Sabtu, 05 Agustus 2017

Sebuah Ajakan Memaafkan dari Novel “Anak Rantau” Karya A. Fuadi



Novel Anak Rantau -dokpri

Bagi kutu buku dan pecinta novel, saya yakin nama A.Fuadi sudah tidak asing lagi. Novel Triloginya yaitu ”Negeri 5 Menara”, “Ranah 3 Warna” dan “Rantau 1 Muara”, berhasil melejitkan namanya sebagai penulis serta masuk rak best seller.
Sabtu siang (5/8’17) bertempat di Gedung Pos Kota Tua Jakarta, Blogger hadir dalam acara soft launching novel terbaru A. Fuadi berjudul Anak Rantau. Suasana dan atmosfir masa lalu di Kota Tua begitu terasa, seolah mengajak saya naik mesin waktu ke masa silam.
Kebetulan saya sendiri seorang perantau, dunia rantau turut membenturkan saya menjadi pejuang setidaknya bagi diri sendiri. Bayangkan saja, dalam perantauan kita musti belajar tentang banyak hal. Mulai mengatasi  masalah keseharian, perlahan-lahan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Ada yang istimewa lho, acara soft launching novel Anak Rantau dihadiri banyak peserta. Ada yang datang dari Malaysia, Karawang, Jogjakarta, Padang, Bogor, Tangerang Selatan dan banyak tempat jauh lainnya.
Begitu tersanjung dengan antusiame peserta, Fuady mengutip sebuah hadist sekaligus kepercayaan anak pesantren, “orang yang berjalan jauh untuk menuntut ilmu akan didoakan Malaikat bahkan ikan di laut.” (cuplikan hadis ini pernah ditulis dalam novel negri 5 menara)
Menurut saya buku ini semakin keren, meskipun baru dijual secara online ternyata sudah ada yang membajak. Artinya buku ini calon best seller dong, terbukti pembajak sudah mengendus gelagat tersebut.
-0o0- 
A. Fuadi dan Miftah Sabri - dokpri
Kisah dalam Novel Rantau sangat kekinian, bisa menjadi representasi dengan kondisi yang terjadi di negara kita.
Sejak Pilpres dan Pilkada yang begitu heboh, menyisakan luka yang tidak kunjung sembuh sampai sekarang. Ada dua pihak yang saling berseberangan, selalu melihat satu peristiwa dari dua sudut pandang.
Kalau luka fisik bisa diobati, kalau luka hati dan luka batin susah diobati,” ujar Fuady.
Tokoh utama dalam novel Anak Rantau bernama Hepi, seorang anak kota yang diajak pulang ke kampung ayahnya untuk diproses menjadi orang baik. Namun kenyataan di kampung si ayah, Hepi menemukan teman baru dan orang orang yang terluka.
Salah satunya adalah kakeknya sendiri, yang dulunya seorang pejuang dan dilukai oleh kebijakan negara sendiri. Pada akhir novel, si kakek menemukan pencerahan bahwa sakit hati hanya menambah luka, obatnya hanya satu adalah memafkan dan lupakan.
Tema merantau bermula dari kampung halaman, yaitu romantisme Fuady akan danau Maninjau, kemudian dibalut tema detektif yaitu kisah datuk dan anak muda terkena narkoba.
Namun pesan kuat novel ini, sangat mendasar adalah mengobati luka untuk menumbuhkan banyak maaf pada masa silam.
Buku setebal 370 halaman ditulis selama 4 tahun, karena proses pengeraman ide dan riset membutuhkan waktu tidak sebentar. Sempat kesulitan mengembangkan cerita, namun setelah riset, wawancara dan permenungan akhirnya ketemu ruh cerita.
Untuk melancarkan proses penulisan, Fuadi menempel mind map di dinding guna membantu garis besar tulisan. Demi munculnya ide, si penulis tinggal beberapa waktu di kampung halaman, ngobrol dengan alim ulama, tokoh adat dan perantau yang sudah kembali ke kampung.
Untuk memperkuat kisah tetang narkoba, tak tanggung tanggung Fuady melakukan riset kepada intel BNN.
Soft Launching Anak Rantau semakin lengkap dan keren, dengan kehadiran Miftah Sabri CEO Selasar. Miftah adalah orang yang membaca Anak Rantau  sejak dalam bentuk draft, sehinga Fuady merasa ada sidik jari Miftah di novel terbarunya.
saat membaca tokoh Hepi, saya seperti membaca diri sendiri” ujar Miftah.
Miftah Sabri adalah seorang piatu, tak lama setelah lahir ke dunia ibunda langsung berpulang. Kemudian dibawa ayahnya ke kampung, sangat bisa merasakan bagaimana suasana hati Hepi.
Miftah kagum dengan penulis yang bisa menulis dengan sederhana, novel Anak Rantau ditulis dengan gaya bahasa sederhana. Berangkat dari point of view seorang Hepi yang anak puber, benar benar keluar dari pengalaman pribadi Fuady yang pernah dituangkan dalam Novel sebelumnya.
Potret yang ada di buku ini, bisa terjadi dan ada di seluruh daerah di Indonesia. Fuady bagaikan sosiolog, memotret sebuah kampung yang mewakili kampung di negeri kita,” tambah Miftah.
Blogger dalam Soft Launching Anak Rantau -dokpri
-0o0-
Dalam commuter line menuju stasiun Manggarai, Novel Anak Rantau saya baca baca sekilas. Dalam kereta merenungkan perjalanan hidup, pada usia yang kepala empat banyak sudah peristiwa dihadapi.
Pada kisah yang menyesakkan berpuluh tahun silam, rasanya sulit sekali menghapus dalam ingatan. Memaafkan memang butuh perjuangan, namun kalau tidak dilakukan hanya menambah luka semakin dalam.
Ternyata, saya masih harus banyak belajar memaafkan pada orang yang pernah melukai diri sendiri.

Jumat, 04 Agustus 2017

Film Nyai Ahmad Dahlan Segera Tayang di Bioskop


Press Confrence Film Nyai Ahmad Dahlan -dokpri

Nama siti walidah mungkin masih asing di telinga, tetapi ketika menyebut Nyai Ahmad Dahlan saya yakin pasti sudah sangat familiar. Nyai Ahmad Dahlan adalah pahlawan perempuan asal Kauman Jogjakarta, yang memiliki peran besar dalam sejarah bangsa ini.
Nyai Ahmad Dahlan lahir pada tahun 1872, beliau adalah pendiri gerakan perempuan ‘Sopo Tresno’ yang kemudian bernama Aisyiyah. Pada awal kemerdekaan, Nyai Ahmad Dahlan menggerakkan kaum wanita untuk mendirikan dapur umum. Beliau rajin bertukar pikiran, dengan dua tokoh besar negeri ini yaitu Presiden Sukarno dan Jendral Sudirman.
“Beliau merupakan perempuan pertama yang pernah memimpin kongres Muhammadiyah tahun 1926” Ujar Ibu Irawati Mochtar Asrul selaku Executive Produser film Nyai Ahmad Dahlan bersama H.Azrul Azis Taba.
IRAS FILM mengangkat sosok istimewa ke dalam layar lebar, persembahan bagi bangsa Indonesia, bagi Muhammadiyah, Aisyiyah dan keluarga besar Kyai Haji Ahmad Dahlan.
Secara keseluruhan, proses syuting dilakukan di kota asal sang tokoh yaitu Jogjakarta. Memasang nama bintang Tika Bravani sebagai Nyai Ahmad Dahlan, berpasangan dengan David Chalik sebagai Kyai Ahmad Dahlan.
Berderet nama bintang ternama lainnya juga ikut bermain dalam film ini, seperti Cok Simbara, Della Puspita, Rara Nawaningsih, Egi Fedly, Malvino Fajaro, Inne Azri.
Dalam press confrence Film Nyai Ahmad Dahlan, Dyah Kalsitorini selaku produser sekaligus penulis skenario Film Nyai Ahmad Dahlan mengungkapkan, “ Bagi kami membuat film ini adalah amanah luar biasa, sosok beliau sangat hebat. Setiap perjalanan hidup Nyai Ahmad Dahlan sangat inspiratif, beliau benar benar uswatun hasanah bagi umat. Dalam durasi 98 menit, insyaallah kami berusaha menggambarkan siapa beliau. Sosok Nyai Ahmad Dahlan baik sebagai istri, ibu, guru, sahabat dan pejuang.”
Tika Bravani pemeran Nyai Ahmad Dahlan -dokpri
Niat baik mengangkat sosok Nyai Ahmad Dahlan bergayung sambut, mendapat dukungan penuh dari keluarga besar Kyai Ahmad Dahlan, Muhammadiyah dan Aisyiyah. Bahkan 90% pemainnya dari keluarga besar Muhammadiyah, Aisyiyah, dan keluarga Kyai Ahmad Dahlan, semua bermain total sangat baik dan menjiwai.
Beberapa nama penting di juga hadir di Film ini, seperti Dahnil Anzar Simanjutak, ketua umum PP Muhammadiyah beliau memerankan tokoh Kyai Fakhrudin, juga nama Diyah Puspitarini Ketua Nasyiatul Aisyiyah beliau memerankan Munjiyah.
Bertindak sebagai penata musik adalah Tya Subiakto, film ini semakin keren dengan soundtrack berjudul ‘Cinta Melampaui Jaman’ dinyanyikan Rara Tarmizi penyanyi peraih piala AMI Awards 2016.
Pada kesempatan berbeda, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Muhadjir Efendi menyatakan, “Film Ahmad Dahlan hadir pada saat yang tepat, ketika bangsa ini merindukan sosok yang bisa menjadi teladan yang bersedia mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kepentingan umat dan bangsa.”
Anda bisa menunggu Film Nyai Ahmad Dahlan di bioskop, ditayangkan pada pekan ketiga bulan Agustus 2017.

FILM NYAI AHMAD DAHLAN
Executive Producer ; H. Asrul Azis Taba, Hj. Irmawati Mochtar
Producer ; Dyah Kalstorini, Widyastuti
Line Producer ; Rifat Rasjim, Ririn Fx
Skenario ; Dyah Kalstorini
DOP ; Zetta Alpha Maphilindo
Art ; Opung cs
Make Up ; Ocha, Atiel
Kostum ; Rifa
Pimpro ; Agus Wahyudi
Talent ; Ponco, Mahfud
Editor ; Bimmo DJ, Safira, John Wayne
Music ; Tya Subiakto
Sound man ; Oedin, Rizky
Mixing ; Mangkil
Grading ; Pulung Studio  

Kamis, 03 Agustus 2017

Program Kampung Terang Hemat Energi dari Philips Lighting untuk Desa Terpencil Seluruh Indonesia

dokumentasi pribadi


Saya masih ingat pada awal tahun 2000, untuk sebuah keperluan saya musti pergi ke daerah ujung barat pulau Jawa. Saat itu sekitar jam lima sore, kendaraan melintas di kampung sekitar hutan yang mulai gelap. Kami lima orang dalam satu mobil gelisah, kenapa tidak satu rumahpun terlihat menyalakan lampu penerangan di depan rumah.
Ketika tiba waktu maghrib kami berhenti, menunaikan sholat maghrib berjamaah di sebuah musholla. Hanya lampu minyak menyala, sehingga suasana gelap begitu mendominasi.
Dari seorang warga terbetik sebuah informasi, bahwa listrik belum menjangkau kampung mereka.  Otomatis gelap begitu menguasai malam hari, warga mengandalkan penerangan dari lampu minyak tanah.
Kini daerah yang pernah saya lewati puluhan tahun silam, sudah mulai terang di malam hari. Cahaya listrik telah menyinari daerah dekat hutan, warga tidak kesulitan beraktivitas ketika matahari tenggelam. 
Bagaimana dengan daerah lain di Indonesia ?
Philpis Lighting melalui program CSR, akan menerangi kurang lebih 25 desa di Sumatera Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku. Saudara sebangsa akan segera menikmat manfaat pencahayaan, untuk mendukung aktivitas mereka setelah matahari tenggelam.
Sebagai pemimpin global di bidang pencahayaan, Philips Lighting akan memperluas instalasi pencahayaan LED tenaga surya. Kurang lebih 25 desa yang belum dialiri listrik di seluruh Indonesia, akan tersentuh program “Kampung Terang Hemat Energi (KTHE)”
Program KTHE sendiri sudah dimulai tahun 2015, saat itu sembilan desa tersebar di tiga kabupaten di Sulawesi Selatan merasakan manfaat program ini.
Program “Kampung Terang Hemat Energi”, menyediakan penerangan untuk rumah dan fasilitas umum seperti Puskesmas, sekolah dan jalan umum di beberapa desa di wilayah Sumatera Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku.
Akan ada 2.886 titik lampu baru, artinya hampir sepuluh kali lebih banyak dari jumlah titik lampu yang diciptakan semula di Sulawesi Selatan.
ountry Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar (tengah) didampingi Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong (kiri) dan Chief Strategy Officer Kopernik Tomohiro Hamakawa (kanan) berbincang sesaat sebelum prosesi penekanan tombol yang menandai peluncuran program CSR Kampung Terang Hemat Energi 2017-2018 Philips Lighting Indonesia.
Dalam acara Press Confrence peluncuran KTHE, Rami Hajjar selaku Country Leader Philips Lighting Indonesia, mengatakan,  Kami sangat senang dapat menolong lebih banyak lagi masyarakat dengan menjembatani kesenjangan pencahayaan antara kota dan wilayah pedesaan melalui  program ‘Kampung Terang Hemat Energi’. Pencahayaan akan membantu meningkatkan kehidupan masyarakat, memampukan kegiatan sehari-hari seperti belajar atau pekerjaan rumah tangga lainnya untuk dapat dilakukan bahkan setelah matahari terbenam. Puskesmas dapat beroperasi dengan layak dalam keadaan darurat di malam hari dan mobilitas masyarakat serta barang tidak lagi terbatas hanya pada siang hari. Di Philips Lighting Indonesia, kami menerapkan komitmen global perusahaan ini untuk menciptakan kehidupan yang lebih terang untuk dunia yang lebih baik; termasuk di dalamnya, kehidupan masyarakat di desa-desa terpencil di seluruh negeri.
Setiap desa terpilih akan mendapatkan paket pencahayaan LED tenaga surya Philips yang inovatif, yang terdiri atas:
(1) Solar Indoor Lighting System lengkap dengan panel surya,
(2) Philips LifeLight yang 10 kali lebih terang dari lampu minyak tanah,
(3) Solar LED Road Light untuk menerangi jalan-jalan di desa pada malam hari. Tahun ini, program akan diawali dengan menjangkau enam desa di Sumatera Utara.
Sejak tahun 2015, Philips Lighting bermitra dengan Kopernik sebuah LSM bergerak di bidang teknologi untuk memberdayakan penduduk di desa terpencil. Pada tahun yang sama, Philips Lighting secara global menyerukan ajakan untuk mengakhiri kemiskinan cahaya dalam rangka Tahun Cahaya Internasional PBB (UN’s International Year of Light – IYOL)
Program CSR Philips Lighting Indonesia"Kampung Terang Hemat Energi" periode 2017-2018, menyalakan Philips LifeLight, lampu LED berbasis tenaga surya salah satu produk yang akan diberikan kepada masyarakat di desa terpencil melalui program ini.