28 Mei 2015

Rehabilitasi Gratis bagi 100 ribu Pengguna Narkoba



DR. Antar Merau Tugus Sianturi, AK, MBA , Deputi Pencegahan BNN
Seorang ibu muda sambil terisak berkisah, saudaranya telah menghembuskan nafas terakhir karena Narkoba. Sang keponakkan yang masih duduk dibangku SMA, kedapatan kecanduan barang haram dan tak bisa terselamatkan nyawanya. Kisah yang menguras emosi jelas saya tangkap, dari getaran suara yang berbaur menahan pedih hati.
Pada saat yang lain seorang ibu paruh baya, putrinya tengah merintis karir di dunia entertainment. Sudah membintangi beberapa Film Televisi (FTV), juga menjadi model video klip dari seorang penyanyi ternama. Saat istirahat atau menunggu saat "take" gambar, sang ibu tak boleh berada di dekatnya. Ketika ada satu situasi yang ganjil, barulah sang ibu ditelepon agar segera datang. Sang bintang FTV ditawari saat di lokasi shooting, mengkosumsi vitamin agar staminanya bugar. Namun karena cara menawari terasa tak lazim, segera ditolak vitamin tersebut tak segera diambil.
Sekelumit kisah saya dengar saat acara bersama Badan Narkotika Nasional (BNN), menumbuhkan bayangan di sudut lain di negri tercinta. Pasti banyak kisah serupa terjadi pada generasi muda, yang membutuhkan perhatian dan penanganan. Betapa Narkoba sudah menelusup melalui celah kesempatan, melalui situasi yang tidak terduga. Pada mereka putra putri harapan bangsa, duapuluh tigapuluh tahun mendatang. Kepemimpinan bangsa ini berada di pundak mereka, tongkat estafet perjuangan berada digenggamannya. Musti dipersiapkan mulai saat ini, agar mental dan jiwa mereka sanggup. Menghadapi tantangan kehidupan, yang lebih kompetitif dan kompleks. Peran setiap individu sebagai bagian terkecil masyarakat, menjadi penting adanya untuk merangkul orang disekitarnya.
Keluarga menjadi benteng pertama dan utama, yang musti mengukuh dan mengokohkan setiap anggotanya. Musti ada jalinan yang harmonisas, antara ayah, ibu dan anak. Pak Slamet Pribadi Humas BNN, membuat analogi lingkaran hubungan yang menarik. Adanya hubungan sehat ayah, ibu, anak - ayah, anak, ibu-, kemudian ibu, ayah, anak- ibu, anak, ayah, satu lagi hubungan anak, ayah, ibu - anak, ibu, ayah. Setiap anggota keluarga musti memiliki garis keterhubungan, antara satu dengan lainnya. Tak boleh hanya ayah dan ibu harmonis, kemudian hanya satu diantaranya (ayah saja, atau ibu saja) harmonis dengan anak.  Dengan hubungan yang baik dan harmonis, memungkinkan terjadinya komunikasi yang efektif. Sehingga akan medorong dampak positif, berupa pendidikan pencegahan mengkonsumsi narkoba.
Darurat Narkoba !!
Pengguna Narkoba di Indonesia sudah mencapai 2,2%, atau 4,2 juta orang, terdiri dari 1,1 juta tahap coba coba, 1,9 juta teratur pakai, dan 1,2 juta pecandu. Tahun 2010 hanya 18.000 orang atau 0.47% dari penyalahguna narkoba, yang mendapat layanan terapi dan rehabilitasi. 70% penyalahguna ditemukan di tempat kerja,  sementara 22 % penyalahguna berada di ligkungan siswa. Pengungkapan penyalahgunaan juga relatif sedikit, dibanding jumlah peredaran Narkoba. Kini para pengedar segitu lihai, berinovasi demi menyusupkan zat adictif ini. BNN telah menemukan narkoba yang diekstrak menjadi kue dengan kandungan THC dan sudah beredar di Indonesia. Penjualan melalui online shop yang ditujukan ke beberapa kampus. Beberapa kabar yang tersebar, zat dalam Narkoba menjelma dalam bentuk permen juga. Sebuah toko di sebuah Mall di Jakarta Selatan, sempat digerebek menjadi outlet transaksi.
Bagi anak yang kurang perhatian di rumah, menjadi "sasaran" empuk para pengedar Narkoba.  Biasanya pada anak anak ini tumbuh keinginan mencoba, karena ingin tampil beda dan kurang percaya diri. Kemudian menjadikan narkoba bagian gaya hidup (life style), dan pengaruh lingkungan serta pergaulan yang salah. Atau bagi yang sudah memasuki dunia kerja, mengalami tekanan pekerjaan sehingga mencari cara meningkatkan daya tahan tubuh. Padahal melalui penyalahgunaan narkoba, yang didapat hanya sekedar pelampiasan semu.
Untuk memerangi darurat Narkoba, diperlukan kesigapan individu dalam masyarakat. Dengan merangkul anak anak sepenuh hati, memberi waktu dan perhatian yang cukup. Bisa mendengar setiap kesah, atau kisah remeh temeh dalam keseharian mereka. Akan beda jiwa anak anak yang dirangkul diperhatikan, dibanding anak yang abai dari perhatian orang tua.
Slamet  Pribadi - Humas BNN
Untuk mengenali ciri ciri Pencandu
Untuk Tahap Coba-coba ;
Suka menyendiri
Perubahan pergaulan
Perubahan cara berpakaian
Perubahan hoby / aktivitas.
Penurunan prestasi belajar
Suka keluar malam
Perubahan pola makan

Tahap Pengguna Tetap;
Bangun terlambat
Menyendiri
Bolos
Aktivitas spiritual berkurang
Telepon telepon aneh
Merokok
Problem keuangan
Perubahan berat badan yang ekstrem
Adanya teman tema tidak sebaya
Teguran/ slors dari sekolah
Membrontak
Menyenangi musik yang berlirik narkoba
Istilah istilah junkies
Lama di kamar mandi

Tahap Kecanduan :
Ditemukan alat-alat pecandu
Penggunaan uang yang berlebihan
Bekas bekas suntikan di lengan
Sering tidak pulang
Mata mengantuk
Pola pikir yang aneh
Pilek dengan hidung yang gatal
Ingin bunuh diri
Berteman dengan pecandu
Obat obat sering hilang
Marah jika ditanyakan tentang dirinya.

*******
"Apa yang musti kami lakukan, dan apa yang sudah dilakukan BNN" Ibu muda di awal tulisan masih dengan suara terbata dan parau.
BNN menyediakan no pengaduan SMS di 081 221 675 675, nomor ini bisa dimanfaatkan seluruh masyarakat. Dengan  melaporkan sama artinya dengan memutus rantai, agar sang korban tidak terlanjur kecanduan. Bahkan terjadi pelaporan sedini mungkin, adalah tindakan positif agar korban segera direhabilitiasi. Pada mereka korban yang direhabilitisi, dimungkinkan tidak berhubungan dengan penegak hukum. Mengenai pelapor pihak BNN berani menjamin, akan menjaga kerahasiaan identitas agar tidak terungkap. Rehabilitasi adalah pemulihan terhadap peandu narkoba, dengan tindakan baik berupa medis atau non medis
Mungkin banyak pertimbangan bagi pihak keluarga, merasa malu apabila memiliki anak yang kecanduan narkoba. Tapi bagaimanapun juga akibatnya lebih fatal, apabila menyembunyikan korban. Karena kalau suatu saat diketahui penegak hukum, urusannya akan lebih rumit dan panjang. secara tegas Pak Slamet Pribadi menegaskan, pemerintah menyediakan rehabilitasi gratis bagi 100.000 pecandu Narkoba.
Bersama Blogger
Tindakan Untuk Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba
1. Menumbuhkan kesadaran, kepedulian, dan peran aktif seluruh komponen bangsa dalam upaya menolak segala bentuk penyalahgunaan narkoba.
2.  Menginisiasi upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba  dengan membentuk gerakan  anti narkoba untuk melakukan aktivitas kampenye anti narkoba.
3.  Meningkatkan kemampuan dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran.
4.  Melakukan peranan sebagai relawan  anti  penyalahgunaan narkoba.
Saatnya setiap kita berperan aktif semampunya, mencegah pada orang terdekat di lingkungan sekitar. Tindakan sekecil apapun  kalau dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan, niscaya akan berkembang dan dampaknya signifikan. (salam)