Senin, 01 Oktober 2018

KAFE BCA 9, Menyongsong Gelaran “Indonesia Knowledge Forum VII”

Narsum Kafe BCA9 (ki-ka) Onno W Purbo, Setiaji, Lena Setyawati,  Cyrllus Harinowo, moderator - dokumentasi pribadi

Mungkin kalian masih ingat, ada satu video viral di medsos. Anak yang ditanya Presiden Joko Widodo, perihal cita-cita setelah besar nanti. Kemudian si anak menjawab, “pengin jadi Youtuber” kalimat diucapkan dengan lantang tanpa ragu.

Perubahan tengah terjadi di hadapan kita, peradaban manusia bergeser sebegitu cepatnya. Kalau generasi saya– tahun 80-an--, penginnya menjadi Dokter, Polisi, Tentara, Guru, Perawat dan profesi antimainstream lainnya.
Generasi Milenials sudah berbeda, mereka tidak tertarik dengan profesi seperti jaman saya kecil. Cita-cita gen millenials, biasanya profesi yang mandiri tdak terikat (entrepreneur) dan atau berkaitan dengan dunia digital.

Pekan terakhir di bulan September ini, saya beruntung berkesempatan bergabung di Kafe BCA 9, yang diadakan di Menara BCA Thamrin Jakarta Pusat.
Spesial pada Kafe BCA 9, diselenggarakan untuk menyambut “Indonesia Knowledge Forum (IKF) VII”, yang akan diadakan di Ritz Carlton Pacific Place pada 9 – 10 Oktober 2018.

Cyrillus Harinowo, Komisaris Independen BCA dan Pengamat Ekonomi Digital, menyampaikan sekilas tentang IKF, merupakan produk dari BCA Learning Center (didirikan tahun 2003).
BCA Learning Center didirkan, bertujuan mencari profit untuk disumbangkan ke Yayasan Bhakti BCA, yang dananya digunakan untuk pemberian Beasiswa.

Tahun 2004, BCA learning Center mulai mengadakan seminar tahunan. Puncaknya pada tahun 2011, berhasil menghadirkan narsum Joko Widodo (saat itu Walikota Solo)
Memasuki tahun 2012 barulah digagas gelaran IKF, pada awal IKF dibuat enam track  kemudian kini lebih spesifik menjadi 4 track diadakan selama dua hari.

Lena Setyawati, Executive Vice President Learning Development BCA, menambahkan, tema besar IKF – sejak 2012-- adalah “Bring Our Nation the Next Level.”
Pada dua tahun belakangan mulai focus ke digital, tahun 2017 digital colaboration dan tahun 2018 “digital transformation.”

Ya, tema digital terbilang masih sangat happening, bahkan intesitasnya makin mendalam saja. Beberapa kali saya hadir di acara digital, pesertanya sebagian besar anak-anak SMA dan kuliahan.
Generasi Millenials sangat meminati digital, diyakini akan membawa manfaat bagi kehidupan masa mendatang.
Lena Setyawati dan Cryllius Harinowo - dokpri


Apa tema IKF VII? “Foresting Innovation and Creating Value Through Digital Transformation.”

Coba perhatikan, pada era sekarang (nyaris) semua perusahaan sudah menerapkan digitalisasi. Hal ini menggairahkan Millenials, terus berpacu dalam ide, inisiatif, inovasi, kreatifitas dalam memanfaatkan perkembangan teknologi.

Dengan motivasi ini, BCA menggelar IKF VII untuk memicu tumbuhnya kreatifitas dan invasi melalui transformasi digital secara berkesinambungan demi tercapainya Indonesia sebagai negara maju,” Jelas Lena Setiawati.

Hadir sebagai salah satu narasumber di satu sesi IKF VII, adalah perusahaan Blue Bird yang empat tahun lalu pernah terdampak dengan hadirnya taxi online.
Berkat semangat juang dan melakukan transformasi, akhirnya Blue Bird bisa bertahan dan menemukan sistem digitalisasi.
Target jumlah peserta IKF tahun ini adalah 1000 orang, dengan alokasi sekitar 200 -300 seat untuk akademisi dan mahasiswa.

IKF VII bertujuan untuk pencerahan, bahwa digital telah merambah seluruh sendi kehidupan. Sepanjang event IKF VII juga digelar EXPO, agar pada sela break peserta bisa melihat perkembangan dan inovasi  digital.

Era Digital Era Platform Thinking

Pada tanggal kelahiran, saya pernah mendapat ucapan ulang tahun dari Facebook. Sebuah video durasi satu menit, berisi slide foto yang pernah saya ungguh di FB.
Dalam video yang diiringi musik easy listening, memperlihatkan siapa yang paling sering memberi like, komentar atau berinteraksi dengan akun saya.

Foto mana yang paling banyak diminati teman di FB, kemudian siapa yang paling lama berteman, begitu seterusnya dan seterusnya.

Pemaparan Onno W Purbo, Dosen dan Pakar Teknologi Informasi, yang hadir sebagai narsum pada Kafe BCA 9 menghentak kesadaran saya. Bahwa ternyata tidak hanya FB, bahkan  watsup, google (termasuk google map di dalamnya) telah membaca dan menyedot data/informasi serta kebiasaan kita melalui aplikasi ini.

Makanya jangan heran, apa yang sering kita searching di google, atau apa yang kerap kita bicarakan di Watsup. Kemduaian saat membuka Facebook, akan keluar iklan yang sesuai dengan apa sering kita bicarakan di medsos atau aplikasi lain.

Saya jadi ingat satu kejadian (lucu sekaligus memalukan), ada satu teman yang protes ke admin sebuah platform blog – protes terbuka di wall FB. Si pemilik akun menuliskan keluhannya, karena kerap muncul iklan mesum ketika membuka akun blognya – bahkan iklan berbetuk artikel sampai dicapture.
narsum Kafe BCA 9 - dokpri

Admin blog keroyokan tidak kalah pintar, menjelaskan bahwa iklan yang muncul di akun memang otomatis menyesuaikan kebiasaan pemilik akun.
Ibarat pepatah “menepuk air didulang, terpercik muka sendiri,” maksud hati protes tetapi yang dilakukan justru membuat malu diri sendiri.

Sebagai user, kita musti mulai melek digital think. Karena digital think  berlaku masif, mulai dari toko online, medsos, google bahkan nyaris semua aplikasi.
Apa yang user kerap lakukan, artikel yang kerap dibaca, apa kita cari di internet, apa yang kita bicarakan di watsup,  semua direkam.

Kebiasaan-kebiasaan user didata oleh artifisial intelegence. Sehingga apa yang muncul di medsos kita, sesuai dengan habit dalam dunia digital.
Sampai titik ini saya menyadari, dampak lain dari era digital saat ini, adalah semakin kecil ruang privasi. Maka yang bisa kita lakukan, adalah lebih hati-hati berperilaku membuat jejak digital.

***
Bicara masalah Digital, Jakarta Smart City adalah wujud digitalisasi yang dilakukan Pemda DKI Jakarta. Pada acara KAFE BCA 9, hadir juga narasumber Setiaji, selaku Head Jakarta Smart City- Provinsi DKI Jakarta.

Konsep Jakarta Smart City, didesign untuk memudahkan layanan untuk kepentingan publik. Contoh paling sederhana, kalau saya naik bus Transjakarta, di Halte TJ bisa memantau pergerakan Bus.

Misalnya saya hendak naik Bus jurusan Ragunan, dari Halte Tosari bisa memantau berapa menit lagi Bus yang saya tunggu tiba.
Nah, pergerakan bus TJ ini diolah dari data, berdasarkan kebiasaan warga (bisa didapat melalui delapan kanal aduan warga).

Saya amati pada jam kerja, bus juruan BLOK M dari Halte Tosari, biasanya lebih banyak daripada bus jurusan (misal) Ciputat.
Penentuan kuantitas bus TJ yang melintas di setiap halte, diputuskan dan didasarkan pada data pergerakan penumpang, yang diolah di Jakarta Smart  City.

Masyarakat – biasanya mahasiswa atau peneiliti-- bisa mengakses data, melalui website jakarta.go.id (terbuka untuk umum)
Jadwal Bus TJ di Halte Busway, adalah salah satu contoh saja, Jakarta Smart City menelurkan banyak produk lainnya, dengan aneka benefit untuk kemudahan warganya.

Saya yakin IKF VII, akan banyak peminat dari kalangan Milenials. Saya saja tertarik hadir, apalagi mereka – gen millenials—yang gandrung dengan dunia digital.

Dari acara KAFE BCA9  ini saja, saya bisa bayangkan narasumber keren dan mencerahkan hadir, dan mempresentasikan tema keren dan ispiratif.
Bloggers at Kafe BCA 9 

2 komentar:

  1. BCA memang selalu kreatif, saya selalu kagum dengan pelayanan beliau ketimbang bank lain. . Btw mas agung nasabah bca juga kan ya?

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA

Daftar Blog Saya