Tampilkan postingan dengan label CSR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CSR. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 November 2017

Ingat, Gadget Bukan Momok Buat Anak !



Talkshow 101 Gadget for kid di GIANT Bintaro -dokpri

“Ini anak, main Gadgeeet mulu!”
Pernah ga, mendengar kalimat geram seperti di atas. Biasanya, kalimat ini, diucapkan ayah atau ibunya, sedang  gemes, karena si anak focus pada layar smartphone.
Tak bisa dipungkiri, gadget telah menjadi bagian, dari keseharian manusia modern. Tak hanya orang tua, remaja dan anak-anak juga terdampak dengan kehadiran teknologi.
Apakah ini pertanda buruk?
Tunggu dulu, jangan terlalu cepat ambil kesimpulan.
Kehadiran gadget, ibarat dua sisi mata uang. Dampaknya bisa buruk, tapi bisa juga baik, tergantung bagaimana mengelolanya.

Jumat, 06 Oktober 2017

Kampanye Philips Lighting ‘Terangi Masa Depan’ Dukung Program UNICEF ‘Kembali ke Sekolah’



Ki-Ka: Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong, Country Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar, Deputy Representative UNICEF Indonesia Lauren Rumble dan Chief of Partnership UNICEF Indonesia Gregor Henneka saat seremoni penandatangan nota kesepahaman untuk “Kampanye Terangi Masa Depan Periode 2017-2018” oleh Philips Lighting Indonesia dan UNICEF, di Jakarta, Selasa (3/10). Dalam kemitraan ini, Philips Lighting berkomitmen untuk menggalang dana sebesar 2 miliar rupiah dari penjualan bohlam Philips LED dalam kemasan “Beli 3 Gratis 1” yang berlogo UNICEF. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung program “Kembali ke Sekolah” UNICEF. 

Tak bisa dipungkiri, pendidikan ibarat kunci gerbang menuju kualitas hidup lebih baik. Semua kegelapan pengetahuan terjadi, sejatinya bermula dari ketiadaan pendidikan.
Siapa nyana, meski sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tercatat 4.6 juta lebih anak usia sekolah, belum memiliki kesempatan mengeyam pendidikan dasar. Menurut Survey Sosial Ekonomi Nasional 2016 (Susenas), alasan anak-anak tidak bersekolah atau putus sekolah, lazimnya terkait kondisi ekonomi keluarga, terbatasnya akses pendidikan, disabilitas fisik atau mental dan budaya.

Jumat, 25 Agustus 2017

Yuk Ikutan Lomba Foto Astra & Anugerah Pewarta Astra 2017 Berhadiah 4 Mobil


Banner lomba, sumber asta.co.id


Bagi penyuka Fotografi dan tulis menulis, jangan lewatkan kesempatan emas ini. Pada pekan terakhir agustus (23/8’17), bertempat di Candi Bentar Convention Hall, Putri Duyung Ancol, PT. Astra International Tbk, meluncurkan Lomba Foto Astra (LFA) dan Anugerah Pewarta Astra (APA) 2017.
Program tahunan ini, digelar Astra dalam upaya apresiasi karya foto dan tulisan jurnalis serta masyarakat umum.
Program LFA 2017 dan APA 2017, masih berkaitan dengan perayaan HUT ke-60 Astra. Tema yang diangkat ‘Perjalanan Penuh Inspirasi’ , menitikberatkan pada perjalanan 60 tahun Astra dalam menginspirasi negeri.
Lomba Foto Astra 2017
Lomba Foto Astra (LFA) tahun ini memasuki tahun ke-8, adalah program dalam upaya mengapresiasi hasil karya foto, baik dari kalangan pewarta foto maupun masyarakat umum.
Melalui tema Perjalanan Penuh Inspirasi, Astra mengajak masyarakat umum dan pewarta foto untuk mengabadikan momen traveling menikmati keindahan Indonesia. Foto yang diikutsertakan dalam lomba ini diharapkan dapat memberi inspirasi bagi seluruh mata yang memandang.
Anugerah Pewarta Astra 2017
Anugerah Pewarta Astra (APA) masuk tahun ke-3, adalah bentuk apresiasi yang diberikan kepada jurnalis maupun masyarakat umum atas karya tulis tentang kontribusi sosial Astra bagi bangsa.
Melalui tema Perjalanan Penuh Inspirasi, Astra ingin mengajak para penulis Indonesia menuliskan mengenai inspirasi perjalanan 60 tahun Astra yang dilandasi oleh filosofi Catur Dharma, dimana Astra telah menginspirasi Indonesia melalui produk dan layanan karya anak bangsa, sumber daya manusia yang unggul serta kontribusi sosial yang berkelanjutan bagi bangsa dan negara (3P Astra - Portfolio, People, Public Contribution).
Apa Hadiah Menariknya ?
Masing-masing juara pertama LFA & APA 2017 kategori wartawan dan umum berhak membawa pulang 4 buah Astra Daihatsu Ayla Type M AT.
Berikut total hadiah LFA dan APA 2017:
Juara I: 4 Astra Daihatsu Ayla Type M AT
Juara II: 4 All New CBR 150R
Juara III: 4 Fujifilm XA10
Juara Harapan: 8 Samsung Gear 360 2017
Juara Favorit: 40 Xiaomi Redmi 4X
Kapan Pendaftaran ?
Mulai 23 Agustus 2017 sampai 31 Desember 2017. Informasi lebih detil, silakan mengunjungi www.satu-indonesia.com

Sabtu, 19 Agustus 2017

Yuk Wisata ke Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak Banten


dokumentasi pribadi

Bagi anda penggila novel, pasti sudah tidak asing dengan nama Eduard Douwes Dekker atau Multatuli.. Douwes Dekker yang lahir di Amsterdam tahun 1820, pernah menjadi Asistant Residen di Lebak Banten pada periode 1856 – 1856.
Meski memiliki kewarganegaraan Belanda, batinnya miris melihat fenomena kerja paksa kala itu. Hingga lahirlah tokoh Saidjah Adinda yang melegenda, dalam Novel berjudul Max Havellar yang terbit pada tahun 1860.
Novel yang dipasarkan kali pertama di Belgia, konon langsung mencetak best seller kala itu. Kisah masyarakat Lebak yang ada di dalam novel ini, ternyata juga menginspirasi perlawanan terhadap penjajah di kawasan Eropa.
Dalam rangkaian ‘Blogger on Vacation’ bersama Semen Merah Putih, Blogger diajak mengunjungi Perpustakaan Saidjah Adinda. Lokasi perpustakaan ini terbilang strategis, yaitu di Jl RM Hardiwinangun no 3 atau di kawasan alun alun timur Rangkasbitung.
Perjalanan blogger dari stasiun Rangkasbitung, butuh sekitar 30 menitan untuk sampai di perpustakaan Saidjah Adinda. Kalau naik angkutan umum juga bisa, silakan cari angkot warna merah bata bernomor 4 tujuan Ona. Pesan ke pengemudi  untuk diturunkan di alun alun, cukup membayar empat ribu rupiah saja.(hasil nanya mbah google nih)
Mengapa “Blogger on Vacation” kok ke Perpustakaan?
Sejalan dengan Pilar Pendidikan dalam program CSR Semen Merah Putih, erat kaitannya dengan dengan program ayo gemar membaca.
Semen Merah Putih melakukan upaya nyata, berupa pemberian donasi papan informasi  (majalah dinding) untuk media informasi dan kreatifitas masyarakat di Desa Kaserangan Serang Banten. Gerakan membaca bersama, juga diwujudkan dengan donasi buku bacaan yang didistribusikan ke seluruh sekolah di Kabupaten Serang Banten.
Pilar pendidikan pada CSR Semen Merah putih lainnya,  berupa program pemberian beasiswa dan peningkatan kompetensi masyarakat.
Perpustakaan Saidjah Adinda di Lebak, sangat berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi. Bentuk bangunan yang dipilih juga sangat unik, mengadopsi bangunan khas suku baduy yaitu Leuit.
Apa itu Leuit ?
Leuit atau lumbung padi masyarakat suku Badui, berfungsi untuk menyimpan hasil panen dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Konon leuit bukan sekedar bentuk bangunan saja, tapi lebih pada sistem atau management pengelolaan bahan pangan atau beras. Dengan penerapan sistem leuit, terbukti suku Baduy tidak pernah kekurangan beras sepanjang tahun.
Material yang dipilih untuk Perpustakaan Saidjah Adinda didominasi bambu, sesuai dengan nama Rangkasbitung, Rangkas artinya patah dan bitung artinya bambu.
dokumentasi pribadi

Suasana Perpustakaan- dokpri

Perpustakaan yang selesai dibangun pada awal Desember 2016, posisinya berdampingan dengan Museum Multatuli. Khusus bangunan Museum Multatuli, adalah bangunan yang dipertahankan keasliannya sejak bupati kedua Lebak. Bagaimanapun juga tak bisa dipungkiri, nama penulis buku Multatuli yang mendunia tidak bisa dilepaskan dengan Lebak.
Siapa sangka kedua bangunan ini telah menjadi ikon baru, banyak anak muda datang untuk selfie dan upload ke medsos. Terlebih pada malam hari, dua bangunan bertambah indah karena dilengkapi lampu hias aneka warna.
Drs. Ali Rahmat, M.M -dokpri
Drs. Ali Rahmat, M.M. Selaku Kabid Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lebak, pada saat temu blogger menyampaikan “Perpustakaan Saidjah Adinda, telah dimodernisasi dengan sistem pelayanan digital.  Saat ini sudah memiliki 20 ribu judul buku, dengan jumlah buku sekitar 30 – 40 ribu eksemplar dan akan terus ditambah judul dan jumlahnya. Meskipun belum genap satu tahun berdiri, perpustakaan ini sudah didatangi 14 ribu pengunjung yang 70% diantaranya adalah anak dan remaja.
Menurut saya nih, pernyataan Pak Kabid sekaligus mematahkan stigma bahwa budaya membaca generasi muda dibilang rendah.
Perpustakaan Saidjah Adinda memiliki jam operasinonal 08 – 15 WIB, kalau hari minggu dengan mobil perpustakaan keliling buka di kawasan Car Free Day.
Pada bulan Desember, Dinas Perpustakaan akan mengadakan bedah buku Max Havellar dengan tujuan untuk lebih memperkenalkan sejarah,” tambah Drs. Ali Rahmat, MM.
Tak sekedar perpustakaan saja lho, pada lantai dasar dilengkapi mini studio. Blogger sempat diajak masuk studio, menyaksikan pemutaran film berjudul Max Havellar. Film yang diproduksi tahun 1976 dengan memasang beberapa nama bintang Indonesia, dulu sempat dilarang diputar pada masa orde baru—wah jadi makin penasaran.
di depan Museum Multatuli -dokpri
Karena keterbatasan waktu dan musti melanjutkan perjalanan, blogger tidak bisa menyaksikan film Max Havellar sampai habis. Ingin pada lain kesempatan datang lagi, khusus untuk menyaksikan film Max Havellar.
Nah kalau anda juga penasaran, yuk berkunjung ke Lebak jangan lupa mampir ke Perpustakaan Saidjah Adinda. –salam-

Kamis, 17 Agustus 2017

Batik Lebak dan Keripik Pisang Bayah Menggeliat Bersama Semen Merah Putih



Maket Semen Merah Putih -dokumentasi pribadi

Rasa penasaran itu sontak menyeruak, ketika melihat dan memegang sendiri batik khas Lebak. Batik dengan warna dasar gelap bermotif pantai Sawarna, pantai di daerah Bayah Banten tak kalah indah dengan pantai lain di bumi pertiwi. 
Saya juga sempat mencicipi keripik pisang camilan khas Bayah, hasil olahan penduduk di daerah sekitar Pabrik Semen Merah Putih (selanjutnya SMP) berdiri. Irisan pisang yang tipis dan halus, digoreng garing menghadirkan ‘kriuk’ saat digigit.
Batik Lebak dan keripik pisang khas Bayah, dua nama yang mendadak tersimpan di benak. Kedua produk rumahan dengan kemasan menarik, saya jumpai pada acara buka puasa bersama SMP pada bulan Ramadhan lalu.
Tampak sticker gambar Badak bercula satu, binatang langka yang ada di daerah ujung kulon Banten. Simbol badak sengaja disertakan, sebagai representasi keberadaan pabrik SMP di daerah Banten.
Pengharapan itu akhirnya terjawab, bersama 4 blogger tergabung dalam acara “Blogger on Vacation” yang diselenggarakan PT. Cemindo Gemilang yang memproduksi SMP. Program ini merupakan program community development Semen Merah Putih bersama Blogger, untuk mempromosikan potensi pariwisata, ekonomi kreatif dan budaya Indonesia khususnya di area sekitar pabrik PT. Cemindo Gemilang.
Kami berangkat menggunakan Commuter Line (CL), mengambil rute stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung. Perjalanan dimulai jam 8 pagi, kondisi CL sangat lengang tersebab jalur diambil bukan jalur padat.
Tiket dibayar relatif murah, hanya tujuh ribu rupiah saja untuk perjalanan menuju Rangkas Bitung. Betapa murahnya kawan’s, kalau bawa kendaraan sendiri satu liter premium tidak cukup. Fasilitas pendingin ruangan di dalam CL, membuat perjalanan selama dua jam dilalui dengan nyaman.
Tujuan pertama perjalanan kami yaitu Perpustakaan Saidjah Adinda, nama ini diambil dari tokoh yang ada di novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker atau Multatuli – akan saya tulis di artikel lain.
Ketika matahari mulai turun, Bloggers menuju pusat produksi kerajinan batik Canting Perdana. “Yes, Ini yang saya tunggu-tunggu ” batin ini bersorak
Sebagai orang berdarah Jawa, sejak kecil kain dan motif batik sudah tidak asing. Meski bukan ahlinya, saya cukup familiar dengan motif kawung, Sidomukti, Parang kusumo dan motif khas lainnya.
Batik Solo dan Joga yang saya kenal sejak lama, lazimnya memakai warna dasar cokelat. Motif khas dengan warna cokelat terasa menyatu, mematrikan simbol budaya adiluhung yang elegan dan bercita rasa tinggi.
Prespektif itu kini meluas, ketika dua kaki melangkah di workshop “Batik Canting Perdana” di daerah Lebak Banten. Batik bisa dikreasikan dengan aneka warna, mulai dari putih, biru, hitam, pink, hijau atau warna lain sesuai keinginan konsumen.
Ibu Uumsaroh, sebagai owner dan founder batik Canting Perdana berkisah, “Canting Perdana berdiri pada awal 2016, saya belajar secara otodidak dari melihat orang membatik dan praktek.”
Batik Canting Perdana -dokpri
Meskipun belum genap dua tahun berdiri, Chanting Perdana berani menawarkan dua belas motif bagi konsumen. Yaitu motif Pare Sapocong, Leuit Sajimat, Lebak Bertauhid, Sadulur, Sawarna, Kahirupan Baduy, Rangkas Bitung, Gula Sakojor, Saruluk Saruntui, Saren Tauh, Kalimaya dan Angklung Buhun.
-rasanya perlu waktu khusus untuk membedah satu persatu, apa filosofi yang ada di balik setiap motif batik Banten -
Menilik goresan motif dan pemilihan nama, terkandung maksud dan tujuan untuk mengangkat kearifan lokal. Upaya Pemda Lebak mengangkat batik sangat nyata, pada hari kamis pegawai di lingkungan pemda wajib berseragam batik Saruluk Saruntui.
Ibu Uum panggilan akrab empunya kerajinan batik, saat ini mempekerjakan 4 orang karyawan. Dengan produksi antara 30 – 100 lembar kain perhari, kalau sedang ramai bisa lebih banyak lagi.
Siapa sangka, batik produksi bu Uum telah menembus pasar mancanegara. “Sekarang sedang ada pameran di Moskow, setelah beberapa bulan lalu batiknya dibawa ke Vietnam. Batik Chanting Perdana bisa ikut pameran di luar negeri, difasilitasi team promosi dari Dinas Pariwisara Banten,” Jelas bu Uum dengan logat sunda yang kental.
Selembar batik ukuran 2,20 meter dibandrol harga 150 ribu, semakin banyak kuantitas harganya bisa kurang.
SMP menjadi pemesan setia batik Banten, biasanya dijadikan souvenir atau goody bag untuk tamu. Beruntung saya sudah menyimpan satu lembar Batik Lebak, saya dapat pada acara Buka Puasa bersama SMP.
Pesanan SMP juga unik, yaitu memasukan motif kepala badak dikolaborasi dengan motif lokal seperti leuit atau pantai Sarwana,” tambah ibu Uum.
Perjalanan belum selesai, pada hari berikutnya Blogger mengunjungi keripik pisang Jago Rasa.
-0o0-
Keripik Jago Rasa berdiri tahun 1980, dengan varian keripik pisang kepok dan pisang nangka, pisang ambon untuk bahan sale dan ada keripik singkong.
Air muka perempuan sepuh ini tampak bahagia, melihat kedatangan team SMP dan Blogger ke rumahnya. Ibu Amanah nama pemilik usaha rumahan ini, telah mengalami pasang surut dalam usaha keripik pisang.
Keripik Jago rasa -dokpri
Bersama almarhum suami, usahanya sempat berjaya sampai memiliki mobil pick up. Jaringan distribusi sampai luar kota, Cirebon, Serang bahkan Jakarta. Masa jaya itu kini telah berlalu, setelah sang suami berpulang usahanya sempat kena tipu.
Dulu mah kalau kirim ke Cirebon bisa sampai tiga pick up, apalagi kalau mau lebaran pesanan tambah ramai ” mata ibu Amanah menerawang
Sekarang dengan dibantu lima tenaga lepas, rata rata tiga ton keripik pisang bisa dijual dalam satu bulan. Sistem penjualan yaitu jual putus, sedang untuk toko dekat rumah dan sudah kenal dengan cara titip barang dan dibayar barang setelah laku.
resiko sistem titip, biasanya barang akan dikembalikan kalau tidak laku ” nada getir jelas terdengar.
Keripik jago rasa bisa bertahan sampai satu bulan, karena semua proses pembuatan dilakukan secara manual. Mula mula pisang dikupas kemudian diserut, setelah itu direndam sekalian untuk proses pencucian dan langsung digoreng.
Sedang proses untuk sale pisang, setelah direndam harus melewati proses dijemur. Sementara untuk kripik singkong, tahapannya tidak jauh beda dengan keripik pisang.
Semen Merah Putih pesan secara rutin, bisa sebulan sekali kalau ada acara bisa lebih sering. Kalau saya suka bilang, sebaiknya pesan sehari sebelum diambil, agar rasa keripik lebih enak” jelas ibu Amanah.
-0o0-
Mencermati wajah dua perempuan pemilik usaha rumahan, keduanya menampakkan air muka yang sama. Ketika menyebut nama Semen Merah Putih, seolah membersit harapan besar untuk dibantu usahanya.
Semen Merah Putih telah mengulurkan tangannya, buktinya saya sendiri sudah kenal batik Lebak dan Keripik pisang Bayah.
Hal serupa juga saya tangkap, ketika mengunjungi puskesmas, perpustakaan Saidjah Adinda, museum Multatuli pun ketika di pantai Sarwana.
Pantai di sekitar Pabrik SMP -dokpri
O’ya, ada cerita nyata nih !
Ketika sedang dibonceng ojek, pada perjalanan menuju pantai pasir putih. Motor kami menyusuri jalan setapak, jalan terjal bersemen membelah perkebunan. Tukang ojek yang gemar cerita, tampak berusaha akrab dengan pelanggannya.
Dulu jalanan ini masih tanah pak, kalau hujan licin saya takut lewat sini. Setelah ada Semen Merah Putih jalanan disemen, jadi bisa bawa penumpang kapanpun” abang ojek membuka cerita.
Setelah abang ojek ini tahu saya blogger, intonasi suaranya berubah riang. Menurutnya, media membuat pantai di daerahnya dikenal banyak orang. Setelah masuk dalam acara televisi swasta, setiap akhir pekan ada saja pengunjung dari luar kota datang ke pantai.
-0o0-
Pak SIgit Indrayana saat acara bukber- dokumentasi pribadi
 Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”, SMP hadir dan berbaur di tengah masyarakat Lebak Banten” saya ingat betul dengan kalimat ini. Kalimat yang pernah diucapkan Pak Sigit Indrayana, selaku Senior Corporate CSR dan Public Relation Semen Merah Putih, dalam acara Buka Puasa Bersama bulan lalu.
Sungguh, pernyataan itu bukan sekedar isapan jempol. Saya telah menyaksikan sendiri, wajah bu Uum, Bu Amanah, tukang ojek dan wajah lain yang bersahaja dan tulus. Mereka telah merasakan manfaat secara langsung, dengan kehadiran Semen Merah Putih di daerahnya.
Semoga dengan penerimaan masyarakat sekitar, SMP bisa bertumbuh bersama masyarakat Bayah Banten. – amin.

Kamis, 03 Agustus 2017

Program Kampung Terang Hemat Energi dari Philips Lighting untuk Desa Terpencil Seluruh Indonesia

dokumentasi pribadi


Saya masih ingat pada awal tahun 2000, untuk sebuah keperluan saya musti pergi ke daerah ujung barat pulau Jawa. Saat itu sekitar jam lima sore, kendaraan melintas di kampung sekitar hutan yang mulai gelap. Kami lima orang dalam satu mobil gelisah, kenapa tidak satu rumahpun terlihat menyalakan lampu penerangan di depan rumah.
Ketika tiba waktu maghrib kami berhenti, menunaikan sholat maghrib berjamaah di sebuah musholla. Hanya lampu minyak menyala, sehingga suasana gelap begitu mendominasi.
Dari seorang warga terbetik sebuah informasi, bahwa listrik belum menjangkau kampung mereka.  Otomatis gelap begitu menguasai malam hari, warga mengandalkan penerangan dari lampu minyak tanah.
Kini daerah yang pernah saya lewati puluhan tahun silam, sudah mulai terang di malam hari. Cahaya listrik telah menyinari daerah dekat hutan, warga tidak kesulitan beraktivitas ketika matahari tenggelam. 
Bagaimana dengan daerah lain di Indonesia ?
Philpis Lighting melalui program CSR, akan menerangi kurang lebih 25 desa di Sumatera Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku. Saudara sebangsa akan segera menikmat manfaat pencahayaan, untuk mendukung aktivitas mereka setelah matahari tenggelam.
Sebagai pemimpin global di bidang pencahayaan, Philips Lighting akan memperluas instalasi pencahayaan LED tenaga surya. Kurang lebih 25 desa yang belum dialiri listrik di seluruh Indonesia, akan tersentuh program “Kampung Terang Hemat Energi (KTHE)”
Program KTHE sendiri sudah dimulai tahun 2015, saat itu sembilan desa tersebar di tiga kabupaten di Sulawesi Selatan merasakan manfaat program ini.
Program “Kampung Terang Hemat Energi”, menyediakan penerangan untuk rumah dan fasilitas umum seperti Puskesmas, sekolah dan jalan umum di beberapa desa di wilayah Sumatera Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku.
Akan ada 2.886 titik lampu baru, artinya hampir sepuluh kali lebih banyak dari jumlah titik lampu yang diciptakan semula di Sulawesi Selatan.
ountry Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar (tengah) didampingi Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong (kiri) dan Chief Strategy Officer Kopernik Tomohiro Hamakawa (kanan) berbincang sesaat sebelum prosesi penekanan tombol yang menandai peluncuran program CSR Kampung Terang Hemat Energi 2017-2018 Philips Lighting Indonesia.
Dalam acara Press Confrence peluncuran KTHE, Rami Hajjar selaku Country Leader Philips Lighting Indonesia, mengatakan,  Kami sangat senang dapat menolong lebih banyak lagi masyarakat dengan menjembatani kesenjangan pencahayaan antara kota dan wilayah pedesaan melalui  program ‘Kampung Terang Hemat Energi’. Pencahayaan akan membantu meningkatkan kehidupan masyarakat, memampukan kegiatan sehari-hari seperti belajar atau pekerjaan rumah tangga lainnya untuk dapat dilakukan bahkan setelah matahari terbenam. Puskesmas dapat beroperasi dengan layak dalam keadaan darurat di malam hari dan mobilitas masyarakat serta barang tidak lagi terbatas hanya pada siang hari. Di Philips Lighting Indonesia, kami menerapkan komitmen global perusahaan ini untuk menciptakan kehidupan yang lebih terang untuk dunia yang lebih baik; termasuk di dalamnya, kehidupan masyarakat di desa-desa terpencil di seluruh negeri.
Setiap desa terpilih akan mendapatkan paket pencahayaan LED tenaga surya Philips yang inovatif, yang terdiri atas:
(1) Solar Indoor Lighting System lengkap dengan panel surya,
(2) Philips LifeLight yang 10 kali lebih terang dari lampu minyak tanah,
(3) Solar LED Road Light untuk menerangi jalan-jalan di desa pada malam hari. Tahun ini, program akan diawali dengan menjangkau enam desa di Sumatera Utara.
Sejak tahun 2015, Philips Lighting bermitra dengan Kopernik sebuah LSM bergerak di bidang teknologi untuk memberdayakan penduduk di desa terpencil. Pada tahun yang sama, Philips Lighting secara global menyerukan ajakan untuk mengakhiri kemiskinan cahaya dalam rangka Tahun Cahaya Internasional PBB (UN’s International Year of Light – IYOL)
Program CSR Philips Lighting Indonesia"Kampung Terang Hemat Energi" periode 2017-2018, menyalakan Philips LifeLight, lampu LED berbasis tenaga surya salah satu produk yang akan diberikan kepada masyarakat di desa terpencil melalui program ini.

Daftar Blog Saya