14 Des 2025

Menjadi Ayah Tangguh Memang Tidak Mudah Tidak Murah

 

Para ayah di muka bumi, mari berlomba menjadi ayah terbaik. Rasanya tiada kebanggaan, selain ayah melakukan terbaik demi keluarga.

Ayah rela mengupayakan apapun, demi kebahagiaan istri dan anak-anak. Pantang surut di medan juang, memanggul jerih tanpa menyerah. Dan penawar gundah para ayah, adalah mendapati wajah sumringah di rumah, niscaya menjadi pelipur segenap gundah.

Menjadi ayah tangguh, seharusnya menjadi cita- cita seluruh ayah. Karenanya, ayah terpacu menjaga marwah dan wibawa. Mengenggam jiwa keayahan, tegak kepala saat tiba waktunya pulang.

Karena perjalanan menjadi ayah tangguh, musti dijalani segenap jiwa. Ayah kan membuktikan, menyelesaikan serangkaian ujian. Baik ujian kesempitan pun kelapangan, berada di fase tersungkur atau kebangkitan.

Ayah yang menomorsatukan keluarga, ayah yang terjaga wibawanya. Berat, tetapi demikian sunatullah mengatur. 

Menjadi Ayah Tangguh Memang Tidak Mudah Tidak Murah

Saya ayah, anak mbarep sudah kuliah dan adiknya siap masuk SMA. Masa masa kemragat sedang dialami, menuntut kami kencang menarik ikat pinggang. Kami mengerem pengeluaran yang tidak urgent, mengutamakan bayaran sekolah.

Motor dipakai ke kampus, saya naik transportasi massal. Tak enggan jalan kaki ke Stasiun, meski ngantuk dan capek. Menjadi ayah, membuat saya ingat kebiasaan (alm) bapak saya. Kerja kerasnya, mengalahnya, usaha menyenangkan anak-anaknya, membahagiakan ibu kami.

Sedikit banyak, saya menyontoh yang bapak lakukan. Saya praktekan, untuk istri dan anak-anak. Meski saya kerap terseok-seok, menghadapi kenyataan kehidupan.

Tetapi seberat apapun, bapak dan ibu berhasil melewati. Mengantar satu persatu anak, dewasa mandiri membangun rumah tangga. Dan keyakinan yang sama, saya tanamkan dalam diri. 

Saya di masa berpayah-payah bermandi keringat, saya dan istri membahu mengusahakan yang terbaik. Bahwa yang kami lakukan sekarang, pasti diperhatikan anak-anak. Seperti saya ingat tentang bapak, niscaya anak-anak kelak kan mengenang kami.

Saya ayah di tengah medan juang, ibarat perjalanan sudah di kepalang jauh. Tak ada pilihan, kecuali terus melanjutkan perjuangan. Namanya berjuang pasti berat, menguras energi dan pikiran.

Saya musti hadapi, sebesar apapun badai yang datang. Biarlah semesta yang bersaksi, biarlah anak-anak yang menyimpulkan nanti. Bahwa menjadi ayah tangguh memang tidak mudah tidak murah. 

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA