Tampilkan postingan dengan label komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunitas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Serunya Kopdar Fruitaholic dan Kunjungan ke Gudang Buah Sunpride



Kopdar Fruitaholic - dok WAG Fruitaholic

“Fruitaholic, tanggal 27 Januari Kopdar Fruitaholic ya”
Mbak Sherly (admin group) di WAG Fruitaholic, mengirim pesan siang itu. Sontak, kami sambut dengan suka cita.
Mengingat, kami –anggota group Fruitaholic--kopdar terakhir setahun lalu –February 2017--.

“Jangan lupa bawa tas yang gede.”
“Jangan tas, karung aja kali.”kelakar bersahutan.

Sudah menjadi kelaziman, setiap acara Kopdar Fruitaholic. Pada saat pulang, setiap anggota membawa (banyak) buah-buahan.
Apalagi, kopdar tahun 2018 diadakan di gudang Sunpride. Catat ya, di gudang buah Sunpride lho. Namanya gudang buah, pasti menyimpan banyak sekali buah.

Tiga titik kumpul ditetapkan, untuk menjemput fruitaholic yang tersebar di Jabodetabek. Atas kesepakatan bersama, dipilih beberapa stasiun Commuter line sebagai meeting point.
Saya memilih stasiun Rawa Buntu, tergabung dengan Fruitaholic dari Tangsel.

Minggu, 24 Juli 2016

Nusantara Sehat Upaya Pemerataan Hak Kesehatan

Diskusi Terbuka Team NS bersama Mentri Kesehatan (dokpri)
Pada bulan april 2016 saya beruntung, berkesempatan mengunjungi team Nusantara Sehat (NS) di Batam. Bukan Batam kotanya lho, tapi di pulau Penawar Rindu, Belakang Padang Batam. Kami harus menyebarangi selat, dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.
Menjumpai team NS kali pertama, saya melihat wajah muda optimis. Mereka adalah anak-anak muda, rela berbakti pada negri di daerah perbatasan dengan negara Singapore. Meski berada di daerah yang sangat butuh penyesuaian, tak tampak raut muka menyerah
Coba saja bayangkan, air bersih sebagai kebutuhan utama sangat sulit didapatkan. Saat saya buang air kecil, air yang dipakai membersihkan diri adalah air payau karena dekat laut. Masyarakat tak segan menggunakan air tadah hujan untuk masak, padahal rentan dipenuhi jentik pada bak penampungnya.
Saya yang hanya setengah hari di daerah tersebut, merasakan betapa susahnya hidup bersih dan sehat. Bagaimana dengan adik-adik team NS, mereka harus bertahan sampai dua tahun lamanya.
Team Nusantara Sehat, adalah wujud kehadiran negara, ada di tengah masyarakat yang berada di daerah pelosok, pinggiran dan perbatasan. Sebagai upaya pembangunan nasional, untuk tercapai kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk. Dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat, bukan hal mustahil kesehatan optimal akan dicapai.
Dengan bergabung dalam team NS, mereka akan praktik secara konkret di lapangan. Setiap daerah idealnya terdapat 9 orang dalam team NS, terdiri dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, analis laboratorium, tenaga gizi dan tenaga kefarmasian. Saat saya di Pulau Penawar Rindu, masih terdiri dari lima orang. Artinya program NS, masih banyak membutuhkan tenaga kesehatan. Yuk, tenaga muda kesehatan indonesia bergabung dalam NS.
Ketika saya melihat sendiri team NS di Batam, yang dibutuhkan lebih dari sekedar ilmu kesehatan saja. Selain sekadar skill di bidang kesehatan, mereka butuh jiwa pengabdian dan patriotisme yang tinggi. Terutama bagi anak muda yang biasa hidup di kota besar, butuh nyali yang besar untuk menaklukkan egoisme. Maka dalam pelatihan pra penempatan, adik-adik team NS dibekali materi bela negara.
Kehadiran saya pada acara Diskusi Terbuka bersama NS, mendapat tambahan informasi penting. Seorang dokter di Nusantara Sehat, bisa mendapat insentif Rp 11,2 juta/ bulan.  Mungkin angka ini cukup fantastis, apabila di perbandingkan dengan UMR Jakarta sebesar Rp. 3.100.000.
Eits, tapi jangan panas dulu.
Saya pernah menuliskan kisah team NS di Lowe Hitam Papua, betapa berat menempuh antar desa di daerah hutan (klik SINI). Pernah juga saya menulis team NS di Bove Digul, hidup di daerah minim listrik (klik SINI). Kalau anda membaca kisah yang saya tuturkan ulang, saya yakin angka Rp 11,2 juta/bulan terasa tidak ada apa-apanya. Tak perlu mendangkalkan pikiran, melihat satu permasalahan berhenti pada hitungan angka.
-0o0-
Team Nusantara Sehat di Pulau Penawar Rindu- Belakang Padang Batam (dokpri)

Meski perjuangan luar biasa dilalui, tapi saya yakin team NS akan menjadi pribadi luar biasa pula.
Pasca bergabung menjadi team NS, pasti peluang akan terbuka di banyak tempat. Kalau berminat menjadi PNS tidak masalah, tetapi harus melewati mekanisme yang ditetapkan Kemenkes. Atau kalau mau berkarir (misal) di Rumah Sakit Swasta, tentu bukan hal baru apalagi sudah berpengalaman.
Saya punya pandangan
Team NS dengan bekal pengalaman, pasti banyak pihak membutuhkan dan menerima dengan tangan terbuka. Team NS sudah terbentuk mentalnya, mereka bukan lagi pribadi manja dan banyak menuntut.  Team NS terbukti berjiwa handal, niscaya sanggup dan terbiasa menaklukkan tantangan.
Bagi anda tenaga kesehatan dan calon Team NS, musti memanfaatkan kesempatan luar biasa ini. Usia muda adalah kesempatan emas, karena waktu tidak akan bisa diulang lagi.


Tak perlu bimbang dan ragu, segera cari informasi pendaftaran team NS. (salam)

Kamis, 12 Mei 2016

XL Luncurkan Millennial Apprenticeship Program

Era digital mendorong pelaku bisnis, mampu beradaptasi dengan dinamika kemajuan teknologi yang tiada henti. Hal ini berdampak pada perubahan cara kerja, serta cara pandang dalam mengelola bisnis. Kualitas sumber daya manusia yang memiliki cara pandang, sesuai dengan era serba digital ini akan menjadi tulang punggung.
Acara Peluncuran Program XL "Millenial Apprenticeship Program" (dok gambar XL)
PT XL Axiata Tbk (XL) meluncurkan XL Millennial Apprenticeship Program, guna menjaring lulusan perguruan tinggi yang memiliki potensi besar untuk berkarya di Industri Telekomunikasi dan Digital.
Eka B. Danuwirana, selaku Chief of Corporate Affairs OfficerXL,  mengatakan, “Generasi Millennials adalah generasi yang berada di era digital dan mampu beradaptasi dengan cepat. Mereka membutuhkan lingkungan yang tepat untuk mengembangkan kemampuan mereka dan tumbuh dengan cara berkontribusi sesuai dengan keahlian mereka. XL membutuhkan mereka dalam menghadapi tantangan kedepan, dan melalui program ini kami menawarkan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan karir bersama kami.”

Melalui program Millennials, XL akan menjaring karyawan di masa mendatang. Lulusan program ini menjadi prioritas recruitment karyawan di XL. Jadi, program ini XL selenggarakan untuk tujuan menghadapi pertumbuhan era digital, dengan merekrut para talent yang berasal dari generasi digital juga.
 Akan sangat berat bagi perusahaan layanan digital seperti XL jika tidak memiliki program talent managemen yang berbasis pada generasi digital.
Program Millenials mulai dibuka pada Juli 2016, terbuka bagi anak-anak muda Indonesia yang telah lulus tingkat sarjana (S1). Diprioritaskan bagi lulusan perguruan tinggi berakrditasi A atau universitas swasta berkualitas baik.
Informasi lebih lanjut mengenai syarat dan pendaftaran, bisa ditanyakan melalui XLmillennials@xl.co.id.
Program Millenials akan berlangsung 1 tahun setiap angkatan, XL akan menerima sedikitnya 50 orang untuk setiap angkatan yang akan dibuka 2 kali dalam setahun. Mereka yang diterima mengikuti program ini, akan mendapatkan kesempatan untuk magang bekerja di XL . Selain itu juga mendapatkan materi program belajar, mengenai leadership skill, generic skill, kemampuan presentation dan komunikasi, serta functional skill melalui leader dan unit di mana dia ditempatkan. Tak ketinggalan, mereka juga akan mendapatkan coaching dari atasannya.
XL membutuhkan karyawan yang memiliki kompetensi tinggi di bidangnya, kemampuan leadership, memiliki daya inovasi dan cakap dalam pekerjaannya.
Untuk bisa direkrut sebagai karyawan, peserta minimal harus sudah selama 6 bulan mengikuti program ini. Mendapatkan referensi dari atasan tempat dimana dia ditempatkan, dan mendapatkan rapot kinerja yang bagus dari HCD (Human Capital Development)XL.
Saat ini XL telah memiliki program XL Future Leader, menjadi basis bagi penyelenggaraan program Millenials. Yaitu program pengembangan anak-anak muda berprestasi, yang dikelola XL berkerjasama dengan KSE.
Program yang dikenal dengan nama Scholarship Camp, ditujukan untuk mahasiswa tahun terakhir selama 12 bulan dengan pembekalan dana pendidikan yang diberikan setiap bulan dan pengembangan soft skill dengan pertemuan selama 3 kali camp dalam 12 bulan.
XL juga memiliki program XL Future Leaders, Program berbasis kurikulum Global Thinking. Lulusan dari program ini telah terbukti mampu memulasi karir dengan baik, berbekal pengetahuan dan keahlian yang didapatkan melalui yang program XL Future Leaders. 
Acara Peluncuran Millenial Apprenticesghip Program (do gambar. XL) 
Kini XL memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti Program Millenials untuk selanjutnya meniti karir bersama XL.
Menyesuaikan diri di era layanan Data, dari total karyawan XL sekitar 18% adalah anak-anak muda generasi digital yang berusia kurang dari 30 tahun. Mereka sebagian besar merupakan karyawan yang memiliki cara pandang yang sesuai dengan era digital.

Yuk persiapkan diri , bergabung bersama XL Millennial Apprenticeship Program!!

Kamis, 05 Mei 2016

Indonesia Adalah Rumah Saya [Catatan Team Nusantara Sehat]


Pijar Liendar R, sedang melayani masyarakat Pulau Penawar Rindu Belakang Padang Batam (dok foto. Pijar)
Memilih dan menempuh jalan pengabdian, adalah keputusan yang tidak bisa ditawar. Bagi saya menggapai kesempatan membaktikan diri bagi pertiwi, adalah jalan untuk hidup dalam kemanfaatan. - Khairunnas Anfauhum Linnas - "sebaik-baik manusia adalah yang banyak manfaatnya", kalimat inilah yang selalu saya hunjamkan dalam kalbu ini.
Hingga suatu hari mendengar program Kemenkes "Nusantara Sehat" (NS), sebagai jawaban atas doa yang selama ini saya hembuskan dalam setiap sujud.
Saya Pijar Liendar Ramadhana, Amd KL, pemuda  23 tahun asal Rejang Lebong Bengkulu. Pijar artinya bersinar/berpijar, mungkin orang tua menyimpan harap anaknya kelak bisa menyinari sekelilingnya.  Saya yakini pemberian nama adalah doa,  semoga saya bisa mewujudkan harapan orang tua (amin).
Saat ini saya menjadi bagian Team Nusantara Sehat, untuk penempatan di Pulau Penawar Rindu- Kecamatan Belakang Padang  Kota Batam.
Darah muda ini sontak menggelegak, ketika mendengar program keren dari Kemenkes "Nusantara Sehat: (NS). Kebetulan sudah ada satu teman menjadi Team NS 1, kerap berbagi kisah perjuangannya di tanah pengabdian.
Terus terang ketika mendengar cerita penuh tantangan, hati ini melihat sebagai sesuatu yang  Amazing.  Saya sudah terbiasa melatih diri, agar tak menjadi pribadi manja dan penuntut. Kehadiran program NS adalah sarana penggemblengan, untuk mengokohkan kemandirian dan  jiwa patriotisme di dada.
Sebagai generasi penerus saya merasa terpanggil, begitu mendengar saudara sebangsa sangat membutuhkan bantuan bidang kesehatan.
Maka ketika pendaftaran Team NS 2 dibuka, tanpa pikir panjang langsung mendaftar. Memilih bidang pengabdian sesuai disiplin ilmu, sebagai lulusan D III Kesehatan Lingkungan Polteknas Kemenkes Bengkulu. Saya sudah siap sepenuhnya, ditempatkan di pelosok manapun karena esensinya sama yaitu memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.
Ibarat pepatah "di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung", saya bertekad mempersembahkan yang terbaik yang saya bisa. Selagi masih di Tanah Air Indonesia, artinya saya masih berada di rumah sendiri. Indonesia adalah Rumah saya,  meski di pelosok manapun tak ada masalah.
Oo0oO
Mendatangi adik-adik SD, untuk penyuluhan hidup sehat (dok foto. Pijar L)
Kini setelah  merasakan terjun ke lapangan, tantangan cukup berat adalah mengubah perilaku masyarakah ke arah yang lebih baik. Terutama masalah PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat), yang menjadi pangkal dari perilaku keseharian. Bagaimanapun kesehatan adalah modal utama, agar bisa beraktivitas dan bekerja lebih giat.
Pulau Penawar Rindu berada di pinggir negara tetangga Singapore, artinya posisinya berhimpit dengan lautan. Kebanyakan penduduk bermata pencaharian nelayan, sebagai cara menyambung hidup. Selain itu banyak rumah panggung berdiri, dibangun layaknya tempat tinggal terapung di pinggir laut. Kebanyakan warga tidak sadar memiliki kamar kecil (WC), sehingga cukup membuat bilik dan membuang kotoran besar langsung nyemplung ke laut (jangan dibayangkan ya).
Belum lagi ketersediaan air bersih menjadi masalah utama, di daerah ini adanya air payau. Karena tak tentu musim, warga  memanfaatkan air tadah hujan untuk memenuhi kebutuhan.  Tapi masalahnya warga belum tahu caranya, kerap menampung air hujan di bak atau drum (tong) tanpa ditutup dan dibersihkan dulu. 
Membersihkan Toren (tempat penampungan air) agar tidak berkembang jentik nyamuk (dok foto- Pijar L)
Bisa dipastikan dalam beberapa hari kemudian terjadi, jentik nyamuk muncul berada di dasar tempat penampungan. Nyamuk inilah yang dikenal aydes agypty, penyebab penyakit demam berdarah yang masih menjadi perhatian di wilayah ini. demi penyadaran kami berjalan kaki dari rumah ke rumah, kadang sampai 2-3 kali di rumah yang sama karena orangnya tidak ada.
Secara umum warga bersikap ramah, ini menjadi alasan kami betah di sini. Semakin membangkitkan semangat, untuk memberikan sesuatu yang terbaik selama bertugas.
Pijar Liendar Ramdhana - dua dari kanan- (dok foto- Pijar)
Program pertama yang kami jalankan, adalah survey cepat kesehatan. Tujuannya adalah mengetahui permasalahan dan status kesehatan masyarakat, sebagai acuan menentukan tindakan dan melakukan intervensi. Kini setelah beberapa bulan berlalu, saya semakin terpanggil berusaha membuat perubahan khususnya masalah kesehatan lingkungan. Sungguh saya ingin mempraktekkan yang saya pelajari dibangku kuliah, kalau tidak tentu akan sia-sia ilmu yang ada.
Nama Saya Pijar artinya sinar, semoga langkah kecil yang tengah saua ambil memberi penerang bagi sesama. Saya siap mempersembahkan dharma bakti di manapun di pelosok bumi pertiwi, karena Indonesia adalah rumah saya. (salam)

Selasa, 03 Mei 2016

Bahagia itu Sederhana, Sesederhana Pelukan Hangat Mama-Mama Ketika Melihat Kami Datang [Catatan Nusantara Sehat]

Nesya Ardella Simamora , Team Nusantara Sehat yang ditempatkan di Daerah Perbatasan Papua (dok.foto dari FB Nesya)
Fungsi blogger sebagai penggiat medsos coba saya terapkan, ketika bergabung dengan rombongan Kemenkes ke Batam. Setiap moment berusaha saya sebarkan, baik lewat tulisan atau gambar dipost via akun FB, twitter dan Instagram.  Baik ketika hendak berangkat dari Jakarta, saat berada di pesawat sebelum take off sampai mendarat di tujuan.
Terlebih ketika berada di tujuan utama, di Pulau Penawar Rindu, Belakang padang Batam, aktivitas medos berlangsung kerkesinambungan. Justru saat kami di tempat team NS, adalah inti dari kedatangan Team Kemenkes, Jurnalist dan Blogger ke Batam.
Setelah post berulang via medsos, sampai di Jakarta segera menuangkan kisah di Blog. Kembali artikel dishare di medsos lagi, dibumbui pengantar yang menarik minat calon pembaca. Satu artikel berjudul "Anak Muda Keren itu Adalah Team.Nusantara Sehat", melejit enam ratus lebih pembaca meski baru sekitar tiga hari tayang.
Sungguh efeknya luar biasa, beberapa dimention dan diretweet oleh team Nusantara Sehat di daerah lain. Akun twitter "Otongsipetualang" membalas kicauan saya, berharap dikunjungi di Puskesmas Enggano. Ketika saya check daftar add friend, beberapa nama baru muncul setelah melihat mutual friend segera diapprove.
Pertemanan melalui dunia maya, membuka jalinan komunikasi terutama tentang Nusantara Sehat (NS). Baik team NS yang sudah kami kunjungi di Batam, atau teman-teman baru NS di daerah lain. Kami berinteraksi dan berbagi kisah, melalui email, chatting dan WA.
00o00
Adalah Nesya Ardella Simamora, gadis berhijab kelahiran Binjai 23 tahun lalu. Cukup aktif di medsos, mengabarkan banyak hal sekaligus kegiatan team NS di daerah perbatasan Indonesia dengan Papua New Guinea. Lokasi ini termasuk kategori sangat terpencil, Distrik Kombut Kab. Boven Digoel, Papua berbatasan dengan negara tetangga.
Saya mencoba chatt via inbox berbalas tanggapan baik, untuk membagi kisah sebagai bagian dari team Nusantara Sehat.
(Begini Kisahnya - *sinetronmodeon- hehehe)
Pendamping  dari Kementrian, provinsi dan Kabupaten, baru saja beranjak meninggalkan kami Team NS di tempat ini. suasana yang tadinya semarak, berubah tenang namun saya seperti di ambang hampa. Saya terus berusaha memantapkan hati dan meyakinkan diri, bahwa di sini sepenuh jiwa saya harus berada. Menjadi tekad menemani saudara  sebangsa yang membutuhkan, mengesampingkan kesenangan diri sendiri.
Rumah di Distrik Kombut Kab.Boven Digoel, Papua (dok foto FB Nesya)
Kamilah Team Nusantara Sehat di perbatasan dengan negara Papua New Guinea
Untung saya tidak sendiri, kami berlima tergabung dalam Team Nusantara Sehat di daerah ini. Kesepian  menjadi tak sepenuhnya terasa, karena kami bisa menguatkan satu sama lain. Menjalani hari kedepan yang masih panjang, namun tertanam rasa optimis dalam nubari ini.  Sungguh semua sudah terprediksi sebelumnya, namun kenyataan ternyata ada jauh di luar bayangan. Melihat keadaaan yang terjadi, mendadak bola mata ini basah karena tanah ini adalah negaraku Indonesia. Semangat Patriotisme sontak menggelora, mendadak memenuhi rongga dada.
Untuk mencapai tempat pemandian, saya harus turun ke bawah masuk ke hutan. Bentuknya bukan sungai dengan air jernih yang mengalir dan segar, tetapi seperti kubangan air berwarna merah kecoklatan. Sekelilingnya tumbuh pepohonan rimbun, bisa jadi air yang saya saksikan adalah tadah hujan atau mungkin berasal dari akar pepohonan.
Karena tinggal di daerah dekat dengan hutan, tentu signal handphone menjadi masalah serius. Pun nyamuk yang saya temui lain dari yang lain baik bentuk maupun rupa, seolah berubah besar seperti monster. Bahkan kalau menggigit juga sakitnya melebihi nyamuk biasa, meninggalkan bengkak merah lama lama berubah hitam.
Malam semakin sempurna gulitannya, mengingat listrik belum ada. Hanya nyanyian Jangkrik penghibur lara, melewati waktu demi waktu sampai fajar tiba.
Saatnya Bertugas
Wajah-wajah ramah namun asing, melihat kami dengan penuh tanda tanya besar. Saya berpikir sebagai satu kewajaran, apalagi kami team NS adalah pendatang baru.
Dengan menarik dua ujung bibir maksimal, senyum ini dominan mengembang sepanjang hari. Saya menghampiri satu persatu warga, sembari menyebutkan nama. Memperkenalkan diri dengan tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat.
Warga senang diajak berfoto bersama, lokasi di depan Puskesmas Kombut (dok foto, FB Nesya)
Kemudian mengadakan kunjungan rumah, menjalin keakraban sekaligus mempelajari kebiasaan masyarakat. Agar kami bisa menyesuaikan diri dengan pola pikir, diterima oleh masyarakat setempat. Karena keseimbangan dan pemahaman yang baik dengan warga, menjadi point utama yang harus kami miliki. Sebagai bekal paling urgent team NS, sebelum melanjutkan misi.
Namun ada kendala, aksen berbahasa yang khas membuat saya agak kesulitan. Meski saya sudah berusaha keras memasukkan ucapan mereka dalam memori otak, tetap saja tak semulus ketika hendak melafalkan (hehehe). Kemudian garis wajah mereka, menurut saya mirip satu dengan yang lain dan sulit diprediksi usia lewat raut muka.
"Selamat Sore Bapaaaaak...." sapa saya ramah saat awal penempatan
"Selamat Sore Mama!!"balasnya ketus terdengar nada jengkel dan wajah tak bersahabat.
Niat baik saya  sore itu ternyata berbuah pahit, saya masih belum paham apa yang sedang terjadi. Barulah ketika sampai di barak, mendapati informasi yang saya sapa siang tadi ternyata seorang pemuda. Pantas saja dia ngomel gak jelas, tawa sayapun meledak setelah menyadari kekeliruan itu.
Keesokkan hari kembali bersua, saya meminta maaf dan mengganti dengan panggilan kakak. Wajah cerah pemuda ini muncul, melenyapkan rasa bersalah yang saya tanggung mulai kemarin.
---0---
Kegiatan pada bulan pertama dan prioritas, adalah melakukan Home Visit dilanjutkan pendataan status kesehatan masyarakat. Salah satunya sweeping Malaria, karena penyakit Malaria sangat meledak di kampung ini.
Namun infrastruktur terbilang kurang memadai, jalanan sulit dilewati terlebih saat hujan turun. Perlu tenaga ekstra untuk mengarungi jalanan, lumpur tebal serasa menyatu di kaki menyebabkan terpleset. Maka tak mengherankan, kalau tak ada kaki team NS yang luput dari bekas luka akibat jatuh.
Malam itu saya terjebak hujan di jalan, saat menuju balik ke barak Puskesmas. Karena sudah tanggung di tengah perjalanan, maka kami lawan deras hujan terlebih hari mulai gelap. Hati ini mulai dilanda cemas dan gelisah, badan semakin kuyup dengan logistik di tangan yang juga basah.
Motor puskesmas yang kami pakai terkenal rentan mogok, bahkan lampu sorot depan tidak berfungsi. Roda motor seperti punya mata ganda, harus menjejak di tanah yang tepat agar tak terpleset. Karena gelap semakin menjadi, saya berinisiatif merogoh Handphone di dalam tas.
"Alhamdulillah" ucap saya lirih namun bergembira.
Masih ada power bateri HP dua garis, artinya senter HP bisa dimanfaatkan untuk memandu kami berjalan.
"Blugg" motor yang kami naiki akhirnya tumbang, karena terperosok lubang di atas jembatan. Logistik terlepas dari tangan dan berhamburan, saya segara memunguti barang agar tak terbawa arus air sungai.
(Pembaca bayangkan saja ; Adegan Cinderella disuruh ngepel lantai, kemudian ember ditendang saudara tiri lalu cinderella membersihkan tumpahan air. *DanAkuCinderellaItuh* - hahahaa)
Finally, tubuh lelah ini sampai juga di barak bersamaan baterei handphone yang sudah habis. "indahnya perjuangan" bisik saya sembari merebahkan tubuh. #CinderellapunLelah.
--o--
Pagi datang penanda hari baru, saya kembali menjalani tugas seperti biasa. Setelah semalam melewati petualangan seru, entahlah semangat ini rasanya seperti mangganda. Apalagi sebelum menjadi Team NS, basic saya adalah volunteer di beberapa komunitas kemanusiaan. Jadi darah dan semangat ini tak gampang rapuh, apalagi sekedar menghadapi ketidakenakan- ketidakenakkan.
Dari Sekeping Biscuit kami berbagi bahagia dengan anak papua (dok foto, FB Nesya)

Puskesmas Keliling, sedang mengobati mamah-mamah Papua (dok foto. FB Nesya)
Nusantara sehat bagi saya Best Opportunity ever, wadah tepat untuk meyediakan diri bagi perbaikan bangsa sesuai modal ilmu yang saya punya yaitu Ahli Teknologi Laboratorium Medis.
Jadwal hari ini adalah Pusling atau Puskesmas Keliling ke suatu kampung, perut ini rupanya susah diajak kompromi (alias mules).
"Mama, bisa saya di bawa ke toilet " pinta saya dengan wajah melas dan menahan rasa tak enak
"Mari ikut saya" Ibu yang saya minta tolong langsung bangkit membimbing perjalanan.
Saya mengikuti dari belakang, sang ibu menuju jalan ke arah hutan. Saya kaget bercampur gamang, ketika langkah ibu merapat ke semak-semak pepohonan.
"Silakan kesitu" ibu menunjuk satu tempat buang hajat.
Saya masih tak percaya tapi ini nyata, untuk menyenangkan hati ibu itu tetap saya menuruti. Meskipun sesungguhnya, hasrat ke toilet sudah lenyap ketika diperjalanan tadi.
(Memang adapatasi itu pedih, hahaha)
Bahagia Itu sederhana
Sesederhana pelukan hangat mama-mama, ketika melihat kami datang untuk memberikan pelayanan di kampung.
Hati ini berguncang hebat, ketika kami menemukan jiwa bersahaja diliputi ketulusan itu. Kerap ketika hendak kembali ke barak, sekarung durian dipersiapkan untuk kami bawa pulang. Kami terima dengan senang hati dan penuh suka cita, terlebih melihat pancaran wajah ikhlas itu.
Tapi masalah baru muncul, kami kesulitan membawa beban yang tidak ringan ini. Alhasil setelah berjalan menjauh dari kampung, kami makan durian di pinggir hutan.
"Nesya makannya jangan banyak-banyak" celetuk satu teman  team NS"biar tak ke toilet semak-semak lagi" tawa kami meledak lagi
Setelah mengenal masyarakat setempat,  ternyata prilaku mereka sopan dan ramah sudah menjadi tradisi. Sikap mereka inilah yang membuat kami nyaman, terlebih saat rindu keluarga sedang memuncak. Keberadaan mama-mama dan bapa-bapa, bisa menggantikan orang tua kami di rumah. Budaya mengadopsi anak berlangsung, sehingga kekerabatan mereka kuat dan menjadi keluarga besar.
Anaka-anak Papua yang dengan tulus saya sayangi karena Alloh SWT (dok foto, FB Nesya)

Kelak bangsa ini ada di tangan mereka, semoga kalian tuumbuh sehat dan cerdas ya sayang (dok foto, FB Nesya) #AbaikanDurianKiriBawah 
Anak-anak  generasi harapan bangsa semakin akrab, sering kami ajak bermain games, berjoged dan bernyanyi bersama.  Hal ini sesungguhnya sebagai cara menghilangkan stress, sekaligus mengalihkan rasa jemu dan bosan.
Tekad itu Membulat                                                                                    
Meski secara usia saya terbilang belia, saya merasa prihatin melihat anak seumuran banyak sekali tuntutan tanpa pemahaman. Yaitu menekan pemerintah memberi solusi, tapi enggan berkontribusi nyata dalam pemecahan masalah bangsa ini.
Kini setelah saya melihat Indonesia lebih dekat melalui daerah perbatasan, ingin rasanya berbuat lebih banyak untuk negeri ini. Pemerintah tidak bisa mengatasi sendiri masalah, di sinilah peran anak muda bisa dijalankan.
Ketertinggalan pada beberapa daerah di Indonesia bukan harus ditutupi, tapi harus diselesaikan bersama.  Saatnya anak muda berperan serta, sebagai bagian dari elemen bangsa. Keberadaan Team Nusantara Sehat di Papua dan daerah lain, tentu diiringi harapan bisa diikuti pemuda Indonesia lainnya.

Maka kalau suatu saat nanti sudah purna tugas, saya ingin tetap berkolaborasi dengan pemuda lain di negeri tercinta. Membentuk sinergisitas dengan gerakan, yang memiliki misi untuk perbaikan bangsa. Saya ingin juga mengikuti pertukaran pemuda antar bangsa, agar bisa mengadopsi ide dan gagasan untuk azas kemanusiaan. (salam)

Daftar Blog Saya