Tampilkan postingan dengan label social. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label social. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Run To Care "Yogyakarta Semarang 150 KM" SOS Childern's Villages Indonesia 2018.



runtocare.com


Olah raga lari, telah menjadi primadona. Terbukti baru sehari dibuka pendaftaran “Run To Care, “Yogyakarta-Semarang 150 KM”,  SOS Childern’s Villages 2018, telah mencatat sekitar 300 pelari – luar biasa bukan.

"Program Run To Care SOS Childern's Villages 2018, mengajak masyarakat peduli dengan anak-anak yang sedang kesulitan, sehingga mereka mendapatkan kembali kesempatan tumbuh menjadi manusia dengan kemampuan maksimal," Jelas Gregor Hadi Nitihardjo, selaku National SOS Childern's Villages Indonesia, saat "Run To Care Media Launch Event

SOS Childern's Villages Indonesia, berdiri tahun 1972 di Lembang Bandung. Sebagai lembaga non pemerintah yang fokus kepada pengasuhan anak berbasis keluarga, Saat ini sudah berkembang dan tersebar di 9 kota, mulai Banda Aceh sampai NTT.

Jumat, 06 Oktober 2017

Kampanye Philips Lighting ‘Terangi Masa Depan’ Dukung Program UNICEF ‘Kembali ke Sekolah’



Ki-Ka: Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong, Country Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar, Deputy Representative UNICEF Indonesia Lauren Rumble dan Chief of Partnership UNICEF Indonesia Gregor Henneka saat seremoni penandatangan nota kesepahaman untuk “Kampanye Terangi Masa Depan Periode 2017-2018” oleh Philips Lighting Indonesia dan UNICEF, di Jakarta, Selasa (3/10). Dalam kemitraan ini, Philips Lighting berkomitmen untuk menggalang dana sebesar 2 miliar rupiah dari penjualan bohlam Philips LED dalam kemasan “Beli 3 Gratis 1” yang berlogo UNICEF. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung program “Kembali ke Sekolah” UNICEF. 

Tak bisa dipungkiri, pendidikan ibarat kunci gerbang menuju kualitas hidup lebih baik. Semua kegelapan pengetahuan terjadi, sejatinya bermula dari ketiadaan pendidikan.
Siapa nyana, meski sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tercatat 4.6 juta lebih anak usia sekolah, belum memiliki kesempatan mengeyam pendidikan dasar. Menurut Survey Sosial Ekonomi Nasional 2016 (Susenas), alasan anak-anak tidak bersekolah atau putus sekolah, lazimnya terkait kondisi ekonomi keluarga, terbatasnya akses pendidikan, disabilitas fisik atau mental dan budaya.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Yuk Wisata ke Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak Banten


dokumentasi pribadi

Bagi anda penggila novel, pasti sudah tidak asing dengan nama Eduard Douwes Dekker atau Multatuli.. Douwes Dekker yang lahir di Amsterdam tahun 1820, pernah menjadi Asistant Residen di Lebak Banten pada periode 1856 – 1856.
Meski memiliki kewarganegaraan Belanda, batinnya miris melihat fenomena kerja paksa kala itu. Hingga lahirlah tokoh Saidjah Adinda yang melegenda, dalam Novel berjudul Max Havellar yang terbit pada tahun 1860.
Novel yang dipasarkan kali pertama di Belgia, konon langsung mencetak best seller kala itu. Kisah masyarakat Lebak yang ada di dalam novel ini, ternyata juga menginspirasi perlawanan terhadap penjajah di kawasan Eropa.
Dalam rangkaian ‘Blogger on Vacation’ bersama Semen Merah Putih, Blogger diajak mengunjungi Perpustakaan Saidjah Adinda. Lokasi perpustakaan ini terbilang strategis, yaitu di Jl RM Hardiwinangun no 3 atau di kawasan alun alun timur Rangkasbitung.
Perjalanan blogger dari stasiun Rangkasbitung, butuh sekitar 30 menitan untuk sampai di perpustakaan Saidjah Adinda. Kalau naik angkutan umum juga bisa, silakan cari angkot warna merah bata bernomor 4 tujuan Ona. Pesan ke pengemudi  untuk diturunkan di alun alun, cukup membayar empat ribu rupiah saja.(hasil nanya mbah google nih)
Mengapa “Blogger on Vacation” kok ke Perpustakaan?
Sejalan dengan Pilar Pendidikan dalam program CSR Semen Merah Putih, erat kaitannya dengan dengan program ayo gemar membaca.
Semen Merah Putih melakukan upaya nyata, berupa pemberian donasi papan informasi  (majalah dinding) untuk media informasi dan kreatifitas masyarakat di Desa Kaserangan Serang Banten. Gerakan membaca bersama, juga diwujudkan dengan donasi buku bacaan yang didistribusikan ke seluruh sekolah di Kabupaten Serang Banten.
Pilar pendidikan pada CSR Semen Merah putih lainnya,  berupa program pemberian beasiswa dan peningkatan kompetensi masyarakat.
Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak, sangat berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi. Bentuk bangunan yang dipilih juga sangat unik, mengadopsi bangunan khas suku baduy yaitu Leuit.
Apa itu Leuit ?
Leuit atau lumbung padi masyarakat suku Badui, berfungsi untuk menyimpan hasil panen dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Konon leuit bukan sekedar bentuk bangunan saja, tapi lebih pada sistem atau management pengelolaan bahan pangan atau beras. Dengan penerapan sistem leuit, terbukti suku Baduy tidak pernah kekurangan beras sepanjang tahun.
Material yang dipilih untuk Perpustakaan Saidjah Adinda didominasi bambu, sesuai dengan nama Rangkasbitung, Rangkas artinya patah dan bitung artinya bambu.
dokumentasi pribadi

Suasana Perpustakaan- dokpri

Perpustakaan yang selesai dibangun pada awal Desember 2016, posisinya berdampingan dengan Museum Multatuli. Khusus bangunan Museum Multatuli, adalah bangunan yang dipertahankan keasliannya sejak bupati kedua Lebak. Bagaimanapun juga tak bisa dipungkiri, nama penulis buku Multatuli yang mendunia tidak bisa dilepaskan dengan Lebak.
Siapa sangka kedua bangunan ini telah menjadi ikon baru, banyak anak muda datang untuk selfie dan upload ke medsos. Terlebih pada malam hari, dua bangunan bertambah indah karena dilengkapi lampu hias aneka warna.
Drs. Ali Rahmat, M.M -dokpri
Drs. Ali Rahmat, M.M. Selaku Kabid Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lebak, pada saat temu blogger menyampaikan “Perpustakaan Saidjah Adinda, telah dimodernisasi dengan sistem pelayanan digital.  Saat ini sudah memiliki 20 ribu judul buku, dengan jumlah buku sekitar 30 – 40 ribu eksemplar dan akan terus ditambah judul dan jumlahnya. Meskipun belum genap satu tahun berdiri, perpustakaan ini sudah didatangi 14 ribu pengunjung yang 70% diantaranya adalah anak dan remaja.
Menurut saya nih, pernyataan Pak Kabid sekaligus mematahkan stigma bahwa budaya membaca generasi muda dibilang rendah.
Perpustakaan Saidjah Adinda memiliki jam operasinonal 08 – 15 WIB, kalau hari minggu dengan mobil perpustakaan keliling buka di kawasan Car Free Day.
Pada bulan Desember, Dinas Perpustakaan akan mengadakan bedah buku Max Havellar dengan tujuan untuk lebih memperkenalkan sejarah,” tambah Drs. Ali Rahmat, MM.
Tak sekedar perpustakaan saja lho, pada lantai dasar dilengkapi mini studio. Blogger sempat diajak masuk studio, menyaksikan pemutaran film berjudul Max Havellar. Film yang diproduksi tahun 1976 dengan memasang beberapa nama bintang Indonesia, dulu sempat dilarang diputar pada masa orde baru—wah jadi makin penasaran.
di depan Museum Multatuli -dokpri
Karena keterbatasan waktu dan musti melanjutkan perjalanan, blogger tidak bisa menyaksikan film Max Havellar sampai habis. Ingin pada lain kesempatan datang lagi, khusus untuk menyaksikan film Max Havellar.
Nah kalau anda juga penasaran, yuk berkunjung ke Lebak jangan lupa mampir ke Perpustakaan Saidjah Adinda. –salam-

Kamis, 03 Agustus 2017

Program Kampung Terang Hemat Energi dari Philips Lighting untuk Desa Terpencil Seluruh Indonesia

dokumentasi pribadi


Saya masih ingat pada awal tahun 2000, untuk sebuah keperluan saya musti pergi ke daerah ujung barat pulau Jawa. Saat itu sekitar jam lima sore, kendaraan melintas di kampung sekitar hutan yang mulai gelap. Kami lima orang dalam satu mobil gelisah, kenapa tidak satu rumahpun terlihat menyalakan lampu penerangan di depan rumah.
Ketika tiba waktu maghrib kami berhenti, menunaikan sholat maghrib berjamaah di sebuah musholla. Hanya lampu minyak menyala, sehingga suasana gelap begitu mendominasi.
Dari seorang warga terbetik sebuah informasi, bahwa listrik belum menjangkau kampung mereka.  Otomatis gelap begitu menguasai malam hari, warga mengandalkan penerangan dari lampu minyak tanah.
Kini daerah yang pernah saya lewati puluhan tahun silam, sudah mulai terang di malam hari. Cahaya listrik telah menyinari daerah dekat hutan, warga tidak kesulitan beraktivitas ketika matahari tenggelam. 
Bagaimana dengan daerah lain di Indonesia ?
Philpis Lighting melalui program CSR, akan menerangi kurang lebih 25 desa di Sumatera Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku. Saudara sebangsa akan segera menikmat manfaat pencahayaan, untuk mendukung aktivitas mereka setelah matahari tenggelam.
Sebagai pemimpin global di bidang pencahayaan, Philips Lighting akan memperluas instalasi pencahayaan LED tenaga surya. Kurang lebih 25 desa yang belum dialiri listrik di seluruh Indonesia, akan tersentuh program “Kampung Terang Hemat Energi (KTHE)”
Program KTHE sendiri sudah dimulai tahun 2015, saat itu sembilan desa tersebar di tiga kabupaten di Sulawesi Selatan merasakan manfaat program ini.
Program “Kampung Terang Hemat Energi”, menyediakan penerangan untuk rumah dan fasilitas umum seperti Puskesmas, sekolah dan jalan umum di beberapa desa di wilayah Sumatera Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku.
Akan ada 2.886 titik lampu baru, artinya hampir sepuluh kali lebih banyak dari jumlah titik lampu yang diciptakan semula di Sulawesi Selatan.
ountry Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar (tengah) didampingi Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong (kiri) dan Chief Strategy Officer Kopernik Tomohiro Hamakawa (kanan) berbincang sesaat sebelum prosesi penekanan tombol yang menandai peluncuran program CSR Kampung Terang Hemat Energi 2017-2018 Philips Lighting Indonesia.
Dalam acara Press Confrence peluncuran KTHE, Rami Hajjar selaku Country Leader Philips Lighting Indonesia, mengatakan,  Kami sangat senang dapat menolong lebih banyak lagi masyarakat dengan menjembatani kesenjangan pencahayaan antara kota dan wilayah pedesaan melalui  program ‘Kampung Terang Hemat Energi’. Pencahayaan akan membantu meningkatkan kehidupan masyarakat, memampukan kegiatan sehari-hari seperti belajar atau pekerjaan rumah tangga lainnya untuk dapat dilakukan bahkan setelah matahari terbenam. Puskesmas dapat beroperasi dengan layak dalam keadaan darurat di malam hari dan mobilitas masyarakat serta barang tidak lagi terbatas hanya pada siang hari. Di Philips Lighting Indonesia, kami menerapkan komitmen global perusahaan ini untuk menciptakan kehidupan yang lebih terang untuk dunia yang lebih baik; termasuk di dalamnya, kehidupan masyarakat di desa-desa terpencil di seluruh negeri.
Setiap desa terpilih akan mendapatkan paket pencahayaan LED tenaga surya Philips yang inovatif, yang terdiri atas:
(1) Solar Indoor Lighting System lengkap dengan panel surya,
(2) Philips LifeLight yang 10 kali lebih terang dari lampu minyak tanah,
(3) Solar LED Road Light untuk menerangi jalan-jalan di desa pada malam hari. Tahun ini, program akan diawali dengan menjangkau enam desa di Sumatera Utara.
Sejak tahun 2015, Philips Lighting bermitra dengan Kopernik sebuah LSM bergerak di bidang teknologi untuk memberdayakan penduduk di desa terpencil. Pada tahun yang sama, Philips Lighting secara global menyerukan ajakan untuk mengakhiri kemiskinan cahaya dalam rangka Tahun Cahaya Internasional PBB (UN’s International Year of Light – IYOL)
Program CSR Philips Lighting Indonesia"Kampung Terang Hemat Energi" periode 2017-2018, menyalakan Philips LifeLight, lampu LED berbasis tenaga surya salah satu produk yang akan diberikan kepada masyarakat di desa terpencil melalui program ini.

Sabtu, 17 Juni 2017

Blogger's Berbagi di Panti Asuhan Yayasan Amal Wanita



Panti Asuhan Yayasan Amal Wanita Ciputat Tangsel - dok Ani Berta

Bulan Ramadan bulan berbagi, ajang untuk berlomba berbuat kebaikan bagi umat muslim. Blogger’s tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, dengan cara berkunjung ke Panti Asuhan yang berada di daerah Ciputat Tangerang Selatan.
“Blogger Care” adalah acara yang diinisiasi Indonesia Sociobloggerpreneur (ISB) bersama Blogger Crony Communty (BCC), diadakan pada pertengahan bulan Ramadan. Panti Asuhan Yayasan Amal Wanita di Jl Re Martadinata Gg Dukuh No 37 Ciputat Tangsel, menjadi jujugan kami berbagi kebahagiaan.
Bagi saya yang tinggal di Tangsel, tidak terlalu susah menemukan alamat panti ini berada. Lokasinya tak jauh dari Pasar Ciputat, kalau ke arah gaplek tidak sampai satu kilometer berada di kiri jalan. Orang sekitar lebih familiar dengan sebutan gang panti, nama yang tertempel di gapura pinggir jalan adalah gang dukuh.
Panti Asuhan Amal Wanita berdiri sejak tahun 1964,  sampai saat ini masih eksis menunaikan misi sosialnya.  Anak asuh di panti ini mendapat pendidikan di luar asrama,  mulai dari SD hingga perguruan tinggi dengan biaya ditanggung panti.
Selain pendidikan formal diberikan pula pendidikan non formal, seperti menjahit, beternak, berkebun, mengetik/ komputer. Anak asuh juga mendapat bimbingan berupa kedisiplinan organisasi, keagamaan, ceramah, pidato dan ketrampilan lainnya.
Sore di pelataran yang sejuk, blogger’s mulai berdatangan ke Panti Asuhan Yayasan Amal Wanita. Pelataran yang luas tumbuh pepohonan rindang, membuat suasana panti semakin asri. Beberapa anak asuh terlihat baru pulang sekolah, tampak dari baju seragam yang melekat ditubuhnya.
Kalau menilik dari perawakan beberapa dari anak asuh,  saya taksir pada rentang umur SD hingga Sekolah Menengah Atas. Kesan pertama saya tangkap, mereka sopan kepada tamu namun tetap percaya diri. Bara yang masih duduk di bangku sekolah dasar, saat dipanggil langsung mendekat dan menyalami tidak terlihat malu.
Kak Asykur (kacamata) memulai kelas creasi kurma -dokpri
Kelas pertama Blogger Care sore ini dimulai bersama Kak Asykur, seorang food stylist yang siap mengajari adik adik panti berkreasi dengan panganan berbahan kurma. Caranya cukup sederhana, namun butuh ketelaten dan ketelitian.
Pertama keluarkan biji kurma dari tempatnya, ganti isi dalam kurma dengan selai kacang. Kemudian panasi cokelat pilih yang ada rasa mint atau sesuai selera, setelah mencari kurma isi selai kacang celupkan dalam lelehan cokelat.
Kurma yang sudah berbalut cokelat (misalnya mint), beri taburan meisis halus pilih yang warna-warni. Agar kurma bisa tampil dengan cantik, letakkan di atas kertas khusus kemudian masukkan dalam plastik.  Satu wadah bisa untuk lima atau enam kurma dijajar rapi, kemudian ujung plastik yang terbuka diikat dengan tali khusus.
Ketrampilan kreasi kurma, tentu membuka peluang bagi adik adik panti untuk berjualan cokelat kurma. Saya dibuat takjub, melihat kreasi adik adik panti yang cukup rapi dan layah jual.
Sesi berkreasi dengan panganan kurma selesai beriring adzan ashar, mushola sederhana di kanan panti melantunkan adzan dengan syahdu. Langit mulai gelap beriring rintik hujan, beberapa teman blogger tampak menyusul hadir.
Kak Zata dan Bunda Wylvera - IG Blogger Crony
Sesi berikutnya adalah membuat blog bersama kak Zatta, mengajak adik adik belajar menulis dan membuat blog pribadi. Anak anak panti usia remaja tampak antusias, menyimak setiap pemaparan kak Zata sambil mencatat beberapa point penting.
Kak Zata memberi motivasi tentang pentingnya menulis, bahkan kalau tulisan bagus bisa mendapat apresiasi dalam bentuk materi.  
Kemudian dilanjutkan dengan sesi menulis buku, diisi bunda Wylvera yang telah menerbitkan beberapa judul buku, Bunda Wylvera dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, menantang adik-adik bercerita di hadapan teman-temannya. Tema yang diangkat adik adik cukup sederhana, yaitu bagimana cara berkisah mendapatkan ice cream.
Alhasil satu adik panti menaklukkan tantangan, berhasil mendapatkan satu buah buku dari bunda. Masih ada beberapa buku lain disediakan, tentu dengan tantangan lain yang tidak kalah seru. Alhasil buku cerita di tangan bunda Wylvera habis, berpindah ke tangan adik adik panti yang memang cerdas dan berani.
Penyerahan sumbangan dari Blogger's Jabodetabek -dokpri
O’ya,  ada penyerahan sumbangan dari kakak bloger’s se Jabodetabek. Total sumbangan Rp. 10.075.000,- diserahkan dalam bentuk cash, oleh founder ISB didampingi founder BCC.
Menunggu saat berbuka diisi kultum oleh Kak Agung, tidak lupa ada sesi kuis berhadiah boneka, tas, kotak makan. Waaw, leseruan dan kecerian tampak terpancar di wajah adik-adik yang hadir. Mereka berebut menjawab, demi mendapatkan souvenir yang disiapkan kakak bloger’s.
dokumentasi IG ISB
Akhirnya waktu berbuka tiba, semua menikmati minuman kacang hijau segar persembahan dari Gula Jawa. Kalau saya membatalkan puasa dengan kurma cokelat isi selai kacang, kebetulan anak saya juga ikut berkreasi bareng adik panti. Sementara untuk berbuka, ada persembahkan dari rolas catering dengan menu spesial.
Pada ujung acara buka puasa bersama, hadir penyanyi Windy Gemari yang menghibur dengan lagu yang diiringi petikan gitar anak panti. Acara diakhiri dengan pembagian goodybag dari Windy Gemari, tak lupa anak-anak panti kembali menampilkan kepandaian marawis.
Hujan di luar panti baru saja reda, saya bergegas mengejar sholat isya berjamaah dan taraweh. Malam terasa adem dan segar, apalagi setelah bersua dengan adik adik Panti Asuhan Yayasan Amal Wanita, Ciputat tangerang Selatan.

Jumat, 02 Juni 2017

Yuk Donasi Hanya dengan Hastag #LazadaBerbagi

narsum Lazada Berbagi -dokpri
Belanja online telah menjadi bagian dari gaya hidup, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan. Tak dipungkiri faktor kesibukan dan kemacetan lalu lintas, membuat belanja online semakin diminati masyarakat.
Lazada menginisiasasi kampanye donasi, hanya dengan post foto di media sosial menyertakan hastag #LazadaBerbagi. Keren kan, gaya baru menyumbang tanpa mengeluarkan uang.
Pada awal Juni 2017, Blogger, Jurnalist dan Komunitas diundang acara buka puasa bersama, sekaligus peluncuran kampanye #LazadaBerbagi.

Rabu, 10 Mei 2017

Peluncuran Program “YouthCan!” SOS Children’s Villages



Launching YouthCan! -dokpri

Siapa tak bangga, melihat anak-anak usia muda bertumbuh dengan kemandirian. Terlebih berasal dari latar belakang keluarga kurang harmonis, karena berbagai sebab di rumah masing-masing.
Mereka adalah anak-anak bangsa, yang kurang beruntung dalam hal pengasuhan. Bisa jadi karena perpisahan kedua orang tuanya, atau karena kondisi tertentu yang begitu kompleks.  Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau memedulikan masa depan anak-anak masa depan ini.
SOS Children's Villages , adalah organisasi sosial non profit yang menyediakan pengasuhan alternatif bagi anak-anak yang telah atau beresiko kehilangan pengasuhan orang tua. Kini telah mengasuh sekitar 1.300 anak, tersebar di 8 Desa Anak ( Childern’s Villages) di Indonesia (Lembang, Jakarta, Semarang, Tabanan, Maumere, Banda Aceh, Meulaboh dan Medan). Nah, pada 8 mei 2017 meluncurkan program YouthCan!.
Apa itu YouthCan! ?
Adalah sebuah inisiatif global yang bertujuan mempersiapkan pemuda untuk memasuki dunia kerja dan hidup secara mandiri, dengan membantu mereka mendapatkan pengalaman praktis, pelatihan serta pengetahuan yang memadai.
YouthCan! melibatkan pemuda, mitra korporasi serta SOS Children's Villages untuk menciptakan kesempatan bagi pemuda dan membatu mitra korporasi mendapatkan talenta terbaik sekaligus memperkuat brand.
YouthCan! Telah diluncurkan di Afrika Selatan dan Kosta Rika, sementara Indonesia menjadi negara pertama di Asia yang akan mengimplementasikan program YouthCan!.
Meningkatkan kemampuan pemuda di dunia kerja merupakan prioritas utama SOS Children's Villages. Saat ini baru sekitar 60% pemuda yang telah meninggalkan SOS Children’s Villages bisa mandiri. Melalui YouthCan! SOS Children’s Villages ingin meningkatkan angka ini menjadi 90% di tahun 2030. Kami memberikan para pemuda akses terhadap pelatihan, mentor atau role model, serta pengalaman kerja agar mereka siap memulai karir atau mendirikan bisnis sendiri” Jelas Gregor Hadi Nitihardjo, selaku National Director of SOS Children’s Villages IndonesiaSOS Children’s Villages Indonesia saat ini bekerja untuk lebih dari 6.000 anak dan pemuda yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Kami ingin memastikan seluruh pemuda dalam pengasuhan kami bahkan yang berada di luar itu bisa lebih siap dalam menghadapi tantangan di dunia kerja. Oleh karena itu kami mengajak mitra korporasi, pemerintah dan seluruh stakeholder terkait untuk bersama sama mencapai tujuan ini”.
dokumentasi pribadi
Pada tahap awal SOS Children’s Villages bekerjasama dengan beberapa mitra korporasi, seperti DHL dan AkzoNobel untuk membekali pemuda dengan berbagai aktivitas yang dapat mengembangkan keahlian maupun personalitas pemuda seperti program magang, pelatihan dan mentoring.
DHL sendiri ternyata telah menjadi mitra SOS Children’s Villages sejak 2011, berdasarkan evaluasi telah berhasil memperkuat kepercayaan diri para pemuda menyongsong masa depan yang cerah. Dari sisi DHL kerjasama ini membangun kebanggan karyawan DHL, karena mereka bisa terlibat memberikan sesuatu kepada masyarakat.
Sementara untuk AkzoNobel mengungkapkan optimisme terhadap YouthCan!,  akan mendorong pertumbuhan generasi masa depan yang menjadi kunci misi AkzoNobel, yaitu menciptakan kehidupan yang nyaman dan menginspirasi.

Daftar Blog Saya