Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Agustus 2017

Memamah Kisah dalam Novel Janadriyah - Sebuah Perjalanan –


Novel Janadriyah , Sebuah Perjalanan -dokumentasi pribadi

Coba bayangkan di benak anda, sebuah keluarga muda yang tengah hidup di negara orang.  Tinggal di kontrakkan atau flat sederhana, hanya ada perabot minim dimiliki seperti karpet gulung dan kasur tiup. Hidup jauh dari sanak saudara, kalau ada masalah tak bisa berkesah pada orang terdekat.
Rahmat nama ayah muda, mengajak istri dan anaknya pindah karena bekerja di Riyadh Qatar. Mai sang istri, sedang mengandung buah hati kedua. Masalah serius tiba-tiba menghampiri, ketika usia kandungan masih delapan bulan. Ibu muda stress dan mengalami kontraksi hebat, pasangan ini limbung dengan kondisi serba mendadak.
Pada saat yang sama, kondisi kantor tempat Rahmat bekerja sedang tidak kondusif. Ayah muda ‘dipaksa’ membuat Laporan analisa keuangan fiktif, agar seisi kantor bisa selamat dan dirinya tidak dipecat.
Cairan berbau amis mulai mengalir di betis istri, hati suami mana yang tidak dilanda kebingungan yang sangat. Membawa istri tercinta ke rumah sakit di Dallah, sulungnya yang masih kecil tidur pulas dititipkan pada tetangga flat.
Mulutnya menyericau sepanjang perjalanan, seolah mengalirkan energi pada istri tercinta. Bahwa lelaki yang menyayanginya, berjanji akan mengajak bersujud di depan baitullah.
andai saja waktu itu aku enggak pindah, kejadian ini tidak perlu terjadi,” batinnya mulai geming.
-0o0-
Novel berjudul Janadriyah – Sebuah perjalanan, adalah novel keluaran penerbit Erlangga karya dua penulis yang diambil berdasarkan kisah nyata. Ditulis oleh Achi TM penulis produktif, telah menerbitkan 20 Novel dan aktif di RUMAH Pena. Bersama penulis Febriandi Rahmatulloh, seorang marketing data analystic bekerja untuk perusahaan Vidafone di Qatar.
Bapak Rahmat Setyo, selaku Kepala Pemasaran Erlangga Cabang Jakarta, dalam acara launching novel Janadriyah menyampaikan, ”Dengan penuh rasa syukur sekaligus bangga pada beliau berdua, karya besar dua pengarang akan launching pada hari ini. Bangsa  dan negara Indonesia sedang diberi bonus demografi, usia produktif mencapai 70% dari total penduduk. Bonus demografi menjadi berkah, ketika spirit perjuangan mas Febriandi bisa menjadi viral dan mengisi dalam keseharian anak muda.  Penerbit Erlangga tidak pernah bosan selalu bersemangat, memberi pesan kepada siapa saja yang punya talent menulis mari sama sama kita kembangkan. Mudah mudahan karya besar penulis yang diterbitkan Erlangga, bisa menginspirasi pembaca dan kita semua.”
Ketika melihat cover novel, saya langsung tergerak ingin mengambilnya. Ketika membaca endorse di cover belakang, terdapat nama Helvi Tiana Rosa, Panji Pragiwaksono dan artis Titi Kamal. Tak ketinggalan Ustad Habibburahman El_Sirazhy, Sungging Raga dan Nadila Fitria, memberi endorse di halaman dalam Novel ini.
Dengan gaya bertutur, plot cerita dalam novel ini dibuat meloncat loncat. Berkisah tentang masa sekarang Rahmat, kemudian dikolaborasi dengan dua dasawarsa sebelumnya.
Sungging Raga, seorang penulis dan teman kuliah Febriandi Rahmatullah, pada launching  Janadriyah ditodong berbicara di awal acara. “Sebagai teman, saya tahu mas Febri berlatar pendidikan exact, begitu tahu beliau menulis novel menjadi hal yang luar biasa. Kisah ini selain menarik bagi saya juga menginspirasi, seorang dari desa berangkat ke Jogja dan hidup di luar negeri. Semoga ini adalah awal dari karya beliau selanjutnya, silakan dibaca sendiri novelnya,” ujar Sungging Raga
Achi TM dan Febriandi Rahmatulloh - dokumentasi pribadi
Novel ‘Janadriyah – Sebuah Perjalanan- adalah buku pertama bagi Febriandi,  meski keinginan nenulis novel sudah dari 2005. Novel ini sebagai bentuk ungkapan terimakasih, kepada keluarga yang telah mendidik dan memberi hal positif. Meski pada satu saat Febri pernah membuat keputusan drastis, tetapi keluarga tetap mendukung penuh.
Janadriyah adalah nama suatu festival di Riyadh, satu tahun sekali kota Riyadh berubah wajah. Hampir dimana mana ada kegembiraan, musik, tarian, lampu lampu dan hiburan membuat suasana menjadi cerah ceria.
Hal senada diungkapkan Achi TM, bahwa Novel Janadriyah tak ubahnya seperti festival kehidupan. Ada bagian sedih, lucu, kamarahan, keikhlasan, sehingga perjalanan hidup menjadi lebih berwarna. Achi TM senang bisa tandem menulis dengan Febriandi, kendala jarak Jakarta dan Qatar disiasati dengan komunikasi melalui chatting.
Hijrah Rahmat, selaku editor Penerbit Erlangga yang menangani Novel Janadriyah, merasa senang bisa bekerjasama dengan kedua penulis novel ini. Keduanya sangat korporatif, komunikasi intens dilakukan biasanya pada dini hari.
Meski saya pribadi baru baca bab awal, tapi lembar lembar permulaan sudah membuat hati ini teriris. Saat Rahmat kecil menabung serupiah dua rupiah, dengan harapan bisa memberangkatkan abah dan Emak ke tanah suci. Abah lelaki sederhana yang hidupnya lurus, memeluk jagoan kesayangan penuh haru. – sudah ah baca sendiri kelanjutannya ya--

Sabtu, 05 Agustus 2017

Sebuah Ajakan Memaafkan dari Novel “Anak Rantau” Karya A. Fuadi



Novel Anak Rantau -dokpri

Bagi kutu buku dan pecinta novel, saya yakin nama A.Fuadi sudah tidak asing lagi. Novel Triloginya yaitu ”Negeri 5 Menara”, “Ranah 3 Warna” dan “Rantau 1 Muara”, berhasil melejitkan namanya sebagai penulis serta masuk rak best seller.
Sabtu siang (5/8’17) bertempat di Gedung Pos Kota Tua Jakarta, Blogger hadir dalam acara soft launching novel terbaru A. Fuadi berjudul Anak Rantau. Suasana dan atmosfir masa lalu di Kota Tua begitu terasa, seolah mengajak saya naik mesin waktu ke masa silam.
Kebetulan saya sendiri seorang perantau, dunia rantau turut membenturkan saya menjadi pejuang setidaknya bagi diri sendiri. Bayangkan saja, dalam perantauan kita musti belajar tentang banyak hal. Mulai mengatasi  masalah keseharian, perlahan-lahan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Ada yang istimewa lho, acara soft launching novel Anak Rantau dihadiri banyak peserta. Ada yang datang dari Malaysia, Karawang, Jogjakarta, Padang, Bogor, Tangerang Selatan dan banyak tempat jauh lainnya.
Begitu tersanjung dengan antusiame peserta, Fuady mengutip sebuah hadist sekaligus kepercayaan anak pesantren, “orang yang berjalan jauh untuk menuntut ilmu akan didoakan Malaikat bahkan ikan di laut.” (cuplikan hadis ini pernah ditulis dalam novel negri 5 menara)
Menurut saya buku ini semakin keren, meskipun baru dijual secara online ternyata sudah ada yang membajak. Artinya buku ini calon best seller dong, terbukti pembajak sudah mengendus gelagat tersebut.
-0o0- 
A. Fuadi dan Miftah Sabri - dokpri
Kisah dalam Novel Rantau sangat kekinian, bisa menjadi representasi dengan kondisi yang terjadi di negara kita.
Sejak Pilpres dan Pilkada yang begitu heboh, menyisakan luka yang tidak kunjung sembuh sampai sekarang. Ada dua pihak yang saling berseberangan, selalu melihat satu peristiwa dari dua sudut pandang.
Kalau luka fisik bisa diobati, kalau luka hati dan luka batin susah diobati,” ujar Fuady.
Tokoh utama dalam novel Anak Rantau bernama Hepi, seorang anak kota yang diajak pulang ke kampung ayahnya untuk diproses menjadi orang baik. Namun kenyataan di kampung si ayah, Hepi menemukan teman baru dan orang orang yang terluka.
Salah satunya adalah kakeknya sendiri, yang dulunya seorang pejuang dan dilukai oleh kebijakan negara sendiri. Pada akhir novel, si kakek menemukan pencerahan bahwa sakit hati hanya menambah luka, obatnya hanya satu adalah memafkan dan lupakan.
Tema merantau bermula dari kampung halaman, yaitu romantisme Fuady akan danau Maninjau, kemudian dibalut tema detektif yaitu kisah datuk dan anak muda terkena narkoba.
Namun pesan kuat novel ini, sangat mendasar adalah mengobati luka untuk menumbuhkan banyak maaf pada masa silam.
Buku setebal 370 halaman ditulis selama 4 tahun, karena proses pengeraman ide dan riset membutuhkan waktu tidak sebentar. Sempat kesulitan mengembangkan cerita, namun setelah riset, wawancara dan permenungan akhirnya ketemu ruh cerita.
Untuk melancarkan proses penulisan, Fuadi menempel mind map di dinding guna membantu garis besar tulisan. Demi munculnya ide, si penulis tinggal beberapa waktu di kampung halaman, ngobrol dengan alim ulama, tokoh adat dan perantau yang sudah kembali ke kampung.
Untuk memperkuat kisah tetang narkoba, tak tanggung tanggung Fuady melakukan riset kepada intel BNN.
Soft Launching Anak Rantau semakin lengkap dan keren, dengan kehadiran Miftah Sabri CEO Selasar. Miftah adalah orang yang membaca Anak Rantau  sejak dalam bentuk draft, sehinga Fuady merasa ada sidik jari Miftah di novel terbarunya.
saat membaca tokoh Hepi, saya seperti membaca diri sendiri” ujar Miftah.
Miftah Sabri adalah seorang piatu, tak lama setelah lahir ke dunia ibunda langsung berpulang. Kemudian dibawa ayahnya ke kampung, sangat bisa merasakan bagaimana suasana hati Hepi.
Miftah kagum dengan penulis yang bisa menulis dengan sederhana, novel Anak Rantau ditulis dengan gaya bahasa sederhana. Berangkat dari point of view seorang Hepi yang anak puber, benar benar keluar dari pengalaman pribadi Fuady yang pernah dituangkan dalam Novel sebelumnya.
Potret yang ada di buku ini, bisa terjadi dan ada di seluruh daerah di Indonesia. Fuady bagaikan sosiolog, memotret sebuah kampung yang mewakili kampung di negeri kita,” tambah Miftah.
Blogger dalam Soft Launching Anak Rantau -dokpri
-0o0-
Dalam commuter line menuju stasiun Manggarai, Novel Anak Rantau saya baca baca sekilas. Dalam kereta merenungkan perjalanan hidup, pada usia yang kepala empat banyak sudah peristiwa dihadapi.
Pada kisah yang menyesakkan berpuluh tahun silam, rasanya sulit sekali menghapus dalam ingatan. Memaafkan memang butuh perjuangan, namun kalau tidak dilakukan hanya menambah luka semakin dalam.
Ternyata, saya masih harus banyak belajar memaafkan pada orang yang pernah melukai diri sendiri.

Daftar Blog Saya