Hari terakhir 2025, terima kasih banyak atas segalanya.
Besar harapan, hari esok selalu lebih baik.
Amiiin ya Rabb..
Besar harapan, hari esok selalu lebih baik.
Amiiin ya Rabb..
Setelah
resepsi rampung, maka kehidupan nyata telah terbentang. Pasangan suami istri
baru, sangat banyak "pekerjaan rumah" menunggu. Ada saat menikmati bulan madu, sebelum pahit getir
hidup dihadapi berdua.
Kemudian
ada kebutuhan dipenuhi, berdua suami dan istri membutuhkan tempat tinggal.
Sebagai sebuah keluarga baru, sebaiknya tinggal terpisah dari orang tua.
Kita
manusia, hidup beriringan dengan waktu. Mengisi hari ke hari, dengan urusan
demi urusan agar hidup memiliki value. Mulai urusan remeh temeh, sampai urusan
sangat penting. Mulai urusan hari ini, hingga yang berdampak jangka panjang.
Masing-masing
kita memiliki tantangan, hidup dengan mengatasi masalah sesuai takaran. Karena
setiap orang, memiliki kapasitas sesuai kebisaan dan ketertarikan. Pada titik kapasitaslah,
seseorang bisa mengasah kualitas.
Ada yang merasa, pernah bahkan kerap mengkhianati diri sendiri?
“Hmmm,
.. tapi bukankah setiap orang sayang diri sendiri?”
Saya
percaya, setiap kita pasti mencintai diri sendiri. Buktinya, kita rela melakukan
apapun untuk memenuhi keinginan. Berjibaku dengan kesibukan, berangkat di pagi
buta, pulang saat langit sudah gelap. Itupun masih ditambah stres, melewati macet
di jalan raya.
Rasulullah SAW bersabda“kita
baru pulang dari perang yang kecil menuji perang yang lebih besar lagi”.
Dialog antara kanjeng Nabi dengan sahabat, tertulis dengan tinta emas sejarah. Dialog yang terjadi selepas perang badar, kaum muslim membawa kemenangan besar.
Saya pernah bergabung, di kelas menggambar milik om Dik Doank di Ciputat. Sebelum kelas dimulai, kami ditunjukkan lukisan lama milik om Dik. Adalah sketsa gambar rumah, lengkap dengan halaman dan pernak-pernik. Sekilas mirip, dengan bangunan yang kami datangi sekarang.
Menurut pengakuan mantan
presenter bola ini, lukisan tersebut dibuat sebelum membeli tanah dan membangun
rumah diatasnya. Siapa nyana pintu rejeki terbuka, sketsa bisa diwujudkan
menjadi nyata.
Setelah
menikah dan punya buah hati, saya tercerahkan atas yang belum saya ketahui.
Terutama pada hal-hal, yang dulu pernah dilakukan ayah pada anak-anaknya. Sikap
ayah yang dulu saya tidak setuju, atau yang saya tidak mengerti. Kini, saya
temui jawabannya.
Menjadi
ayah, adalah sebuah peran yang luar biasa. Bukan sekadar untuk gagah-gagahan,
atau untuk status sosial. Demi menyelamatkan diri, dari pertanyaan orang di
sekitar. Peran ayah bukanlah main-main, kelak diminta pertanggungjawaban.
Awal bulan sembilan, menjadi hari luar biasa bagi saya. Berkesempatan berlayar, dengan KRI dr Radjiman
Wedyodiningrat 992. Kapal yang megah, dan memiliki kontribusi nyata bagi
kemanusiaan. Sebagai kapal rumah sakit pertama di Indonesia, pernah digunakan
untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan ke Gaza Palestina.
Jujurly, kali pertama masuk di
Ganara Art, the Grand Outlet Cikarang, saya langsung ingat film Ghost. Film produksi
tahun 1990, dibintangi Patrick Swayze dan Demi More.
Saat mengedarkan pandangan di
Ganara Art, tampak rak dengan kerajinan tembikar yang dijajar rapi di atasnya.
Bentuknya keren-keren, terbayang keseruan membuatnya. Kemudian tampak meja
dengan peralatan roda putar, yang membuat pandangan saya berhenti.
Kami
keluarga sederhana, tiada berkelimpahan harta. Tapi bukan alasan, untuk tidak merasakan
bahagia. Bahwa jalan menuju bahagia, sejatinya tidaklah sulit. Bahwa
kebahagiaan, tak berbanding lurus dengan bendawi. Selain harta benda ada cara
lain, agar setiap orang bisa mendapatkan kebahagiaan.
Saya pernah datang, ke acara Gathering Big Bang Show KompasTV. Sebuah program inspiratif, diambil dari kisah di buku atau koran. Acara digawangi Andy F. Noya, mengajak anak muda bergerak menjadi pejuang Sosiopreneur,
Semangat anak muda, tak cuma sekedar jago bisnis. Tetapi mampu berinovasi out of the box, memahami manajemen bisnis agar sustainable.
Astra mengumumkan 84 pemenang Lomba Foto Astra dan Anugerah Pewarta Astra 2023 kategori umum dan wartawan, dengan hasil karya foto dan karya tulis bertema “Semangat Untuk Hari ini dan Masa Depan Indonesia”, di Menara Astra, Jakarta.
------
Siang yang terik namun sendu, saya bersama dua kakak ipar di liang lahat. Siap menerima jasad ibu, hendak dikebumikan di pemakaman. Ketika ayahanda meninggal, saya tak keburu hadir karena di perjalanan dari luar kota.
Kelopak bunga kamboja gugur, berbaur mawar melati setaman . Semuanya tertunduk pilu, meski di benak ada yang sedang bertumbuh. Yaitu banyak kenangan, yang pernah dilalui bersama.
-----
“Ibu, ikut sama anaknya saja, kalau dia mau ibu ya setuju,”
Setelah percakapan serius malam itu, selang beberapa hari saya mengajak ayah dan ibu dari kampung. Bertemu, berkenalan dengan calon besan dan calon mantu. Obrolan antar orangtua semakin serius, tiba tiba sampai hari lamaran, ijab kabul dan resepsi pernikahan.
Ibu adalah orang yang menyediakan diri, direpoti akan banyak hal. Kalau sedang masak besar, kami dikabari agar segera ke rumah. Pun kalau pulang dari bepergian, oleh-oleh dibawakan untuk anak dan cucu.
Tanpa terasa, panjang sudah waktu dilalui bersama. Mbarep saya sudah dewasa, adiknya masuk usia akil baligh.
Ya, setiap kebersamaan akan menjadi kenangan. Tinggal kita yang memutuskan, seperti apa mengisi kebersamaan. Cepat atau lambat, setiap orang akan sampai di garis akhir.
Teman-teman, yang orangtuanya masih sehat, belahan jiwa dan buah hati masih bersama. Yang saudara kandung atau ipar, kerabat besar bisa berkumpul. Yang sahabat dan teman masih bisa berusa, jangan sia-siakan anugerah istimewa ini.
Nikmati dan syukuri setiap
kebersamaan, sebelum kelak tiba waktu untuk merasakan kehilangan.
Jujurly, saya lumayan kerap
nemu ide, dari hasil scrolling medsos. Entah dari konten yang ngetren, entah
dari musik pengiring, atau dari kejadian yang sedang naik. Misalnya tren ‘Hi
kid, this is you’re mom/dad’, saya bisa menjadikan dua artikel.
Tahu dong, Pinguin ?
Binatang
dengan dominasi warna putih di badan, di bagian tertentu berwarna hitam. Paruhnya mungil, berjalan lucu, sayapnya bak
dua tangan. Biasanya pinguin muncul, hanya di daerah beriklim dingin.
Alhamdulillah, awal bulan di penghujung
tahun 2023. Hujan mengawali hari ini, seolah mengabarkan sesuatu hal. Tentang
harapan-harapan terpendam, yang terwujudnya bisa saja tak terduga-duga. Tentang
kemungkinan kemungkinan baik, yang akan ditiba di saat tak dinyana.
Jujurly, tahun ini saya
mereguk tak terkira hikmah. Betapa menjadi pribadi lebih baik, musti rela dan
merelakan diri berproses. Menempuh onak keadaan, semampunya sebisanya, dan meyakini
semua kan bisa dilewati.
Januari, bulan mengawali tahun berhanti. Rinai hujan mewarnai sepanjang hari, awetnya tak terbilang kali. Bulan januari, pengingat semasa telah berlaku. Pengingat pada diri sendiri, tentang sebuah resolusi berlalu. Dan bercermin, untuk melangkah merajut hal-hal yang baru.
Ya Rabb, betapa
cepatnya waktu berjalan. Satu putaran bumi, baru saja dimulai kembali. Begitulah
hukum kehidupan terus berjalan, matahari terbit dan tenggelam adalah keniscayaan.
Silih berganti menghantar cerita. Mengubur peristiwa kelam, di setiap sudut
kalbu menyimpan kenangan.
Seorang teman, terdampak
penutupan jualan online di tik-tok. Saya
masih ingat, kesibukannya di live tiktok. Dimulai di masa pandemi, ketika ada
pembatasan berkegiatan di luar rumah. Jadwal jualan lumayan sering, bahkan
pernah di tengah malam.
Ketika saya tanya alasan
jualan jelang dini hari, jawabannya sangat masuk akal. Konon di jam prime time,
kebanyakan orang tertarik pada publik figure. Akun artis yang live, biasanya
banyak menarik perhatian. Belum lagi akun dengan follower besar dan centang
biru, akan mendominasi live tik-tok di jam utama.
Sungguh, pandemi membawa banyak sekali hikmah. Tentang kesadaran (yang baru diamini), bahwa manusia itu sangat lemah. La qaula walla quata illa bilah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali pertolongan Allah semata.
Secara pribadi saya sempat
merasa, seperti berada di titik nadir kehidupan. Keadaan, yang belum pernah
saya rasakan sebelumnya. Situasi yang membuat terpuruk, dan tidak punya plihan
kecuali pasrah berserah.