Tampilkan postingan dengan label CSR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CSR. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 November 2017

Ingat, Gadget Bukan Momok Buat Anak !



Talkshow 101 Gadget for kid di GIANT Bintaro -dokpri

“Ini anak, main Gadgeeet mulu!”
Pernah ga, mendengar kalimat geram seperti di atas. Biasanya, kalimat ini, diucapkan ayah atau ibunya, sedang  gemes, karena si anak focus pada layar smartphone.
Tak bisa dipungkiri, gadget telah menjadi bagian, dari keseharian manusia modern. Tak hanya orang tua, remaja dan anak-anak juga terdampak dengan kehadiran teknologi.
Apakah ini pertanda buruk?
Tunggu dulu, jangan terlalu cepat ambil kesimpulan.
Kehadiran gadget, ibarat dua sisi mata uang. Dampaknya bisa buruk, tapi bisa juga baik, tergantung bagaimana mengelolanya.

Jumat, 06 Oktober 2017

Kampanye Philips Lighting ‘Terangi Masa Depan’ Dukung Program UNICEF ‘Kembali ke Sekolah’



Ki-Ka: Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong, Country Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar, Deputy Representative UNICEF Indonesia Lauren Rumble dan Chief of Partnership UNICEF Indonesia Gregor Henneka saat seremoni penandatangan nota kesepahaman untuk “Kampanye Terangi Masa Depan Periode 2017-2018” oleh Philips Lighting Indonesia dan UNICEF, di Jakarta, Selasa (3/10). Dalam kemitraan ini, Philips Lighting berkomitmen untuk menggalang dana sebesar 2 miliar rupiah dari penjualan bohlam Philips LED dalam kemasan “Beli 3 Gratis 1” yang berlogo UNICEF. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung program “Kembali ke Sekolah” UNICEF. 

Tak bisa dipungkiri, pendidikan ibarat kunci gerbang menuju kualitas hidup lebih baik. Semua kegelapan pengetahuan terjadi, sejatinya bermula dari ketiadaan pendidikan.
Siapa nyana, meski sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tercatat 4.6 juta lebih anak usia sekolah, belum memiliki kesempatan mengeyam pendidikan dasar. Menurut Survey Sosial Ekonomi Nasional 2016 (Susenas), alasan anak-anak tidak bersekolah atau putus sekolah, lazimnya terkait kondisi ekonomi keluarga, terbatasnya akses pendidikan, disabilitas fisik atau mental dan budaya.

Jumat, 25 Agustus 2017

Yuk Ikutan Lomba Foto Astra & Anugerah Pewarta Astra 2017 Berhadiah 4 Mobil



Banner lomba, sumber asta.co.id


Bagi penyuka Fotografi dan tulis menulis, jangan lewatkan kesempatan emas ini. Pada pekan terakhir agustus (23/8’17), bertempat di Candi Bentar Convention Hall, Putri Duyung Ancol, PT. Astra International Tbk, meluncurkan Lomba Foto Astra (LFA) dan Anugerah Pewarta Astra (APA) 2017.
Program tahunan ini, digelar Astra dalam upaya apresiasi karya foto dan tulisan jurnalis serta masyarakat umum.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Yuk Wisata ke Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak Banten


dokumentasi pribadi

Bagi anda penggila novel, pasti sudah tidak asing dengan nama Eduard Douwes Dekker atau Multatuli.. Douwes Dekker yang lahir di Amsterdam tahun 1820, pernah menjadi Asistant Residen di Lebak Banten pada periode 1856 – 1856.
Meski memiliki kewarganegaraan Belanda, batinnya miris melihat fenomena kerja paksa kala itu. Hingga lahirlah tokoh Saidjah Adinda yang melegenda, dalam Novel berjudul Max Havellar yang terbit pada tahun 1860.
Novel yang dipasarkan kali pertama di Belgia, konon langsung mencetak best seller kala itu. Kisah masyarakat Lebak yang ada di dalam novel ini, ternyata juga menginspirasi perlawanan terhadap penjajah di kawasan Eropa.
Dalam rangkaian ‘Blogger on Vacation’ bersama Semen Merah Putih, Blogger diajak mengunjungi Perpustakaan Saidjah Adinda. Lokasi perpustakaan ini terbilang strategis, yaitu di Jl RM Hardiwinangun no 3 atau di kawasan alun alun timur Rangkasbitung.
Perjalanan blogger dari stasiun Rangkasbitung, butuh sekitar 30 menitan untuk sampai di perpustakaan Saidjah Adinda. Kalau naik angkutan umum juga bisa, silakan cari angkot warna merah bata bernomor 4 tujuan Ona. Pesan ke pengemudi  untuk diturunkan di alun alun, cukup membayar empat ribu rupiah saja.(hasil nanya mbah google nih)
Mengapa “Blogger on Vacation” kok ke Perpustakaan?
Sejalan dengan Pilar Pendidikan dalam program CSR Semen Merah Putih, erat kaitannya dengan dengan program ayo gemar membaca.
Semen Merah Putih melakukan upaya nyata, berupa pemberian donasi papan informasi  (majalah dinding) untuk media informasi dan kreatifitas masyarakat di Desa Kaserangan Serang Banten. Gerakan membaca bersama, juga diwujudkan dengan donasi buku bacaan yang didistribusikan ke seluruh sekolah di Kabupaten Serang Banten.
Pilar pendidikan pada CSR Semen Merah putih lainnya,  berupa program pemberian beasiswa dan peningkatan kompetensi masyarakat.
Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak, sangat berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi. Bentuk bangunan yang dipilih juga sangat unik, mengadopsi bangunan khas suku baduy yaitu Leuit.
Apa itu Leuit ?
Leuit atau lumbung padi masyarakat suku Badui, berfungsi untuk menyimpan hasil panen dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Konon leuit bukan sekedar bentuk bangunan saja, tapi lebih pada sistem atau management pengelolaan bahan pangan atau beras. Dengan penerapan sistem leuit, terbukti suku Baduy tidak pernah kekurangan beras sepanjang tahun.
Material yang dipilih untuk Perpustakaan Saidjah Adinda didominasi bambu, sesuai dengan nama Rangkasbitung, Rangkas artinya patah dan bitung artinya bambu.
dokumentasi pribadi

Suasana Perpustakaan- dokpri

Perpustakaan yang selesai dibangun pada awal Desember 2016, posisinya berdampingan dengan Museum Multatuli. Khusus bangunan Museum Multatuli, adalah bangunan yang dipertahankan keasliannya sejak bupati kedua Lebak. Bagaimanapun juga tak bisa dipungkiri, nama penulis buku Multatuli yang mendunia tidak bisa dilepaskan dengan Lebak.
Siapa sangka kedua bangunan ini telah menjadi ikon baru, banyak anak muda datang untuk selfie dan upload ke medsos. Terlebih pada malam hari, dua bangunan bertambah indah karena dilengkapi lampu hias aneka warna.
Drs. Ali Rahmat, M.M -dokpri
Drs. Ali Rahmat, M.M. Selaku Kabid Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lebak, pada saat temu blogger menyampaikan “Perpustakaan Saidjah Adinda, telah dimodernisasi dengan sistem pelayanan digital.  Saat ini sudah memiliki 20 ribu judul buku, dengan jumlah buku sekitar 30 – 40 ribu eksemplar dan akan terus ditambah judul dan jumlahnya. Meskipun belum genap satu tahun berdiri, perpustakaan ini sudah didatangi 14 ribu pengunjung yang 70% diantaranya adalah anak dan remaja.
Menurut saya nih, pernyataan Pak Kabid sekaligus mematahkan stigma bahwa budaya membaca generasi muda dibilang rendah.
Perpustakaan Saidjah Adinda memiliki jam operasinonal 08 – 15 WIB, kalau hari minggu dengan mobil perpustakaan keliling buka di kawasan Car Free Day.
Pada bulan Desember, Dinas Perpustakaan akan mengadakan bedah buku Max Havellar dengan tujuan untuk lebih memperkenalkan sejarah,” tambah Drs. Ali Rahmat, MM.
Tak sekedar perpustakaan saja lho, pada lantai dasar dilengkapi mini studio. Blogger sempat diajak masuk studio, menyaksikan pemutaran film berjudul Max Havellar. Film yang diproduksi tahun 1976 dengan memasang beberapa nama bintang Indonesia, dulu sempat dilarang diputar pada masa orde baru—wah jadi makin penasaran.
di depan Museum Multatuli -dokpri
Karena keterbatasan waktu dan musti melanjutkan perjalanan, blogger tidak bisa menyaksikan film Max Havellar sampai habis. Ingin pada lain kesempatan datang lagi, khusus untuk menyaksikan film Max Havellar.
Nah kalau anda juga penasaran, yuk berkunjung ke Lebak jangan lupa mampir ke Perpustakaan Saidjah Adinda. –salam-

Kamis, 17 Agustus 2017

Batik Lebak dan Keripik Pisang Bayah Menggeliat Bersama Semen Merah Putih



Maket Semen Merah Putih -dokumentasi pribadi

Rasa penasaran itu sontak menyeruak, ketika melihat dan memegang sendiri batik khas Lebak. Batik dengan warna dasar gelap bermotif pantai Sawarna, pantai di daerah Bayah Banten tak kalah indah dengan pantai lain di bumi pertiwi. 
 
Saya juga sempat mencicipi keripik pisang camilan khas Bayah, hasil olahan penduduk di daerah sekitar Pabrik Semen Merah Putih (selanjutnya SMP) berdiri. Irisan pisang yang tipis dan halus, digoreng garing menghadirkan ‘kriuk’ saat digigit.

Kamis, 03 Agustus 2017

Program Kampung Terang Hemat Energi dari Philips Lighting untuk Desa Terpencil Seluruh Indonesia

dokumentasi pribadi


Saya masih ingat pada awal tahun 2000, untuk sebuah keperluan saya musti pergi ke daerah ujung barat pulau Jawa. Saat itu sekitar jam lima sore, kendaraan melintas di kampung sekitar hutan yang mulai gelap. Kami lima orang dalam satu mobil gelisah, kenapa tidak satu rumahpun terlihat menyalakan lampu penerangan di depan rumah.
Ketika tiba waktu maghrib kami berhenti, menunaikan sholat maghrib berjamaah di sebuah musholla. Hanya lampu minyak menyala, sehingga suasana gelap begitu mendominasi.
Dari seorang warga terbetik sebuah informasi, bahwa listrik belum menjangkau kampung mereka.  Otomatis gelap begitu menguasai malam hari, warga mengandalkan penerangan dari lampu minyak tanah.
Kini daerah yang pernah saya lewati puluhan tahun silam, sudah mulai terang di malam hari. Cahaya listrik telah menyinari daerah dekat hutan, warga tidak kesulitan beraktivitas ketika matahari tenggelam. 
Bagaimana dengan daerah lain di Indonesia ?
Philpis Lighting melalui program CSR, akan menerangi kurang lebih 25 desa di Sumatera Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku. Saudara sebangsa akan segera menikmat manfaat pencahayaan, untuk mendukung aktivitas mereka setelah matahari tenggelam.
Sebagai pemimpin global di bidang pencahayaan, Philips Lighting akan memperluas instalasi pencahayaan LED tenaga surya. Kurang lebih 25 desa yang belum dialiri listrik di seluruh Indonesia, akan tersentuh program “Kampung Terang Hemat Energi (KTHE)”
Program KTHE sendiri sudah dimulai tahun 2015, saat itu sembilan desa tersebar di tiga kabupaten di Sulawesi Selatan merasakan manfaat program ini.
Program “Kampung Terang Hemat Energi”, menyediakan penerangan untuk rumah dan fasilitas umum seperti Puskesmas, sekolah dan jalan umum di beberapa desa di wilayah Sumatera Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku.
Akan ada 2.886 titik lampu baru, artinya hampir sepuluh kali lebih banyak dari jumlah titik lampu yang diciptakan semula di Sulawesi Selatan.
ountry Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar (tengah) didampingi Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong (kiri) dan Chief Strategy Officer Kopernik Tomohiro Hamakawa (kanan) berbincang sesaat sebelum prosesi penekanan tombol yang menandai peluncuran program CSR Kampung Terang Hemat Energi 2017-2018 Philips Lighting Indonesia.
Dalam acara Press Confrence peluncuran KTHE, Rami Hajjar selaku Country Leader Philips Lighting Indonesia, mengatakan,  Kami sangat senang dapat menolong lebih banyak lagi masyarakat dengan menjembatani kesenjangan pencahayaan antara kota dan wilayah pedesaan melalui  program ‘Kampung Terang Hemat Energi’. Pencahayaan akan membantu meningkatkan kehidupan masyarakat, memampukan kegiatan sehari-hari seperti belajar atau pekerjaan rumah tangga lainnya untuk dapat dilakukan bahkan setelah matahari terbenam. Puskesmas dapat beroperasi dengan layak dalam keadaan darurat di malam hari dan mobilitas masyarakat serta barang tidak lagi terbatas hanya pada siang hari. Di Philips Lighting Indonesia, kami menerapkan komitmen global perusahaan ini untuk menciptakan kehidupan yang lebih terang untuk dunia yang lebih baik; termasuk di dalamnya, kehidupan masyarakat di desa-desa terpencil di seluruh negeri.
Setiap desa terpilih akan mendapatkan paket pencahayaan LED tenaga surya Philips yang inovatif, yang terdiri atas:
(1) Solar Indoor Lighting System lengkap dengan panel surya,
(2) Philips LifeLight yang 10 kali lebih terang dari lampu minyak tanah,
(3) Solar LED Road Light untuk menerangi jalan-jalan di desa pada malam hari. Tahun ini, program akan diawali dengan menjangkau enam desa di Sumatera Utara.
Sejak tahun 2015, Philips Lighting bermitra dengan Kopernik sebuah LSM bergerak di bidang teknologi untuk memberdayakan penduduk di desa terpencil. Pada tahun yang sama, Philips Lighting secara global menyerukan ajakan untuk mengakhiri kemiskinan cahaya dalam rangka Tahun Cahaya Internasional PBB (UN’s International Year of Light – IYOL)
Program CSR Philips Lighting Indonesia"Kampung Terang Hemat Energi" periode 2017-2018, menyalakan Philips LifeLight, lampu LED berbasis tenaga surya salah satu produk yang akan diberikan kepada masyarakat di desa terpencil melalui program ini.

Rabu, 21 Juni 2017

5 Pilar CSR Semen Merah Putih



Keripik Pisang Semen Merah Putih -dokpri

Pekan terakhir di bulan Ramadan, jurnalis dan blogger mendapat kesempatan istimewa. Hadir dalam undangan gathering sekaligus Buka Puasa, bersama Semen Merah Putih di kawasan Jakarta Selatan.
Semen Merah Putih  (selanjutnya ditulis SMP ) di bawah PT Cemindo Gemilang, berdiri pada tahun 2011 sebagai produsen semen berkualitas premium. Saya pribadi sudah mengenal brand Semen Merah Putih, melalui beberapa kegiatan campaign yang diadakan.
Bapak Sigit Indrayana selaku Corporate CSR dan PR SMP hadir dalam acara gathering dan buka puasa bersama, menjelaskan, “Pabrik SMP di Bayah Banten sudah terintegrasi, dengan kapasitas produksi 4 juta ton per tahun, dilengkapi mesin mutahir berstandar Eropa dan proses supply chain yang lengkap. Selain Pabrik utama di Bayah Banten, terdapat pabrik penggilingan (Grinding Plant) di Ciwandan, Gresik, Pontianak, Medan dan Bengkulu.
SMP diproduksi di Bayah mulai akhir Desember 2015,  namun sebelumnya sudah beredar di pasaran dan diberi ijin import sekalian mengedukasi pasar.
Ibarat pepatah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”, SMP ingin membumi di tempat berada yaitu Banten. Tampak simbol Badak Bercula Satu terpampang di kemasan, sebagai representasi keberadaan pabrik di daerah Banten.
Sementara untuk Kerjasama Opersional (KSO) di Kupang, SMP memasang simbol Komodo yang identik dengan daerah Kupang.
Semen Merah Putih dan Ijin Sosial
Siapa sih tak ingin keberadaannya diterima masyarakat sekitar, bahkan bisa bersinergi dan memberi manfaat.
Ijin legal formal adalah sesuatu yang normatif dan keharusan, namun ijin sosial adalah sebuah challenging apalagi bagi industri pelopor di Bayah. Sehingga diperlukan Corporate Social Responsibility (CSR), bertujuan ingin menampilkan wajah industri yang ramah, masyarakat mengenal tidak hanya sebagai institusi ekonomi tetapi punya kegiatan sosial untuk menumbuhkan corporate image positif ” ujar Pak Sigit
Bapak Sigit Indrayana selaku Corporate CSR dan PR SMP -dokpri
Melalui 5 pilar  CSR, Semen Merah Putih mempunyai kegiatan community development. Kegiatan ini langsung bersentuhan dengan penerima manfaat, perlahan namun pasti menciptakan masyarakat yang lebih mandiri.
Program CSR SMP bukan bertugas menggantikan fungsi pemerintah atau dinas sosial, tetapi sebagai strategi menggalang potensi yang ada di masyarakat.


Apa saja sih 5 Pilar CSR Semen Merah Putih ?
Pendidikan
Sebelum kehadiran Semen Merah Putih, di Bayah lulusan kebanyakan adalah sarjana keagamaan, Olah Raga dan Pendidikan, sementara untuk SMK yang ada kebayakan jurusan administrasi.
Bayangkan deposit satu line SMP bisa sampai 200 tahun, pasti membutuhkan tenaga kerja yang kredibel.
Kehadiran SMP meredesign pendidikan supaya tepat guna, karena kalau semua sajana pendidikan di Bayah ingin jadi PNS  alokasinya pasti terbatas. SMP bisa menjadi multiplyer efek bagi sarjana di sekitar Pabrik, merangsang mendalami bidang pendidikan yang lain.
Para lulusan selain nantinya bergabung di SMP, bisa bermain secara kreatif di industri pendukung seperti transportasi, suplyer bahan baku, kuliner dan UKM lainnya. Bukan tidak mungkin, putra-putri terbaik Bayah yang merantau punya alasan balik kampung menerapkan ilmu yang dimiliki.
Sosial
Sebagai perusahaan penghasil semen, SMP terdepan dalam perbaikan lingkungan, fasilitas umum dan sosial.  
Program donasi semen untuk perbaikan fasilitas sosial, seperti renovasi mushola dan masjid di Banten dan sekitarnya. Selain itu perbaikan jalan desa, renovasi kantor pemenerintahan dan instansi serta pembangunan MCK.
Kerjasama dengan pemprov DKI telah diinisiasi SMP, mengadakan bedah rumah sebanyak 83 rumah di kawasan Jakarta Utara Cilincing. 
Kian batik khas badui -dokpri
Ekonomi
Pada acara Gathering dan buka puasa, kami dibagi keripik pisang dan membawa pulang batik khas badui.
Upaya cerdas dilakukan SMP utuk CSR bidang ekonomi, menggerakan ekonomi di sektor UMKM. Saya yakin masyarakat pasti sangat senang, diberi kegiatan yang merangsang peningkatan ekonomi keluarga.
Ibu- ibu punya kegiatan membatik dan atau membuat keripik berbahan pisang, bisa menjadi oleh oleh khas Bayah. O’ya keripik juga dikemas menarik dan hygenis, sehingga meningkatkan daya saing dan daya jual kepada konsumen.
Salah satu cabang SMP di Bengkulu juga terinspirasi, menyediakan bus wisata untuk mengenalkan pariwisata Bengkulu.
Kesehatan
Sejalan dengan program Provinsi Banten yaitu pendidikan dan kesehatan, bakti sosial kesehatan dilakukan SMP.
Aktif mengadakan program donor darah, memberi layanan kesehatan seperti penyuluhan, pemeriksaan dan pengobatan secara gratis. Donasi 1 unit Ambulance serta membuka poliklinik pabrik Bayah beroperasi 24 jam.
Lingkungan Hidup
Depan pabrik SMP adalah jalan nasional selebar 4 menter, bekerjasama dengan balai besar meningkatkan menjadi 12 meter dengan kualitas yang ditingkatkan juga. Program tak berhenti pada pembangunan saja, tapi juga melakukan perawatan 11 KM ruas jalan nasional dari depan lokasi pabrik Bayah.
Penyerahan bibit tanaman ke masyarakat, sekaligus mengajak masyarakat berpartisipasi dalam aksi bersih bersih di pantai Sawarna Bayah.
-o0o-
Saya cukup terpana dengan upaya dilakukan SMP, utamanya dalam meraih ijin sosial dari masyarakat sekitar. Melalui program-program yang dirasakan manfaatnya oleh warga, kok saya yakin ijin sosial itu akan keluar dengan sendirinya.
Tiba-tiba saya pengin berkunjung ke Pabrik SMP, ingin melihat secara langsung program CSR yang telah dilakukan. Sekaligus ngobrol langsung dengan masyarakat sekitar pabrik, perihal benefit yang dirasakan dengan kehadiran SMP –semoga bisa teralisasi amin.
Sukses selalu untuk SMP dan kegiatan CSR nya, kalimat “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” tak lagi sekedar pepatah tapi sedang diaplikasikan SMP.

Daftar Blog Saya