Tampilkan postingan dengan label Seminar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seminar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 September 2017

"Kreatifitas dan Inovasi di Era Digital" Menyongsong Indonesia Knowledge Forum VI

Narasumber KAFE BCA 7 Ki-Ka ; Rama Maumaya, Indra Laksmana, Faisal Basri, Hendra Koenaifi, Hermawan Thendean - dok Inke Maris Associate

Kawan’s, revolusi internet sedang terjadi dan kita alami bersama. Kondisi ini otomatis memberi dampak perubahan, nyaris di semua sektor bisnis dan bidang kehidupan. Pada waktu yang sama, menawarkan kemudahan dan mengajak konsumen ‘go digital.’
Fenomena bermunculan start up, memberi solusi bagi hajat hidup orang banyak. Bayangkan saja, aneka aplikasi tersedia cukup diunduh di smartphone.
Mulai layanan pesan antar makanan, pesan alat transportasi, pesan ticket pesawat, booking kamar hotel dan masih banyak aplikasi keperluan keseharian lainnya.
Namun pada satu sisi, ada sebuah istilah dinamakan digital vortex. Sistem ini kalau dibuat analogi, mirip seperti angin puting beliung yang berputar lama lama tenggelam.
Pada era digital teknologi, ada type industri terkena distrubsi namun ada yang tidak terpengaruh.
Paling aktual adalah bisnis transportasi, aplikasi transportasi online telah melibas sistem transportasi konvensional. Media dan entertaiment juga tergerus, kini media mulai mencari pembacanya.
Sektor industri keuangan masuk urutan keempat, salah satunya dengan hadirnya financial teknologi atau fintech. Seperti kita rasakan bersama, fintech mejadi ‘hot topic’ selama tiga tahun terakhir.
illustrasi Digitel Vortex - dok IMD(dot)org
-0o0-
Saya merasa beruntung, berkesempatan hadir di acara Kafe BCA ke 7. Melalui acara keren ini, bisa menjadi ajang sharing dan membahas isu yang terjadi.
Spesial pada Kafe BCA 7, mengetengahkan tema ‘‘Kreatifitas dan Inovasi di Era Digital Menyongsong ‘Indonesia Knowledge Forum VI 2017.’
BCA menemukan banyak nasabah yang siap digital, mulai set up digital network atau digital platfoam untuk menjalankan bisnis,” Jelas Bapak Henri Koenaifi selaku Directur BCA sekaligus membuka acara Kafe BCA 7.
Melalui Indonesia Knowledge Forum (IKF) ke 6, akan menampilkan key topic dari 23 narasumber yang kredibel. Nasabah BCA khususnya dan khalayak luas pada umumnya, dapat melihat dan berpartisipasi dalam dunia Fintech.
Kapan dan dimana IKF 6 diselenggarakan ?
IKF diadakan 2 - 3 Oktober 2017 di Ritz Carlton, Pasific Place Jakarta
Tema IKF 6 ?
Elebrating Creativity and Innovation Trough Digital Collaboration
Tujuan IKF ?
Mengembangkan bidang- bidang pendukung ekonomi Indonesia, terutama yang berbasis teknologi.
Menciptakan wadah bagi korporasi dan startup untuk mengembangkan bisnis mereka melalui kolaborasi dan partnership di bidang teknologi
Bagaimana cara pendaftaran ?
silakan klik SINI atau telepon 021 2556 3000 ext 35612/ 35611/ 35607/ 35679, bisa juga email ke bca_learningservice@bca.co.id
-0o0-
Bagi BCA fintech adalah peluang bukan ancaman, dengan fintech diharapkan pertumbuhan kredit payment semakin besar.
Sekitar 260 juta jumlah penduduk Indonesia, rentang usia 15 – 50 tahun prosentasenya sekitar 50%. Pada rentang usia tersebut, sebagai kelompok yang mengapresiasi kehadiran digital terutama untuk transaksi.
Pada usia di bawah 15 tahun, tehnologi dimanfaatkan lebih untuk entertainment seperti main games. Sementara pada usia di atas 50, mereka tahu digital tapi enggan menggunakan.
Pada kesempatan yang sama Bapak Hermawan Thendean selaku Senior Executive Vice President Information Technologi BCA mengemukakan, “Ada satu fenomena sedang terjadi, bahwa masyarakat Indonesia saat ini sedang menikmati online experience. Segala sesuatu dilakukan secara online, melalui internet dan smartphone, sehingga digital menjadi bagian gaya hidup.”’
Internet banking dan mobile banking, masih dibangun berdasarkan persepsi pihak Bank. Belum tentu sesuai dengan harapan nasabah, apalagi kebutuhan anak muda masa kini. Generasi millenial identik dengan sesuatu yang simple, sementara bank menyediakan layanan yang terstruktur.
Nah, celah ini bisa diisi oleh fintech kawans. Menyajikan fitur yang bagus dan menarik, tentu dengan harga lebih murah bahkan free.
Bank dan fintech musti saling mengisi, karena ada bagian yang setap pihak tidak bisa campur tangan. Bank memiliki regulasi relatif panjang, sementara fintech tidak ada aturan diikuti.
Namun bank tetap punya beberapa kelebihan, seperti punya lisensi untuk memindahkan dana sementara fintech tidak ada lisensi. Walaupun fintech punyai layanan mirip perbankan, namun pasti ada bank yang back up di belakangnya.
Bank secara kapital modalnya jauh lebih besar, bank memiliki nasabah, sudah ada brand, ada bentuk fisik gedung, pengalaman prosedur, pengalaman sistem, keamanan, integrity siystem. Pada sisi lain, Bank tidak bisa memberi layanan se flexible fintech.
Contohnya nih, kalau fintech ada fitur kurang bagus, bisa langsung ganti pada hari yang sama. Fintech lebih leluasa membuat produk, kalau dirasa kurang bagus langsung bisa diperbaiki.
Sementara untuk layanan digital perbankan, apabila ada fitur yang diperbaharui, harus ada tahapan uji kelayakan, secutiry resiko dan tidak serta merta langsung ganti.
Dari kelebihan dan kekurangan yang ada, Bank dan fintech bisa berkolaborasi dari pada jalan sendiri sendiri. Seperti yang sudah dilakukan BCA, dengan menyediakan open fpi.
Sistm ini bisa dimanfaatkan fintech, untuk memperlancar transaksi dengan jasa BCA. Sehingga konsumen tak perlu internet banking, sistem open fpi otomatis menghubungkan fasilitas payment.
-o0o-
Foto Session - dokumentasi pribadi
Acara KAFE BCA 7 semakin menarik, dengan kehadiran dua narasumber pelaku di industri start up. Mereka adalah Rama Maumaya, Founder dan CEO Daily Social, satu lagi Indra Wiralaksmana, Country Head and Director Ninja Express.
Potensinya Start up di Indonesia masih sangat besar, namun memiliki kemungkinan besar mematikan,” Ungkap Rama Maumaya.
Statistik membuktikan, dari start up yang muncul sebanyak 95% mati dalam 3 tahun. Revolusi smartphone yang mengiringi lahirnya start up, membuka potensi direct acces ke saku konsumen.
Masalah start up juga terjadi di negara maju, tapi ada satu hal yang bisa ditiru. Mental orang di negara maju, adalah tidak takut gagal dan terus eksperimen. Kalau pernah merasakan gagal, berarti bisa belajar dari kegagalan.
Uber sebelumnya pernah membuat tiga perusahaan dan gagal, sampai akhirnya ketemu uber dan menjadi besar,’ Ujar Rama Maumaya.
Sementara Ninja Expressm, melirik solusi pengantaran paket berbasis ecommerce. Industri jasa logistik yang saat ini ada, masih menggunakan mindset konvensional.
Salah satu mitra Ninja Express adalah fintect Tcash, untuk mengatasi problem terhadap payment,” Jelas Indra Wiralaksmana. “Ninja tidak berpikir seperti kurir konvensional, Semakin teknologi ditemukan, maka akselerasi akan semakin bergerak,” tambahnya.
Era digital sudah ada di depan mata, merujuk digital vortex tak ada industri yang seratus persen aman. Semua sektor bisnis musti terus berinovasi, agar tidak kesalip dengan perkembangan teknologi yang ada. –salam-

Senin, 22 Mei 2017

Keberlanjutan Tehnologi Sawit Harus Mempertimbangkan Sektor lain


Kelapa Sawit - dok foto daririau(dot)com

Masalah sawit seolah tak ada habisnya, tak beda dengan masalah tanaman pertanian lainnya. Semua solusi memang tidak bisa berdiri sendiri, musti didukung dan dilengkapi oleh sektor lainnya.
Science memegang perananan penting, karena science sebagai peluang membuka banyak pada kemajuan. Namun science tidak ada guna, kalau tidak diaplikasikan dan tidak dimassalkan. Hukum alam telah berlaku, bahwa ilmu  yang sudah diaplikasikan musti disebarkan dan dikolaborasikan.
Pada era digital, suka tidak suka semua sektor harus ditransformasi dalam bentuk digital. Hasilnya akan terlihat berpengaruh pada semangat, untuk terus maju dalam dunia industri.
Industri sawit dituntut musti menyesuaikan trend digital, misalnya untuk percepatan pengiriman dan  atau produksi minyak.  Pemanfaatan tehnologi sangat bisa digunakan,  seperti untuk mengetahui jadwal kapal yang akan mengangkut hasil panen.
Semakin science dipercaya dan terbukti, maka terus akan digunakan dan dimassalkan. Semangat kolaborasi perlu ditingkatkan, musti ada credit value melalui “Open Sceince”, “Open Inovation” dan  Inovation Networks”.
Apa itu Open Science ?
Research yang diperbarui dengan cara efektif, efisien secara digital, tidak akan cukup kalau hanya mengandalkan tenaga ahli internal. Musti ada ahli berkompeten dari luar (eksternal), agar terjadi open mind dengan pembanding dari pakar lain.
Open science  akan efisien hasilnya, dapat memungkinkan terjadi inside off dan outside in.  Tehnologi digital akan memudahkan searching, dengan keyword tertentu bisa digunakan untuk proses sharing
Sumber foto ; poskotanews(dot)com
 Apa itu Open Inovation ?
Peralatan elektronik berbasis tekhnologi, seperti kulkas, TV, AC, Mesin Cuci dan sebagainya,  sangat cepat menyesuaikan dunia digital. Negara di Uni Eropa sudah lama gencar melakukan inovation, demi mempermudah kehidupan sehari-hari.
Seorang Sosiolog mengatakan, ketika invention digunakan dan diadpopsi saja, hanya akan menjadi inovasi. Sementara pandangan seorang ekonom, inovasi akan lebih berdampak jika sudah dikomersialkan. Formula matematika sederhana seorang ekonom, inovasi adalah hasil dari invention kali komersialisasi.
Bagaimanapun juga invention tanpa komersialisai tidak ada artinya, sehingga sentuhan teknologi inovasi dan dimassalkan musti dilakukan.
Apa itu Inovation network ?
Sebuah industri harus berada dalam sebuah ekosistem centris (cross organisation inovation), sejatinya inovasi bukan tanggung jawab individu peneliti tapi menjadi tanggung jawab negara.
Inovasi musti diberi insentive atau kemudahan, saat ini pemerintah sudah mengadakan Deputi Menristek bidang penguatan inovasi.
Inovasi yang terjadi dengan network, dapat dilihat contohnya dari peraih nobel bidang kimia.  Peraih nobel ini  terdiri dari tiga orang dari tiga negara berbeda, mereka berkolaborasi dalam inovation betwork. Bersama  melakukan open science, akhirnya menemukan open inovasi di bidang industri.
Rantai dalam bidang sawit bisa mengadopsi hal ini, berkolabori demi percepatan industri sawit.  Masyarakat kelapa sawit indonesia musti terus digiatkan,  melalui organisasi yang sudah ada namun jangan sampai terjebak dalam close sistem.
-0o0-
Bapak Haryono selaku Ketua Komisi Teknis Pangan dan Pertanian Dewan Riset Nasional dalam seminar yang diadakan media perkebunan - dokpri
Kalau berbicara produktifitas sawit, musti diperhitungkan dan dilihat juga realitanya. Harus dicermati antara pemgadaan benih dan dihitung hasilnya, mengingat praktek di lapangan lazimnya sangat tidak efisien.
Tindakan preventif harus dilakukan, agar sawit bisa berkelanjutan selaras dengan teknologi yang bekelanjutan juga.
Sustainbility harus  terjadi di semua sektor, lazimnya justru banyak terjadi di luar laboratorium. Peneliti musti membuka diri terhadap research yang berkompeten, sekaligus menjalankan inside out dan outside in dengan baik.
Jangan lupa, industri Sawit harus memperhatikan ketersediaan air termasuk dampaknya terhadap lingkungan. Jangan hanya mengandalkan musim hujan saja, harus ada  effort untuk tehnologi pengelolaan air.
Penyediaan air berkelanjutan sangat penting bagi sawit yang berkelanjutan, jumlah hutan sebagai konservasi harus dihitung dengan cermat. Pertambahan unit pangan plus penambahan jumlah energi, otomatis  musti menambah jumlah ketersediaan air.
Bagaimana bisa mencapai keamanan pangan energi dan air ?
Keamanan pangan keamanan energi dan hutan, semua berkaitan dengan ketersediaan air yang musti diperhatikan. Pada level nasional musti ada open inovation dan new colaboration yang efektif. Ketika bicara suistanbility, maka musti dibicarakan juga keberlanjutan pada sektor yang lain.

Rabu, 16 November 2016

Prioritas Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Konstruksi

Proyek dalam pengerjaan -dokpri
Jakarta dan kota penyangganya, setiap hari ada saja bangunan gedung bertingkat sedang dikerjakan. Pengerjaan proyek infrastruktur kerap ditemui, baik di dalam atau di pinggiran Ibukota. Apalagi saat ini bisa kita lihat, sedang gencar pengerjaan proyek MRT di jalan protokol.
Sebagai orang awam di bidang konstruksi, sungguh saya kagum dengan pelaksana pekerjaan proyek besar inni. Mereka  yang terlibat dari semua tingkatan, tenaga pekerja sampai pengendali pekerjaan adalah orang-orang hebat. Dari tukang angkat adukan semen, tukang pasang besi, mandor, sampai kepala proyek  bekerja sangat terkoordinasi.

Rabu, 31 Agustus 2016

Netizen Ngobrol Bareng MPR

Suasana acara Netize Ngobrol Bareng MPR -dokpri
Saya yakin anda pernah mendengar MPR, atau kepanjangan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat. MPR sudah saya ketahui sejak Sekolah Dasar, saat menyimak pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) kala itu. -eh jangan bayangin umur yak, please, hehe-
Namun terus terang, saya pribadi belum terlalu mengenal secara dekat. Apalagi kalau belajar Bab MPR, biasanya banyak yang harus dihapalkan. Baik tugas, wewenang, tanggung jawab dan masih banyak hal lainnya.
Acara Netizen Gathering bersama MPR, menjadi moment berharga bagi bloggers. Kembali mengenal lebih dekat dengan MPR, langsung dari sumber yang kredibel dan di tempatnya langsung. Bertempat di lantai dua ruang delegasi Nusantara V, diselenggarakan Netizen Ngobrol Bareng MPR.
Bapak Cahyo Ma'aruf selaku Sekjen MPR-RI, menjelaskan dengan serius tapi santai. Setelah Pak Andy dari Sekretariat Jendral MPR-RI, memberi prolog singkat.
Kawan's sebenarnya apa Visi MPR ?
MPR menjadi Rumah kebangsaan, Pengawal ideologi Pancasila dan Kedaulatan Rakyat. Pada kalimat tersebut ada tiga Point, yaitu Rumah Kebangsaan, kemudian Pengawal Ideologi Pancasila, terakhir adalah Kedaulatan Rakyat.
Yuk kita ikuti satu persatu ulasannya :
1. MPR Menjadi Rumah Kebangsaan
Bahwa MPR adalah representasi Majelis kebangsaan yang menjalankan mandat konstitusional guna menjembatani berbagai arus perubahan pemikiran aspirasi masyarakat dan daerah dengan mengedepankan etika politik kebangsaan yang bertumpu pada nilai-nilai permusyawaratan perwakilan kekeluargaan toleransi kebhinekaan dan gotong royong dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. MPR Sebagai Pengawal Ideologi Pancasila
Memiliki makna bahwa MPR sebagai satu-satunya lembaga negara pembentuk konstitusi (the making constitution) adalah pengawal ideologi negara (the guardian state of ideology) Pancasila agar tetap hidup menjadi bintang pemandu dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan tujuan bernegara.
3. MPR sebagai Pengawal Kedaulatan Rakyat
Memiliki makna bahwa MPR adalah lembaga negara pelaksana kedaulatan rakyat yang memiliki wewenang tertinggi untuk mengubah dan menetapkan Undang- Undang Dasar. Menjamin tegaknya kedaulatan rakyat dan supremasi konstitusi dalam penyelenggaraan kenegaraan dan kemasyarakatan sesuai dengan dinamika aspirasi masyarakat dan daerah perkembangan politik dan ketatanegaraan yang berdasarkan pada nilai nilai Pancasila.
Visi MPR -dokkpri-
 Sudah seharusnya MPR lebih dikenal oleh masyarakat, terkait dengan fungsi, tugas dan kewenangan. Mungkin selama ini saya, anda atau sebagian besar masyarakat, hanya sekedar mengetahui tanpa mengenal.
Bahkan ada lho, yang masih salah menyebut MPR dengan Majelis Perwakilan Rakyat. Hal ini tentu menjadi introspkesi, sekaligus melakukan upaya pendekatan pada masyarakat.
Upaya MPR menggandeng netizen adalah sebuah langkah nyata, untuk menyosialisasikan MPR pada masyarakat luas.

Misi MPR -dokpri-
MPR terdiri dari 592, anggota DPR 560 dan anggota DPD 132 orang. Anggota MPR bukan bagian dari anggota DPR, tentu juga bukan bagian dari anggota DPD. Harapan masyarakat sangat besar, untuk tercapai aspirasi dari rakyat paling bawah.
Nah, kita lanjut dengan MISI MPR (secara garis besarnya)
1. Melaksanakan wewenang dan tugas konstitusional Majelis Permusyawaratan Rakyat sesuai dengan ketentuan UUD NRI tahun 1945 dan Peraturan Perundang-undangan dengan berlandaskan Azas Legalitas, azas kekeluargaan, musyawarah dan gotong royong.
2. Melaksanakan revitalisasi nilai-nilai Pancasila, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun  1945. Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika serta ketetapan MPR dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
3. Mengawal penataan sistem ketatanegaraan, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan pelaksanaannya
4. Memperjuangkan aspirasi masyarakat dan daerah tentang pelaksanaan UUD NRI tahun 1945 dalam setiap kebijaksanaan nasional.
5. Memperkokoh prinsip permusyawaratan kerukunan nasional, persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indinesia berdasarkan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
6. Menegakkan etika kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya serta pertahanan keamanan
7. Meningkatkan akuntabilitas kinerja lembaga negara dalam melaksanakan wewenang dan tugas yang diamanatkan oleh UUD NRI Tahun 1945 dalam rangka memenuhi hak kedaulatan rakyat untuk meningkatkan partisipasi dan akses informasi kepada masyarakat
8. Mewujudkan harmonisasi hubungan antar lembaga negara dalam melaksanakan wewenang dan tugas yang diamanatkan oleh UUD NRI Tahun 1945
9. Memperkuat harmonisasi dalam hubungan diplomatik antar parlemen dan antar negara sahabat dalam rangka mendukung pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif serta fungsi diplomasi parlemen.
Sudut dari gedung MPR -dokpri
Rasanya tak cukup mengenal MPR dalam waktu dua - tiga jam, namun pertemuan siang ini sebagai penanda. MPR membuka diri, untuk lebih dekat dengan netizen dan blogger. Kemudian kami penggiat media sosial, meneruskan informasi kepada masyarakat. -salam-

Kamis, 03 Desember 2015

Sejuta Rumah Untuk Rakyat Indonesia



Banner Promosi Kemen PUPR (dokpri)
Saat masih berseragam merah putih, teringat pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Saat itu bu guru IPS menjelaskan, ada tiga kategori kebutuhan manusia yaitu Primer, Sekunder dan Tersier. Kebutuhan Primer atau pokok, dibagi lagi menjadi tiga yaitu sandang, pangan, papan. Seiring perkembangan masa, Pendidikan, Kesehatan masuk kebutuhan Primer.
Kini setelah masa jauh berlalu, saya menempuh perjalanan usia demi usia. Kini tengah menjalani, kodrat sebagai manusia (baca kepala keluarga)  memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Sandang dan pangan adalah hal paling krusial, namun begitu papan (rumah) tetaplah menjadi prioritas. 
Demi membeli rumah untuk kenyamanan anak-anak dan istri, saya bertekad mendisiplinkan diri rajin menabung.  Hingga serupiah demi serupiah terkumpul, kini kami sekeluarga mendiami rumah tempat kami kembali.
Pepatah "Home sweet Home" rasanya sangatlah menghunjam, mengingat memiliki rumah adalah sebuah perjuangan luar biasa. Kala itu butiran keringat terbayar tuntas, setelah memboyong anak istri pindah dari rumah kontrak. Dari rumah pula semua berawal, tumbuh generasi dan mekarnya harap bagi anak cucu kelak.  Kok sampai kemana-mana ya....(hehehe)
0o0
O'ya pada pekan terakhir bulan November, Blogger diundang secara khusus. Menghadiri pameran perumahan di kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di Parkir Selatan Senayan. Acara yang diselenggarakan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen. PUPR), menjadi sarana sosialisasi program kementrian.
Acara Talkshow di panggung utama (dokpri)
Mengambil Tema "Pameran Infrastruktur dan Perumahan Untuk Rakyat, dalam rangka Hari Bakti PUPR ke-70", acara ini ramai pengunjung kebanyakan pasangan muda dengan anak usia balita. Masih ingat beberapa tahun lalu, rajin mengunjungi pameran serupa. Mencari tempat tinggal yang sesuai, dengan kemampuan keuangan tentunya.
Sore itu saya merapat ke stand kemen PUPR, tampak  poster besar terpampang tentang program sejuta rumah.
Pogram Sejuta Rumah
Program sejuta rumah merupakan gerakan bersama antara pemerintah pusat, daerah, dunia usaha (pengembang) dan masyarakat untuk mewujudkan kebutuhan akan hunian, khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Peran Pemerintah dalam program sejuta rumah adalah, sebagai penyedia rumah bagi MBR melalui Rumah Susun, Rumah Khusus, Rumah Swadaya serta fasilitas PSU bagi Rumah Umum dan Komersial.
Sebuah fakta menunjukkan, saat ini terdapat 7,6 juta Masyarakat belum menghuni rumah*. (*Data diperoleh dari, data 2014 berdasar Perpres No 2/ 2015 tentang RP JMN 2015-2019).
Sementara 3.4 juta rumah, masih dalam keadaan tidak layak huni*.( Data indikator perumahan dan kesehatan lingkungan -Inpreskesling- 2011. BPS ).
Kebutuhan rumah sendiri selalu meningkat, rata-rata 800.000 unit setiap tahun. Untuk mengetahui informasi lebih detil, masyarakat bisa mengakses www.sejutarumah.id
Apa Penyebabnya?
Rendahnya daya beli masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah bersubsidi Pemerintah melalui KPR-FLPP adalah kewajiban Uang Muka 10%
Saat acara talkshow di panggung utama, hadir  Maurin Sitorus selaku Dirjen Pembiayaan Perumahan Kemen PUPR, dan Syarif Burhanuddin selaku Dirjen Penyediaan Perumahan Kemen PUPR.
Bapak Maurin Sitorus, menyampaikan pemaparan tentang upaya kementrian
Apa Upaya Pemerintah ?
- penyediaan rumah tidak hanya dalam skim kepemilikan, tapi juga dalam skim kepenghunian sehingga program rumah sewa, rumah khusus dan swadaya menjadi prioritas.
-  Pemerintah berupaya menciptakan daya beli masyarakat dengan menurunkan kewajiban uang muka menjadi 1% dari harga jual rumah dan memberikan bantuan subsidi langsung kepada MBR berdasarkan tingkat kemampuan ekonomi MBR.
- Menurunkan suku bunga KPR- FLPP dari 7.25% menjadi 5% dengan tenor sampai 20 tahun dengan porsi pembiayaan pemerintah 10% dan Bank Pelaksana 10%.
Sementara Bapak Syarif Burhanuddin, memberi ulasan Permasalahan dalam penyediaan Perumahan (khususnya MBR)
- Ketimpangan antara pasokan dan kebutuhan
- Keterbatasan kapasitas pengembang, belum didukung regulasi yang intensif
- Rendahnya keterjangkauan MBR, baik membangun atau membeli rumah
- Pembangunan perumahan khususnya di area perkotaan (kendala lahan)
- Peran pemerintah pusat dan daerah sebagai enabler masih lemah.
Peserta talkshow sedang menyimak (dokpri)

Suasana Pameran (dokpri)
Startegi
- Pembangunan 550 ribu unit Rumah Susun untuk MBR lengkap dengan PSU pendukung
- Pembangunan  50 ribu unit rumah khusus, di daerah pasca konflik maritim dan perbatasan negara
- Fasilitasi bantuan stimulan pembangunan baru  250 ribu unit rumah swadaya
- Fasilitasi bantuan stimulan peningkatan kualitas, pada 1,5 juta unit rumah swadaya
- Pembangunan rumah layak huni, difasilitasi melalui bantuan PSU rumah sebanyak 679.950 unit.
0o0
Menjadi faktor utama, penyebab perbedaan harga rumah di setiap daerah. Adalah kendala infrastruktur, sehingga pengiriman bahan material membutuhkan biaya besar. Belum lagi upah tenaga kerja, dan sulitnya mendapatkan bahan baku secara mudah.
Upaya pemerintah untuk menyejahterakan rakyat, perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Namun tetaplah fungsi control diperketat, sehingga semua hasil dari produk undang-undang menjadi efektif. Satu hal yang sangat utama, adalah Tepat Sasaran.
Tak bisa kita menutup mata, kadang praktek di lapangan sangat memilukan. Ulah Oknum musti dipersempit dan dipersulit, sehingga rakyat yang semestinya diuntungkan tidak terhalang. (salam)

Daftar Blog Saya