Tampilkan postingan dengan label Podomoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Podomoro. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 November 2017

Siapa Takut, Berwirausaha di Pasar Tasik Thamrin City !



Thamrin City dari Jl KH. Mas Mansyur -dokpri

Saya pernah, mendengar, melihat dan bertanya, kepada anak muda jaman now. Perihal langkah mereka, seusai menempuh pendidikan umum.
Sungguh, berbeda dengan jaman saya – berarti saya sudah tu* ya, hehehe. Generasi masa kini, mulai bergeser dalam pola pikir.
Mereka kurang tertarik, pada pekerjaan sebagai PNS, Pegawai BUMN, atau karyawan kantoran. Anak muda berpendapat, seorang PNS, pegawai BUMN atau karyawan, terikat pada aturan jam kantor. Tiba pukul 08.00 pulang jam 17.00, begitu rutinitas setiap hari.
Kita juga kerap dengar, untuk menjadi PNS, ada yang rela lewat jalan belakang. Dengan gaji tak seberapa, berharap mendapat uang pensiun. Padahal, menjadi PNS, juga dibatasi dengan aturan ini dan itu.
Beberapa pemuda saya temui, jengah dengan kegiatan yang itu- itu saja. Merasa terkekang, ingin membuat dobrakkan baru, menentukan langkah, untuk masa depan mereka sendiri.
Setelah saya bertanya lebih jauh, mereka tertarik menjadi wirausaha. Bisa berkreasi sesuai passion, bebas berimajinasi diwujudkan dalam karya nyata.
Para usahawan, bisa bekerja kapan saja, dimana saja. Kalau mau cepat maju, musti bekerja lebih keras, dengan sepenuh kesadaran diri sendiri.
Ya. Sadar atau tidak, pergeseran itu tengah terjadi. Kita, tidak bisa menutup mata. Bahwa berwirausaha, kini mulai menjadi trend anak muda.
Saya jadi ingat, pernyataan dari pakar ekonomi dari UI, Prof. Renald Khasali. Bahwa indikasi sebuah negara maju, apabila 2  sampai 5 % penduduknya berwirausaha.
-0-
Pasar Tasik Thamrin City -dokpri
Suasana Pasar Tasik, di lantai 5 Thamrin City, Jakarta Pusat. Pada Jumat sore, terasa lengang. Langkah ini mengayun santai, menyusuri lorong antara stand penjual. Tak perlu terburu-buru, tidak khawatir bersinggungan jalan dengan pembeli lain.
Pasar Tasik, lantai 5 Thamrin City, Sebagian besar diisi pedagang kerudung atau hijab dan sejenisnya. Beberapa stand, menggunakan alas plastik, menggelar dagangan di lantai. Tanpa disekat dinding lapak, - perkiraan saya- antar pedagang menggunakan ukuran ubin.
Suasana Pasar tasik -dokpri

Suasana Pasar tasik -dokpri

Kaki ini, berhenti di sebuah lapak, milik pemuda usia jelang 30 tahun. Lelaki asal Sumatera Barat, kini owner Keyva Hijab.
Sudah jalan satu tahun, berjualan kerudung di Pasar Tasik. Setelah sebelumnya, bekerja di perusahaan elektronik merek ternama.
Nando nama pemuda itu, memutuskan berwirausaha, dengan alasan lebih bisa mandiri. “Enak usaha sendiri mas” ujarnya sambil tersenyum.
Untuk barang dagangannya, Nando tidak mau setengah-setengah, mau berjibaku, melakoni semua proses dari hulu ke hilir. Mulai dari belanja bahan dari pabrik, memilih konveksi, sampai membuat model kerudung.
Jualan Keyva Hijab -dokpri

Kini, jerih payah itu menampakkan hasil. Anak muda dengan logat khas Minang, bisa belanja bahan dua kali seminggu. Sekali belanja, menghabiskan dana antara 50 sampai 100 juta.
Kerudung buatannya, lebih banyak polos atau kerudung dasar. Belum dipasang payet, karena prosesnya lebih rumit. Keyva Hijab, mematok harga per kodi antara 450ribu sampai satu juta.
Merujuk dari nama Pasar Tasik, Keyva Hijab cukup ramai, terutama pada hari pasaran, yaitu Senin dan Kamis- pantas, hari jumat ini tampak sepi.
Pembeli kebanyakan pedagang, belanja dalam jumlah kodi. Pelanggan Keyva Hijab, adalah pedagang kerudung, berasal dari Sabang sampai Merauke. Bahkan ada pedagang, yang datang dari Malaysia dan Brunei. 
Nando dan penulis - dokpri

Para pedagang asal luar negeri, datang pada hari tertentu ke Tamcit. Setelah kenal, Nando update barang secara berkala. Begitu ada model baru, memberi kabar ke pelanggan melalui chatting.
“Kalau sudah kenal lama, mereka pesan dan bayar uang muka. Setelah barang sampai tujuan, baru dilunasi pembayaran” jelas Nando.
Ketika ditanya, tentang model kerudung yang cepat berubah. Nando meyakinkan, bahwa model kerudung sebenarnya berputar terus. Apa yang dibosani orang, pada saatnya nanti akan dicari lagi.
“Pecel Lelenya Uda”
Rupanya, nando memesan makan. Sehingga obrolan kami terhenti, saya pamit, melanjutkan perjalanan.
-0-
Tak jauh dari Keyva Hijab, saya mampir di stand Fiola. Meski berada di Pasar Tasik, Fiola memilih menggunakan lapak sendiri.
Saat saya datang, sang owner tidak terlihat di stand. Saya menemui dua karyawati,sedang  menjaga stand, yang menjual aneka kerudung handmade.
Fiola -dokpri
Sejauh ini, Fiola membuat setiap kerudung yang dijual. Mulai dari belanja bahan, menjahit, sampai proses dihias aneka aplikasi. Dari bahan awal sampai siap pajang di etalase, setiap lembar kerudung mengalami tiga tahapan.
Jenis aplikasi Fiola, ada yang dibordir, prees, payet dan mutiara. Harga dipatok, untuk kerudung jenis standart, berkisar antara 45 ribu sampai 75 ribu. Ada kerudung jenis mahal, bisa mencapai harga 125 ribu/ pcs.
Fiola lebih fleksibel, melayani pembelian baik dalam jumlah satuan sampai kodian. Yang pasti, harga kodian dijamin berbeda 20 – 25% dari harga satuan.
Pelanggan datang dari Makassar, Samarinda, Jawa Tengah , Jawa Timur. Kalau sudah pelanggan lama, pesan bisa via telepon.
Suasana Pasar Tasik -dokpri

Pasar Tasik Thamrin City -dokpri

-0-
Selain pasar Tasik, Thamrin City terkenal sebagai pusat grosir produk Batik Nusantara. Selain itu ada busana muslim, pusat oleh oleh haji terbesar di Indonesia. Terdapat zona timur tengah, serta Ladies market.
Menilik dari lokasi, Thamrin City hanya berjarak 100 meter dari Bundaran Hotel Indonesia. Sangat strategis dengan transportasi publik, selain tempat belanja cocok untuk jalan-jalan.
Tercatat 7.614 kios, berada di 5 lantai. Terdapat 2 lantai perkantoran, dengan total 6 lantai untuk parkiran. Dengan kemudahan akses, Thamrin City dikunjungi 60.000 orang per hari.
Keberanian berwirausaha, adalah keputusan setiap individu. Keberanian, yang lahir dan tumbuh atas kemauan diri sendiri.
Era digital, telah membuka banyak peluang, termasuk berwirausaha, baik secara online atau offline. Tinggal manusianya sendiri, bekerja keras demi mewujudkan impian.
Thamrin City, telah menyediakan sarana dan prasarana bagi masyarakat, berani memulai berwirausaha.
Bagi generasi muda. Yuk, mulai melangkah dan mengambil bagian, dalam melakukan perubahan.
Dengan berwirausaha, kita membuka lahan pekerjaan untuk orang sekeliling kita. -Salam-

Daftar Blog Saya