30 Agu 2025

Keluarga Bahagia Tidak Selalu Mahal

Kisah pulang kampung, bisa menjadi cara ayah membagi kebahagiaan pada anak istri. Meski dilakukan dengan sederhana, meski diupayakan ayah dengan terengah-engah.  Sangat mungkin ayah sedang capek dan berat, menghadapi tantangan kehidupan.

Ayah dengan jalan takdir dilaluinya, dituntut mengalah dan selalu mengalah. Apa yang dikerjakan diputuskan, dampaknya tidak dirasai sendiri. Ayah musti hati- hati dan berpikir panjang, sebelum memutuskan sesuatu hal.

Saya pernah di posisi, saat keuangan sedang pas-pasan. Ada keperluan, mengharuskan pulang kampung bareng anak istri. Di Kampung ada acara keluarga besar, kami sekalian mampir ke rumah kakak di Surabaya.

Surabaya adalah bagian perjalanan hidup, di awal merantau selepas SMA. Sembilan tahun tinggal di kota ini, banyak jejak kenangan tergoreskan. Mulai dari awal mencari pekerjaan, lanjut kuliah sambil kerja, menjadi orang kantoran akhirnya pindah ke Jakarta.

Kaki ini pernah menjamah, dari ujung ke ujung kota pahlawan. Mulai Pelabuhan Perak sampai Menanggal, dari Manukan Kulon sampai  Rungkut, geser ke Keputih Sukolilo, Kenjeran, termasuk kota penyangganya.

Maka kalau ada kesempatan ke Surabaya, saya berusaha napak tilas sendiri. Mendatangi  ke tempat dulu pernah saya singgahi, mengingat apa saja yang pernah saya kerjakan.

Daerah Semut Baru adalah tempat memoriable, awal kali pertama di Surabaya. Saya numpang di kontrakan kakak, sampai mendapat pekerjaan di restoran cepat saji. Setengah tahun di restoran, pindah bekerja di sekitaran Kembang Jepun.

Saat kuliah sambil kerja ngekost di Wonokromo, pindah sebentar ke Rungkut jaga wartel. Masih di wartel yang sama, tetapi saya pindah jaga ke Kedungsari dan  Manukan Tengah. Dan Semolowaru menjadi kost terakhir, sebelum akhirnya pindah Jakarta.

Senang sedih pernah saya lalui di Surabaya, pernah kehilangan motor. Suatu pagi sepulang siaran Radio, dompet dan semua isinya jatuh di daerah Perak. Saya pernah jalan kaki malam hari, sepanjang jalan tidak ada lampu dan seterusnya.

Saya juga pernah memenangi kuis, dengan hadiah lumayan besar. Pernah dipertemukan orang-orang hebat, setelahnya mendapat job beruntun.

------

Saya ayah, bahagia melihat anak istri sangat menikmati liburannya di Surabaya. Si kecil yang nyanyi- nyanyi, sambil jalan kaki menyusuri jalan Rajawali. Kami ke museum Sampoerna, lokasinya agak masuk dari jalan raya.

Selepas dari museum bergeser ke Jembatan Merah, lanjut ke jalan veteran dan anak gadis bersikukuh memilih jalan kaki. Mampir ke penjual Es Cao dan gorengan, yang mangkal di seberang bekas penjara kalisosok. 

Menyusuri bangunan lama jaman Belanda, ada sensasi seperti diajak kembali ke masa kolonial. Bangunan khas dengan tembok tebal dan kokoh, pernah menahan beberapa tokoh seperti Soekarno, WR Supratman dan Kiai Haji mas Mansur.

Jarak tempuh sekitar 2 KM-an (Museum Sampoerna- Veteran), terasa seperti dekat kami tidak kecapekan. Beberapa kali berhenti berfoto, termasuk mampir di angkringan nasi goreng pinggir jalan.

Kami liburan dengan sederhana, naik kereta ekonomi (rute Surabaya - Jakarta), naik bus antar kota, diantar ojek online serta bus kota berbayar botol bekas.

Makanan kami santap seadanya, di warung pinggir jalan seporsi di kisaran sepuluh ribu. Begitu saja istri dan anak-anak tampak gembira, bahkan sulung sampai nambah.

Yang Mewah Itu Bahagia

Perasaan bungah terpancar, di paras istri dan anak-anak. Membawa saya pada satu kesimpulan, bahagia itu fleksibel tak terpaku situasi kondisi.

Bahagia, tidak diukur dari hidangan berkelas di tempat prestisius. Tidak musti menumpang moda transportasi first class, dilayani fasilitas bergengsi. Bahagia datangnya sukarela, bersemayam pada hati yang ikhlas.

Bahagia adalah akibat, atas sebab yang datang dari banyak jalan. Sejatinya bahagia, terlepas dari hitungan-hitungan nominal. Kalau ada kalimat “Bahagia Itu sederhana”, hal tersebut cerminan penerimaan keadaan dimiliki.

Bagi saya, bahagia adalah situasi perasaan yang mewah. Hati yang selalu menerima (istilah jawa, terima ing pandum), membuat yang ada di hadapan mata menjadi berkah. Dan siapapun, berhak atas kemewahan bahagia.

Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA