18 Jul 2016

Program lightHOUSE Indonesia Solusi Mengatasi Obesitas

Acara Healthy Talkshow Liputan 6 bersama lightHOUSE Indonesia - dr. Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt (tengah)  diapit Psikolog Tara de Thouars, B.A, M.Psi (kiri) dan dr. Sophia Hage, SpKO (kanan) - dokumentasi pribadi
Siapa sih mau gendut?
Setiap orang pasti ingin berpenampilan ideal, memiliki tinggi dan berat badan seimbang. Pakai baju apa saja pantas, tak repot cari ukuran karena tidak muat di badan.
Namun fakta berkata beda, keinginan kerap tak diiringi usaha nyata.
Pola konsumsi dan gaya hidup bagus tak diterapkan, sadar tak sadar menjauhkan diri dari bobot tubuh impian. Saya pribadi mengalami hal sama, kurang kuat niat mengerem konsumsi makanan. Ketika sudah bekerja dan memiliki penghasilan, beli apapun kapan saja sesukanya.
Meja di kamar kost, tak pernah kosong dari stock makanan. Suka ngemil biscuit atau snack pada malam hari, sembari nonton teve atau ngobrol dengan teman. Sering datang pada acara makan-makan, kesempatan mengeksplorasi kuliner baru.
Baru deh nyadar, setelah celana tak muat dan badan melar !
Pada acara Healthy talkshow bersama lightHOUSE Indonesia dan Liputan 6, saya mendapat pencerahan dari narasumber dr Grace Judio-Kahl. MSc. MH. CHt.
"Tubuh manusia ibarat motor, mesinnya terus nyala selama 24 jam. Meskipun manusia sedang  tidur, jantung, paru- paru tetap bekerja. Bahan bakar atau bensin tubuh, didapat dari makanan yang masuk ke dalam tubuh" Jelas dokter yang pernah mengeyam pendidikan di University of Tübingen, Jerman ini

15 Jul 2016

Memulai Wirausaha, Siapa Takut !

"Kunci Wirausaha itu adalah segera MULAI", kalimat ini pernah diucapkan (alm) Bob Sadino
Saya pribadi sangat terinspirasi, satu kalimat dari pengusaha bergaya nyentrik ini. Keputusan berwirausaha memang bukan hal mudah, tapi kalau tidak dimulai sekarang terus kapan lagi.
Aneka froozen food- jualan di rumah (dokpri)
Saya termasuk nekad, mengambil keputusan resign saat karir di tempat kerja sedang bagus. Tapi bagi saya hidup adalah pilihan, harus berani keluar dari zona nyaman.
Beberapa usaha pernah saya jalani, tak terasa sudah melewati 5 tahun jatuh dan bangun demi kemandirian. Saya meyakini, betapa rejeki terhampar di muka bumi. Masalahnya siapkah kita menjemput, atau justru bermalas-malasan.

13 Jul 2016

Ayah Tiada Ayah Meng"ada" [Review Sabtu Bersama Bapak]

Akhirnya saya nonton juga film keren ini, melalui kejutan tak dinyana. Mbak Etty Budiarjo lah pembuka jalan itu, mempersembahkan ticket untuk kami berlima - trimakasih banyak Mbak Etty-. Setelah koordinasi, kami datang tinggal mengambil ticket.
Tiekcet Nobar Sabtu Bersama bapak (dokpri)
Untuk film dengan tema ke-ayah-an, saya sangat antusias menyambutnya. Karena saya meyakini, bahwa ayah memiliki peran luar biasa. Anak yang tumbuh dekat dengan figur ayah, akan memiliki sisi psikologis beda dibanding  yang tidak dekat.
Film  berjudul "Sabtu Bersama Bapak", pantas menjadi daftar wajib tonton bagi para ayah/ bunda. Ayah yang menanamkan pemahaman, lazimnya akan menghadirkan anak yang paham juga. Namun tak bisa ayah memaksakan bentuk pikirannya, karena anak-anak akan hidup di jaman yang berbeda.
-0o0-
Gunawan Garnida (diperankan Abimana Aryasatya), seorang ayah divonis tak memiliki umur panjang. Meninggalkan dua anak yang masih belia, Satya (diperankan Arifin Putra) dan Cakra (diperankan Deva mahenra). Sang ibu (diperankan Ira Wibowo) memegang kendali, berjanji pada suami akan mengantar anak hingga menikah.
Kedua anak tumbuh, menjadi anak yang sayang dengan ibu karena ada peran ayah. Setelah Satya dewasa menikah dengan Risa (diperankan Acha Septriasa), keduanya mengalami konflik rumah tangga. Sementara Cakra memiliki masalah sendiri, sampai usia tiga puluh kesulitan mencari jodoh.
Bagaimana sosok ayah bisa ada, meskipun secara raga sudah meninggal ?
Kalau anda seorang ayah/ibu, ajak anak anda menonton film ini.
 
Poster SBB- foto dari cinema.com
Film bergenre drama ini, diangkat dari novel best seller Aditya Mulya dengan judul yang sama. Digarap sangat detil oleh Monty Tiwa, mengambil setting di Bandung, Jakarta dan Paris. Alur cerita dibuat maju mundur, namun sangat relevan dengan benang merah cerita.
Saya sengaja mengajak anak, untuk bersama mengambil pesan yang ingin disampaikan di film ini. kami berdua cukup terharu, ketika sosok ayah yang tak sempurna namun ada.
Yup- Meng"ada" begitu saya membahasakan !
Siapapun anda, memiliki potensi mengada di hati orang terkasih. Jangan sia-siakan kebersamaan, karena detik demi detik akan habis pada saatnya. Tanam dalam benak mereka, dengan sikap penuh cinta dan sayang. Jadikan diri sebagai lelaki terbaik, agar anak dan istri merasa beruntung memiliki ayah/ suami seperti anda.

Sabtu Bersama Bapak, adalah hari menanamkan kabajikan dan kebijakan. (salam)
foto dari camea Bowo