Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Agustus 2017

Yuk Ikutan Lomba Foto Astra & Anugerah Pewarta Astra 2017 Berhadiah 4 Mobil


Banner lomba, sumber asta.co.id


Bagi penyuka Fotografi dan tulis menulis, jangan lewatkan kesempatan emas ini. Pada pekan terakhir agustus (23/8’17), bertempat di Candi Bentar Convention Hall, Putri Duyung Ancol, PT. Astra International Tbk, meluncurkan Lomba Foto Astra (LFA) dan Anugerah Pewarta Astra (APA) 2017.
Program tahunan ini, digelar Astra dalam upaya apresiasi karya foto dan tulisan jurnalis serta masyarakat umum.
Program LFA 2017 dan APA 2017, masih berkaitan dengan perayaan HUT ke-60 Astra. Tema yang diangkat ‘Perjalanan Penuh Inspirasi’ , menitikberatkan pada perjalanan 60 tahun Astra dalam menginspirasi negeri.
Lomba Foto Astra 2017
Lomba Foto Astra (LFA) tahun ini memasuki tahun ke-8, adalah program dalam upaya mengapresiasi hasil karya foto, baik dari kalangan pewarta foto maupun masyarakat umum.
Melalui tema Perjalanan Penuh Inspirasi, Astra mengajak masyarakat umum dan pewarta foto untuk mengabadikan momen traveling menikmati keindahan Indonesia. Foto yang diikutsertakan dalam lomba ini diharapkan dapat memberi inspirasi bagi seluruh mata yang memandang.
Anugerah Pewarta Astra 2017
Anugerah Pewarta Astra (APA) masuk tahun ke-3, adalah bentuk apresiasi yang diberikan kepada jurnalis maupun masyarakat umum atas karya tulis tentang kontribusi sosial Astra bagi bangsa.
Melalui tema Perjalanan Penuh Inspirasi, Astra ingin mengajak para penulis Indonesia menuliskan mengenai inspirasi perjalanan 60 tahun Astra yang dilandasi oleh filosofi Catur Dharma, dimana Astra telah menginspirasi Indonesia melalui produk dan layanan karya anak bangsa, sumber daya manusia yang unggul serta kontribusi sosial yang berkelanjutan bagi bangsa dan negara (3P Astra - Portfolio, People, Public Contribution).
Apa Hadiah Menariknya ?
Masing-masing juara pertama LFA & APA 2017 kategori wartawan dan umum berhak membawa pulang 4 buah Astra Daihatsu Ayla Type M AT.
Berikut total hadiah LFA dan APA 2017:
Juara I: 4 Astra Daihatsu Ayla Type M AT
Juara II: 4 All New CBR 150R
Juara III: 4 Fujifilm XA10
Juara Harapan: 8 Samsung Gear 360 2017
Juara Favorit: 40 Xiaomi Redmi 4X
Kapan Pendaftaran ?
Mulai 23 Agustus 2017 sampai 31 Desember 2017. Informasi lebih detil, silakan mengunjungi www.satu-indonesia.com

Selasa, 06 September 2016

Aa' RT Emang Keren

Semarak umbul-umbul dan bendera merah putih, tersebar diberbagai sudut komplek perumahan. Kaum muda hilir mudik, bahkan dari minggu pertama bulan agustus. Anak usia belasan mendatangi setiap rumah, mendata anak-anak untuk aneka lomba.
Persiapan Lomba Sepeda Hias -dokpri-
Sesuai kategori umur tersedia pilihan, ada lomba makan kerupuk, balap karung, membawa kelereng di sendok, tarik tambang, main bola, joget balon dan masih banyak lomba lainnya.
"Sepertinya, acara tujuhbelasan tahun ini bakal meriah" celetuk seorang bapak penghuni perumahan.
Saya pribadi mengamini dan merasakan sendiri, suasana tahun ini terasa beda dibanding sebelumnya. Ajakan bersih taman dan pasang bendera, diberitahukan melalui selebaran.
Anak saya sibuk menghias sepeda, turut memeriahkan pawai sepeda hias. Lomba yang akan digelar pasca upacara bendera, ternyata banyak menarik minat peserta. Tak kurang dari tigapuluh pendaftar sudah tertulis, memperebutkan hadiah berupa peralatan tulis.
Ada lagi lomba diikuti gadis mungil saya, yaitu lomba joget balon dan estafet karet. Dua lomba ini berpasangan, membutuhkan kekompakkan dalam satu team. Dua jenis lomba ini tak kalah menarik, ternyata peminatnya juga cukup banyak.
Mungkin hadiahnya biasa-biasa saja, tapi upaya menghidupkan suasana kemerdekaan patut diacungi jempol.
Tapi kalau mau dirunut, tak hanya hendak perayaan hari kemerdekaan saja. Saat menjelang puasa tahun ini, juga diadakan kegiatan pawai obor. Anak-anak TK sampai SMA berbaris, mengelilingi komplek mengumandangkan takbir. Menyusul pasca mudik lebaran, diselenggarakan acara halal bihalal bertempat di taman Blok E.
Acara Pawai Obor Menjelang Ramadhan -dokpri-
Yup, semua suasana ini benar terasa berbeda !
Setelah tujuh tahun berjalan, keluarga kecil saya tinggal di perumahan daerah Ciputat. Semarak bergotong royong  kini terasa hidup, kami guyub dan saling membutuhkan. Setelah saya coba telisik, tokoh kunci penggerak itu adalah sosok ketua RT.
Aa' RT, begitu sang pemilik jabatan menyematkan panggilannya
Kami pada awalnya, kerap keliru memanggil dengan sebutan Pak RT. Namun Pak Rommy selalu meralat, "Hadeuuh, ini Aa' bukan Bapak" tukasnya di group WA.
Melihat  dari perawakan, usianya empat atau lima tahun di atas saya. Namun pembawaan kocak dan suka melucu, membuat wajahnya lebih awet muda. Aa' RT ikut di semua group WA warga, mulai WA khusus bapak, ibu dan pemuda.
Aa' RT adalah ketua RT ketiga, sejak pertama kali menjadi saya warga di perumahan lama ini. Konon orang tua Aa' RT asli warga komplek, namun Aa' RT ikut orang tua sempat pindah ke kota lain. Sementara rumah lama ditempati sang kakak, sampai beranak pinak. Entahlah bagaimana ceritanya, kini Aa' RT kembali  ke rumah asal kelahiran.
Warga semakin guyub dan rukun (aa RT berdiri baju biru) -dokpri
Awalnya saya sempat heran, melihat Aa' RT sudah banyak kenal warga. Meski baru beberapa bulan, kembali menetap di Perumahan ini. Berbicang dengan warga usia sebaya, dengan sebutan "Lo" "Gue". Pun denggan para sesepuh, tak ada kesan sungkan dan kaku. Namun setelah mengetahui riwayatnya, barulah rasa heran saya menguap pergi.
Melihat, mendengar dan merasakan suasana jelang perayaan kemerdekaan, mendadak saya berkilas balik awal kedatangan.
-0o0-
Alhamdulillah, tahun 2009 keluarga kecil kami menempati rumah sendiri. Rumah dengan bangunan lama, dari penampakkan sangat perlu direnovasi sana- sini. Pagar dengan  cat hitam sudah mengelupas,  empat rodanya macet perlu tenaga eksta mendorongnya. Warna tembok sudah kusam, beberapa bagian ada bekas tanah belum dibersihkan. Keramik model lama terkesan murahan, beberapa sudah lepas dari tempatnya.
Apapun keadaannya, sungguh kami syukuri dari hati terdalam. Perjalanan biduk rumah tangga telah terlampaui, kami suami istri mewujudkan mimpi sampai sejauh ini.  Setelah menjelang 4 tahun mengontrak, di sebuah rumah tak jauh dari perumahan yang sekarang.
Perjuangan ekstra keras kami jalani, menabung sedikit demi sedikit berhemat dalam belanja. Setiap mendapat rejeki, selalu menyisihkan separuh lebih untuk rumah idaman. Baru sisanya digunakan kebutuhan lain, menunjang kegiatan sehari-hari.
Awal pembelian rumah -dokpri
Setelah tabungan mulai banyak, barulah berani mencari rumah ke mana-mana. Hingga dipertemukan dengan seorang nenek, melalui perantara teman pengajian ibu mertua. Pada usia senja di atas 70 tahun, si nenek ingin hidup bersama di rumah anak sulungnya.
Setelah prosesi jual beli selesai, pemilik lama segera angkat kaki.  Saat itu saya ikut melepas, kepergian nenek bersama anak bungsu sudah berumur tapi belum menikah.
Medio tahun 2009
Sebagai warga baru, saya melapor kehadiran beserta keluarga kecil kami. Bapak RT sudah seusia ibu saya, memanggil kami suami istri dengan sebutan dek.
Tetangga depan rumah, adalah keluarga muda seperti kami. Pada awal pindah, kepala rumah depan rumah adalah pekerja kantoran. Biasanya jam 08 pagi berangkat kerja sembari saling bersapa, pulangnya bisa di atas jam 21 bahkan lebih. Pernah saya mendengar, pagar besi tetangga dibuka menjelang adzan subuh (saat ini sudah resign berwirausaha).
Sementara tetangga sebelah kiri rumah, adalah pasangan kakek nenek dengan anak bungsu yang belum menikah. Menilik usia sang anak, sudah melewati tigapuluh tahun. Rumah yang ada disebelah kanan kosong, konon penghuninya punya rumah di daerah lain.
Dua tahun menjadi warga perumahan, seingat saya tak pernah ada kerjabakti. Saya berurusan dengan Pak RT, kalau hendak mengurus KTP atau SKCP (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Selebihnya membayar iuran bulanan, itupun melalui bendahara RT atau petugas keliling.
Beberapa warga lama yang lebih tua, kadang kurang ramah meski sudah kami sapa baik-baik. Pun saat acara hajatan, kerap kali kami (mungkin) terlewat untuk diundang.
Tiba-tiba pada 2011 ada pergantian ketua RT, saya tidak merasa ikut dalam pemilihan. Ketua RT berganti nama baru, setahu saya pengurus dipertahankan. Menurut yang saya rasakan, tak terlalu berbeda dengan kepengurusan sebelumnya.
Awal 2016
Pemilihan ketua RT baru dimulai, dengan sistem yang lebih kekinian dan mengakomodir suara warga. Setiap rumah diberi kertas pemilihan, memilih satu dari lima nama nominator. Satpam menyerahkan kertas pilihan, memberi waktu sehari untuk menentukan jagoannya.
"Pilih Pak Rommy saja" celetuk istri dan saya sepakati
Keesokkannya kembali Satpam mengetok pintu, mengambil kertas yang sehari sebelumnya diserahkan. Penghitungan suara dilakukan, sampai muncul satu nama terpilih adalah Pak Rommy. Sebagai warga saya tentu senang, proses pemilihan RT berjalan demokratis.
Awal Feb'2016
Tiba-tiba saya masuk group WA, membernya adalah tetangga satu blok. Tak lama Istri mengabari hal yang sama, masuk group WA dengan member ibu-ibu.
"Wah, group ini pasti menyatukan warga" ujar saya
Dari group WA inilah, Pengurus RT sering berkomunikasi dengan warga. Menyosialisasikan program atau kegiatan RT, sekaligus minta dukungan dari warga. Meski tak beda dengan group WA lainnya, kadang chatting candaan atau intermezo sering berlangsung.
Warga perumahan yang sepuh, mulai tak canggung bergaul dengan anak muda. Pun kami golongan muda, tetap menghormati penghuni lama yang sudah menjadi kakek dan nenek.
Agustus 2016
-Lomba Sepeda Hias akan dimulai, Kepada Pak RW dimohon melepas Pawai Sepeda Hias- suara remaja terdengar keras di lokasi taman.
Pak RW mengambil posisi, tiang bendera pelepasan bergerak ke atas tanda pawai dimulai
Anak saya (5 tahun) siap di atas sepeda, rumbai kerta warna merah putih mendominasi roda duanya. Hiasan yang dipasang di sepeda, selaras dengan baju dan celana yang dikenakan. Dua roda berputar stabil, menjaga jarak agar tak menabrak sepeda di depannya.
Lomba sepeda hias perayaan tujuhbelas agustus -dokpri

kemeriahan acara tujuhbelas agustus -dokpri

Aa'RT paling giat, menyemangati anak-anak yang mengayuh sepeda. Dua tangannya bertepuk, sembari mengucap kata "Ayo-Ayo-Ayo" pada anak yang lewat di depannya.
Pawai ini mengelilingi beberapa blok di perumahan, yang dirasa tak membuat anak-anak terlalu capek. Sementara para ibu mengikuti di samping sepeda anaknya, tak mau lepas barang sebentar. Alhasil yang ramai justru ibunya, dibanding anak yang menjadi peserta lomba.
Penilaian tak hanya yang paling cepat sampai, tapi juga dinilai dari hiasan dan busana yang dipakai. Setelah beberapa saat berlalu, sepeda terdepan kembali memasuki taman disusul sepeda berikutnya.
Anak saya ada ditengah-tengah, tak lagi sejajar dengan teman yang sama saat berangkat. Setelah istirahat dan minum air mineral, terdengar nama pemenang pawai sepeda hias. Nama anak saya tidak disebutkan, pada wajah polos ini ada semburat rasa kecewa.
"sudah ga apa-apa, ini cuma lomba" saya merengkuh mengusap pedih di hatinya.
Senangnya dapat hadiah -dokpri
Beruntung pada lomba joget balon, gadis kecil saya menang juara satu. Selain itu juga menang juara tiga, untuk lomba estafet karet. Sehingga impas sudah rasa kecewa, atas kekalahan di pawai sepeda terganti.
Kami warga bergembira bersama, merasakan kekompakan yang coba dihidupkan. Keseruan perayaan tujuhbelasan, kini hadir di perumahan yang dulu sepi kegiatan. Suka ria dan canda tawa kami para warga, semakin mendekatkan sekaligus sebagai ajang berbaur.

Hati ini bergumam "Aa' RT Memang Keren

Daftar Blog Saya