Home

31 Okt 2015

Sepotong Kesah dalam Secangkir Kopi


Secangkri Kopi (dokpri)
Pagi belum terlalu sempurna, langkah kaki kecil itu sudah terlampau jauh menjejak. Yu Sukirah nama perempuan tangguh ini, tubuhnya yang kurus ternyata menyimpan tenaga yang perkasa. Dua bongkokkan (ikatan besar) ranting kering, mampu diangkat dengan punggungnya. Dua hari sekali menyusuri jalanan dari sudut hutan dekat rumahnya, menuju pasar desa kecamatan terdekat. Kebiasaan ini sudah dilakukan puluhan tahun, hingga anak gadis satu satunya lulus Sekolah Dasar. Kang Parno sang suami biasanya turut mendampingi, lelaki berkulit legam membawa lebih banyak bongkokan. Sebagai buruh tani Kang Parno terpaksa absen jualan kayu, ketika musim panen padi beranjak datang. Seperti dini hari ini Yu Sukirah berjalan sendiri, karena sang suami musti memetik padi yang sudah menguning.
Kumandang panggilan subuh bergema, penanda saat menghentikan langkah sarat beban. Saat melepas penat ditanggung punggung, menghempas sesak terpendam di dada. Air wudlu membasahi wajah, kaki dan tangan, sejenak menghantar aroma segar. Mukena lusuh terselip antara ranting digendongan, kini membungkus tubuh kurusnya. Menyisakan sebentuk wajah kuyu, dan telapak tangan dengan garis kasar. Menegakkan dua rakaat wajib tiada ditinggal, kecuali saat siklus bulanan sebagai perempuan datang. Shalat adalah hakekat kehidupan, meski hidup seolah berwajah tak ramah. Segala peluh yang ditanggung jatuh, mengalir beriring manik embun dari sudut mata. Serangkaian bacaan bahasa arab imam musholla, didengar sungguh meski tak dimengerti maksudnya. Beruntung doa yang dilantunkan, memakai boso jowo halus yang sangat dipahami. Usai menghadap pemilik kehidupan, ada rasa lega di dada. Perasaan yang tidak bisa diterjemahkan, namun membuat Yu Sukirah terasa berlipat semangat.
Jarak dari musholla ke pasar sudah tak begitu jauh, ditempuh kurang dari setengah kilometer. Maka sambil menunggu langit sedikit terang, satu kelaziman mampir di warung pojok lapangan. Hati pemilik warung yang welas,  pun seluas lapangan bola disamping  tempat jualannya. Bu Sadilah sama sekali tak keberatan, menyediakan ruang untuk Yu Sukirah. Membantu pekerjaan apapun sebisanya, bersama Yu Yem batur*(pembantu) tetap bertahun tahun. Mencuci piring dan gelas kotor, serta menggoreng jajanan dagangan. Hingga semburat sinar pagi muncul, artinya Yu Sukirah musti ke pasar menjual kayunya. Atas kerelaan membantu pekerjaan di dapur, secangkir kopi dan gethuk menjadi upah. Tak ada kamus hitung hitungan bayaran, yang ada ketulusan atas dasar rela dan direlakan. Saat menikmati secangkir kopi, sembari duduk di atas dingklik di sudut dapur.  Adalah momentum istimewa, yang melegakan rasa menghempas sejenak duka. Kalau sedang sepi pengunjung, Bu Sadilah membuka obrolan apa saja. Tak ketinggalan kopi menemani, berada di meja tempat empunya warung.
Kopi (dokpri)
"Piye anakmu Yu.." obrolan dimulai "jadi  ngenger* di mana?" (*ngenger = bekerja sebagai pembantu)
Pertanyaan Bu Sadilah membuat gundah mencuat, hati perempuan kurus seperti terkoyak. Cangkir kopi yang masih panas diraihnya, disruput  langsung beriring satu tarikan nafas panjang. Kopi yang masih penuh uapnya mengepul, menghadirkan wajah Waginem anaknya. Gadis tanggung sedianya ditawari bekerja di warung ini, namun tak kunjung menjawab pertanda menolak.
"mboten ngertos  saya budhe,  wong mau anaknya pengin jadi TKW di Arab" ujarnya berat
Aroma kopi masihlah lekat di indra penciuman, sejanak melumerkan hatinya yang risau. Yu Sukirah perempuan tak berdaya, tetapi perkasa memanggul beban hidupnya. Cawan ceper diraih dituang air kopi, agar panasnya setidaknya sedikit berkurang.  Entah sensasi apa yang dihadirkan dari setiap sesapan, tapi ada satu perasaan yang menjadi lebih ringan. Asap yang mengepul diresapi, dengan mata merem sambil dihirup dalam. Dalam kesahajaan hidup yang utuh, ternyata tak mengambil sepenuh hak untuk sebuah kenikmatan. Kenikmatan yang didapati dengan cara sederhana, melalui secangkir kopi yang dituang di atas cawan kecil.
Kopi di warung Bu Sadilah terkenal enak, yu yem menggoreng sekaligus ndeplok sendiri. Kopi mentah dibeli dari langganan di pasar, hanya warung bu Mitro yang menjual kopi jenis khusus ini. Meski harganya sedikit berbeda, namun rasa yang ditawarkan tentu berbeda juga. Yu Yem yang telaten dan cekatan, menggoreng di atas tungku menggunakan wingko (wajan dari tanah). 
Kopi dibolak balik sampai menghitam, menyemburkan hawa panas di sela sela biji. Setelah  setiap butiran kopi dipastikan matang, dideplok mengunakan lumpang batu. Proses ndeplok perlu beberapa waktu dan kesabaran, sampai butiran demi butiran kopi matang hancur. Langkah selanjutnya serbukan kopi disaring, memakai ayakan dengan lubang tipis. Agar kopi yang dihasilkan dijamin halus, bisa larut dengan air saat disajikan.
"Yu yem,...kapan kapan aku diajari goreng kopi kaya gini yo.."rajuk Yu Sukirah memendam penasaran.
"enak yo rasane,...." senyum Sayem merekah bangga " iyo yu... nanti tak ajari"  
Racikan favorit pelanggan terpenuhi, melalui adonan tangan pemilik warung. Dalam takaran yang terukur, tersaji kopi nasgitel alis panas, legi, kenthel. Dengan aneka pilihan jajanan, membuat secangkir kopi terasa lebih nikmat. Pelanggan kebanyakan bapak bapak sepuh, datang saat malam tiba. Mereka membincangkan keseharian dengan gayeng, ditemani secangkir kopi Bu Sadilah. Penjual sayuran atau blantik sapi, hadir biasanya sebelum subuh. Cita rasa kopi warung ini tersebar, melalui cara efektif yaitu mulut ke mulut.
Bu Sadilah adalah generasi pemula, sedikit memendam gundah seperti Yu Sukirah. Anak mbarepnya sudah bekerja di Mojokerto, sedang ragilnya kelas dua SMA di Magetan. Kedua anaknya tak ada yang tertarik, meneruskan warung rintisan ibunya.
Ada kesah yang serasa turut tertuang, beriring kucuran kopi diatas cawan. Semerbak aroma kopi yang menyentuh ujung hidung, merampas sedikit kepedihan yang ditanggung. Dua perempuan berbeda kelas, dengan cita rasa kopi yang sama. Saling gudo roso (berbagi perasaan) yang hinggap, meski dengan sudut pandang sendiri sendiri.
Satu sruputan kopi ditingkah potekan gethuk, mengganjal perut Yu Sukirah yang nyaris keroncongan. Wejangan Budhe Sadilah yang mengalir, membuat kenikmatan kopi semakin paripurna. Secangkir kopi tak lagi sekedar secangkir kopi, tetapi menjelma sebuah perhatian dan ruang lapang.  
Yu Sukirah datang dua atau tiga hari sekali, bergilir jualan ranting kayu di desa lain. Sehingga ke warung Budhe Sadilah, menjadi pengobat rindu pada secangkir kopi. Selain menjaga diri atas rasa sungkan, kalau terlalu sering mampir.
"memang maunya anak sekarang sudah beda" celetuk budhe Sadilah "penginnya dapat duit gedhe"
Tak gamblang maksud kalimat Budhe Sadilah, bisa jadi mewakili perasaannya sendiri juga. Yu Sukirah hanya diam mendengarkan, tak tahu musti menjawab dengan kalimat apa. Dirinya seperti berada dipersimpangan, antara melepas dan menahan Wagiyem. Anak wedhok satu satunya, kalau sudah punya kemauan cukup keras hati. Apalagi setelah melihat teman semasa SD, menjadi TKW pulang membawa perhiasan dan duit banyak. Tapi Yu Sukirah justru mengedepankan rasa khawatir, ketika mendengar berita TKW disiksa majikan, atau pulang tinggal nama.
Secangkir kopi dengan aroma tak terkira, sejenak telah mengusir kesahnya. Sruputan demi sruputan dilalui, menemani sepotong pagi yang ke entah. Mengelupas rasa tak menentu, namun tak ada pilihan kecuali dijalani. Secangkir kopi meninggalkan residu pekat, sepekat kebimbangan batinnya. Secangkir kopi mengandung banyak hal, kadang sama sekali tak dipahami perempuan setangguh Yu Sukirah.
"Budhe nuwun sewu langitnya sudah terang, kulo pamit dulu" ujarnya sambil berkemas.
"Yo yu, sing ati ati" balas pemilik warung.
foto dipinjam dari http://slametriyadi.com

Kerekatan batin dua perempuan ini, terjalin erat melalui secangkir kopi. Aromanya yang ngangeni, menjadi hak siapa saja mengecap tanpa memandang kasta. Langkah kaki yang sempat berat, mendadak menjelma ringan sarat semangat. Secangkir kopi telah mengalirkan energi, bersama kelapangan hati pemilik warung. Meskipun beban tetaplah beban, yang tak diketahui akan kemana bermuara. Bayangan Waginem disimpannya, menjemput keringat demi keringat untuk dibawa pulang nanti siang.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA