Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2016

Menjadi Suami & Ayah adalah Amanah Luar Biasa

Masih ingat kasus cuitan Mario Teguh?
Kala itu beliau meng-twit secara bersambung (istilahnya kultwit), ada kalimat "Perempuan tidak baik untuk laki-laki tidak baik dan laki-laki baik untuk wanita baik pula". Akibat postingan tersebut, motivator ternama ini mendapat respon "panas" dari (tidak semua) netizen. Sempat diwawancara TV swasta, bertemu dengan seorang aktivis perempuan.
Prosesi Sakral Saat Ijab Kabul (dokumentasi pribadi)
Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi, saya (termasuk pro) mencoba berpikir positif dan mengambil hikmah. Betapa adil hukum semesta ini berlaku, apa yang dikerjakan manusia hasilnya kembali pada diri. (bukan tausiyah ya ini hehe)
-0o0-
Saya melihat almarhum ayah bukan perokok, kerap membaca koran saat akhir pekan. Nyaris bisa dihitung dengan jari, menampilkan wajah masam kepada ibu. Lima waktu tegak mendirikan sholat, saat maghrib ayah bertindak sebagai imam.
Apa yang saya lihat saat kecil, tertanam di alam bawah sadar kemudian mempengaruhi otak untuk mengambil kesimpulan.
Entahlah, pikiran ini terbentuk dengan situasi yang ada di rumah. Ketika berseragam abu-abu putih, saya tak tertarik nongkrong bersama geng kelas di pojok terminal. Melihat teman sebangku sedang merokok, saya memilih menghindar ke tempat lain. Saya  kerap berkumpul untuk latihan teater, atau aktif di kepengurusan dan kegiatan OSIS.
- kalau saya renungkan lebih dalam, setiap diri akan mencari lingkungan yang serupa dengan pikirannya. Prosesor otak akan menolak baik cepat atau lambat, ketika tak sesuai dengan dominasi yang ada dipikirannya -

Sejak akhir usia belasan, langkah kaki ini menjauh meninggalkan kampung halaman. Seperti anak sebaya lainnya, saya merantau ke kota besar menempuh jalan hidup sendiri. Pondasi sikap dan pemikiran yang tertanam dirumah, berperan membentuk karakter di perantauan.
Nyaris semua kegiatan yang saya pilih, tak jauh dengan yang pernah dilakukan semasa SMA. Lebih sering nongol di acara Dewan Kesenian, ikut-ikutan nyempil dalam acara-acara diskusi. Akhirnya wajah kaum cendekia yang kerap nongol di televisi, bisa disaksikan sekaligus berdiskusi secara langsung.
Pun dalam hal memilih pasangan hidup, lazimnya akan ketemu dengan yang nyambung pikirannya. Pernah saya simak petuah ustad ternama, waktu itu masih bujangan alias belum menikah
"kalau mencari emas carilah ditempatnya, artinya kalau mau mencari pasangan baik biasanya ada di tempat yang baik pula"
Merujuk  Quran surah An Nur ; 26 (saya cuplik kaitan dengan artikel ini)
"wanita- wanita yang iidak baik untuk  laki-laki tidak baik, (dan sebaliknya) . Wanita yang baik untuk lelaki baik (dan sebaliknya)" -rupanya ini yang jadi kultwit Mario Teguh-
Saya memasang logika sangat sederhana, untuk menyimpulkan ayat Al Quran ini. Kalau kita berupaya sebagai pribadi baik, otomatis lingkungan dan teman pergaulan yang dipilih sebagian besar pasti yang baik.
Pun kalau kita menyediakan diri menjadi pribadi kurang banyak memperbaiki diri, biasanya pergaulan yang dipilih tak jauh beda.
Peran Sebagai Suami dan ayah
Pernikahan adalah sunnah nabi, sebagai muslim sungguh saya meyakini perintah ini. Ketika mengikuti sunnah sang junjungan, niscaya kemanfaatanlah yang akan didapati. Menikah sebagai cara menyempurnakan ibadah, saya dapati jawaban setelah menjalani. Tak dipungkiri manusia memiliki kebutuhan biologis, pernikahan adalah jalan untuk menghalalkan.
Suami perhatian saat isti sedang hamil (dokpri)
Sebagai suami, tugas membimbing istri adalah sebuah amanah yang tidak ringan. Memang bukan perkara enteng, kalau dibarengi belajar pasti menemukan pencerahan. Istri bukan bawahan suami, posisinya sejajar menjadi partner membangun rumah tangga.
Saya tak segan terlibat dalam pekerjaan di rumah, membantu mencuci baju, piring dan gelas. Pada sisi lain tetap sigap, naik ke atap ketika ada genting bocor. Kalau istri sedang repot,  saya mengambil alih tugas menyuapi atau memandikan anak.
Atas alasan ketidaktahuan, sebagai dasar saya tak henti belajar. Hingga suatu saat menemukan sebuah hadist, begitu menghunjam dan pantas dijadikan pegangan.
" Kaum mukmin yang paling sempurna keimanannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kalian ialah yang terbaik kepada istrinya (HR. At- Tirmidzi)"
Sebagai manusia biasa, saya tidak bisa menjamin bahwa saya sudah menjadi baik. Namun dengan berusaha bersikap terbaik, sebagai bukti mempersembahkan sampai batas yang bisa dilakukan. Rangkaian perlakuan suami pada istri, ternyata ujungnya akan bersambung pada cara ayah berlaku pada anak.
Saat kuliah pernah saya masyuk dalam acara Emha Ainun Nadjib
"sifat anak-anak kalian kelak, sebenarnya bisa anda design dari sekarang(saat itu saya umur 21-an)" tegas sang budayawan "kalau dari sekarang pergaulan yang kalian pilih adalah baik, niscaya bertemu  calon istri yang baik. Kelak yang kalian terapkan, saat berkeluarga dan punya keturunan kelak kebiasaan baik pula".
Saya manggut-manggut menyerap kalimat Cak Nun dalam-dalam.
Suami atau istri baik memang tidak datang sendiri, tetapi kalau mau belajar tentu ada strategi. Kalau mau mendekatkan pada potensi kebaikan, bukan hal mustahil kebaikan akan menghampiri.
-o0o-

Kini setelah menikah saya bersyukur, istri tak beda jauh pemikirannya dengan saya. Saling mengingatkan satu sama lain, cukup sama melihat permasalahan dan mengambil keputusan.
Anak adalah buah cinta, kehadirannya adalah karunia tak terkira.
Selama masih dalam masa pengasuhan, pengaruh ayah dan bunda pada anak begitu kuatnya. Saya membuka diri untuk terus belajar, karena semua yang dihadapi sejatinya ada ilmunya.
Buah Hati sebagai penyempurna bahagia (dokpri)
Sejauh yang saya baca dan ketahui, faktor kedekatan orang tua dengan anak sangat penting. Hanya dengan kedekatan melahirkan kenyamanan, anak tak segan mengungkapkan perasaannya. Saya ayah yang ingin bisa berbagi cerita, sekaligus memberi saran dan masukan. Kalau ada kesempatan kapan saja, sering saya pancing anak dengan obrolan. Baik tentang teman di sekolah, tentang guru, atau topik lain yang sedang hangat.
Kemudian berusaha menjelaskan selogis mungkin, sembari menyelipkan pesan yang diyakini akan membekas di benak. Waktu itu sulung bercerita kekesalan, pada seorang teman di kelas. Karena ulah satu teman, jagoan kecil saya kena marah gurunya.
"Kakak, tidak semua yang tidak baik musti dibalas dengan tidak baik. Dulu Rasulullah dihina dan dilempari kotoran oleh kaum kafir, malah beliau balas dengan doa" pesan saya kala itu.
Saya selalu semangat, mencari rujukan atau buku tentang kisah manusia pilihan. Karena rasa yakin, apa yang dialami manusia masa kini tak lebih pengulangan kisah lampau. Nah para nabi, selalu memberi contoh atas sikap yang benar dalam mengarungi masalahnya.
Seperti ujian kesabaran dengan sakit yang menahun, terdapat pada kisah nabi Ayyub. Manusia kaya raya namun tetap rendah hati, tersemat dalam kehidupan Raja sekaligus Nabi Sulaiman. Kisah masa lalu terulang masa kini yaitu LGBT, pernah terjadi pasa masa nabi Luth. Hingga Nabi pamungkas sarat hikmah, manusia sempurna Rasulullah SAW.
Termasuk satu nama bukan seorang nabi, namun termaktub dalam surat di Quran yaitu Lukman Hakim. Beliau banyak berpesan pada anaknya, satu yang sangat mendalam hingga kini.
"wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah ditipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya). Lebih celaka daripada tiga perkara itu ialah orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya".
Penanaman karakter pada anak, idealnya beriring kesadaran ayah menimba pengetahuan pengasuhan. Anak-anak yang tumbuh dengan melihat keteladanan yang baik, kelak akan menjadikan dirinya baik pula. Anak-anak ibarat kertas putih, terserah orang tua menulis apa diatasnya.  
Tugas saya sebagai suami dan ayah masihlah panjang, peran ini harus didukung istri dan anak-anak. Tanpa kehadiran dan masukan dari mereka, tak bisa saya menjalankan sekaligus koreksi terhadap fungsi peran tersebut.
Menjadi ayah dan suami, ibarat menjadi khalifah di muka bumi. Bahagialah para suami, bahagialah para ayah. Kalian dipercaya pemilik kehidupan, mengemban amanah yang luar biasa. (salam)

Senin, 23 Mei 2016

Menjalin Nilai Kebersamaan dari Meja Makan #mejamakanpunyacerita

Acara Blogger Gathering Bersama Tupperware dan Viva 20/5'16- dokumentasi pribadi
"Bun maaf, tadi ayah sudah makan malam diluar" ujar saya sepulang dari ngantor
Kebetulan ada acara dadakan, usai jam kantor Boss mentraktir seluruh staff di sebuah Restaurant berkonsep "All U Can Eat". Karena bayar sama untuk makan sepuasnya, kami yang karyawan kalap ingin mencoba semua menu.
"Oo gitu" jawab istri lirih
Makanan dalam wadah Tupperware yang sudah disiapkan, dengan pelan dan berat hati diberesi. Saya menangkap nada getir dari intonasi suara, namun tak diungkapkan secara panjang. Guratan di wajah istri jelas tergambar kecewa, namun berusaha disamarkan. Saya memang sedang capek fisik dan pikiran, memilih segera membersihkan diri dan tidur. Karena kalau memperpanjang obrolan, bisa-bisa justru emosi yang keluar.
Kawan's, coba bayangkan!
Masalah yang terkesan remeh dan kecil, kalau terjadi berkelanjutan tentu ibarat bola salju. Bukankah sesuatu yang besar, merupakan akumulasi dari masalah kecil yang diulang-ulang.
Entahlah, sejak saat itu saya seperti berjanji di dalam diri. Kalau ada acara makan malam di mana saja, segera mengabarkan kepada istri. Hal ini sebagai upaya, agar masak secukupnya atau bisa beli untuk dirinya dan anak-anak. Pun kalau membawa pulang makanan, saya tetap mengirim kabar agar tidak repot memasak.
Kampung Halaman - Sekitar tahun 1989
Rutinitas ini terjadi nyaris sama setiap usai maghrib, tapi saya tak pernah bosan menjalani. Ibu yang hanya lulusan sekolah dasar, menurut pandangan saya sangat taat pada suami. Makan bersama menjadi kebiasaan keluarga kami, utamanya saat makan malam.
"Mbahmu yang yang ngajari ini" ujar ibu sambil menyiapkan meja makan
Tangan perempuan ini terlihat cekatan, meletakkan menu makan ke piring dan mangkok saji. Saya hanya mengintili, memperhatikan dengan seksama yang dikerjakan ibu. Komposisi dalam mengatur posisi menu juga tak beda setiap hari, konon katanya diajarkan sang mertua. 
Meja kokoh dari kayu jati ukuran  2 m x 1,5 m, dilapisi taplak plastik warna dasar merah bermotif bunga. Dua bakul nasi dengan uap masih mengepul, diletakkan persis ditengah meja makan. Bersanding dua rantang berisi sayur, berada persis di sebelah kanan nasi. Tempe goreng dan perkedel disatukan dalam piring ceper, berhimpitan dengan sambal dan kaleng krupuk.
Piring ditumpuk rapi agak menepi, diatasnya ditaruh sendok tanpa garpu (karena memang tidak punya garpu).  Kemudian gelas ukuran sedang berjajar rapi, sudah diisi air putih di dalamnya.
Kami empat kakak beradik siap bersantap malam, ayah duduk di kursi paling ujung dan ibu duduk di kursi seberangnya. Saya dengan kakak nomor lima di sisi kiri, dua kakak lainnya di sisi meja sebelah kanan.  Dua kakak sulung dan nomor dua kuliah di kota besar, karena kost tak bisa bergabung setiap sore.
Ayah seorang guru SD dan ibu membuka warung di pasar, selalu punya banyak waktu untuk berkumpul. Meski dengan menu ala kadarnya, tapi kebersamaan itu terasa tak ternilai harganya. Prosesi sederhana yang terjadi puluhan tahun silam, kini saya rasakan begitu membekas di nubari.  Meski ayah dan ibu tak paham ilmu parenting, mereka justru telah menerapkan nilai pengasuhan dalam sikap keseharian.
Saya bungsu dari enam bersaudara, merasa dekat dengan keluarga bersahaja kami. Melihat kerukunan ayah dan ibu, meski dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan. Betapa ukuran bahagia menurut pandangan saya, tak berbanding lurus dengan mewahnya menu makanan. Tapi lahir dari hati yang bersyukur, menikmati rejeki yang menjadi bagian kita.
Peran Ibu dalam Keluarga
Ibu saya adalah perempuan tangguh dan luar biasa, meski dari segi pendidikan relatif rendah. Beliau mempersembahkan bahkan sepenuh diri, untuk suami dan anak-anaknya. Beliau selalu pasang badan, ketika kami anak-anaknya sedang berduka.
Termasuk demi menghemat uang belanja, beliau masak sebelum adzan subuh untuk sarapan dan sepulang dari pasar untuk makan siang (biasanya sayur sekaligus untuk makan sore). Memang olahan ibu hanya menu sederhana, tetapi justru membuat rasa kangen ini kembali bertumbuh.
Ibu saya (paling kiri) bersama anak-anak dan Istri sedang makan di resto- foto tahun 2011 (dokumentasi pribadi)
Ah meja makan tua di rumah, selalu menggenang indah kenangan. Komposisi dalam menaruh peralatan makanan, terpertahankan sampai saya hendak merantau seperempat abad lalu.
Pun ketika Istri memilih sebagai ibu rumah tangga, saya mendukung  penuh keputusannya. Sebagai seorang lulusan sarjana, istri  cukup terbuka dengan pengetahuan parenting.
Kalimat "Al-ummu Madrosatul Uula" atau ibu adalah madarasah/ pendidik pertama, coba diterapkan istri dalam keluarga kecil kami. Istri totally mengurusi anak-anak dari bayi, tanpa pengasuh atau istilah kekiniannya baby sister. Ketika anak sedang tidur, masih mengerjakan pekerjaan rumah lainnya termasuk masak.
Setelah anak beranjak besar dan bersekolah, bergaul dengan wali murid lain. Mengisi waktu berjualan, untuk membantu keuangan keluarga. Sambil menjemput anak di sekolah, istri menawarkan dagangan kerudung dan makanan.
Pun makan bersama menjadi saat istimewa, kadang di meja makan kadang sembari melantai. Bungsu kami yang masih lima tahun, dengan manjanya minta disuapi ayah atau bundanya. Sementara sulung berusia sepuluh tahun lebih, tak segan bercerita apa saja yang terjadi tentang teman atau kejadian di sekolah.
Dua perempuan yang kepadanya saya menaruh hormat dan sayang, pertama ibu dan kedua adalah istri. Sebagai manusia pasti mereka berdua jauh dari sempurna, tapi perjuangannya tidak lagi saya sangsikan. Mereka berdua telah menanamkan sebuah nilai bahagia, dengan cara dan gaya masing-masing.
0-00-0
Meja makan bercat putih ditata rapi, berpasangan dengan 4 kursi dengan cat yang senada. Antar kursi yang berhadapan, dihubungkan taplak garis-garis warna kuning putih panjang seperti selendang di atas meja. Sajian siap santap dengan aneka wadah saji tupperware warna hijau muda, seolah tak sabar dinikmati Bloggers. Sendok dan garpu dua pasang ukuran besar dan kecil, menambah penampilan meja makan semakin sempurna.
Jumat sore 20 Mei'16, saya berada di acara "Blogger Gathering bersama Tupperware". Kemeriahan langsung terasa, saat kaki ini melangkah di lantai 12 Squard Quarter Buliding 
Edwin Jonathans, Selaku Product manager Tupperware Indonesia mengungkapkan dalam sambutan di acara Blogger Gathering "Tupperware ingin membuat wanita Indonesia lebih baik lagi, menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga. Oleh karena itu inovasi produk adalah hal penting bagi tupperware, karena harus mengikuti perkembangan jaman sesuai kebutuhan. Salah satu kategori produk sangat penting Tupperware adalah serving, untuk merespon fenomena hoby memasak sedang ngetrend di kalangan banyak orang. Serving membuat suasana makan, menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan.
Oleh karena itu fenomena yang terjadi harus kembali dibudayakan, sekaligus mengingatkan pada keluarga indonesia. Untuk menumbuhkan tradisi kebersamaaan, bersantap bersama keluarga di meja makan. Saat  keluarga berada dalam satu meja makan, memungkinkan terdeliveri nilai sebuah keluarga kepada anak-anaknya. Tupperware meluncurkan sebuah kampanye "Meja Makan Punya Cerita", mengingatkan pentingnya meluangkan waktu di meja makan untuk makan bersama".
Edwin JonathansProduct Manager Tupperware Indonesia (dokpri)
Pada acara yang sama juga hadir di panggung Rina Sudiana, beliau adalah Product Manager marketing Dept. Tupperware Indonesia
Pada sesi presentasi Rina mengemukakan, saat ini keluarga Indonesia mulai jarang makan bersama. Saat team Tupperware minta testimoni perihal terakhir makan bersama keluarga, ada yang menjawab dua bulan lalu, setahun yang lalu waktu lebaran, bahkan ada yang lupa kapan makan bersama. 
(sebentar sebelum lanjut, kawan's harus saksikan video ini. haru-sedih-hiks)

Melalui kampanye dengan tema "Meja makan Punya Cerita", Tupperware meluncurkan produk baru. Agar kegiatan makan bersama, keluarga tak perlu booking di resto tapi bisa di rumah. Wadah yang bisa ditempatkan di meja makan, cantik, modern warnanya tegas, ukurannya mungil dan cocok untuk wadah sajian yang di beri nama "Petite Blossom"
Apa saja varian Petite Blossom ?
  • Petite Blossom Soup Server ; berkapasitas ideal untuk menyajikan hidangan berkuah porsi harian.
  • Petite Blossom Saucy Dish ; Aneka hidangan tumisan atau berkuah sedikit, tetap menarik disajikan.
  • Deep Serving Spoon ; cocok untuk makanan berkuah banyak atau sedikit
  • Petite Blossom serving Platter ; untuk makanan pendamping seperti kudapan dsb.
  • Serving Spoon ; cocok untuk mengambil kudapan dsb.
Saya dan teman semeja baru menyadari, ternyata wadah saji tupperware di setiap meja adalah paket Petite Blossom yang baru diluncurkan.
Petite blossom punya double fungsi, bisa untuk wadah saji juga untuk menghangatkan makanan. Saya jadi ingat kebiasaan istri dirumah, sering memasukkan sayur  atau lauk dalam wadah ke rice cooker yang kabelnya masih dihubungkan ke stop contact.
Hasilnya memang sangat memuaskan, makanan dingin berubah hangat. Kami bisa kembali menikmati makanan tersebut, tak perlu memasak yang baru. Selain hemat tenaga karena tak perlu masak lagi, tentu hemat biaya karena tak usah belanja (hehehe)
Trubo Chopper (dokpri)
Selain Persembahan Petite Blossom, Tupperware menghadirkan Turbo Chopper. Alat ini dilengkapi dengan pisau yang bisa diputar di dalamnya, dengan cara menarik manual  tali penghubungnya agar bisa memutar. Fungsi alat ini memudahkan ibu-ibu, terutama untuk membuat sambal dan lain sebagainya. Pisau di dalam Turbo Chopper, akan bertugas menghaluskan bahan yang ada di dalamnya.
00-00
Meja Makan Punya Cerita ala keluarga kami (dokpri)
Weekend  kali ini terasa begitu spesial, kami menyiapkan makanan bersama. Istri sudah memasak makanan, apapun menunya bagi kami sangat istimewa. Kebetulan kami punya wadah saji Tupperware, berbentuk bulat bisa untuk beberapa jenis makanan sekaligus. Bahkan untuk tempat buah dan nasi, kami juga mengandalkan produk Tupperware.
Semur tahu tempe, ayam ungkep, kentang balado, sayur acar dan bihun disajikan dalam satu wadah. Tak lupa buah-buahan disandingkan, menjadi penutup makan siang hari minggu.

Anak-anak berkisah apa saja tanpa sungkan, moment ini cukup efektif untuk berbagai cerita. Si kecil yang maunya disuapi bundanya, tak jarang minta dilayani saya ayahnya. Episode sederhana ini smoga membekas di benak anak-anak hingga kelak, seperti saya yang terbayang episode serupa puluhan tahun silam bersama orang tua.
Meja makan kami seolah selalu siap sedia, untuk menjadi tumpahan kisah setiap anggota keluarga kecil ini.  Bagaimana meja makan anda? (salam)

Rabu, 12 Agustus 2015

Anak Butuh Keteladanan [Sebuah Catatan Anak Bangsa]



ilustrasi dokumen pribadi
Saya sangat sepakat dengan peribahasa, air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Peribahasa yang sudah saya hapal di bangku SD, tak jauh beda dengan pepatah "Buah Jatuh tidak jauh dari pohonnya". Anak-anak adalah cerminan dari orang tuanya, karena sekolah paling awal ada pada ibu dan ayahnya. Dari rumahlah anak-anak dibentuk (atau terbentuk) karakternya, yang akan dibawa menyongsong kehidupan di dunia luar yang luas.
Saya belajar dari pengalaman masa lalu, mendapat asupan kasih sayang yang cukup. Meski secara materi pas-pasan, tapi kedua orang tua cukup waktu memberi perhatian. Kehidupan desa yang relatif rendah mobilitas, membuat ayah atau ibu ada saat kami membutuhkan. Sikap ayah yang bersahaja karena kondisi ekonomi, ditopang ibu yang cukup hemat dalam berbelanja. Pendek kata serupiah yang keluar dari kantong, musti sangat diperhitungkan kemanfaatannya. Semua keadaan masa lalu tersimpulkan dengan cara saya sendiri, otomatis membentuk karakter ketika dewasa dan merantau kelak.
Anak dan Keteladanan
Anak butuh figur yang sadar atau tidak akan dijadikan acuan, kemudian mereka akan menyontoh perilaku sang figur. Maka ruang ini semestinya diisi oleh orang tua, karena ibu atau ayah (semestinya) kerap ditemui dalam keseharian. Pada ayah dan ibulah serba memungkinkan,  anak-anak akan berbagi kisah dan kesah. Pada orang tua pula mereka akan mengajak berbicara, mencurahkan perasaan sekaligus meminta pertimbangan.
Ibu Elly Risman Musa seorang praktisi dunia parenting, mengungkapkan bahwa anak-anak adalah peniru ulung. Terutama pada anak usia Balita, menjadikan ayah dan ibu sosok yang dicontoh tindak-tanduknya. Pada situasi ini saya memosisikan sebagai pembelajar, berupaya semaksimal mungkin menjadi teladan yang baik. Sebagai keluarga muslim kami berusaha konsisten, mendirikan sholat lima waktu secara baik. Membiasakan membaca kitab suci setiap hari, berharap anak-anak melihat kemudian mencontoh. Konon nasehat terbaik bukanlah dengan ucapan semata, tapi justru lebih efektif dengan tindakan. Alhamdulillah anak yang kelas empat, menjaga sholatnya bahkan mengajinya sudah al qur'an. Sementara adiknya masih TK A, sudah mulai berlatih membaca Juz Ama.  
-0-o-0- 
Perihal keteladanan saya jadi ingat sebuah buku, "Menjadi Ayah Bintang" karya Neno Warisman. Pada sub judul "Ayah Sejati" terdapat penggalan kisah apik, sangat menginspirasi semangat dan jiwa keayahan saya.
Memetik kisah menggetarkan dalam buku tersebut saya berkesimpulan, seorang anak hebat niscaya lahir dan tumbuh dari ayah dan ibu hebat. Karena pada orang tua yang berperilaku baik akan "tertularkan",  sekaligus menjadi panutan anak-anak dalam menentukan sikap. Keteladanan menjadi kata kunci tidak bisa ditawar, tanpa memandang harta, jabatan dan semua kepemilikan. Siapapun orang-tua dengan profesi apapun, dengan kondisi sosial ekonomi yang bagaimanapun, bukan halangan untuk memberi keteladanan baik pada anak-anak.
ilustrasi dokumen pribadi
 Anak-anak dalam Permasalahan
Sebagai orang tua perasaan saya cukup miris, melihat anak-anak di lingkungan sekitar rumah.  Merasakan dan mendengarnya secara langsung, memberi kesimpulan mereka minim keteladanan. Sungguh saya merasakan pedih di hati, ketika mendengar anak belum genap sepuluh tahun berucap tak pantas. Pernah saat dengan roda dua melintasi sekumpulan anak, terdengar kata (maaf) "Bego" "Songong" "Goblok" "Payah luh" dan kata tak pantas lainnya. kejadian nyata juga pernah saya jumpai saat mengantar anak sekolah, seorang ibu mengumpat dengan kata tak semestinya pada anaknya.
(Maaf) "Dasar otak luh Bego" si ibu ekspresi wajahnya tidak bersahabat.
Sejauh pengetahuan dan keyakinan yang saya yakini, dalam ilmu agama ucapan orang tua laksana doa. Maka orang tua musti banyak belajar, agar tak sembarang berucap menghadapi buah hati.
Pada bilik-bilik kecil di warnet pernah mejumpai, beberapa anak berseragam merah putih sebagian lagi biru putih. Karena saya berada persis di bilik bersebelahan, mendengar obrolan dan celoteh mereka. Saya berkesimpulan mereka mengakses youtube, dan menyaksikan tayangan tidak sesuai usaianya. Situs-situs dewasa tak segan beramai-ramai ditelusuri, sambil cekikikan mereka mellihat gambar tanpa pakaian. Celetukan terdengar mengomentari yang dilihat, tentu dengan kalimat jorok dan tidak pantas. Sementara pada anak-anak usia awal belasan, terlihat mulai menghisap rokok di tempat umum.
Saya sepakat perkembangan tekhnologi tak bisa dihindarkan, masalahnya adalah bagaimana agar tekhnologi menjadi bermanfaat. Satu satunya jalan adalah memakai untuk hal positif, yang mendukung untuk perkembangan pribadi lebih baik.  Pertanyaannya dari mana anak-anak mendapat masukan, tak lain dari orang tua di rumah. 
Sering saya menjumpai pasangan muda mudi, menilik tampilannya dari keluarga berkecukupan. Berdua remaja pria dan perempuan mojok di cafe, tanpa canggung memanggil dengan sebutan "Yang" bersentuhan fisik. Sambil tertawa tak henti bercerita, tangan saling merangkul dan sebagainya. Pada hari libur kisah mirip terjadi di taman, dari wajahnya saya taksir umur belasan. Perilakunya seperti sejoli sedang kasmaran, si pria tak segan mengelus pipi pasangannya.
Kalau mau merunut kejadian serupa masih banyak lagi, membuat saya sebagai orang tua tambah prihatin. Kalau kebetulan kenal biasanya saya tegur dengan halus, tapi tak yakin apakah mereka akan berubah.  Keadaan yang terjadi pasti tidak tiba-tiba, ada benang merah panjang dibelakangnya. Tiba-tiba saya jadi berkesimpulan sendiri, perihal keteladaan orang tua di rumah.  Sebuah cuplikan puisi pernah saya dengar dalam sebuah acara, rasanya relevan dengan keadaan.
Di rumahmu ada pintu dan jendela,
Kau berusaha selalu menutupnya
Agar angin dan badai tak menerpa
Agar buah hati tak disentuhnya

Namun anak-anak akan tiba masa
Menempuh onak kehidupan
Melintasi badai masing-masing
Tumbuh menjadi pribadi mandiri
Situasai di dunia luar rumah sangat tidak terprediksi, maka membangun pondasi mental menjadi cara manjur mempersiapkan anak-anak.  Ketika tiba saat anak-anak lepas dari orang tua,  mereka siap menempuh perjalanan kehidupannya sendiri.
dokumen pribadi

dokumen pribadi

Mengatasi Masalah Anak
Saya pribadi biasanya berbagi pada teman, yang memiliki anak seusia anak saya. Ngobrol tentang cara menangani masalah anak, juga urun saran kalau terjadi masalah keseharian. Kalau ada seminar parenting tak segan datang, ilmu yang didapati tak enggan dibagikan. Meluangkan waktu khusus bersama anak, termasuk menemani jika mereka ingin ke warnet seperti temannya.
Namun tidak semua orang tua bersikap sama, ada yang abai tak mau tahu dan seenaknya. Bisa saja jumlahnya mereka lebih banyak, dibandingkan orang tua yang perhatian. Mungkin upaya saya ibarat setetes air di tengah sahara, mungkin saja efeknya tidak terlalu signifikan.  Namun setidaknya saya memulai yang saya bisa, minimal merubah sikap dari diri sendiri. Merujuk ulasan yang saya paparkan pada artikel ini, saya justru ingin focus pada orang tuanya.
Saya kira cukup menjadikan anak sebagai focus permasalahan, tanpa melihat sekian aspek yang berdiri dibelakangnya. Andai saja ada pihak yang mau merepotkan diri, melakukan kelas parenting dari lingkungan terkecil yaitu RT. Setiap bulan biasanya akan ada arisan untuk ibu-ibu, atau kegiatan kerjabakti bagi bapak bapak. Atau melaui majelis taklim di masjid terdekat, diselipkan pembahasan dengan tema pengasuhan dikaitkan agama. Misalnya saja tenaga sukarelawan parenting dihadirkan, meluangkan satu jam saja dalam kegiatan rutin tersebut. Siapa tahu upaya mulia ini bagai cahaya, dalam gelap pengetahuan dunia pengasuhan. Menurut saya sungguh tak adil terus menuntut sang anak, tanpa meminta orang tua memberi keteladanan. 
Coba kawan's mari kita bandingkan, antara dua strategi ini mana yang mujarab.
Cara pertama ;
"ayo nak segera tidur besok kamu musti bangun pagi" ujar ayah suatu malam.
Keesokan hari si anak benar bangun pagi, sementara ayahnya masih mendengkur. Kok saya gak yakin malam berikutnya si anak akan menurut, ketika dinasehati tidur cepat agar bangun pagi.
Cara kedua ;
Ayah membangunkan anaknya yang masih tidur, ketika pagi mulai menjelang datang. Sang anak pasti lebih termotivasi bangun, melihat ayahnya lebih dulu menyongsong fajar.
Pada cara kedua terdapat keteladanan, tanpa ajakan yang diabaikan sendiri oleh ayah.
Pada ujung artikel ini ingin saya cuplikkan, sebuah puisi abadi tentang anak dari kahlil Gibran.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian
Dia merentangkanmu dengan kekuasaan-NYA
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNYA busur yang mantap

Menjadi orang tua ibarat sebuah proses pembelajaran panjang, akan menuai hasil kelak ketika tiba masanya. Betapa anak panah (anak-anak) yang melesat jauh serta cepat, berasal dari busur (orang tua) yang kuat dan mantap. (salam)

Kamis, 25 Juni 2015

Ternyata Surga Terdekat adalah Rumah


Ruang Tengah (dokpri)
Saya yakin siapapun tak bakal menyangkal, bahwa tempat paling nyaman adalah rumah. Meskipun tak begitu luas  tanpa fasilitas sempurna, rumah selalu menghadirkan rasa kangen yang dalam. Terlebih saat bepergian dua hari atau lebih, tak ayal tumbuh bayangan di benak. Maka saya sangat mengamini, sebuah kalimat "home sweet home". Bagi saya rumah memberi banyak arti, entah itu sedih, bahagia, tangis dan tawa semua ada di rumah. Tempat membangun dan memupuk mimpi, juga menampung kesah anak dan istri. Tempat berbagi cerita dan ceria, pun membawa pulang segenap nestapa. Rasanya tak ada sedetikpun moment, yang luput untuk tidak dibawa pulang ke rumah. Sebegitu pentingnya sebuah kediaman, menjadikan rumah sebagai kebutuhan primer (utama). Dalam hidup tak disangkal rumah (papan) adalah pokok, di samping pakaian (sandang) dan pangan (makanan). Seiring perkembangan jaman, kesehatan dan pendidikan menyusul menjadi utama.
Setelah sepuluh tahun lebih berumah tangga, saya cukup merasakan betapa semua bermula dari rumah. Ketika awal menikah dan tinggal di sebuah kontrakan, pun setelah akhirnya dimampukan-NYA membeli tempat tinggal. Perasaan yang sama tetaplah terpertahankan, bahwa kehangatan sebenarnya sungguh berasal dari rumah. Baik rumah yang statusnya masih menyewa, atau rumah yang sudah dibeli sendiri.
*****
Setiap Ramadhan tiba selalu menghadirkan suasana beda, beriringan dengan tumbuh kembang buah hati tercinta. Masih ingat saat sulung baru masuk SD dan berlatih puasa, adiknya sudah mahir merangkak tertatih hendak berjalan. Sebagai ayah saya tak henti menyemangati si kakak, agar sanggup menanti sampai bunyi bedug maghrib tiba. Hingga kini beranjak menuju kelas empat, menyusul si kecil baru mendaftar di Taman Kanak. Lelaki kecil yang tak pernah bolong puasa, Ramadhan ini kembali menahan lapar dahaga. Sementara bungsu mulai ikut ikutan, berlatih meski baru setengah hari dan sesuka hati.
Setelah memutuskan untuk berwiraswasta, saya memiliki keleluasaan mengatur dan mengelola waktu. Bisa mengajak anak dan istri ngabuburit, berburu kolak atau bubur sumsum kegemaran. Waktu menunggu saat berbuka tiba, adalah pengalaman mengesankan tak terlupakan. Sulung kami hilir mudik menuju dapur, memastikan menu berbuka sudah disiapkan. Kedua bola mata kecilnya kerap tertuju, pada jarum jam yang terpasang di dinding. Remote televisi tak lepas dari tangan kecil, memencet channel berganti ganti. Sang ibu yang sedang membuat minuman, tak jarang dibuat tersenyum dengan ulah anaknya.
Ruang Tengah (dokpri)
Ada satu tempat favorit dari rumah bagi keluarga kecil kami, untuk menikmati menu sederhana berbuka. Adalah ruang tengah di depan pesawat televisi, dengan tikar anyaman rotan tipis yang sudah digelar. Meskipun sebenarnya memliki secuil ruang untuk makan, kami lebih suka membawa makanan ke ruang tengah. Bersantap buka bersama dengan lesehan, diiringi lantunan adzan yang belum sepenuhnya selesai. Suasana hangat seketika menyeruak hadir, ditingkah suara gelas dan piring yang saling bersenggolan. Bungsu yang belum genap berpuasa, terlihat paling repot tidak mau ketinggalan. Tak henti meyakinkan pada kami, bahwa dirinya merasakan haus yang sama. Maka akhirnya takjil atau makanan pembatal puasa, disediakan empat porsi oleh ibunya. Ragil yang sedang lucu dan nggemesin, menambah suasana berbuka lebih hidup. Mbarep juga kerap menggoda, sampai pecah tangis dari bibir mungilnya.
Dari ruang tengah favorit inilah, keluarga kecil kami membangun kebersamaan. Meski penuh kesahajaan kami mensyukuri, kebahagiaan terasa mengalir bersama rasa ikhlas. Rumah menjadi tempat kami menumpahkan segalanya, menyusuri waktu ke waktu sampai batas usia. Dari rumah juga saya dan istri membahu, menghantar anak anak menggapai mimpi mereka. Betapa surga terdekat tak ada di mana mana, melainkan di rumah kita masing masing. (salam)

Daftar Blog Saya