24 Agu 2017

Edukasi ‘Indonesia Merdeka Diare’ Persembahan Nutricia Sarihusada Untuk Bangsa

Nutricia Sarihusada #IndonesiaMerdekaDiare -dokpri
“Siapa anaknya tidak pernah terkena diare?”
Pertanyaan pembawa acara terlontar, ketika membuka acara press confrence Nutricia Sarihusada, dalam rangka kampanye edukasi ‘Indonesia Merdeka Diare.’
Sontak tidak ada satupun telapak tangan terangkat, karena buah hatinya pernah terkena diare. Saya ayah dengan dua anak, memiliki buah hati yang pernah terserang diare. Bahkan untuk anak pertama sempat panik, gara gara diare membuat badan si anak lemas. Semua asupan yang masuk lambung, setelah melewati tenggorokan beberapa saat  berselang langsung dimuntahkan.
Karena  masih sangat awam, sambil panik kami membawa anak ke dokter, kemudian diberi resep dan sembuh. Sejak peristiwa memilukan itu, si ayah dan ibu muda mendapat pencerahan perihal diare.
Mungkin anda sepakat dengan saya, diare adalah satu penyakit yang umum diderita oleh anak. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, menyatakan 1 dari 7 anak Indonesia pernah mengalami diare dengan frekwensi 2 – 6 kali setahun.
Tak dipungkiri beberapa orang tua menganggap, diare adalah masalah yang bisa diatasi sendiri.  Langkah awal cukup diberi minuman oralit buatan sendiri, yaitu campuran gula dan garam yang dilarutkan dalam air. Atau kalau mau jalan praktis, tinggal membeli larutan oralit di apotek.
Kalau diare masih berkelanjutan, sebaiknya anak segera mendapat penanganan khusus. Membiarkan diare berlama lama, akan mempengaruhi tumbuh kembang anak terutama pada berat badan.
Melihat fenomena yang terjadi, bertepatan dengan bulan Agustus Nutricia Sarihusada menggelar kampanye ‘Indonesia Merdeka Diare’.
Sudah familiar Nutricia Sarihusada kan.
PT. Nutricia Indonesia Sejahtera (Nutricia) dan PT Sarihusada Generasi Mahardika (Sarihusada), kemudian disebut Nutricia Sarihusada, berkomitmen untuk memastikan tingkat kehidupan yang lebih baik untuk generasi sekarang dan masa mendatang.
Bekerjasama dengan ibu, dokter serta praktisi kesehatan, memberikan edukasi, dukungan konselling program pengembangan anak yang berfocus pada stimulasi kesehatan fisik dan pengembangan karakter untuk memastikan kesehatan dan kesejahteraan generasi penerus di Indonesia.
dokumentasi - Nutricia Sarihusada
-0o0-
Acara  press confrence digelar di Kembang Gula Restauran tepatnya di kawasan Jakarta pusat, jurnalist dan blogger diundang menjadi saksi.
Suasana restoran disulap serba merah dan putih, menggambarkan semangat hidup sehat dan merdeka dari Diare. Mulai dari meja regristasi, meja kursi, semua ornamen di sudut ruangan sampai panggung utama terasa meriah.
Ibu Nablila Chairunissa, selaku Brand Manager Digestive Care dalam sambutannya menyampaikan,”Nutricia Sarihusada melalui kampanye ‘Indonesia Merdeka Diare’ adalah langkah nyata komitmen perusahaan terhadap nutrisi untuk bangsa agar anak Indonesia dapat menjadi anak generasi maju. Kami berharao melalui kampanye edukasi ini akan membuat banyak ibu yang semakin mengerti penangangan tepat diare pada anak.”
Apa sih penyebab umum diare?
Adalah infeksi usus disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit. Sementara untuk penyebab diare terbanyak adalah Rotavirus sekaligus intoleransi laktosa, dialami oleh 30% anak Indonesia. Pada diare Roctavirus, terjadi kerusakan pada jonjot usus, hal ini menyebabkan produksi beberapa enzim jonjot yang berfungsi untuk  pencernaan nutrisi akan berkurang.
Enzim yang dimaksud adalah enzim laktase, emzim yang berguna untuk mencerna gula alami atau laktosa terdapat pada susu. Laktosa yang tidak tercerna, akhirnya tidak terserap dan menyebabkan diare semakin berat, kembung dan tinja berbau asam.
Nah, kondisi inilah yang disebut intoleransi laktosa.
Hadir DR. Dr. Ariani Dewi Widodo Sp. A(K), sebagai narasumber dalam presentasinya menyampaikan, “ Apabila anak tidak mau makan dan minum, orang tua perlu mengusahakan asupan bernutrisi yang mudah dicerna oleh anak. ASI dan cairan dehidrasi oral adalah yang paling utama selain tambahan zinc. Asupan nutrisi yang baik dapat mempercepat pemulihan fungsi usus normal, termasuk kemampuan untuk mencerna dan menyerap makanan yang masuk, serta memberikan energi untuk mempercepat proses pemulihan.”
Beberapa tips untuk ibu dalam mengatasi diare pada anak
  • Tetaplah memberikan ASI, bagaimanapun ASI adalah asupan terbaik
  • Berilah larutan oralit untuk mencegah dehridasi
  • Kalau diafe belum mereda segera konsultasi ke tenaga medis
  • Jangan lupa menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan
  • Berilah nutrisi bebas laktosa dengan rekomandi dokter
Ibu memegang peranan penting untuk kesehatan buah hati, maka sudah semestinya ibu paham pedoman mengatasi diare. Pengetahuan ibu yang memadai, memungkinkan ibu dapat memberi penanganan saat anak mengalami diare. Kampanye ‘Indonesia Merdeka Diare’ dari Nutricia Sarihusada, bisa menjadi sarana membuka pengetahuan tentang diara

22 Agu 2017

Menikmati Malam di Pinggir Pantai Tanjung Layar Bersama Pak Andre Vincent Wenas



Foto by  Nugraha Amijaya

Saya punya kegemaran berguru, pada siapa saja tanpa pandang bulu. Karena setiap orang memiliki keunikan, bisa menjadi tambang ilmu kalau kita mau menggalinya.

Pada program ‘Blogger on Vacation’ Semen Merah Putih, hari ketiga blogger melewatkan jelang malam di pinggir pantai Tanjung Layar di Bayah Banten.
Suasana pantai dengan ombak tenang, semakin seru dengan obrolan bersama Pak Andre Vincent Wenas, selaku Direktur Human Capital PT Cemindo Gemilang.

21 Agu 2017

‘TOP Generation Challenge’ Upaya TOP Coffe Mendorong Generasi Muda Berani Berwirausaha

Ngopi di pagi hari -dokpri



Pagi belum terlalu sempurna, saya sudah bangun karena mengejar jadwal first flight tujuan Jogjakarta. Sesuai rundown dari panitia, Blogger kumpul di Bandara pukul 04.00 Wib.
Berarti, saya musti berangkat dari rumah di Tangsel dua jam ke belakang. Yup, saya bangun jam satu, untuk mandi dan siap-siap, kemudian berangkat jam dua dini hari.

19 Agu 2017

Yuk Wisata ke Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak Banten


dokumentasi pribadi

Bagi anda penggila novel, pasti sudah tidak asing dengan nama Eduard Douwes Dekker atau Multatuli.. Douwes Dekker yang lahir di Amsterdam tahun 1820, pernah menjadi Asistant Residen di Lebak Banten pada periode 1856 – 1856.
Meski memiliki kewarganegaraan Belanda, batinnya miris melihat fenomena kerja paksa kala itu. Hingga lahirlah tokoh Saidjah Adinda yang melegenda, dalam Novel berjudul Max Havellar yang terbit pada tahun 1860.
Novel yang dipasarkan kali pertama di Belgia, konon langsung mencetak best seller kala itu. Kisah masyarakat Lebak yang ada di dalam novel ini, ternyata juga menginspirasi perlawanan terhadap penjajah di kawasan Eropa.
Dalam rangkaian ‘Blogger on Vacation’ bersama Semen Merah Putih, Blogger diajak mengunjungi Perpustakaan Saidjah Adinda. Lokasi perpustakaan ini terbilang strategis, yaitu di Jl RM Hardiwinangun no 3 atau di kawasan alun alun timur Rangkasbitung.
Perjalanan blogger dari stasiun Rangkasbitung, butuh sekitar 30 menitan untuk sampai di perpustakaan Saidjah Adinda. Kalau naik angkutan umum juga bisa, silakan cari angkot warna merah bata bernomor 4 tujuan Ona. Pesan ke pengemudi  untuk diturunkan di alun alun, cukup membayar empat ribu rupiah saja.(hasil nanya mbah google nih)
Mengapa “Blogger on Vacation” kok ke Perpustakaan?
Sejalan dengan Pilar Pendidikan dalam program CSR Semen Merah Putih, erat kaitannya dengan dengan program ayo gemar membaca.
Semen Merah Putih melakukan upaya nyata, berupa pemberian donasi papan informasi  (majalah dinding) untuk media informasi dan kreatifitas masyarakat di Desa Kaserangan Serang Banten. Gerakan membaca bersama, juga diwujudkan dengan donasi buku bacaan yang didistribusikan ke seluruh sekolah di Kabupaten Serang Banten.
Pilar pendidikan pada CSR Semen Merah putih lainnya,  berupa program pemberian beasiswa dan peningkatan kompetensi masyarakat.
Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak, sangat berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi. Bentuk bangunan yang dipilih juga sangat unik, mengadopsi bangunan khas suku baduy yaitu Leuit.
Apa itu Leuit ?
Leuit atau lumbung padi masyarakat suku Badui, berfungsi untuk menyimpan hasil panen dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Konon leuit bukan sekedar bentuk bangunan saja, tapi lebih pada sistem atau management pengelolaan bahan pangan atau beras. Dengan penerapan sistem leuit, terbukti suku Baduy tidak pernah kekurangan beras sepanjang tahun.
Material yang dipilih untuk Perpustakaan Saidjah Adinda didominasi bambu, sesuai dengan nama Rangkasbitung, Rangkas artinya patah dan bitung artinya bambu.
dokumentasi pribadi

Suasana Perpustakaan- dokpri

Perpustakaan yang selesai dibangun pada awal Desember 2016, posisinya berdampingan dengan Museum Multatuli. Khusus bangunan Museum Multatuli, adalah bangunan yang dipertahankan keasliannya sejak bupati kedua Lebak. Bagaimanapun juga tak bisa dipungkiri, nama penulis buku Multatuli yang mendunia tidak bisa dilepaskan dengan Lebak.
Siapa sangka kedua bangunan ini telah menjadi ikon baru, banyak anak muda datang untuk selfie dan upload ke medsos. Terlebih pada malam hari, dua bangunan bertambah indah karena dilengkapi lampu hias aneka warna.
Drs. Ali Rahmat, M.M -dokpri
Drs. Ali Rahmat, M.M. Selaku Kabid Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lebak, pada saat temu blogger menyampaikan “Perpustakaan Saidjah Adinda, telah dimodernisasi dengan sistem pelayanan digital.  Saat ini sudah memiliki 20 ribu judul buku, dengan jumlah buku sekitar 30 – 40 ribu eksemplar dan akan terus ditambah judul dan jumlahnya. Meskipun belum genap satu tahun berdiri, perpustakaan ini sudah didatangi 14 ribu pengunjung yang 70% diantaranya adalah anak dan remaja.
Menurut saya nih, pernyataan Pak Kabid sekaligus mematahkan stigma bahwa budaya membaca generasi muda dibilang rendah.
Perpustakaan Saidjah Adinda memiliki jam operasinonal 08 – 15 WIB, kalau hari minggu dengan mobil perpustakaan keliling buka di kawasan Car Free Day.
Pada bulan Desember, Dinas Perpustakaan akan mengadakan bedah buku Max Havellar dengan tujuan untuk lebih memperkenalkan sejarah,” tambah Drs. Ali Rahmat, MM.
Tak sekedar perpustakaan saja lho, pada lantai dasar dilengkapi mini studio. Blogger sempat diajak masuk studio, menyaksikan pemutaran film berjudul Max Havellar. Film yang diproduksi tahun 1976 dengan memasang beberapa nama bintang Indonesia, dulu sempat dilarang diputar pada masa orde baru—wah jadi makin penasaran.
di depan Museum Multatuli -dokpri
Karena keterbatasan waktu dan musti melanjutkan perjalanan, blogger tidak bisa menyaksikan film Max Havellar sampai habis. Ingin pada lain kesempatan datang lagi, khusus untuk menyaksikan film Max Havellar.
Nah kalau anda juga penasaran, yuk berkunjung ke Lebak jangan lupa mampir ke Perpustakaan Saidjah Adinda. –salam-