Tampilkan postingan dengan label Semen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 November 2017

Kepedulian Indocement Melalui SMI Demi Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat


Blogger di pelataran wisma Indocement - dok Dede Aryanto
Sepulang dari acara ‘Blogger Visit Plant Indocement,’ saya terngiang sebuah sabda Rasulullah SAW. ‘Sebaik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya’.
Visit ‘Sekolah Magang Indocement’ disingkat SMI, menumbuhkan perasaan haru campur bahagia. Siswa SMI semula minim keahlian, bisa bangkit dan percaya diri dengan senyum mengembang. Harapan bertumbuh di kalbu, laksana benih siap bersemi  kelak akan menuai masa panen.
Anda pasti mengenal nama ‘Semen Tiga Roda’, produk semen terkemuka, diproduksi PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.  
Semen Tiga Roda mengedepankan kualitas terbaik, didukung inovasi berbaur dengan alam, guna memenuhi kebutuhan pembangunan dalam dan luar negeri.
Pabrik pertama Semen Tiga Roda berdiri tahun 1975, terus menambah jumlah pabrik hingga Tigabelas. Sebagian besar pabrik berada di Pulau Jawa, yaitu 10 di Citeureup Bogor, sekaligus sebagai pabrik semen terintregrasi dan terbesar di dunia.
Tiga pabrik Indocement lainnya, masing-masing dua ada di Palimanan Cirebon Jawa Barat, dan satu di Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan.
-o-
Hari kalender terakhir bulan Oktober, blogger berkesempatan mengikuti acara ‘Visit Plant PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk’ komplek Pabrik Citeureup.
Meeting point keberangkatan di Loby Wisma Indocement Jakarta, sangat mudah dijangkau dengan transportasi publik. Langit Ibukota sangat bersahabat, lalu lintas menuju lokasi terbilang lancar. Bayangkan, hanya butuh watu tempuh 45 menit saja, bus yang membawa blogger sampai di tempat acara.
Sekolah Magang Indocement (SMI), adalah wujud dari program Corporate Social Responsibility atau CSR dari Semen Tiga Roda, khususnya untuk pilar bidang pendidikan.
Bertujuan memberi pelatihan ketrampilan praktis, bagi masyarakat desa binaan, sehingga berkemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, baik sebagai UMKM maupun pegawai di beberapa perusahaan.
SMI memfasilitasi masyarakat di desa binaan, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa SMI. Ketika blogger bersua dengan siswa SMI, sebagian besar berasal dari desa binaan.
Program pelatihan SMI mencakup ;
Menjahit ; 1.201 siswa
Otomotif ; 358 Siswa
Mengelas ; 410 Siswa
Sekolah Mengemudi ; 119 Siswa
Tukang Bangunan ; 163 Siswa
Aneka Tehnik ; 770 Siwa (montir, Elektronik listrik)
Dalam acara Blogger Visit SMI, Ibu Dany Handajani, selaku Corporate HR Division Manager, PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk, hadir menyampaikan pemaparan , “ Mulai Sekolah Magang Indocement didirikan, sudah menjaring ratusan orang pada setiap kelas. Kelas menjahit paling banyak dimintai , karena selesai pelatihan langsung mendapatkan pekerjaan, indocement bekerjasama dengan perusahaan garmen, selesai pelatihan langsung siap merekrut siswa SMI.”
Ibu Dany HandajaniCorporate HR Division Manager, PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk,
Untuk mendaftar sebagai siswa SMI, tidak ada persyaratan khusus atau terpaku pada kualifikasi pendidikan. Seperti siswa di kelas Garment atau tukang bangunan, mereka kebanyakan lulusan SD atau SMP.
Siswa SMI tidak dipungut bayaran (alias gratis) , bahkan pihak Indocement menyediakan transport, snack dan seragam. Dibimbing tenaga pengajar kredibel dan bersertifikat, di akhir pelatihan, siswa mendapat sertifikat setara Balai Latihan Kerja dari Kemenaker.
Ada testimoni mengharukan, dari Pak Abdul Azis eks siswa SMI. Semula Pak Azis bekerja serabutan sekadarnya, karena minim keahlian diupah rendah.
Setelah  mengikuti pelatihan SMI, kemudian mendapatkan sertifikat dari Indocement, langkah pria bersahaja ini semakin mulus. Sertifikat SMI diakui berbagai pihak, membawanya mendapat job di Perumahan Mutiara Estate Sentul.
Dulu susah dapat kerjaan, setelah ikut SMI ibarat kata, krang kring krang kring terus,” ujarnya sambil senyu dengan air muka bahagia.
Pak Abdul Azis (paling kiri) -dokpri
-0-
Langkah blogger sampai di Basecamp Indocement, lokasi yang biasa digunakan untuk training leadership karyawan baru dan Sekolah Magang Indocement.
Kebetulan kami masuk di kelas tukang bangunan, rupanya siswa bersiap-siap untuk menerima Sertifikat SMI. Pada ruangan inilah, siswa diberi materi pelatihan dasar, konstruksi bangunan, materi menghitung material kebutuhan bangunan.
Masih ada materi lainnya, seperti teori membaca gambar konstruksi, membaca gambar dimensi dan bentuk, kemudian bagaimana mewujudkan dalam aplikasi sesungguhnya.
Sebelum materi ada pre test, untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa. Setelah pemberian materi, ada test lagi apakah ada penambahan pengetahuan. Teori diberikan selama beberapa jam, kemudian praktek lapangan,” jelas Pak Derry, selaku trainer di kelas tukang bangunan SMI.
Ibu Dany Handajani, Corporate HR Division Manager, PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, menyerahkan sertifikat kepada siswa SMI yang sudah lulus -dokpri
Setelah selesai di SMI, siswa bisa langsung mempraktekkan ilmunya di masyarakat. Lepas pelatihan di SMI, setidaknya meningkatkan rasa percaya diri dan personal branding.
-0o0-
Gemari atau Gerakan Masyarakat Mandiri, aktif sejak tahun 2009 di atas lahan seluas 1.200 m2. Seusai dari Basecamp, Blogger melanjutkan perjalanan ke lokasi Gemari, menyaksikan secara langsung beberapa kegiatan produktif.
Gemari bergerak di bidang ;
Pelatihan Bengkel Sepeda Motor
Inkubator Plasma bengkel Sepeda Motor
Pelaihan dan usaha kerajinan tangan (handycraft)
Pelatihan dan pengembangan serta usaha ikan hias.
Dari empat bidang usaha tersebut, Gemari mampu meraup omset rata-rata Rp.16 juta per bulan. Melibatkan 3 warga desa mitra Gemari – Desa Lulut, Desa Banjarjati - , serta 1 orang kepala instruktur sertifikasi nasional berasal dari Bogor.
Bengkel Sepeda Motor -dokpri
Blogger menyaksikan, bagaimana kesibukan di bengkel motor. Sebuah inovasi motor ijeksi diterapkan, mengechek mesin dengan dukungan perangkat komputer. Ternyata inovasi ini, bisa membuat pembersihan injeski lebih ekonomis.
Bengkel motor Gemari, telah meraih penghargaan bergengsi. Seperti Juara satu lomba instruktur Otomotif, dalam event  Apresiasi PTK PAUDNI 2014.  Juara satu Instruktur Kursus Otomotif, diadakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen PAUD, Nonformal dan Informal, Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan PAUD, Nonformal dan Informal.
Beberapa eks montir Bengkel Gemari, kini sudah berani membuka bengkel sendiri di desa asal. Dari Indocement membekali kunci-kunci, beberapa peralatan bisa diganti modifikasi sendiri secara sederhana—wah keren.
Beralih ke bengkel handycraft, tampak tukang sedang mengerjakan miniatur pesawat. Siapa sangka, semua bahan kayu digunakan adalah kayu limbah dari perusahaan sekitar. Sehingga tidak perlu keluar biaya besar, terutama dalam hal pengadaan material dasar handycraft.
Souvenir miniatur pesawat produksi Gemari, dipatok pada kisaran harga 50 ribu sampai 300 ribu. Sementara untuk pemasaran, minitaru pesawat sudah menembus pasar ekspor Abu Dhabi. Dari miniatur pesawat ukuran 3 cm dampai 3 meter, bahkan beberapa waktu lalu, mengerjakan pesanan untuk launching sebuah penerbangan di Swiss.
Pembuatan Handycraft -dokpri

Ikan Hias Sumber Rizky Gemari -dokpri

Satu lagi ada “Budidaya ikan Hias - Sumber Rizky - Gemari”, terdapat 50 aquarium dengan kapasitas 1000 ikan per aquarium. Jenis ikan yang dikembangbiakkan adalah neon tetra, dengan ekspor sampai ke Amerika dan Mexico.
Bibit ikan neon tetra, ada yang dibeli atau diternak. Dalam satu bulan panen, satu setengah bulan habis dijual. Per bulan bisa panen minimal 2000 ekor, ikan dengan ukuran M seharga Rp.300/ ekor.
Ikan neon tirta bukan untuk konsumsi, tapi untuk kosmentik diekspor perbulan bisa dua atau tiga kali diirkirm per bulan minimal dua ribu ekor.
GEMARI- dokpri
 -0-
Sepanjang perjalanan pulang, sudut pandang saya sedikit berubah. Betapa kemanfaatan, bisa dilakukan siapapun dalam skala kecil tentunya. Bagi seorang bloger, menyampaikan kabar baik dan ispiratif, tak ubahnya seperti menebar kemanfaatan.
Apalagi dalam skala raksasa sebuah perusahaan, pastilah kemanfaatan disebar berdampak luar biasa. PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, sebuah korporasi besar yang telah menebarkan kemanfaatan bagi masyarakat sekitarnya.
Kunjungan hari ini, baru satu pilar dari 5 pilar program CSR PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Smoga suatu saat, bisa menyaksikan 4 pilar CSR lainnya. Jujur, saya ikut bahagia, ketika melihat wajah bahagia para siswa SMI.
Pic by Harris Maulana

Selasa, 22 Agustus 2017

Menikmati Malam di Pinggir Pantai Tanjung Layar Bersama Pak Andre Vincent Wenas



Foto by  Nugraha Amijaya

Saya punya kegemaran berguru, pada siapa saja tanpa pandang bulu. Karena setiap orang memiliki keunikan, bisa menjadi tambang ilmu kalau kita mau menggalinya.
Pada program ‘Blogger on Vacation’ Semen Merah Putih, hari ketiga blogger melewatkan jelang malam di pinggir pantai Tanjung Layar di Bayah Banten. Suasana pantai dengan ombak tenang, semakin seru dengan obrolan bersama Pak Andre Vincent Wenas, selaku Direktur Human Capital PT Cemindo Gemilang.
Obrolan berlangsung santai, sambil menikmati menu sea food di saung beralas tikar. Suara angin darat tidak terlalu besar, kerlip bintang membuat malam semakin sempurna.
Pak Andre telah menapaki karir cukup panjang, dimulai tahun 1989 sambil menyelesaikan skripsi di Universitas Padjajaran Bandung. Kala itu Andre muda, bekerja sebagai copy writer di advertising Agency bernama Hakuhodo.
Saya dulu pernah ke Pantai di Bayah, mencari lokasi untuk shooting iklan. Saat itu akses ke pantai masih susah, infrastrukturnya jauh berbeda dengan sekarang” kenang Pak Andre.
Sejenak saya membayangkan,  hari pertama perjalanan dari Rangkasbitung menuju Bayah. Jalanan beton membelah hutan, mengantar rombongan blogger menuju Pabrik Semen Merah Putih (SMP). Pada hari kedua saat menuju Pantai Sawarna, seorang tukang ojek berujar jalanan semen yang kami lewati adalah kontribusi SMP.
Setelah berkiprah di advertising agency, Pak Andre hijrah ke Astra International selama 7 tahun. Peraih gelar MBA, Bussines Administration dari Monash University ,  juga pernah berkarya di Group Salim kemudian di Garuda Food sampai tahun 2015.
Pak Andre pernah menjadi penulis tetap, di kolom global marketing majalah bulanan Marketing. Selama dua tahun menyapa pembaca tabloid Kontan, menggawangi kolom konsultasi usaha. Pada 5 Oktober 2015 ditarik Semen Merah Putih, sehingga bisa bersua dengan blogger malam ini.  
Ilmu management intinya sama, mau mobil, minuman, karet, makanan dan sebagainya hanyalah komoditi, prosesnya adalah bagaimana produk bisa dijual. Bisnis itu sederhana, bagaimana bisa mendapat revenue finance dan bagaimana harus menang di komponen market.” “Ujar Pak Andre Vincent Wenas.
Saya jadi ingat kelas ekonomi makro, ketika masih di bangku kuliah puluhan tahun silam. Agar sebuah product menang di komersial market, maka proses bisnis sebuah organisasi harus bagus. Mulai dari perencanaan, ekseskusi, proses review, proses check ricek baik di ruang rapat atau lapangan kemudian action.
Sebagai Direksi Human capital SMP, Pak Andre bertugas memastikan orang  yang punya kompetensi ada di SMP.  Setiap personal memiliki motivasi, sehingga bisa menjalankan bisnis proses dengan baik supaya bisa memberi service pada pasar.  Kalau konsumen puas, otomatis akan memberi revenue yang baik,” tegas Pak Andre.
Bapak Andre Vincent Wenas -dokpri
-0o0-
Industri semen sudah ada mulai tahun 1900-an, saat itu Belanda memproduksi Semen Padang. Kemudian terus berkembang seiring perkembangan jaman, saat ini menduduki 4 besar adalah Semen Indonesia Group, Indocement, Holcim dan Semen Merah Putih.
Produksi semen di Indonesia sebesar 100 juta ton/ tahun, dengan angka penerimaan pasar 65 -70 juta ton – artinya ada kelebihan kapasitas.
Anomali, investor asing tetap mau investasi, karena per kapita konsumsi sangat rendah dibawah 200 kilometer per kapita per tahun.  Konsumsi per kapita, menggambarkan potensi pembangunan fisik masih sangat besar terutama infrasturuktur. Seperti jalan, bangunan, bendungan, pelabuhan” penjelasan ini benar-benar merefleksikan keluasan pengetahuan beliau. 
Setiap yang disampaikan Pak Andre, seketika mencerahkan ruang gelap di benak saya. Banyak pengetahuan baru saya raup, mengantar saya pada teori yang baru kali pertama didengar.
Keberadaan Jalan seperti teori belalai, kalau ada jalan apapun bisa dialirkan. Dengan adanya jalan, otomatis akan menyusul ada market dan akan terjadi transaksi ekonomi. Dengan membuka jalan, maka terjadi efek traffic ekonomi di kanan kirinya. Ada yang bikin hotel, sekolah, rumah sakit, ada perumahan, perkampungan, semua pembangunan membutuhkan semen
Sejarah industri semen sendiri dimulai sangat lokal, karena masalah utama semen adalah persoalan logistik, sehingga dibangun pabrik yang dekat dengan market.
Seperti Semen Padang memenuhi market Sumbar dan sekitarnya, pasar jawa Timur dikuasai Semen Gresik dan Semen Tonasa untuk pasar di Makassar. Semen Merah Putih mendekat dengan market Banten,  mulai mengatasi persoalan logistik.
SMP mempunyai pelabuhan laut dalam, sangat memungkinkan kapal besar bisa bersandar. Dengan menyediakan kapal besar sendiri, otomatis bisa membawa semen dalam jumlah besar.
Masalah marketing sebenarnya bukan market tapi logistik, tantangan pengiriman adalah kapasitas angkut yang terbatas dan jadwal kapal yang tidak cocok. Dengan memiliki kapal sendiri, kita tidak tergantung jadwal kapal sehingga bisa melakukan pengiriman lebih banyak. Semen Merah Putih mencari pasar yang belum dilirik brand lain,  sehingga dari sisi logistik bisa menang lebih dulu.” ujar peraih MM, Management Science Institut Pengembangan Managemen Indonesia. 
Obrolan Santai Pak Vincent bersama Blogger -dokpri

Ketimpangan antara daerah di negeri ini, bisa diterobos melalui pembangunan infrastrukur, selain akan menaikkan perekonomian juga  memeratakan keadilan sosial.
Pak Andre  terlihat bersemangat, ketika mengisahkan rencana Pemda Lebak melakukan reaktifasi jalur kereta. Rel kereta jalur Bayah, Saketi, Malimping, dibangun masa pendudukan Jepang dengan memperkerjakan romusha. Kalau jalur kereta sudah diaktifkan, niscaya akses perekonomian semakin terbuka dan membawa dampak pada sosial dan budaya masyarakat setempat.
Malam semakin meninggi, hembusan angin darat semakin kencang dan terasa dingin menyentuh pori pori. Butiran butiran ilmu yang saya reguk, bagai pelita yang berpendar menuntun dari kegelapan.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Yuk Wisata ke Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak Banten


dokumentasi pribadi

Bagi anda penggila novel, pasti sudah tidak asing dengan nama Eduard Douwes Dekker atau Multatuli.. Douwes Dekker yang lahir di Amsterdam tahun 1820, pernah menjadi Asistant Residen di Lebak Banten pada periode 1856 – 1856.
Meski memiliki kewarganegaraan Belanda, batinnya miris melihat fenomena kerja paksa kala itu. Hingga lahirlah tokoh Saidjah Adinda yang melegenda, dalam Novel berjudul Max Havellar yang terbit pada tahun 1860.
Novel yang dipasarkan kali pertama di Belgia, konon langsung mencetak best seller kala itu. Kisah masyarakat Lebak yang ada di dalam novel ini, ternyata juga menginspirasi perlawanan terhadap penjajah di kawasan Eropa.
Dalam rangkaian ‘Blogger on Vacation’ bersama Semen Merah Putih, Blogger diajak mengunjungi Perpustakaan Saidjah Adinda. Lokasi perpustakaan ini terbilang strategis, yaitu di Jl RM Hardiwinangun no 3 atau di kawasan alun alun timur Rangkasbitung.
Perjalanan blogger dari stasiun Rangkasbitung, butuh sekitar 30 menitan untuk sampai di perpustakaan Saidjah Adinda. Kalau naik angkutan umum juga bisa, silakan cari angkot warna merah bata bernomor 4 tujuan Ona. Pesan ke pengemudi  untuk diturunkan di alun alun, cukup membayar empat ribu rupiah saja.(hasil nanya mbah google nih)
Mengapa “Blogger on Vacation” kok ke Perpustakaan?
Sejalan dengan Pilar Pendidikan dalam program CSR Semen Merah Putih, erat kaitannya dengan dengan program ayo gemar membaca.
Semen Merah Putih melakukan upaya nyata, berupa pemberian donasi papan informasi  (majalah dinding) untuk media informasi dan kreatifitas masyarakat di Desa Kaserangan Serang Banten. Gerakan membaca bersama, juga diwujudkan dengan donasi buku bacaan yang didistribusikan ke seluruh sekolah di Kabupaten Serang Banten.
Pilar pendidikan pada CSR Semen Merah putih lainnya,  berupa program pemberian beasiswa dan peningkatan kompetensi masyarakat.
Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak, sangat berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi. Bentuk bangunan yang dipilih juga sangat unik, mengadopsi bangunan khas suku baduy yaitu Leuit.
Apa itu Leuit ?
Leuit atau lumbung padi masyarakat suku Badui, berfungsi untuk menyimpan hasil panen dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Konon leuit bukan sekedar bentuk bangunan saja, tapi lebih pada sistem atau management pengelolaan bahan pangan atau beras. Dengan penerapan sistem leuit, terbukti suku Baduy tidak pernah kekurangan beras sepanjang tahun.
Material yang dipilih untuk Perpustakaan Saidjah Adinda didominasi bambu, sesuai dengan nama Rangkasbitung, Rangkas artinya patah dan bitung artinya bambu.
dokumentasi pribadi

Suasana Perpustakaan- dokpri

Perpustakaan yang selesai dibangun pada awal Desember 2016, posisinya berdampingan dengan Museum Multatuli. Khusus bangunan Museum Multatuli, adalah bangunan yang dipertahankan keasliannya sejak bupati kedua Lebak. Bagaimanapun juga tak bisa dipungkiri, nama penulis buku Multatuli yang mendunia tidak bisa dilepaskan dengan Lebak.
Siapa sangka kedua bangunan ini telah menjadi ikon baru, banyak anak muda datang untuk selfie dan upload ke medsos. Terlebih pada malam hari, dua bangunan bertambah indah karena dilengkapi lampu hias aneka warna.
Drs. Ali Rahmat, M.M -dokpri
Drs. Ali Rahmat, M.M. Selaku Kabid Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lebak, pada saat temu blogger menyampaikan “Perpustakaan Saidjah Adinda, telah dimodernisasi dengan sistem pelayanan digital.  Saat ini sudah memiliki 20 ribu judul buku, dengan jumlah buku sekitar 30 – 40 ribu eksemplar dan akan terus ditambah judul dan jumlahnya. Meskipun belum genap satu tahun berdiri, perpustakaan ini sudah didatangi 14 ribu pengunjung yang 70% diantaranya adalah anak dan remaja.
Menurut saya nih, pernyataan Pak Kabid sekaligus mematahkan stigma bahwa budaya membaca generasi muda dibilang rendah.
Perpustakaan Saidjah Adinda memiliki jam operasinonal 08 – 15 WIB, kalau hari minggu dengan mobil perpustakaan keliling buka di kawasan Car Free Day.
Pada bulan Desember, Dinas Perpustakaan akan mengadakan bedah buku Max Havellar dengan tujuan untuk lebih memperkenalkan sejarah,” tambah Drs. Ali Rahmat, MM.
Tak sekedar perpustakaan saja lho, pada lantai dasar dilengkapi mini studio. Blogger sempat diajak masuk studio, menyaksikan pemutaran film berjudul Max Havellar. Film yang diproduksi tahun 1976 dengan memasang beberapa nama bintang Indonesia, dulu sempat dilarang diputar pada masa orde baru—wah jadi makin penasaran.
di depan Museum Multatuli -dokpri
Karena keterbatasan waktu dan musti melanjutkan perjalanan, blogger tidak bisa menyaksikan film Max Havellar sampai habis. Ingin pada lain kesempatan datang lagi, khusus untuk menyaksikan film Max Havellar.
Nah kalau anda juga penasaran, yuk berkunjung ke Lebak jangan lupa mampir ke Perpustakaan Saidjah Adinda. –salam-

Kamis, 17 Agustus 2017

Batik Lebak dan Keripik Pisang Bayah Menggeliat Bersama Semen Merah Putih



Maket Semen Merah Putih -dokumentasi pribadi

Rasa penasaran itu sontak menyeruak, ketika melihat dan memegang sendiri batik khas Lebak. Batik dengan warna dasar gelap bermotif pantai Sawarna, pantai di daerah Bayah Banten tak kalah indah dengan pantai lain di bumi pertiwi. 
Saya juga sempat mencicipi keripik pisang camilan khas Bayah, hasil olahan penduduk di daerah sekitar Pabrik Semen Merah Putih (selanjutnya SMP) berdiri. Irisan pisang yang tipis dan halus, digoreng garing menghadirkan ‘kriuk’ saat digigit.
Batik Lebak dan keripik pisang khas Bayah, dua nama yang mendadak tersimpan di benak. Kedua produk rumahan dengan kemasan menarik, saya jumpai pada acara buka puasa bersama SMP pada bulan Ramadhan lalu.
Tampak sticker gambar Badak bercula satu, binatang langka yang ada di daerah ujung kulon Banten. Simbol badak sengaja disertakan, sebagai representasi keberadaan pabrik SMP di daerah Banten.
Pengharapan itu akhirnya terjawab, bersama 4 blogger tergabung dalam acara “Blogger on Vacation” yang diselenggarakan PT. Cemindo Gemilang yang memproduksi SMP. Program ini merupakan program community development Semen Merah Putih bersama Blogger, untuk mempromosikan potensi pariwisata, ekonomi kreatif dan budaya Indonesia khususnya di area sekitar pabrik PT. Cemindo Gemilang.
Kami berangkat menggunakan Commuter Line (CL), mengambil rute stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung. Perjalanan dimulai jam 8 pagi, kondisi CL sangat lengang tersebab jalur diambil bukan jalur padat.
Tiket dibayar relatif murah, hanya tujuh ribu rupiah saja untuk perjalanan menuju Rangkas Bitung. Betapa murahnya kawan’s, kalau bawa kendaraan sendiri satu liter premium tidak cukup. Fasilitas pendingin ruangan di dalam CL, membuat perjalanan selama dua jam dilalui dengan nyaman.
Tujuan pertama perjalanan kami yaitu Perpustakaan Saidjah Adinda, nama ini diambil dari tokoh yang ada di novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker atau Multatuli – akan saya tulis di artikel lain.
Ketika matahari mulai turun, Bloggers menuju pusat produksi kerajinan batik Canting Perdana. “Yes, Ini yang saya tunggu-tunggu ” batin ini bersorak
Sebagai orang berdarah Jawa, sejak kecil kain dan motif batik sudah tidak asing. Meski bukan ahlinya, saya cukup familiar dengan motif kawung, Sidomukti, Parang kusumo dan motif khas lainnya.
Batik Solo dan Joga yang saya kenal sejak lama, lazimnya memakai warna dasar cokelat. Motif khas dengan warna cokelat terasa menyatu, mematrikan simbol budaya adiluhung yang elegan dan bercita rasa tinggi.
Prespektif itu kini meluas, ketika dua kaki melangkah di workshop “Batik Canting Perdana” di daerah Lebak Banten. Batik bisa dikreasikan dengan aneka warna, mulai dari putih, biru, hitam, pink, hijau atau warna lain sesuai keinginan konsumen.
Ibu Uumsaroh, sebagai owner dan founder batik Canting Perdana berkisah, “Canting Perdana berdiri pada awal 2016, saya belajar secara otodidak dari melihat orang membatik dan praktek.”
Batik Canting Perdana -dokpri
Meskipun belum genap dua tahun berdiri, Chanting Perdana berani menawarkan dua belas motif bagi konsumen. Yaitu motif Pare Sapocong, Leuit Sajimat, Lebak Bertauhid, Sadulur, Sawarna, Kahirupan Baduy, Rangkas Bitung, Gula Sakojor, Saruluk Saruntui, Saren Tauh, Kalimaya dan Angklung Buhun.
-rasanya perlu waktu khusus untuk membedah satu persatu, apa filosofi yang ada di balik setiap motif batik Banten -
Menilik goresan motif dan pemilihan nama, terkandung maksud dan tujuan untuk mengangkat kearifan lokal. Upaya Pemda Lebak mengangkat batik sangat nyata, pada hari kamis pegawai di lingkungan pemda wajib berseragam batik Saruluk Saruntui.
Ibu Uum panggilan akrab empunya kerajinan batik, saat ini mempekerjakan 4 orang karyawan. Dengan produksi antara 30 – 100 lembar kain perhari, kalau sedang ramai bisa lebih banyak lagi.
Siapa sangka, batik produksi bu Uum telah menembus pasar mancanegara. “Sekarang sedang ada pameran di Moskow, setelah beberapa bulan lalu batiknya dibawa ke Vietnam. Batik Chanting Perdana bisa ikut pameran di luar negeri, difasilitasi team promosi dari Dinas Pariwisara Banten,” Jelas bu Uum dengan logat sunda yang kental.
Selembar batik ukuran 2,20 meter dibandrol harga 150 ribu, semakin banyak kuantitas harganya bisa kurang.
SMP menjadi pemesan setia batik Banten, biasanya dijadikan souvenir atau goody bag untuk tamu. Beruntung saya sudah menyimpan satu lembar Batik Lebak, saya dapat pada acara Buka Puasa bersama SMP.
Pesanan SMP juga unik, yaitu memasukan motif kepala badak dikolaborasi dengan motif lokal seperti leuit atau pantai Sarwana,” tambah ibu Uum.
Perjalanan belum selesai, pada hari berikutnya Blogger mengunjungi keripik pisang Jago Rasa.
-0o0-
Keripik Jago Rasa berdiri tahun 1980, dengan varian keripik pisang kepok dan pisang nangka, pisang ambon untuk bahan sale dan ada keripik singkong.
Air muka perempuan sepuh ini tampak bahagia, melihat kedatangan team SMP dan Blogger ke rumahnya. Ibu Amanah nama pemilik usaha rumahan ini, telah mengalami pasang surut dalam usaha keripik pisang.
Keripik Jago rasa -dokpri
Bersama almarhum suami, usahanya sempat berjaya sampai memiliki mobil pick up. Jaringan distribusi sampai luar kota, Cirebon, Serang bahkan Jakarta. Masa jaya itu kini telah berlalu, setelah sang suami berpulang usahanya sempat kena tipu.
Dulu mah kalau kirim ke Cirebon bisa sampai tiga pick up, apalagi kalau mau lebaran pesanan tambah ramai ” mata ibu Amanah menerawang
Sekarang dengan dibantu lima tenaga lepas, rata rata tiga ton keripik pisang bisa dijual dalam satu bulan. Sistem penjualan yaitu jual putus, sedang untuk toko dekat rumah dan sudah kenal dengan cara titip barang dan dibayar barang setelah laku.
resiko sistem titip, biasanya barang akan dikembalikan kalau tidak laku ” nada getir jelas terdengar.
Keripik jago rasa bisa bertahan sampai satu bulan, karena semua proses pembuatan dilakukan secara manual. Mula mula pisang dikupas kemudian diserut, setelah itu direndam sekalian untuk proses pencucian dan langsung digoreng.
Sedang proses untuk sale pisang, setelah direndam harus melewati proses dijemur. Sementara untuk kripik singkong, tahapannya tidak jauh beda dengan keripik pisang.
Semen Merah Putih pesan secara rutin, bisa sebulan sekali kalau ada acara bisa lebih sering. Kalau saya suka bilang, sebaiknya pesan sehari sebelum diambil, agar rasa keripik lebih enak” jelas ibu Amanah.
-0o0-
Mencermati wajah dua perempuan pemilik usaha rumahan, keduanya menampakkan air muka yang sama. Ketika menyebut nama Semen Merah Putih, seolah membersit harapan besar untuk dibantu usahanya.
Semen Merah Putih telah mengulurkan tangannya, buktinya saya sendiri sudah kenal batik Lebak dan Keripik pisang Bayah.
Hal serupa juga saya tangkap, ketika mengunjungi puskesmas, perpustakaan Saidjah Adinda, museum Multatuli pun ketika di pantai Sarwana.
Pantai di sekitar Pabrik SMP -dokpri
O’ya, ada cerita nyata nih !
Ketika sedang dibonceng ojek, pada perjalanan menuju pantai pasir putih. Motor kami menyusuri jalan setapak, jalan terjal bersemen membelah perkebunan. Tukang ojek yang gemar cerita, tampak berusaha akrab dengan pelanggannya.
Dulu jalanan ini masih tanah pak, kalau hujan licin saya takut lewat sini. Setelah ada Semen Merah Putih jalanan disemen, jadi bisa bawa penumpang kapanpun” abang ojek membuka cerita.
Setelah abang ojek ini tahu saya blogger, intonasi suaranya berubah riang. Menurutnya, media membuat pantai di daerahnya dikenal banyak orang. Setelah masuk dalam acara televisi swasta, setiap akhir pekan ada saja pengunjung dari luar kota datang ke pantai.
-0o0-
Pak SIgit Indrayana saat acara bukber- dokumentasi pribadi
 Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”, SMP hadir dan berbaur di tengah masyarakat Lebak Banten” saya ingat betul dengan kalimat ini. Kalimat yang pernah diucapkan Pak Sigit Indrayana, selaku Senior Corporate CSR dan Public Relation Semen Merah Putih, dalam acara Buka Puasa Bersama bulan lalu.
Sungguh, pernyataan itu bukan sekedar isapan jempol. Saya telah menyaksikan sendiri, wajah bu Uum, Bu Amanah, tukang ojek dan wajah lain yang bersahaja dan tulus. Mereka telah merasakan manfaat secara langsung, dengan kehadiran Semen Merah Putih di daerahnya.
Semoga dengan penerimaan masyarakat sekitar, SMP bisa bertumbuh bersama masyarakat Bayah Banten. – amin.

Daftar Blog Saya