Tampilkan postingan dengan label pangkalpinang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pangkalpinang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 September 2016

Cheng Beng : Perpaduan Tradisi Mudik dan Magnet Wisata di Pangkalpinang

Pantai Padi ini tak jauh dari Kota Pangkalpinang - dok kelas blogger 
Siapa tak kenal kota Pangkalpinang ?
Saya pribadi mengenal sejak awal tahun 90-an, kebetulan ada saudara jauh dinas di kota ini. Kala itu saya sekedar mengenal nama saja, sembari membayangkan rupa dan bentuk dari cerita saudara. Tak dinyana tersurat takdir jua, menjejakkan kaki bersama teman-teman Kelas Blogger.
Sungguh sebuah kejutan, ketika kesempatan itu datang menghampiri. Saya berkesempatan meliput, ritual tahunan yang bernama Cheng Beng. Saya akan manfaatkan waktu sebaik mungkin, menikmati udara, air dan tanah Pangkalpinang.
Sekilas saya mengamati beberapa arsitektur bangunan, batin ini menyimpulkan ada pengaruh gaya Tiongkok. Setelah membaca beberapa literatur terjawab juga, keberadaan Pangkalpinang tak bisa dipisahkan dari pengaruh kekaisaran Tiongkok di Asia Timur.
Coba saja perhatikan !
Bangunan Klenteng tersebar hampir di seluruh kota, dalam ukuran besar atau kecil sesuai fungsi dan kegunaannya. Pendem China atau makam orang tua Cina, Pemakaman Belanda, bangunan dengan arsitektur Cina, penataan pemukiman yang dipisahkan, banyaknya gang sempit sebagai bukti keterikatan kuat dengan Tiongkok.
Saat kunjungan ke Pangkalpinang, saya sempatkan berjalan menikmati suasana kota. Saya kerap berpapasan dengan wajah oriental, dengan kulit cerah dan bentuk mata sipit. Keberadaan etnis Thionghoa memang tak bisa dipungkiri, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
O'ya, Pangkalpinang disebut dalam literatur sekitar abad 17 lho.  Pangkal artinya Pusat Distrik (Distric Capital), sementara Pinang adalah sejenis tumbuhan palm yang multi fungsi banyak tumbuh di Bangka.
Mulanya Pangkalpinang adalah sebuah kampung kecil, berupa pangkalan pengumpulan timah. Daerahnya berawa-rawa, dengan sungai-sungai membelah. Sehingga dapat dilayari kapal dan perahu, perjalanan bisa membawa sampai ke muara.
Tempat Ibadah  ini tak jauh dari pusat kota Pangkalpinang -dokpri
Pangkalpinang Masa Kini.
Saya merasakan denyut kota yang dinamis, perekonomian masyarakat bertumbuh ditunjang letak strategis di lintas International. Berbagai upaya dilakukan Pemerintah daerah, untuk mengangkat nama Pangkalpinang agar lebih dikenal masyarakat luas.
Pariwisata menjadi sektor penting dan seksi, musti mendapat perhatian khusus dari pihak terkait. Endingnya mengerucut pada satu tujuan, yaitu kunjungan wisatawan domestik atau mancanegara. 
Bayangkan kawan's,
setiap pengunjung membutuhkan penginapan, kuliner, souvenir dan masih banyak lainnya. Kebutuhan wisatawan ini adalah potensi, mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Awal April 2016
Kedatangan kami bukan tanpa rencana, Kelas Blogger ingin menyaksikan langsung puncak Cheng Beng. Tradisi  unik sekaligus ritual tahunan, masyarakat Thionghwa khususnya umat Khonghucu. Acara serupa sebenarnya diadakan beberapa daerah, namun lokasi Pekuburan Sentosa yang membuat acara di Pangkalpinang begitu istimewa.
Ritual Cheng Beng atau sembahyang kubur, sebagai perwujudan sikap hormat masyarakat Tionghwa pada leluhur. Mereka yang masih hidup masa sekarang, masih sangat mencintai dan menghormati orang tua, kakek nenek, sampai buyut dan seterusnya.  Sampai sampai terjadi tradisi pulang kampung, layaknya hari besar umat muslim.
Areal Pekuburan Sentosa -dokpri
Seluruh anggota keluarga menyempatkan diri berkumpul, termasuk perantau dari luar kota atau luar negeri.
Sehari sebelumnya acara Puncak, mulai diadakan pembersihan kuburan. Rumput liar sekitar pemakaman dicabut, nisan dinding berbentuk setengah lingkaran setinggi satu meter-an dicat ulang.
Pria usia tigapuluhan saya hampiri, terlihat sedang mengawasi tukang yang sibuk mengecat. Pak Hadi nama lelaki berwajah bersih, sengaja pulang dari perantauan untuk perayaan Cheng Beng.
"Ini bukti penghormatan, rasa cinta dan sayang pada leluhur. Kami membangun makam sesuai kemampuan, sebenarnya memang tak ada pakemnya.Kalau keluarga yang punya duit, bisa saja membangun makam leluhur secara mewah"Jelas Hadi
Tentu tak hanya Pak Hadi, saya melihat banyak keluarga lain datang dengan rombongan. Prosesi yang dilakukan serupa, yaitu membersihkan makam dan mengecat ulang. Setelah makan terlihat cantik, baru diletakkan sesaji  berupa panganan. Tak  lupa ada tempat dupa dan lilin untuk membakar dupa, sebagai sarana mendoakan arwah leluhurnya. Pada ujung pembersihan pemakaman, diberi uang-uangan kertas plastik warna kuning merah.
Eit's tunggu dulu !
Untuk panganan sesaji dan buah-buahan, keluarga selalu memilih kualitas terbaik. Menurut cerita seorang tukang di makam, biasanya harga tak menjadi soal asalkan berkualitas.
Keluarga sedang membersihkan makan -dokpri
Pekuburan Cina Sentosa
Pekuburan Cina Sentosa atau atau Tjung Hoa Kung Mu Yen, dibangun pada tahun 1953. Memiliki luas sekitar lebih dari 19 ha, sampai saat kunjungan saya terdapat sekitar 12.950 makam.
Meski areal pemakaman, jangan bayangkan suasana angker dan seram ya. Kuburan sentosa jauh dari image tersebut, karena tertata rapi dan rutin dibersihkan. Jalanan sudah beraspal halus, kendaraan bisa masuk pekuburan tanpa parkir terlalu jauh.
Makam tertua adalah makam keluarga Boen, pernah dipugar pada tahun ke empat pemerintahan Sun Yat Sen sekitar tahun 1915. Makam dibangun dalam bentuk dan arsitektur unik, dihiasi dengan tulisan aksara Cina. Pemilihan tulisan, secara tidak langsung menunjukkan strata sosial yang dikebumikan.
Lokasi Pekuburan Sentosa berada di perbukitan, wujud penghargaan dan penghormatan orang Cina terhadap leluhurnya. Pekuburan Sentosa sumbangan marga Boen, bisa dilihat dari tugu pendiri dibangun pada 1935. Pekuburan ini didirikan oleh empat orang, Yap Fo Sun tahun 1972, Chin A Heuw tahun 1950, Yap Ten Thiam tahun 1944 dan Lim Sui  Chian (wafat pada masa penjajahan Jepang).
Pekuburan Sentosa di Pangkalpinang -dokpri
Komplek pemakaman ini terbesar se Asia Tenggara, memiliki arsitektur berbeda di setiap makam. Ada makam yang dibangun dengan batu granit, konon pembangunannya menghabiskan dana ratusan juta. Bahan bangunan berkualitas tinggi sebagai komponen,  batu marmer yang terpasang didatangkan khusus dari Itali.
Ada Tapinya !
Tak hanya keturunan Thionghwa boleh dimakamkan disini, buktinya saya menemui kuburan Katholik. Selain itu terdapat dua makam muslim, berada diantara ribuan makam yang ada. Hal ini menggambarkan, toleransi beragama masyarakat sedang berlangsung.
Tampak nisan salib diPekuburan Sentosa -dokpri
Puncak Cheng Beng - Senin 4 April 2016
Pagi belum begitu sempurna, jetlag akibat perbedaan waktu Jakarta- Pangkalpinang belum juga lenyap. Langit pangkalpinang masihlah gelap, jarum pendek jam menunjuk angka 01.30 dini hari.
"Yuk kita berkemas" ajak seorang teman blogger
Dengan mata setengah terpejam, saya memaksakan diri mandi air hangat. Shower di kamar mandi penginapan cukup manjur, mengurangi rasa pegal dan penat di badan. Peralatan "tempur" berupa Kamera, Tripod, Action Cam, Recording dan segala macam sudah disiapkan.
Mobil yang mengantar kami sudah siap, driver tak kalah sigap ikut menginap di tempat yang sama. Sesuai jadwal di rundown, acara dimulai pukul 03.00 waktu setempat. Untung dari tempat menginap menuju Pekuburan, hanya perlu 20 menit waktu tempuh.
Mengingat ini pengalaman perdana, kami datang lebih cepat mengantisipasi parkiran penuh. Satu hal lagi, kami tak ingin kehilangan moment puncak Cheng Beng.
Saat roda empat tiba di gerbang tempat tujuan, suasana masih gelap dan lengang. Mobil pengantar leluasa masuk, melintasi jalanan yang membelah areal pemakaman. Meski di luar masih sepi, ternyata di pusat perayaan mulai ada kesibukan. Paithin, adalah central perayaan Cheng Beng setiap tahun.
Lokasi perayaan Cheng Beng -dokpri
Paithin atau tempat sembahyang, tempat mengirim doa bagi leluhur yang yakin makamnya ada di Pekuburan Sentosa namun tidak menemukan fisiknya.
Saya menyaksikan aneka persembahan tertata rapi, berada di areal Paithin. Sesajian buah-buahan (Sam Kuo), dibentuk menyerupai gunungan. Satu macam buah dibentuk  satu gunungan, ada buah jeruk, apel, pear dan nanas.  Selain itu ada juga bentuk gunungan dari panganan, seperti kue bolu kukus, apem, kue ketan (wajik), bika ambon, kue cucur dan macam kue lainnya.
Ada juga lho dua binantang, yaitu Kambing dan Babi siap panggang. Kedua binatang ini disembelih, dibersihkan bulunya dan ditusuk dengan kayu.
Satu sudut di pelataran Paithin, menjadi tempat berdoa umat khonghucu yang datang. Membawa beberapa dupa dengan ujung dibakar, pangkal dupa digenggam dan diletakkan di dekat jidat. Sekitar 5 menit berdoa di satu titik, kemudian meletakkan satu dupa dan berpindah ke titik berikutnya. Saya tak begitu heran, kalau aroma dupa terasa memenuhi udara.
Cheng Beng sendiri artinya bersih/ terang, terbersit harap arwah leluhur ada di tempat terang. Bisa jadi prosesi meletakkan satu batang dupa, simbol agar terang itu sampai alam baqa.
Panggung berdiri di sisi kanan pelataran, diisi dengan hiburan musik Tanjidor. Alat musik tradisional ini, kerap saya lihat pada acara kesenian Betawi. Bapak- bapak usia lima puluhan ke atas, sebagai pemain musik khas ini. Pengunjung ada yang naik panggung, menyanyi lagu berbahasa Mandarin. Terus terang saya masih asing judul lagunya, tapi mendengar nada dan lirik lumayan sedikit familiar. Lagu Mandarin memang mendominasi, namun ada beberapa lagu lama diperdengarkan seperti "Kolam Susu" milik Koes plus.
Pelepasan Lampion saat Cheng Beng -dokpri

Aneka Sesajian di siapkan di Paithin -dokpri
Langit Pekuburan Sentosa masih gelap, meski tak selegam sebelumnya. Sekitar pukul 04.00 waktu setempat, dilakukan pelepasan lampion. Lampion disediakan oleh panitia,  siapapun dipersilakan menerbangkan ke udara.
Caranya cukup mudah, satu teman memegang plastik bagian atas. Satu orang lainnya membakar gabus, pastikan mengeluarkan asap agar lampion bisa terbang. Bagi orang Thionghwa, pelepasan lampion tidak sekedar pelepasan saja. Tapi saat lampion hendak terbang, ada doa dan harapan dipanjatkan.
Di ufuk sang surya merekah, 
Bapak Muhammad Irwansyah, Walikota Pangkalpinang tampak datang, disusul Bapak Rustam Efendi Gubernur Bangka Belitung. Dua petinggi duduk sebentar, kemudian berkeliling di sekitar Pekuburan Sentosa. Tak lupa menyapa keluarga yang usai sembahyang, sembari berbincang sebentar. Moment berharga bagi keluarga leluhur, dimanfaatkan untuk berfoto bersama dengan Walikota dan Gubernur.
Walikota Pangkalpinang Muhammad Irwansyah beserta Gubernur Bangka Belitung Rustam Efendi, menghampiri keluarga yang selesai berdoa di makam leluhurnya -dokpri
Sesaat dikerumuni juru warta, secara khusus Pak Gubernur memberi pernyataan pers.
"Besar harapan tradisi tahunan Cheng Beng, bisa menjadi magnet wisata di Pangkalpinang. Seperti tradisi Cap Go Meh,  yang sudah melekat di daerah Kalimantan" Jelas Pak Gubernur.
Saya pribadi merasakan, tradisi Cheng Beng memiliki keunikan yang mengagumkan. Selain sekedar adat istiadat, sebagai cara mengeratkan tali kekerabatan. Tradisi mudik yang terjadi saat Cheng Beng, berpadu dengan daya tarik wisata religi. Ketika keduanya menyatu, maka jumlah orang yang ada di Pangkalpinang saat Cheng Beng meningkat. Akibatnya percepatan perputaran roda ekonomi terjadi, masyarakat sekitar juga yang merasakan dampak positifnya.


Semoga ada kesempatan lagi ke Pangkalpinang, ingin menikmati panorama dan lokasi wisata lainnya. -salam-


Jumat, 08 April 2016

Wisata Religi Padepokan Puri Tri Agung


Perjalanan kelas Blogger di kota Pangkalpinang, hari kedua sempat mengunjungu Puri Tri Agung. Kami menempuh jalan darat selama satu jam lebih dari penginapan, untuk sampai di daerah Sungai Liat Bangka. Namun keseruan sepanjang perjalanan, membuat rasa bosan serta merta menyingkir.

 
Posisi Padepokan Puri Tri Agung sangat mempesona, dari pelataran bisa menyaksikan pemandangan Pantai Lepas. Panorama Pantai Tikus dengan ombak yang tenang, membuat pikiran semakin jernih (dokumentasi pribadi)
Mobil yang mengantar kami mulai menanjak, memasuki areal perbukitan. Tampak bangunan megah berbentuk Pagoda, terdiri tiga tingkat cerminan keyakinan atau Tri Dharma. Dari pelataran Padepokan, tampak lautan lepas dengan airnya yang biru.  
Saya sangat setuju, kalau Pemda menjadikan kawasan Puri Tri Agung sebagai kawasan wisata Religi layaknya masjid wali songo di Jawa.

Padepokan Puri Tri Agung berlatar bukit menghijau, memandangnya membuat perasaan tentram (dokumentasi pribadi)

Padepokan Puri tri Agung, berlokasi di kawasan pantai Tikus sungai liat kabupaten Bangka. Berada di atas lahan seluas 2,3 Ha, pada 2015 menjadi finalisasi pembangunan. Pada tahun yang sama pula, kawan sembahyang Agama Budha ini diresmikan mentri Agama Lukman Hakim Saifudin. 

Tempat sembahyang dengan patung Dewi Kwan Im, berada di sebelah kiri pelataran Padepokan. Umat Budha tampak khusyu sembahyang di area ini (dokumentasi pribadi)
Seorang ibu sedag sembahyang, di pelataran padepokan Puri Tri Agung. Sang ibu menghadap patung Dewi Kwan Im -gambar atas- (dokumentasi pribadi)


Pada beberapa sudut tempat sembahyang, tampak umat Budha khusyu memanjatkan doa. Diawali dengan membakar lidi merah, mengekuarkan asap dupa. Selain itu tampak buah sebagai sesaji, persembahan dari pendoa
Padepokan Puri Tri Agung tampak dari depan,




Patung kepala Naga , akan pengunjung jumpai di bagian teras Padepokan. (dokumentasi pribadi)
Bagian dalam Padepokan Puri Tri Agung yang megah dan indah (dokumentasi pribadi)
Tiga patung besar, berada di ruang utama Padepokan. Yaitu ; Kang Zi, Buddha Sakyamuni, Lao Zi. Patung Kang Zi merupakan patung dewa bagi agama konghucu, Buddha Sakyamuni untuk agama budha, dan patung Lao Zi merupakan patung taoisme atau aliran. (dokumentasi pribadi) 
Lonceng Raksasa berada di ruang utama, padepokan Puri Tri Agung (dokumentasi Pribadi)
Lokasi Padepokan ini sekitar 9 kilometer dari pusat kota, menjadi pilihan menarik bagi wisatawan. Pemda cukup sigap, dengan infrastruktur memadai berupa jalanan beraspal. 
karena belum ada transportasi publik menuju lokasi ini, sebaiknya pengunjung menyewa atau membawa kendaraan sendiri. (salam)

Daftar Blog Saya