11 Jul 2016

Mukena Lebaran untuk Ibunda

Illustrasi- sungkem- (dokpri)
Ramadhan baru saja menjejak di bumi, puasa juga belum tuntas sehari dijalani. Lelaki muda berbadan kerempeng, menyusuri jalan Slompretan Surabaya. Bangunan tua kokoh peninggalan Belanda, megah bercat putih kusam dan terkesan angker. Kelak akan menjadi saksi perjalanan, pria sederhana berbakti pada orangtua.
Bulan ini baru genap setahun mengabdi, di sebuah gudang  karpet dan gorden. Artinya ini adalah Ramadhan pertama, berstatus sebagai karyawan sebuah toko. Tugasnya sehari hari mengandalkan kekuatan fisik, menata barang masuk sekaligus menyiapkan pesanan. Sempat terbersit puasa tahun ini lebih berat, mengingat pekerjaan yang dilakoni. Namun menahan lapar dan haus, tak boleh dibatalkan untuk alasan pekerjaan.
Kerja yang tangah dijalani sungguh melenceng dari harapan, jauh dari tipical pekerjaan idaman. Saat masih bersekolah tergolong aktif berorganisasi, beberapa kali maju lomba tingkat Kabupaten bahkan provinsi. Prestasi akademis tak mengecewakan, nyaris setiap menerima raport masuk lima besar. Pernah muncul bayangan dibenak, suatu saat dinas di kantor mewah berpendingin. Berpenampilan rapi lengkap dengan dasi senada baju, menjalani waktu dari meeting ke meeting. Sepatu hitam disemir mengkilap, berjalan penuh rasa percaya diri.
Namun kenyataan pahit ditelan, sejak tak bisa masuk kampus negri pilihan. Kuliah menjadi impian istimewa, akan diraih pada waktu yang direncanakan. Rasanya bangku perguruan tinggi menjadi obsesi, untuk keluar dari "kepedihan" yang sedang dialami.
"Hanafi, pesanan karpet ini tolong siapkan" ujar kepala gudang "sepuluh tempat musti dikirim sore ini"
Lelaki muda usia dua puluhan menerima secarik kertas, memastikan stock pesanan masih ada. Setelah yakin bergegas ke gudang belakang, diikuti dua kuli mengemas dan mengangkut barang pesanan.
Gelondongan karpet menumpuk di rak besar, menuntutnya jeli mencari jenis pesanan. Semua karpet dan gorden sudah dipisahkan raknya, berdasar kategori agar mudah menemukan. Aneka motif karpet dan type warna harus dikenali, cukup melihat dari ujung gulungan. Hanafi bisa melampaui pada tiga bulan pertama, hafal hampir duapuluh motif, warna serta ukuran. Semua berkat ketekunan mengikuti seniornya, sembari membuka brosur memperhatikan gambar. Bahkan untuk motif bunga yang cukup rumit, bisa dikenali dari jenis serabut dan warna yang menempel di karpet.
Pekerjaan cukup menguras waktu dan tenaga, saat  stock barang yang dicari tinggal sedikit berada ditumpukkan paling bawah pula.
***
Hanya terpisah tiga bangunan di jalan yang sama, terdapat satu gudang kain cukup luas. Sering terlihat tumpukkan daster, sarung, mukena dan kain batik di tempat tersebut. Pekerja yang berada di sekitarnya, kerap membeli beberapa potong dengan harga discount khusus.
Hanafi sering melintasi gudang ini, saat hendak makan siang di warung emperan. Hingga tergerak hati, suatu saat mampir dan membeli.
"Mukena" gumamnya Hanafi dalam hati
Tekadnya mempersembahkan mukena bulat, menyisihkan gaji bulanan tak seberapa. Sebagai bungsu tak membuatnya manja, tempaan kenyataan telah membentuknya.
Puasa tahun ini memang jauh berbeda, siang hari tak sekedar menahan lapar dahaga. Yang berat menahan emosi menghadapi kuli, yang sering berkata kasar dan membangkang. Apalagi kalau dua truk barang datang, harus selesai hari itu juga. Fisik yang lelah ditambah godaan untuk marah, semakin sempurna ujian harus dihadapi.
Namun semua menguap menjelang senja, melintasi gudang kain mengingatkan niat. Tekadnya semakin kuat usai menghitung tabungan, lima lembar uang duapuluh ribuan sudah disiapkan. Pernah terbaca delapan puluh ribu di kertas gantungan, tepat pada tumpukkan mukena.  Selain terdapat angka ratusan ribu bahkan lebih, di atas tumpukkan mukena lainnya.
Seminggu sebelum mudik dipersiapkan waktu, sore menjelang jam pulang tiba. Mendatangi  gudang yang dimaksud, berharap membawa sepotong mukena.
Langkah penuh percaya diri diayunkan, sampai di depan pintu yang dituju. Bergegas mencari tumpukkan mukena, yang pernah dilihat sejak dua hari lalu. Beberapa kali pandangannya tertuju satu tempat, meyakinkan kalau penglihatannya tidak salah. Perlahan tapi pasti mulai luntur kegagahan, yang semula dimiliki saat kedatangan. Masih ada mukena di tumpukan lain, tapi harganya melebih uang yang disiapkan.
"mbak,  tadi pagi saya lihat harga delapan puluh ribu disini" Hanafi meyakinkan
"sudah habis tadi siang mas" balas petugas singkat
Tak ada kalimat lagi yang hendak diucapkan, kecuali berkecil hati dan langkahpun mundur teratur. Raut kecewa jelas tak bisa dibiaskan, menghiasai wajah Hanafi senja itu.
"kenapa mukamu di tekuk gitu" celetuk kepala gudang
"tidak apa-apa pak, kecapekan saja" elak Hanafi
"Bingkisan lebaran dibagikan besok, ini ada tambahan kamu isi ukuran bajumu" sang pimpinan menyodorkan kertas
Setiap lebaran seluruh pegawai mendapat parcel, khusus tahun ini mendapat tambahan. Baju koko untuk pegawai pria, dan mukena jatah karyawati. Seketika berputar pikiran hanafi, berniat hendak menukar baju kokonya.
"Pak, eeem kalau saya pilih mukena boleh?" ucap Hanafi hati-hati
"Kenapa ditukar, kamu mau pakai Mukena" ledek pimpinan sambil tersenyum
"Enggak Pak" Hanafi tersipu "buat ibu saya"
Ruangan di sudut gudang sejenak hening, boss gudang itu melihat bawahannya dan mengangguk.
"Yeeess" pekik Hanafi dalam hati.
Illustrasi- dokpri
***
Gema takbir bersahutan membelah angkasa, Hanafi siap mudik lengkap dengan tentengan. Parcel dari kantor dibawa pulang, tak ketinggalan mukena halus berenda cantik. Melihat tampilannya bisa ditaksir, harganya melebih celengan yang disiapkan.
Dalam bus sepanjang perjalanan pulang, tertanam satu pencerahan baru tentang keajaiban. Betapa semesta akan mengawal mahluk di pelatarannya, yang memiliki niat baik dan mulia. Ketidakmungkinan dalam batas logika, akan dilibas selama manusia gigih berupaya.
Mukena menjadi persembahan istimewa, yang setiap helai benang mengiringi harapan dan doa. Hari raya tak lagi sekedar hari kemenangan, tetapi sungguh membuncahkan hati. Lelaki anak ragil dari keluarga bersahaja, bisa membawa oleh oleh untuk ibunda.
"Matur suwun ya le..." kalimat ibu tersendat
"enggih buk.."balas Hanafi terbawa suasana

Embun bening mendadak hadir di sudut mata, segera ditepis sebelum meleleh.  

16 komentar:

  1. Senangnya masih punya Ayah-Bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayah sy sdh Almarhum
      Mumpung ibu masih sehat, saya manfaatkan waktu utk berbakti
      salam sehat dan semangat mbak :)

      Hapus
  2. Senangnya bisa berkumpul :")
    huhuhu aku pas denger takbir dan diam sendiri langsung nangis.
    alhamdulillah ibuk punya mukena anyar

    BalasHapus
  3. mas Agung, pagi2 bikin saya menitikan air mata, nih ;p. Bagus dan dalem banget ceritanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih sdh berkunjung Mbak Zata
      salam sehat dan semangat

      Hapus
  4. Terharu bacanya....Hiks.Ceritanya menyentuh banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih mbak Nunung Yuni sudah berkunjung

      Hapus
  5. Bukti bakti anak trhdp org tua..

    BalasHapus
  6. Bukti bakti anak trhdp org tua..

    BalasHapus
  7. Subhanallah, sangat menyentuh

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA

Daftar Blog Saya