Home

7 Sep 2022

Saatnya Generasi Milenial Berkontribusi untuk Masyarakat Sadar Gizi

 

Tak bisa dipungkiri, generasi muda menjadi tumpuan bangsa di hari mendatang. Apalagi di tahun 2035, diperkirakan menjadi bonus demografi bangi Indonesia. Jumlah usia produktif lebih banyak, dibandingkan jumlah usia non produktif.

Saya sangat beruntung, berkesempatan hadir di acara Bincang Gizi kolaborasi YAICI bersama Universitas Muhammadiyah Jakarta. Mengangkat tema “Aku, Kamu, Kita, Generasi Muda Sadar Gizi”, menghadirkan narasumber yang kompeten.

Dalam kata pembuka, Muhammad Fatur Fahrozi, selaku Ketua BEM UMJ, berharap bahwa kegiatan ini bisa sebagai triger/pemicu kesadaran generasi muda sadar gizi.

Sementara itu hadir juga secara online, Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo Sp,OG. (K), Kepala BKKBN, yang menjadi keynote spech. Dalam penjelasannya Hasto menyampaikan, bahwa kondisi gagal tumbuh karena mal nutrisi di Indonesia, kini berada di 24,4% dan diharapkan turun menjadi 14% di tahun 2024.

Kondisi gagal tumbuh akibat kurang gizi, akan menyebabkan anak menjadi susah bersaing, kurang berkembang dengan optimal, sehingga akan ketinggalan di semua hal. Maka generasi muda musti memiliki rasa empati, berkontribusi dalam mengatasi dan meminimalisir stunting.

Bisa dimulai dari diri sendiri, dengan menyiapkan dari pra nikah. Memerhatikan kesehatan fisik, mencukupi diri dengan asupan yang baik. Memilih pasangan yang sekufu, agar melahirkan penerus yang sehat. Karena yang menentukan sejahtera atu tidak di masa depan, adalah caloan ayah dan calon ibu di masa sekarang.

Sebagai agent of change, mahasiswa dapat berperan sebagai pemutus mata rantai gizi buruk di Indonesia, dengan cara menjalankan gaya hidup sehat, mengurangi konsumsi makanan minuman tinggi GGL (garam gula lemak) dan menyiapkan diri menjadi calon orang tua yang sehat.  

Merujuk data BKKBN, proporsi anak usia 10-24 tahun saat ini adalah 28,6% atau sekitar 64 juta jiwa. Sepuluh tahun lagi, mereka akan menempati pos pos penting di negeri ini. Maka kemampuan dan perilaku positif remaja, perlu ditumbuhkan sedari dini.

Pemuda adalah aset bangsa modal pembangunan, strategi mencegah stunting musti dimulai dari hulu. Tidak lain dan tidak buka, diawali dari generasi mudanya.  BKKBN menganjurkan menikah 21 tahun (perempuan)-25 tahun (pria).

Menikah perlu sepuluh dimensi kesiapan, yaitu siap usia, siap fisik, mental, finansial, moral, emosi, sosial, interpersonal, ketrampilan hidup, dan siap intelektual. Menikah terlalu dini dan atau jangan terlalu tua, tidak dianjurkan. Karena melahirkan terlau muda atau di atas 35 tahun, cukup riskan untuk kondisi ibu dan bayi.

----

Arif Hidayat, Ketua YAICI, menyampaikan, bahwa banyak generasi milenials yang belum paham atau aware, kandungan gula di sekaleng kental manis. Hal ini erat kaitannya dengan literasi, apalagi indonesia masuk peringkat 60 dari 61 negara tingkat literasi.

YAICI saat ini memiliki tiga focus, yaitu Kesehatan, pendidikan, lingkiungan. Saatnya ini sedang menggarap kesehatan, berkolborasi dengan stake holder untuk awarnes gizi. Setelah menyasar pada ibu muda, awarner gizi mengarah ke generasi milenial atau mahasiswa.

Ns. Nyimas Heni Purwanti, M. Kep.,Sp. Kep AN., Dosen Universitas Muhammadiyah jakarta, menyoroti tren generasi muda yang terbiasa ngopi atau mengonsumsi boba. Pada dua minuman tersebut, kalau dikonsumsi berlebih ada kandungan yang tidak menyehatkan. Trend makanan minuman kekinian, cenderung memiliki kandungan gula yang tinggi.

Ajaran Islam menegaskan, bahwa sesuatu yang berlebih tidak baik. Termasuk asupan kekinian, yang kalau keseringan bisa menjadi candu. Selain dirasakan diri sendiri, akibatnya juga merembet ke generasi penerusnya.

Faktor yang membuat manusia sehat, salah satunya adalah kecukupan nutrisi (langsung atau tidak) dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi oleh ibu. Pada 1000 HPK (hari pertama kehidupan) adalah fase penting manusia, membutuhkan asupan adikuat agar bisa tumbuh kuat dan sesuai masa tumbuh kembang.

Menurut Kang Maman selaku penggiat literasi, dibutuhkan empat kemampuan, untuk upaya memutus rantai gizi buruk di negeri ini. Adalah kolaborasi, critical thinking, communication, dan  creativity.

Fakta SKM bukan pengganti susu, dan tidak boleh dikonsumsi anak anak usia dibawah 12 bulan, musti terus didengungkan. Karena kandungan gula setara 4-5 sendok (dalam satu gelas), kalau setiap hari diberikan balita maka akan sangat fatal.

Era digital tidak selalu yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi yang kecil kalau bersama-sama bisa mengalahkan yang besar. Banyak contoh kasus viral, dan pihak lemah mendapat support dari netizen sehingga menang. Misalnya kasus viral, ibu yang kedapatan mencuri coklat. Kemudian bersama advokat, meminta karyawan minimarket minta maaf.

Serta merta dukungan netizen bertubi-tubi, mengetahui pihak lemah dikalahkan. Sampai pengacara kondang turun tangan, dan akhirnya si ibu minta maaf dan berdami. Pun soal kental manis bukan susu, generasi muda bisa mengangkat isu ini dengan caranya.

Kak Awam prakoso, tampil dengan unik dan menawan. Menyampaikan dengan cara mendongeng, kisah lama balapan lari kancil dan kura-kura. Kalau di masa kita kecil, kura-kura memenangkan lari, kini cerita tersebut bisa dimodifikasi.

Sehingga pesan nutrisi tersampaikan dengan baik, termasuk nilai kebersamaan, kolaborasi, tentang awarness gizi bagi generasi muda. Ya, saya sangat sepakat. Saatnya generasi muda sadar gizi !



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA