Home

5 Apr 2016

Merantau dalam Pengabdian Itu Keren ["JIKA AKU TIM NUSANTARA SEHAT"]


Masih terekam jelas di benak, saat langkah kaki ini meninggalkan kampung halaman. Kala itu belum genap usia dua puluh, persis seminggu setelah berita kelulusan Sekolah Atas diterima. Desa terpencil jauh dari hingar bingar, namun baru saya rasakan ikatan batin yang begitu kuat. Bola mata ini mendadak basah, beriring putaran roda bus meningalkan tanah kelahiran (hiks).
Jika Aku Team Nusantara Sehat (dokumentasi pribadi)
Merantau ke kota Pahlawan, menjadi satu langkah besar bagi anak kampung seperti saya. Gemerlap lampu kota dan keramaian tiada henti, sesuatu yang begitu asing namun mempesona. Tinggal di rumah berpetak-petak, sumpek sumuk menjadi satu adalah babak cerita baru dalam hidup.
Kini setelah puluhan tahun terlampaui, desa kecil di kaki gunung lawu tetap terpatri. Aroma rumput basah sebelum fajar tiba, adalah nikmat yang tak terganti.  Desa dengan kesahajaan sempurna, bak karunia yang menyuguhkan esensi.
Tapi hidup haruslah bergerak, seperti dunia yang terus berputar. Sikap mandeg tak ubah seperti pengingkaran kodrat, manusia diciptakan istimewa dengan segala potensi.
Sahabat JKN
Pada oktober 2015, saya bergabung dalam acara Temu Blogger #SahabatJKN. Tema yang diusung kala itu Nusantara Sehat, adalah Program Kementrian Kesehatan berupa penempatan tenaga kesehatan berbasis team.
Program Nusantara Sehat mengadopsi model Pencerah Nusantara, inisiatif  lintas sektoral. Prakarsa Kantor Urusan Khusus Presiden RI, untuk Millenium Development Goals (KKUP-RI MDGs). Menggabungkan Tenaga Kesehatan, Masyarakat, Sukarelawan, Pemerintah, Swadaya Masyarakat dan Pemuda.
Pada kesempatan yang sama, diperdengarkan rekaman percakapan by phone dengan Putri Indah Nirmala. Putri adalah team Nusantara Sehat, sedang berada di pelosok daerah Kalimantan Barat tepatnya di daerah Long Panghangai. Lokasi ini ditempuh dengan alat transportasi darat dan sungai, total memakan waktu 21 jam dari pusat kota.
Putri berkisah tentang kegiatan bersama team (8 orang formasi lengkap), menjalankan 8 kali puskesmas keliling dalam sebulan. Setiap lokasi terdekat ditempuh sekitar 5-10 menit terdekat, sedang paling jauh sampai 6 jam menggunakan speed boat. Putri dan team Nusantara Sehat, harus berjibaku selama 2 tahun dalam pengabdian. 
Team Nusantara sehat hadir, untuk menguatkan layanan kesehatan primer, melalui peningkatan jumlah sebaran, komposisi dan mutu tenaga kesehatan. Terdiri dari Dokter, Bidan, Perawat dan Tenaga Kesehatan lainnya.
Kendala tentang kesulitan air, menjadi tantangan saat musim kemarau tiba sehingga kesulitan mandi. Pengalaman tak terlupa ketika kehabisan bahan bakar saat naik speedboat malam hari, putri terpaksa mendayung hingga larut baru sampai tujuan.
Tim Nusantara Sehat sangat penting, karena tidak ada yang mau dokter resmi yang datang ke pelosok. Alasannya enggan mendatangi, akibat kendala infrastruktur yang kurang memadai.
Program lintas Kemenkes ini tidak focus ada kegiatan kuratif, tetapi juga promotif dan preventif untuk mengamankan kesehatan masyarakat. Pengamanan dilakukan secara berkala, dari daerah yang paling membutuhkan sesuai Nawa Cita, "Membangun dari Pinggiran".
gambar dipinjam dari rintawulandari
Jika Aku Team Nusantara Sehat
Terus terang saya salut dan kagum, terhadap Putri dan team Nusantara Sehat. Jika kesempatan menjadi relawan team Nusantara Sehat datang, tentu tak akan saya sia-siakan.
Merantau sudah menjadi perjalanan hidup saya, justru pahit dan getir kehidupan membuat bisa bertahan sampai sejauh ini. Apalagi merantau dalam pengabdian, tentu memiliki nilai plus. Ingin saya memberi sumbangsih pada negeri tercinta, meski ibaratnya setetes air di gurun pasir. Namun bagi saya tidak apa hanya setetes, daripada tidak pernah berbuat sama sekali.
Dengan sedikit kebisaan menulis, ingin saya kabarkan melalui medsos atau blog apa yang dirasakan saudara kita di pelosok. Tak bisa dipungkiri, informasi adalah sebuah keniscayaan yang dapat merubah keadaan. Menulis menjadi bagian transformasi informasi, penerima informasi bisa menangkap gambaran keadaan yang ada.
Dalam setiap tulisan, tak lupa saya selipkan ajakan khususnya bagi yang berkemampuan. Bahwa menjadi bagian dari team Nusantara Sehat, adalah tindakan dan sikap yang sangat mulia.
"Khairunnas Anfa uhum Linnas", sebaik- baik manusia adalah yang banyak manfaatnya. Pengabdian adalah cara mengejawantahkan kemanfaatan, menjadi team Nusantara Sehat adalah satu diantara banyak jalan mengabdi.
Bagi kaum cerdik pandai yang kerasan di kota, tak ada salahnya terjun ke desa. Apalagi yang belum pernah merantau, yuk tinggalkan tanah kelahiran menjadi bagian dari team Nusantara Sehat.
Saya ingin serukan, Merantau dalam Pengabdian itu KEREN !
00o00
Setelah dunia merantau saya lewati, akhirnya menjumpa goresan pena seorang pujangga yang menggetarkan. Adalah nama Imam Asy-Syafii, masih tergolong kerabat Rasulullah yang karyanya melampaui masa. Sebagai bahan renungan, silakan resapi puisi di ujung artikel ini.
Semoga bermanfaat, amin
Merantaulah
Orang pandai dan beradab
Tak'kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
*
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih
Jika tidak dia kan keruh menggenang
**
Singa tak'kan pernah memangsa
Jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur
Tak'kan kena sasaran.
**
Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tak'kan menunggu saat munculnya datang
*
Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas.
****

12 komentar:

  1. Wah, selalu salut sama mereka yang berani merantau. Secara mental lebih tahan banting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat mbak Primastuti
      salam sehat dan sukses amin

      Hapus
  2. Keren tulisannya...semoga terpilih ya mas agung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin
      trimakasih sudah berkunjung
      salam sehat dan sukses

      Hapus
  3. Bang Agung merantau ke Surabaya, kemudian setelah lulus kembali ke Pangkalpinang ya? Ini bedanya dengan saya. Saya setelah lulus merantau lagi ke kota lain di P. Jawa sampai akhirnya menetap sementara ini di Pemalang. Ada keinginan untuk kembali dan ikut membangun kampung halaman, tapi kampung halaman saya yang mana ya? Bingung sendiri karena sewaktu kecil "rajin" sekali berpindah-pindah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas eko, saya di jakarta heheehee
      kmrn di Pangkalpinang utk liputan Cengbeng saja
      salam sehat dan semangat

      Hapus
  4. Keren tulisannya, selamat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih Mbak Apri
      salam sehat dan semangat
      amin

      Hapus
  5. wah aku tersentuh sama syairnya Imam Asy-Syafii

    Saya juga anak merantau, tapi bukan pengabdi. Saya merantau untuk melanjutkan kuliah sambil kerja karna orang tua sudah pensiun. Wah.. hebat ya orang orang yang merantau untuk mengabdi tersebut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. syair Imam Asy-Syafii aktual sampai masa modern sekarang
      salam sehat dan semangat

      Hapus
  6. Nice writing kak .
    saya jadi lebih semangat

    salam kenal saya tim nusantara sehat penempatan papua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo Nesya senang bisa berkenalan
      salam sehat dan semangat
      kalian team NS hebat dan kereeenn

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Mohon komentar disampaikan dalam bahasa yang sopan, tanpa menyinggung SARA