpai

    BalasHapus
  13. Aku selalu pakai kecap bango ini untuk masakan di rumah. Masakan di rumah jadi tambah nikmat dengan kecap bango ini

    BalasHapus
  14. Serunya wisata kuliner! kecap Bango memang tidak perlu diragukan lagi citarasanya. Dari zaman masih kecil sampai sekarang sudah berkeluarga tidak pernah nyobain kecap selain Bango.

    BalasHapus
  15. Dari dulu pengen banget kesini tapi belom jadi jadi. Katanya makanannya enak enak yaa

    BalasHapus
  16. Festival bango sering banget ya, dulu aku juga sering wisata kuliner dan seru banget bisa makan masakan yang unik-unik dan lezat.

    BalasHapus
  17. Sukaa banget ke Festival Bango, pertama ke acara ini sama mantan pacar yg sekarang jadi suami hehehe. Moga di Malang ada lagi

    BalasHapus
  18. Ini acara yang selalu saya tunggu tiap tahun. Kemarin ke sana sama temen2 dan ngincer tengkleng solo.

    BalasHapus
  19. Semacam kecap wajib di rumah nih kecap bango, klo masak biasanya aku pake kecap ini hehe

    BalasHapus
  20. Bango nih kecap di rumah dari jaman dulu selalu pakai ini. Rasanya memang lebih enak dibanding merk lain

    BalasHapus
  21. Dari zaman aku sekolah di Surabaya udah ada festival jajanan Bango. Sampai sekarang masih ada ya. Enak tuh kulineran.

    BalasHapus
  22. Kecapbango ini memang enak. Manisnya pas di lidah.
    Aku belum pernah ke festival ini nih. Kapan ya biasanya ada.

    BalasHapus
  23. Wahhh nasi gorengnya menggoda bangett tuh. Hihii.. kecap bango memang enak,saya juga pakai buat masak 😊

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA