Tampilkan postingan dengan label blogcomp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blogcomp. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Mei 2017

Relaksasi Sederhana Tapi Dahsyat Khasiatnya



Herbadrink Saritemulawak -dokpri

Minggu malam, saatnya anak-anak belajar untuk mempersiapkan sekolah esok hari. Si Ayah mengerjakan beberapa tugas di laptop, didampingi minuman hangat Herbadrink SariTemulawak.
Saya yakin, anda pasti kenal temulawak dan tidak sangsi dengan khasiat yang terkandung di dalamnya. Temulawak adalah tumbuhan asli Indonesia, kini  telah tersebar di berbagai kawasan Asia Tenggara bahkan Eropa.
Saya sendiri sudah akrab dengan minuman temulawak sejak kecil, biasa membeli di tukang jamu keliling atau penjual jamu di lapak pinggir jalan. Biasanya saya gunakan sebagai penawar, setelah minum jamu yang rasanya pahit.
Saya masih ingat sosok (alm) mbah Sum, penjual jamu langganan yang dulu sering lewat depan rumah orang tua di kampung. Kerap kali saya menunggu nenek bertubuh kecil ini, untuk membeli jamu dagangannya. Jamu yang saya pilih sangat dihapal mbah Sum, tidak lain tidak bukan adalah jamu temulawak.
Saya gemar jamu temulawak, karena rasanya manis sedikit asam dan segar beraroma herbal. Begitu aroma tersentuh indera penciuman, seperti ada sugesti tentang khasiat yang akan dirasakan tubuh ini.
Setelah berkeluarga, saya menikmati minuman herbal ini saat jelang malam. Menemani anak-anak sedang belajar, sembari selonjoran melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Badan ini terasa begitu nyaman, setelah menikmati hangatnya minuman menyehatkan. 
Bukan sekedar penawar rasa pahit setelah minum jamu, khasiat temulawak ternyata lebih dahsyat dari yang saya kira. Temulawak dapat membantu menurunkan lemak darah, ekstrak temulawak sangat bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol.
Kandungan kurkumin di dalamnya membantu untuk mengurangi rahang sendi, sementara kandungan katagoga dapat membantu kesehatan hati untuk memproduksi empedu dan memberikan rangsangan agar mengosongkan empedu. Selain beberapa manfaat di atas, masih banyak manfaat lain dari Temulawak. ( klik di SINI )
Bicara tentang kesehatan hati, saya punya pengalaman tak terlupakan seumur hidup. Saat itu benar-benar menjadi moment titik balik,  sekaligus dorongan kuat untuk merubah pola hidup dan pola konsumsi makanan.
Tepatnya seusai melakukan medical check up, di sebuah Clinik yang menangani masalah berat badan/ obesitas.
-0o0-
Kamar ukuran 4 x 5 meter tampak begitu bersih, dengan dinding bercat putih terang plus bau khas obat-obatan. Suhu udara dingin yang keluar dari AC terasa menyentuh kulit, namun buliran keringat tetap saja keluar dari pori-pori di dahi.
“silakan”
Ibu dokter dengan ramah mempersilakan saya,  untuk merebahkan diri di ranjang bersprei putih. Bagian bawah kaos yang saya pakai dinaikkan sedikit, memperlihatkan separuh bagian perut buncit ini.
Seperangkat alat  tampak dipersiapkan, melihat sekilas mirip alat USG yang biasa dipakai untuk periksa kandungan ibu hamil. Suasana sudah terlanjur membuat nervous, nyali ini tak ada keberanian bertanya macam-macam.
“pernah lihat alat ini Pak?” Dokter berusaha mencairkan suasana
“Pernah Dok”
“Memang, alat apa ini Pak?” Dokter ingin meyakinkan
“Dulu sering lihat, waktu antar istri periksa kehamilan”
Rasa grogi tidak berhasil saya sembunyikan, percakapan yang dimulai dokter tidak serta merta membuat tenang dan santai.
“Iya benar, ini alat USG”
Jawab dokter masih dengan sikap ramah, sembari mengoleskan gel pada bagian tertentu di perut saya. menyusul ujung alat ditempelkan di atas olesan gel, kemudian digeser-geser sambil pandangannya ke arah tv monitor.
Beberapa kali Dokter merubah posisi ujung alat, sampai menangkap object yang diinginkan dengan baik. Layar monitor dipasang di dinding, memudahkan bola mata ini melihat organ yang ada di dalam perut saya. 
Tak lama nampak dua organ berwarna putih diselimuti warna hitam, dengan latar belakang warna hitam pekat.
“ini hati dan ini ginjal Pak”
Dokter menjelaskan gambar di layar, sambil menunjuk dua organ dimaksud dengan ujung pulpen. Dokter menerangkan bagaimana dua organ bekerja, sesekali menggunakan istilah kedokteran yang membuat kening ini mengeryit.
Sekitar lima menit perut ditempel alat USG, apa yang tampak di monitor telah berpindah ke atas kertas print.
Sesi Konsulitasi dengan dokter -dokpri
Saya bangkit dipersilakan kembali duduk, ke kursi tempat pertama kali masuk ke ruangan ini. Tak lama Dokter baik hati duduk berhadapan, menunjukkan sebuah gambar sambil memberi saran dan masukan.
Sekitar tiga puluh menit di ruang dokter, benak ini sesak dengan informasi bahaya pelemakan hati. Saya yang kala itu sudah masuk kategori obesitas, musti introspeksi dengan sungguh merubah kebiasaan kurang bagus.
Sepanjang perjalanan pulang, tak henti berucap syukur mengetahui hasil USG. Kondisi hati dan ginjal saya masih baik, tampak dari warna homogen pada kedua organ penting tersebut.
bisa diindikasikan terjadi pelemakan hati, kalau organ hati tampak  lebih putih dibanding ginjal” jelas Dokter.
 
Hasil USG -dokri
Sejak saat itu tekad ini membulat, tidak ada toleransi pada ego diri. 
Mengingat pernah Juga punya pengalaman tak enak, menjelang subuh tiba-tiba tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Separuh badan seperti kesemutan, tiba-tiba badan bagian kanan tidak bisa digerakkan.
Seketika perasaan campuk aduk, bibir tak henti melafalkan doa dan dzikir. Saya paksa berjalan hilir mudik, alhamdulillah akhirnya badan terasa enak seperti sedia kala.
Tahukah kawan’s, tingginya kadar lemak yang tertimbun di sel-sel hati, sangat dapat menganggu fungsi hati. Bahaya pelemakan hati  tidak langsung terlihat tahapannya, baru terdeteksi biasanya sudah dalam kondisi terlambat.
DIET”, kata ini menjadi jawaban dari serangkaian pemeriksaan dokter.
Saya perbanyak konsumsi buah dan sayur, mengurangi asupan yang kurang perlu mengganti sumber karbohidrat dari nasi ke umbi-umbian. Minum Herbadrink Sari Temulawak untuk menjaga kesehatan hati, serta tidak lupa rutin berolah raga.
Setelah menjalani diet dengan disiplin, perlahan tapi pasti perubahan itu didapati. Terhitung sepuluh bulan berjalan, saya berhasil memangkas bobot tubuh hingga 12 kg.
before and after -dokpri
“Wah sekarang kurusan dan segar”
Kalimat ini sering saya dengar, terutama dari teman-teman yang lama tak bersua. Pernah ketika ada acara keluarga di Surabaya, nyaris semua saudara berkomentar serupa.
Tak perlu takut datang ke acara makan-makan, karena mindset yang sudah terbentuk otomatis akan bekerja. Mampu memilih asupan yang baik untuk tubuh, demi menjaga kesehatan. Termasuk mengedepankan asupan dari bahan herbal, yang terbukti sangat baik untuk tubuh.
Mengapa bahan Herbal ?
Bumi Indonesia yang subur dan makmur ini, konon bangsa penjajah tertarik menduduki negeri pertiwi karena kekayaan alam berupa rempah-rempah. Temulawak tanaman herbal asli Indonesia, bermanfaat untuk kesehatan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Siapa tak kenal Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza),  adalah tanaman yang tumbuh merambat memiliki manfaat bagi kesehatan. Konimex melakukan penelitian dan pengembangan produk kesehatan, melalui bahan-bahan berbasis bahan alami.
Herbadrink Sari Temulawak
Minuman herbal dibuat berdasarkan resep tradisional Indonesia, diproses melalui teknologi modern tanpa bahan pengawet. Dengan kemasan dalam bentuk sachet, praktis dan siap dikonsumsi setiap saat.
Mengandung ekstrak Curcuma Xanthorrizha Rhizomna 2,2 g, setara dengan 800 mg Rimpang segar Temulawak, gula dan bahan lain hingga 18 gram.
Terdapat juga pilihan bebas gula (sugar free), khusus bagi orang yang menderita diabetes atau menghindari gula
Cara Pembuatannya
Sangat praktis, larutkan satu sachet ke dalam 1 gelas air panas/ dingin (150 ml).
Ini Pengalaman Saya !
Saya suka minum Herbadrink Sari Temulawak hangat, pada saat tidak terlalu sibuk sehingga bisa menikmati. Minum sedikit demi sedikit langsung dari gelasnya, terasa ada sensasi damai yang dihantarkan.
Sebelum diminum, saya dekatkan ujung hidung pada bibir gelas. Membiarkan uap beraroma herbal terhirup hidung, sambil merem menarik nafas dalam-dalam, tahan nafas sebentar kemudian lepaskan dengan perlahan.
Saya ulangi beberapa kali, sejenak pikiran bisa relaks, harum khas herbal bisa digunakan sebagai aromatherapy.
Menikmati minuman berkhasiat, sungguh nikmat sembari berbincang ringan dengan istri bertukar kisah dialami seharian. Mendengar celoteh dan curhatan anak-anak, yang kadang lucu bahkan menggemaskan.
Rasanya beban pikiran bisa lepas, sekaligus membebaskan kelelahan yang melekat di badan. Ah, betapa kenikmatan bisa diciptakan dengan sangat mudah. Melalui hal sederhana di sekitar diri, namun memiliki dampak yang luar biasa.
Kalau saja kebiasaan baik dilakukan secara ajeg, bukan mustahil sehat lahir dan batin akan mampu diraih. Badan segar karena rutin konsumsi minuman berbahan herbal, pikiran dan hati tenang akibat dari manfaat relaksasi. Suasana rumah menjadi hangat, ayah bisa merengkuh seluruh anggota keluarga.
Kesehatan adalah sumber utama bahagia, menjadi aset penting bagi manusia menjalani hidup keseharian. Dengan kesehatan manusia bisa mengekspresikan diri, lebih banyak peluang untuk mewujudkan mimpi.
Alam disediakan Sang Pencipta, untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tinggal bagaimana manusia itu sendiri, memperhatikan asupan tubuh dari bahan- bahan alami.
-0o0-
“Ayah, kakak gosok gigi dulu” Si Sulung mengagetkan saya
Tampak jagoan jelang puber ini, sedang memasukkan peralatan sekolah ke dalam tas.
“Iya, ayah nyusul”
Segelas Herbadrink Sari Temulawak tinggal seteguk habis, tak terasa mengantar detik demi detik menuju malam. Badan saya yang sudah tidak gendut, terasa semakin enteng dan semakin segar saja.
Jam sembilan malam saatnya anak-anak tidur, agar esok tidak kesiangan berangkat ke sekolah. Sembari melangkahkan kaki menyusul sulung, teringat arti dari Surah Ar-Rahman  ayat 55 “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan ?
-salam-

Selasa, 06 September 2016

Aa' RT Emang Keren

Semarak umbul-umbul dan bendera merah putih, tersebar diberbagai sudut komplek perumahan. Kaum muda hilir mudik, bahkan dari minggu pertama bulan agustus. Anak usia belasan mendatangi setiap rumah, mendata anak-anak untuk aneka lomba.
Persiapan Lomba Sepeda Hias -dokpri-
Sesuai kategori umur tersedia pilihan, ada lomba makan kerupuk, balap karung, membawa kelereng di sendok, tarik tambang, main bola, joget balon dan masih banyak lomba lainnya.
"Sepertinya, acara tujuhbelasan tahun ini bakal meriah" celetuk seorang bapak penghuni perumahan.
Saya pribadi mengamini dan merasakan sendiri, suasana tahun ini terasa beda dibanding sebelumnya. Ajakan bersih taman dan pasang bendera, diberitahukan melalui selebaran.
Anak saya sibuk menghias sepeda, turut memeriahkan pawai sepeda hias. Lomba yang akan digelar pasca upacara bendera, ternyata banyak menarik minat peserta. Tak kurang dari tigapuluh pendaftar sudah tertulis, memperebutkan hadiah berupa peralatan tulis.
Ada lagi lomba diikuti gadis mungil saya, yaitu lomba joget balon dan estafet karet. Dua lomba ini berpasangan, membutuhkan kekompakkan dalam satu team. Dua jenis lomba ini tak kalah menarik, ternyata peminatnya juga cukup banyak.
Mungkin hadiahnya biasa-biasa saja, tapi upaya menghidupkan suasana kemerdekaan patut diacungi jempol.
Tapi kalau mau dirunut, tak hanya hendak perayaan hari kemerdekaan saja. Saat menjelang puasa tahun ini, juga diadakan kegiatan pawai obor. Anak-anak TK sampai SMA berbaris, mengelilingi komplek mengumandangkan takbir. Menyusul pasca mudik lebaran, diselenggarakan acara halal bihalal bertempat di taman Blok E.
Acara Pawai Obor Menjelang Ramadhan -dokpri-
Yup, semua suasana ini benar terasa berbeda !
Setelah tujuh tahun berjalan, keluarga kecil saya tinggal di perumahan daerah Ciputat. Semarak bergotong royong  kini terasa hidup, kami guyub dan saling membutuhkan. Setelah saya coba telisik, tokoh kunci penggerak itu adalah sosok ketua RT.
Aa' RT, begitu sang pemilik jabatan menyematkan panggilannya
Kami pada awalnya, kerap keliru memanggil dengan sebutan Pak RT. Namun Pak Rommy selalu meralat, "Hadeuuh, ini Aa' bukan Bapak" tukasnya di group WA.
Melihat  dari perawakan, usianya empat atau lima tahun di atas saya. Namun pembawaan kocak dan suka melucu, membuat wajahnya lebih awet muda. Aa' RT ikut di semua group WA warga, mulai WA khusus bapak, ibu dan pemuda.
Aa' RT adalah ketua RT ketiga, sejak pertama kali menjadi saya warga di perumahan lama ini. Konon orang tua Aa' RT asli warga komplek, namun Aa' RT ikut orang tua sempat pindah ke kota lain. Sementara rumah lama ditempati sang kakak, sampai beranak pinak. Entahlah bagaimana ceritanya, kini Aa' RT kembali  ke rumah asal kelahiran.
Warga semakin guyub dan rukun (aa RT berdiri baju biru) -dokpri
Awalnya saya sempat heran, melihat Aa' RT sudah banyak kenal warga. Meski baru beberapa bulan, kembali menetap di Perumahan ini. Berbicang dengan warga usia sebaya, dengan sebutan "Lo" "Gue". Pun denggan para sesepuh, tak ada kesan sungkan dan kaku. Namun setelah mengetahui riwayatnya, barulah rasa heran saya menguap pergi.
Melihat, mendengar dan merasakan suasana jelang perayaan kemerdekaan, mendadak saya berkilas balik awal kedatangan.
-0o0-
Alhamdulillah, tahun 2009 keluarga kecil kami menempati rumah sendiri. Rumah dengan bangunan lama, dari penampakkan sangat perlu direnovasi sana- sini. Pagar dengan  cat hitam sudah mengelupas,  empat rodanya macet perlu tenaga eksta mendorongnya. Warna tembok sudah kusam, beberapa bagian ada bekas tanah belum dibersihkan. Keramik model lama terkesan murahan, beberapa sudah lepas dari tempatnya.
Apapun keadaannya, sungguh kami syukuri dari hati terdalam. Perjalanan biduk rumah tangga telah terlampaui, kami suami istri mewujudkan mimpi sampai sejauh ini.  Setelah menjelang 4 tahun mengontrak, di sebuah rumah tak jauh dari perumahan yang sekarang.
Perjuangan ekstra keras kami jalani, menabung sedikit demi sedikit berhemat dalam belanja. Setiap mendapat rejeki, selalu menyisihkan separuh lebih untuk rumah idaman. Baru sisanya digunakan kebutuhan lain, menunjang kegiatan sehari-hari.
Awal pembelian rumah -dokpri
Setelah tabungan mulai banyak, barulah berani mencari rumah ke mana-mana. Hingga dipertemukan dengan seorang nenek, melalui perantara teman pengajian ibu mertua. Pada usia senja di atas 70 tahun, si nenek ingin hidup bersama di rumah anak sulungnya.
Setelah prosesi jual beli selesai, pemilik lama segera angkat kaki.  Saat itu saya ikut melepas, kepergian nenek bersama anak bungsu sudah berumur tapi belum menikah.
Medio tahun 2009
Sebagai warga baru, saya melapor kehadiran beserta keluarga kecil kami. Bapak RT sudah seusia ibu saya, memanggil kami suami istri dengan sebutan dek.
Tetangga depan rumah, adalah keluarga muda seperti kami. Pada awal pindah, kepala rumah depan rumah adalah pekerja kantoran. Biasanya jam 08 pagi berangkat kerja sembari saling bersapa, pulangnya bisa di atas jam 21 bahkan lebih. Pernah saya mendengar, pagar besi tetangga dibuka menjelang adzan subuh (saat ini sudah resign berwirausaha).
Sementara tetangga sebelah kiri rumah, adalah pasangan kakek nenek dengan anak bungsu yang belum menikah. Menilik usia sang anak, sudah melewati tigapuluh tahun. Rumah yang ada disebelah kanan kosong, konon penghuninya punya rumah di daerah lain.
Dua tahun menjadi warga perumahan, seingat saya tak pernah ada kerjabakti. Saya berurusan dengan Pak RT, kalau hendak mengurus KTP atau SKCP (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Selebihnya membayar iuran bulanan, itupun melalui bendahara RT atau petugas keliling.
Beberapa warga lama yang lebih tua, kadang kurang ramah meski sudah kami sapa baik-baik. Pun saat acara hajatan, kerap kali kami (mungkin) terlewat untuk diundang.
Tiba-tiba pada 2011 ada pergantian ketua RT, saya tidak merasa ikut dalam pemilihan. Ketua RT berganti nama baru, setahu saya pengurus dipertahankan. Menurut yang saya rasakan, tak terlalu berbeda dengan kepengurusan sebelumnya.
Awal 2016
Pemilihan ketua RT baru dimulai, dengan sistem yang lebih kekinian dan mengakomodir suara warga. Setiap rumah diberi kertas pemilihan, memilih satu dari lima nama nominator. Satpam menyerahkan kertas pilihan, memberi waktu sehari untuk menentukan jagoannya.
"Pilih Pak Rommy saja" celetuk istri dan saya sepakati
Keesokkannya kembali Satpam mengetok pintu, mengambil kertas yang sehari sebelumnya diserahkan. Penghitungan suara dilakukan, sampai muncul satu nama terpilih adalah Pak Rommy. Sebagai warga saya tentu senang, proses pemilihan RT berjalan demokratis.
Awal Feb'2016
Tiba-tiba saya masuk group WA, membernya adalah tetangga satu blok. Tak lama Istri mengabari hal yang sama, masuk group WA dengan member ibu-ibu.
"Wah, group ini pasti menyatukan warga" ujar saya
Dari group WA inilah, Pengurus RT sering berkomunikasi dengan warga. Menyosialisasikan program atau kegiatan RT, sekaligus minta dukungan dari warga. Meski tak beda dengan group WA lainnya, kadang chatting candaan atau intermezo sering berlangsung.
Warga perumahan yang sepuh, mulai tak canggung bergaul dengan anak muda. Pun kami golongan muda, tetap menghormati penghuni lama yang sudah menjadi kakek dan nenek.
Agustus 2016
-Lomba Sepeda Hias akan dimulai, Kepada Pak RW dimohon melepas Pawai Sepeda Hias- suara remaja terdengar keras di lokasi taman.
Pak RW mengambil posisi, tiang bendera pelepasan bergerak ke atas tanda pawai dimulai
Anak saya (5 tahun) siap di atas sepeda, rumbai kerta warna merah putih mendominasi roda duanya. Hiasan yang dipasang di sepeda, selaras dengan baju dan celana yang dikenakan. Dua roda berputar stabil, menjaga jarak agar tak menabrak sepeda di depannya.
Lomba sepeda hias perayaan tujuhbelas agustus -dokpri

kemeriahan acara tujuhbelas agustus -dokpri

Aa'RT paling giat, menyemangati anak-anak yang mengayuh sepeda. Dua tangannya bertepuk, sembari mengucap kata "Ayo-Ayo-Ayo" pada anak yang lewat di depannya.
Pawai ini mengelilingi beberapa blok di perumahan, yang dirasa tak membuat anak-anak terlalu capek. Sementara para ibu mengikuti di samping sepeda anaknya, tak mau lepas barang sebentar. Alhasil yang ramai justru ibunya, dibanding anak yang menjadi peserta lomba.
Penilaian tak hanya yang paling cepat sampai, tapi juga dinilai dari hiasan dan busana yang dipakai. Setelah beberapa saat berlalu, sepeda terdepan kembali memasuki taman disusul sepeda berikutnya.
Anak saya ada ditengah-tengah, tak lagi sejajar dengan teman yang sama saat berangkat. Setelah istirahat dan minum air mineral, terdengar nama pemenang pawai sepeda hias. Nama anak saya tidak disebutkan, pada wajah polos ini ada semburat rasa kecewa.
"sudah ga apa-apa, ini cuma lomba" saya merengkuh mengusap pedih di hatinya.
Senangnya dapat hadiah -dokpri
Beruntung pada lomba joget balon, gadis kecil saya menang juara satu. Selain itu juga menang juara tiga, untuk lomba estafet karet. Sehingga impas sudah rasa kecewa, atas kekalahan di pawai sepeda terganti.
Kami warga bergembira bersama, merasakan kekompakan yang coba dihidupkan. Keseruan perayaan tujuhbelasan, kini hadir di perumahan yang dulu sepi kegiatan. Suka ria dan canda tawa kami para warga, semakin mendekatkan sekaligus sebagai ajang berbaur.

Hati ini bergumam "Aa' RT Memang Keren

Selasa, 16 Agustus 2016

Bagaimana Agar Penghargaan Sesuai Kebutuhan Penerima ?

Apakah penghargaan mesti dalam bentuk barang?
Menurut saya sih, tidak selalu. Namun penghargaan dalam wujud benda, sebagai bentuk atas kesungguhan pemberi penghargaan.
Menerima hadiah saat menang lomba -dokumentasi pribadi
Penghargaan bisa berupa penerimaan atas keberadaan diri, atau mempersembahkan sikap terbaik atas sesuatu yang telah dilakukan orang lain. Tiga ucapan yang bisa menjadi bentuk penghargaan, adalah kata "Terima Kasih", "Tolong", dan "Maaf".
Coba deh anda bayangkan !
Seorang Office Boy mengantar minuman, mendapat senyum dan ucapan terimakasih dari Presiden Direktur. Atau seorang marketing mendapat telepon dari Pimpinan perusahaan yang diprospek, diminta tolong datang menyediakan waktu meeting. Masih ada satu lagi, calon mertua minta maaf pada calon mantu atas sikap jutek saat kali pertama bertemu.

Jumat, 10 Juni 2016

Menjadi Ayah Hebat untuk Anak Hebat

Anaka-anak adalah penghuni masa depan, yang tak bisa kau kunjungi sekalipun lewat mimpi- Kahlil Gibran- (dokumentasi pribadi)
Almarhum ayah saya seorang guru SD, pembawaan beliau kalem dan relatif irit bicara. Pada enam anak- anaknya atau ibu sangat jarang marah, intonasi suara juga nyaris tak pernah meninggi. Seingat saya pernah dua kali marah, waktu saya masih berseragam merah hati putih. Itupun setelah dirunut, muasal kemarahan memang saya penyebabnya.
Warung kecil ibu di pasar kampung sedang banyak pembeli, saya menangis minta dibelikan mainan. Ibu yang sedang melayani pembeli tak segera menanggapi, tangis saya pecah bertambah keras. Bisa dibayangkan, betapa jengkelnya perasaan orang tua (hehehe). Sampai dirumah ayah marah, mendengar ulah anak bungsunya di pasar. Saya diguyur air satu ember besar, kaos basah itu menempel di badan sampai kering sendiri.
Meski sangat jarang bicara, namun saat kami anak-anaknya sakit ayah paling care. Pernah kaki ini terkilir akibat jatuh dari pohon, saat hendak tidur ayah dengan tekun memijat kaki kecil sembari mengolesi balsem. Hal yang sama dilakukan, pada saat kakak nomor lima tangannya patah atau matanya lebam biru karena berkelahi.
Pertengahan tahun 80-an, saya penikmat film "The Hogan's Family" di TVRI. Sosok ayah diperankan bintang Josh Taylor, cukup menyita perhatian. Tokoh dalam serial beken kala itu,  digambarkan dekat secara psikologis dan fisik dengan anaknya. Tiga anak dalam film yang tayang minggu sore, tak segan memeluk sang ayah saat pulang dari tempat kerja sebagai pilot. Kalau ada masalah di sekolah atau dengan teman, anak juga bercerita dengan nyamannya.
Saya tersenyum sendiri, membayangkan betapa kakunya kalau saya merangkul ayah seperti adegan di serial ini. Betapa sangat kikuk, saya atau kakak curhat kepada ayah yang pendiam (hehe). Jangankan berbincang panjang, kami bicara secukupnya kalau memang ada perlu. Percakapan sehari-hari dengan bahasa jawa halus, kepala ini lebih banyak  menunduk. Kalau ada keperluan minta sesuatu ke ayah, kerap melalui perantara ibu.
Pikir saya mungkin pengaruh budaya Jawa, sehingga beda cara mengekspresikan perasaan seperti tokoh di serial The Hogan's Family.
Sekali lagi saya akui, ayah tetap sosok yang kami hormati tak terganti. Beliau pribadi penuh tanggung jawab, senantiasa mengutamakan kami anak-anaknya. Kalau ada hajatan atau acara apapun dan membawa pulang makanan, maka paling dulu disisihkan untuk anaknya baru dimakan sisa yang ada. Ayah memiliki tempat di hati, meskipun jarang ngobrol apalagi bicara hati ke hati.
--0o0--
Waktu berputar begitu cepatnya, semakin panjang perjalanan hidup saya lalui. Usia mengantarkan pada jenjang pernikahan, alhamdulillah  Allah memberi amanah dua buah hati. Siapa sangka, sikap perhatian dan mengayomi yang dulu ditunjukkan ayah menginspirasi. Kini saya coba terapkan, dalam peran keseharian sebagai ayah.
Perihal hubungan dengan anak, saya memilih tak ingin menjaga jarak. Sejak masih bayi sampai usia 5-6 tahun, tak segan melibatkan diri pada pekerjaan yang biasa dilakukan istri. Menggantikan popok, menimang saat hendak tidur bahkan memandikan mereka.
Teringat pesan ibu Ely Risman seorang tokoh parenting, bahwa usia 0 - 7 tahun ada golden moment. Saya manfaatkan waktu sebaik-baiknya, menemani dan membangun kedekatan dengan anak-anak sebisa mungkin.
Illustrasi dokumentasi pribadi
Sulung yang hampir kelas lima, sering berkisah apa saja yang dialami di sekolah. Hal serupa saya juga dapati, pada adiknya yang sekarang duduk di bangku TK.  Kami sebagai orang tua, tentu merasakan manfaat kedekatan ini. Anak sering minta pendapat dan pertimbangan, bagaimana menyikapi teman atau gurunya di sekolah. Kami memberi saran masukan, atas hal yang sebaiknya boleh dan tidak boleh mereka lakukan.
Penanaman perilaku baik sangat penting, pondasi yang kokoh sebaiknya didapat dari orang tua. "Al Ummu Madrasatul Ulla" atau ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya, tentu harus dilengkapi dengan peran ayah.
Suatu saat kelak, anak-anak akan menempuh onak dan badai kehidupan mereka sendiri. Mereka akan menghadapi sendiri, tak bisa selamanya bergantung pada orang tuanya. Maka perlu dipersiapkan tak hanya fisiknya saja, yang lebih utama adalah mentalnya.

Anak Adalah Peniru Ulung
Anak-anak bertumbuh, melalui apa yang dia lihat bukan didengar. Hal paling sederhana, memberi keteladanan melalui sikap keseharian.
Kalau menginginkan anak rajin sholat, cara paling efektif adalah orang tua memberi contoh sholat (tidak sekedar memerintah). Demikianpun kalau ingin memiliki anak soleh/ solehah, tak cukup sekedar mengirim ke sekolah agama unggulan. Ayah sebagai kepala keluarga dan nahkoda, harus selalu berusaha menunjukkan sikap terbaik.
Jangan mudah bicara kasar apalagi ringan tangan, baik pada ibu atau anak-anaknya.  Bukan sesuatu yang mustahil, buah hati ini akan merekam apa yang mereka lihat. Ayah harus rela dan merelakan, berusaha menahan ego pribadi demi anak-anaknya. Semua peran memang perlu ilmunya, termasuk bagaimana menjadi orang tua yang mendekati ideal.
Kegemaran  saya membaca, membawa begitu banyak manfaat. Sejak  menikah dan memiliki anak, buku tentang parenting masuk daftar prioritas. Satu buku menjadi koleksi perpustakaan pribadi, berjudul "Menjadi Ayah Bintang" ditulis oleh Neno Warisman.
Ada bab yang sangat berkesan, mengokohkan semangat tak henti belajar menjadi ayah yang baik. Betapa hukum sebab akibat  dalam kehidupan terus berlangsung, bahwa anak hebat berasal dari orang tua yang hebat.  
Ijinkan saya mencuplik beberapa bagian, pada bab berjudul "Ayah Sejati".
Terkisah seorang ayah didatangi anaknya yang sudah dewasa.
"ada keperluan apa kau kemari, wahai anakku?" tanya sang ayah penuh kasih
"ada urusan keluarga, ayah" Jawab sang anak
Maka Sebatang lampu kecil (alat penerangan satu satunya) yang menyala di ruanganpun dipadamkan. Hanya dengan satu tiupan mulut sang pemimpin besar, menjadi gelap gulita ruangan itu
"Kenapa kita bicara dalam gelap begini, ayah?" tanya anaknya tidak mengerti
"Kita tidak menggunakan fasilitas negara untuk mengurus persoalan keluarga. Bicaralah anakku, apa persoalanmu?"
Petikan mutiara kisah terjadi pada masa lalu, sang ayah adalah Khalifah Umar Ibn Abdul Azis, Khalifah kelima, dengan putra beliau yang datang menghadap. Beliau raja yang amat mengagumkan, sampai datang waktu wafatnya, serigala tidak memakan ternak. Keamanahan beliau dalam menjalankan kepemimpinan mengguncangkan jiwa, menoreh kebenaran yang dianut dan diwarisi oleh para pejalan keadilan.
Penggalan kisah sarat hikmah berulang, pada masa yang berbeda. Seorang bapak tentara yang bermobil milik negara. Sedang menjalankan tugas, melewati pintu sekolah. Seorang anak kecil menghadang, namun bagai tak peduli mobil terus melaju.
Ketika berselang waktu sang anak protes saat dirumah, dengan bijak sang ayah menanggapi "Lha kamu itu siapa? Bapak sedang pakai mobil dinas, Nak. Nggak mungkin Bapak pakai untuk urusan pribadi" jelas sang Bapak tegas dan pasti.
Pemuda kecil yang sedang berdialog, kelak menjadi pemain watak dan amat tersohor. Menerima beragam piala untuk beragam perannya sebagai aktor, sejarah mematri namanya sebagai salah satu sutradara emas. Beliau memiliki sikap berseni yang kuat, karena sekuat keteladanan ayahnya.
--0o0--
Illustrasi - dokumen pribadi
Menjadi ayah memang bukan pekerjaan ringan, namun kalau tahu ilmunya sangat menyenangkan.
Sebagai ayah pembelajar, saya berusaha semaksimal mungkin bersikap terbaik dihadapan anak-anak. Kepada istri kerap berkata "Iya bunda sayang", sengaja saya lakukan dihadapan anak-anak. Karena saya yakin, anak lelaki saya akan melihat dan menyimpan dalam benaknya. Tentu besar harapan, semoga kelak mencontoh dalam memperlakukan istrinya.
Pun dalam mencari nafkah, berupaya maksimal mempersembahkan harta dan makanan yang tayyib. Konon pesan alim ulama, kalau mendapati anak nakal sebaiknya tak langsung dimaki.  Bisa saja ada andil orang tua di belakangnya, siapa tahu nafkah yang diperoleh dengan jalan tak semestinya.
Sungguh, sebagai ayah saya masih sangat banyak belajar !
Maka tak segan meminta pendapat anak, apa yang mereka rasakan terhadap ayahnya. Tentang sikap ayah selama ini, apakah menyebalkan atau menyenangkan. Hal ini saya lakukan, semata untuk introspeksi atau evaluasi diri. Sekaligus membuka pintu dialog, kalau salah saya tak malu mengakui dan meminta maaf. Pun kalau persepsi mereka kurang tepat, segera saya coba meluruskan.
Tentu saya masih jauh dari kata ideal, namun ada keyakinan yang bersemi di dada. Dari buku yang pernah saya baca, Sang Pemberi kehidupan menilai umat dari prosesnya. Sedangkan hasil  dari sebuah proses, seratus persen menjadi otoritasNYA. Namun janganlah khawatir, lazimnya hasil berbading lurus dengan usaha yang dilakukan seseorang.
Jalan panjang masih terbentang dihadapan, tugas saya sebagai ayah belumlah usai. Saya hunjamkan dalam sanubari, bahwa menjadi seorang ayah tak cukup hanya bisa berharap. Kalau ingin memiliki anak hebat sekaligus soleh atau solehah, maka ayah  juga musti  belajar menjadi ayah hebat dan ayah yang soleh. (wallahu'alam)

Kamis, 11 Februari 2016

Kenangan & Mitos Gerhana Matahari Total Tahun 1983


Illustrasi Laskar Gerhana dipinjam dari Blogdetik
Kala itu tahun 1983, saya masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar (Awas, Jangan coba hitung apalagi tanya umur yak, Please Hehe). Pengumuman di RRI dan TVRI tentang peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT), benar-benar membuat hati was-was. Kami teman sepermainan, membicarakan GMT sebatas nalar bocah kecil.
"Srengengene arep dipangan Buto Ijo"* ujar Suwito teman sebangku yang suka berkisah horor
(mataharinya akan dimakan buto/ raksasa warna hijau)
Lelaki berbadan tambun dan padat ini berpesan, "Ojo metu omah, ben ora dipangan buto"*
(jangan keluar rumah, biar tidak ikut ditelan raksasa)
Celakanya, kami yang mendengar mempercayai termasuk saya. Setiap malam hendak tidur, makhluk tinggi besar berbadan hijau seperti menempel di kepala. Gigi hitam, runcing dan tajam, hendak memasukkan bola matahari dalam mulutnya (Hii Seremm).
Kalau saja saat itu ada FB atau twitter, mungkin kisah Buta Hijau menjadi tredding topic selama sepekan. Suwitopun tak bosan-bosannya, bercerita hal yang sama dengan bumbu sedikit berbeda. Kami teman sebaya, tetap saja penasaran meski perasaan takut menyertai.
Sementara para orang tua, yang sebagian besar petani dan pegawai rendahan mewanti-wanti anaknya. "Ojo sampek metu yo le, engkok wuto motone"*
(Jangan keluar rumah (saat GMT), bisa buta matanya)
Tak ayal GMT, membuat gempar kampung kecil di kaki gunung lawu ini. Cerita-cerita mitospun bertebaran, terutama dari kalangan kaum tua terutama. Mereka yang usainya 60 tahun ke atas, masih memegang hal-hal klenik alias mistik. Menjelang hari H GMT, sesajen dipesiapkan (almh) mbah putri saya.
Masih lekat di ingatan, saya dibawa ke bawah pohon besar di dekat sumber air. Pohon keramat ini menjadi tempat persembahan, apabila ada peristiwa yang dianggap Magis. Saya yang masih tak paham, sempat bertanya "mbah buto kan makan matahari kok ini dikasih nasi ama lauk".
Wajah mbah Putri mendadak berubah,"Huss, kowe ojo sembarangan takon (tanya), kualat mengko (nanti)" bola matanya seolah hendak meloncat keluar.
Gertakkan yang manjur, membuat nyali ini ciut tak lagi berani bertanya lebih jauh.
11 Juni 1983
Hari luar biasa tiba, sedari pagi ayah terlihat paling sibuk. Kami anak-anaknya hanya melihat, apa yang dikerjakan lelaki berkulit gelap ini. Genteng kaca ditutup plastik hitam. Jendela kaca dilapisi koran. Sela-sela dinding kayu yang lubang, langsung ditambal dengan lakban gelap.
Alasannya satu, cahaya matahari menyebabkan mata buta.
"Awas yo, jangan sampai lihat matahari waktu gelap nanti" pesan ayah terasa menghunjam
Televisi hitam putih 14 inch menyala, menayangkan siaran TVRI saluran satu-satunya. Tetangga yang tidak punya TV, datang ke rumah ikut menonton siaran langsung GMT. Perlahan tapi pasti, seperti mengalami gradasi warna dari terang menuju gelap. Kami sekeluarga berada di dalam rumah, bahkan mengeluarkan suara tak berani.


GMT 2016
Setalah usia bertambah dan masa jauh berlalu, tersiar kabar GMT akan terjadi lagi pada Maret 2016. Saya ayah dari dua anak, menyikapi beda dengan orang tua dulu. Informasi bisa diperoleh dengan mudah, baik melalui media cetak, website, blog , Radio, televisi.
Melek Pengetahuan, itu kuncinya.
Saya kebetulan gemar membaca, terbiasa menelisik informasi sebelum "menelannya". Termasuk pernyataan Thomas Djamaludin, seorang Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika Lapan, bahwa GMT adalah fenomena luar biasa, namun bukan kejadian penuh bahaya.
Semua memang ada strateginya, sehingga tetap diperlukan sikap hati- hati. Pria lulusan Kyoto University menyatakan, pada saat gerhana sebagian secara refleks mata terasa silau. Melihat secara langsung pada matahari, adalah sangat berbahaya. Sementara saat GMT, justru matahari dapat dilihat secara langsung tanpa memakai kacamata atau filter.
Sebentar !
Tapi kenapa saya mendadak gentar, membuktikan bahwa melihat matahari langsung saat GMT tidak bahaya. Pikiran saya terngiang pesan ayah, "Awas yo, jangan sampai lihat matahari waktu gelap nanti"
Ah itu hanya kekawatiran semata, toh ilmu pengetahuan telah meluruskan. Tapi ajakan menjadi Laskar Gerhana kiranya cukup menarik, sekaligus sebagai ajang pembuktian bahwa GMT tidak seseram mitos yang saya bayangkan. (salam)

Daftar Blog Saya