Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2016

Menjadi Suami & Ayah adalah Amanah Luar Biasa

Masih ingat kasus cuitan Mario Teguh?
Kala itu beliau meng-twit secara bersambung (istilahnya kultwit), ada kalimat "Perempuan tidak baik untuk laki-laki tidak baik dan laki-laki baik untuk wanita baik pula". Akibat postingan tersebut, motivator ternama ini mendapat respon "panas" dari (tidak semua) netizen. Sempat diwawancara TV swasta, bertemu dengan seorang aktivis perempuan.
Prosesi Sakral Saat Ijab Kabul (dokumentasi pribadi)
Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi, saya (termasuk pro) mencoba berpikir positif dan mengambil hikmah. Betapa adil hukum semesta ini berlaku, apa yang dikerjakan manusia hasilnya kembali pada diri. (bukan tausiyah ya ini hehe)
-0o0-
Saya melihat almarhum ayah bukan perokok, kerap membaca koran saat akhir pekan. Nyaris bisa dihitung dengan jari, menampilkan wajah masam kepada ibu. Lima waktu tegak mendirikan sholat, saat maghrib ayah bertindak sebagai imam.
Apa yang saya lihat saat kecil, tertanam di alam bawah sadar kemudian mempengaruhi otak untuk mengambil kesimpulan.
Entahlah, pikiran ini terbentuk dengan situasi yang ada di rumah. Ketika berseragam abu-abu putih, saya tak tertarik nongkrong bersama geng kelas di pojok terminal. Melihat teman sebangku sedang merokok, saya memilih menghindar ke tempat lain. Saya  kerap berkumpul untuk latihan teater, atau aktif di kepengurusan dan kegiatan OSIS.
- kalau saya renungkan lebih dalam, setiap diri akan mencari lingkungan yang serupa dengan pikirannya. Prosesor otak akan menolak baik cepat atau lambat, ketika tak sesuai dengan dominasi yang ada dipikirannya -

Sejak akhir usia belasan, langkah kaki ini menjauh meninggalkan kampung halaman. Seperti anak sebaya lainnya, saya merantau ke kota besar menempuh jalan hidup sendiri. Pondasi sikap dan pemikiran yang tertanam dirumah, berperan membentuk karakter di perantauan.
Nyaris semua kegiatan yang saya pilih, tak jauh dengan yang pernah dilakukan semasa SMA. Lebih sering nongol di acara Dewan Kesenian, ikut-ikutan nyempil dalam acara-acara diskusi. Akhirnya wajah kaum cendekia yang kerap nongol di televisi, bisa disaksikan sekaligus berdiskusi secara langsung.
Pun dalam hal memilih pasangan hidup, lazimnya akan ketemu dengan yang nyambung pikirannya. Pernah saya simak petuah ustad ternama, waktu itu masih bujangan alias belum menikah
"kalau mencari emas carilah ditempatnya, artinya kalau mau mencari pasangan baik biasanya ada di tempat yang baik pula"
Merujuk  Quran surah An Nur ; 26 (saya cuplik kaitan dengan artikel ini)
"wanita- wanita yang iidak baik untuk  laki-laki tidak baik, (dan sebaliknya) . Wanita yang baik untuk lelaki baik (dan sebaliknya)" -rupanya ini yang jadi kultwit Mario Teguh-
Saya memasang logika sangat sederhana, untuk menyimpulkan ayat Al Quran ini. Kalau kita berupaya sebagai pribadi baik, otomatis lingkungan dan teman pergaulan yang dipilih sebagian besar pasti yang baik.
Pun kalau kita menyediakan diri menjadi pribadi kurang banyak memperbaiki diri, biasanya pergaulan yang dipilih tak jauh beda.
Peran Sebagai Suami dan ayah
Pernikahan adalah sunnah nabi, sebagai muslim sungguh saya meyakini perintah ini. Ketika mengikuti sunnah sang junjungan, niscaya kemanfaatanlah yang akan didapati. Menikah sebagai cara menyempurnakan ibadah, saya dapati jawaban setelah menjalani. Tak dipungkiri manusia memiliki kebutuhan biologis, pernikahan adalah jalan untuk menghalalkan.
Suami perhatian saat isti sedang hamil (dokpri)
Sebagai suami, tugas membimbing istri adalah sebuah amanah yang tidak ringan. Memang bukan perkara enteng, kalau dibarengi belajar pasti menemukan pencerahan. Istri bukan bawahan suami, posisinya sejajar menjadi partner membangun rumah tangga.
Saya tak segan terlibat dalam pekerjaan di rumah, membantu mencuci baju, piring dan gelas. Pada sisi lain tetap sigap, naik ke atap ketika ada genting bocor. Kalau istri sedang repot,  saya mengambil alih tugas menyuapi atau memandikan anak.
Atas alasan ketidaktahuan, sebagai dasar saya tak henti belajar. Hingga suatu saat menemukan sebuah hadist, begitu menghunjam dan pantas dijadikan pegangan.
" Kaum mukmin yang paling sempurna keimanannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kalian ialah yang terbaik kepada istrinya (HR. At- Tirmidzi)"
Sebagai manusia biasa, saya tidak bisa menjamin bahwa saya sudah menjadi baik. Namun dengan berusaha bersikap terbaik, sebagai bukti mempersembahkan sampai batas yang bisa dilakukan. Rangkaian perlakuan suami pada istri, ternyata ujungnya akan bersambung pada cara ayah berlaku pada anak.
Saat kuliah pernah saya masyuk dalam acara Emha Ainun Nadjib
"sifat anak-anak kalian kelak, sebenarnya bisa anda design dari sekarang(saat itu saya umur 21-an)" tegas sang budayawan "kalau dari sekarang pergaulan yang kalian pilih adalah baik, niscaya bertemu  calon istri yang baik. Kelak yang kalian terapkan, saat berkeluarga dan punya keturunan kelak kebiasaan baik pula".
Saya manggut-manggut menyerap kalimat Cak Nun dalam-dalam.
Suami atau istri baik memang tidak datang sendiri, tetapi kalau mau belajar tentu ada strategi. Kalau mau mendekatkan pada potensi kebaikan, bukan hal mustahil kebaikan akan menghampiri.
-o0o-

Kini setelah menikah saya bersyukur, istri tak beda jauh pemikirannya dengan saya. Saling mengingatkan satu sama lain, cukup sama melihat permasalahan dan mengambil keputusan.
Anak adalah buah cinta, kehadirannya adalah karunia tak terkira.
Selama masih dalam masa pengasuhan, pengaruh ayah dan bunda pada anak begitu kuatnya. Saya membuka diri untuk terus belajar, karena semua yang dihadapi sejatinya ada ilmunya.
Buah Hati sebagai penyempurna bahagia (dokpri)
Sejauh yang saya baca dan ketahui, faktor kedekatan orang tua dengan anak sangat penting. Hanya dengan kedekatan melahirkan kenyamanan, anak tak segan mengungkapkan perasaannya. Saya ayah yang ingin bisa berbagi cerita, sekaligus memberi saran dan masukan. Kalau ada kesempatan kapan saja, sering saya pancing anak dengan obrolan. Baik tentang teman di sekolah, tentang guru, atau topik lain yang sedang hangat.
Kemudian berusaha menjelaskan selogis mungkin, sembari menyelipkan pesan yang diyakini akan membekas di benak. Waktu itu sulung bercerita kekesalan, pada seorang teman di kelas. Karena ulah satu teman, jagoan kecil saya kena marah gurunya.
"Kakak, tidak semua yang tidak baik musti dibalas dengan tidak baik. Dulu Rasulullah dihina dan dilempari kotoran oleh kaum kafir, malah beliau balas dengan doa" pesan saya kala itu.
Saya selalu semangat, mencari rujukan atau buku tentang kisah manusia pilihan. Karena rasa yakin, apa yang dialami manusia masa kini tak lebih pengulangan kisah lampau. Nah para nabi, selalu memberi contoh atas sikap yang benar dalam mengarungi masalahnya.
Seperti ujian kesabaran dengan sakit yang menahun, terdapat pada kisah nabi Ayyub. Manusia kaya raya namun tetap rendah hati, tersemat dalam kehidupan Raja sekaligus Nabi Sulaiman. Kisah masa lalu terulang masa kini yaitu LGBT, pernah terjadi pasa masa nabi Luth. Hingga Nabi pamungkas sarat hikmah, manusia sempurna Rasulullah SAW.
Termasuk satu nama bukan seorang nabi, namun termaktub dalam surat di Quran yaitu Lukman Hakim. Beliau banyak berpesan pada anaknya, satu yang sangat mendalam hingga kini.
"wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah ditipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya). Lebih celaka daripada tiga perkara itu ialah orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya".
Penanaman karakter pada anak, idealnya beriring kesadaran ayah menimba pengetahuan pengasuhan. Anak-anak yang tumbuh dengan melihat keteladanan yang baik, kelak akan menjadikan dirinya baik pula. Anak-anak ibarat kertas putih, terserah orang tua menulis apa diatasnya.  
Tugas saya sebagai suami dan ayah masihlah panjang, peran ini harus didukung istri dan anak-anak. Tanpa kehadiran dan masukan dari mereka, tak bisa saya menjalankan sekaligus koreksi terhadap fungsi peran tersebut.
Menjadi ayah dan suami, ibarat menjadi khalifah di muka bumi. Bahagialah para suami, bahagialah para ayah. Kalian dipercaya pemilik kehidupan, mengemban amanah yang luar biasa. (salam)

Rabu, 12 Agustus 2015

Anak Butuh Keteladanan [Sebuah Catatan Anak Bangsa]



ilustrasi dokumen pribadi
Saya sangat sepakat dengan peribahasa, air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Peribahasa yang sudah saya hapal di bangku SD, tak jauh beda dengan pepatah "Buah Jatuh tidak jauh dari pohonnya". Anak-anak adalah cerminan dari orang tuanya, karena sekolah paling awal ada pada ibu dan ayahnya. Dari rumahlah anak-anak dibentuk (atau terbentuk) karakternya, yang akan dibawa menyongsong kehidupan di dunia luar yang luas.
Saya belajar dari pengalaman masa lalu, mendapat asupan kasih sayang yang cukup. Meski secara materi pas-pasan, tapi kedua orang tua cukup waktu memberi perhatian. Kehidupan desa yang relatif rendah mobilitas, membuat ayah atau ibu ada saat kami membutuhkan. Sikap ayah yang bersahaja karena kondisi ekonomi, ditopang ibu yang cukup hemat dalam berbelanja. Pendek kata serupiah yang keluar dari kantong, musti sangat diperhitungkan kemanfaatannya. Semua keadaan masa lalu tersimpulkan dengan cara saya sendiri, otomatis membentuk karakter ketika dewasa dan merantau kelak.
Anak dan Keteladanan
Anak butuh figur yang sadar atau tidak akan dijadikan acuan, kemudian mereka akan menyontoh perilaku sang figur. Maka ruang ini semestinya diisi oleh orang tua, karena ibu atau ayah (semestinya) kerap ditemui dalam keseharian. Pada ayah dan ibulah serba memungkinkan,  anak-anak akan berbagi kisah dan kesah. Pada orang tua pula mereka akan mengajak berbicara, mencurahkan perasaan sekaligus meminta pertimbangan.
Ibu Elly Risman Musa seorang praktisi dunia parenting, mengungkapkan bahwa anak-anak adalah peniru ulung. Terutama pada anak usia Balita, menjadikan ayah dan ibu sosok yang dicontoh tindak-tanduknya. Pada situasi ini saya memosisikan sebagai pembelajar, berupaya semaksimal mungkin menjadi teladan yang baik. Sebagai keluarga muslim kami berusaha konsisten, mendirikan sholat lima waktu secara baik. Membiasakan membaca kitab suci setiap hari, berharap anak-anak melihat kemudian mencontoh. Konon nasehat terbaik bukanlah dengan ucapan semata, tapi justru lebih efektif dengan tindakan. Alhamdulillah anak yang kelas empat, menjaga sholatnya bahkan mengajinya sudah al qur'an. Sementara adiknya masih TK A, sudah mulai berlatih membaca Juz Ama.  
-0-o-0- 
Perihal keteladanan saya jadi ingat sebuah buku, "Menjadi Ayah Bintang" karya Neno Warisman. Pada sub judul "Ayah Sejati" terdapat penggalan kisah apik, sangat menginspirasi semangat dan jiwa keayahan saya.
Memetik kisah menggetarkan dalam buku tersebut saya berkesimpulan, seorang anak hebat niscaya lahir dan tumbuh dari ayah dan ibu hebat. Karena pada orang tua yang berperilaku baik akan "tertularkan",  sekaligus menjadi panutan anak-anak dalam menentukan sikap. Keteladanan menjadi kata kunci tidak bisa ditawar, tanpa memandang harta, jabatan dan semua kepemilikan. Siapapun orang-tua dengan profesi apapun, dengan kondisi sosial ekonomi yang bagaimanapun, bukan halangan untuk memberi keteladanan baik pada anak-anak.
ilustrasi dokumen pribadi
 Anak-anak dalam Permasalahan
Sebagai orang tua perasaan saya cukup miris, melihat anak-anak di lingkungan sekitar rumah.  Merasakan dan mendengarnya secara langsung, memberi kesimpulan mereka minim keteladanan. Sungguh saya merasakan pedih di hati, ketika mendengar anak belum genap sepuluh tahun berucap tak pantas. Pernah saat dengan roda dua melintasi sekumpulan anak, terdengar kata (maaf) "Bego" "Songong" "Goblok" "Payah luh" dan kata tak pantas lainnya. kejadian nyata juga pernah saya jumpai saat mengantar anak sekolah, seorang ibu mengumpat dengan kata tak semestinya pada anaknya.
(Maaf) "Dasar otak luh Bego" si ibu ekspresi wajahnya tidak bersahabat.
Sejauh pengetahuan dan keyakinan yang saya yakini, dalam ilmu agama ucapan orang tua laksana doa. Maka orang tua musti banyak belajar, agar tak sembarang berucap menghadapi buah hati.
Pada bilik-bilik kecil di warnet pernah mejumpai, beberapa anak berseragam merah putih sebagian lagi biru putih. Karena saya berada persis di bilik bersebelahan, mendengar obrolan dan celoteh mereka. Saya berkesimpulan mereka mengakses youtube, dan menyaksikan tayangan tidak sesuai usaianya. Situs-situs dewasa tak segan beramai-ramai ditelusuri, sambil cekikikan mereka mellihat gambar tanpa pakaian. Celetukan terdengar mengomentari yang dilihat, tentu dengan kalimat jorok dan tidak pantas. Sementara pada anak-anak usia awal belasan, terlihat mulai menghisap rokok di tempat umum.
Saya sepakat perkembangan tekhnologi tak bisa dihindarkan, masalahnya adalah bagaimana agar tekhnologi menjadi bermanfaat. Satu satunya jalan adalah memakai untuk hal positif, yang mendukung untuk perkembangan pribadi lebih baik.  Pertanyaannya dari mana anak-anak mendapat masukan, tak lain dari orang tua di rumah. 
Sering saya menjumpai pasangan muda mudi, menilik tampilannya dari keluarga berkecukupan. Berdua remaja pria dan perempuan mojok di cafe, tanpa canggung memanggil dengan sebutan "Yang" bersentuhan fisik. Sambil tertawa tak henti bercerita, tangan saling merangkul dan sebagainya. Pada hari libur kisah mirip terjadi di taman, dari wajahnya saya taksir umur belasan. Perilakunya seperti sejoli sedang kasmaran, si pria tak segan mengelus pipi pasangannya.
Kalau mau merunut kejadian serupa masih banyak lagi, membuat saya sebagai orang tua tambah prihatin. Kalau kebetulan kenal biasanya saya tegur dengan halus, tapi tak yakin apakah mereka akan berubah.  Keadaan yang terjadi pasti tidak tiba-tiba, ada benang merah panjang dibelakangnya. Tiba-tiba saya jadi berkesimpulan sendiri, perihal keteladaan orang tua di rumah.  Sebuah cuplikan puisi pernah saya dengar dalam sebuah acara, rasanya relevan dengan keadaan.
Di rumahmu ada pintu dan jendela,
Kau berusaha selalu menutupnya
Agar angin dan badai tak menerpa
Agar buah hati tak disentuhnya

Namun anak-anak akan tiba masa
Menempuh onak kehidupan
Melintasi badai masing-masing
Tumbuh menjadi pribadi mandiri
Situasai di dunia luar rumah sangat tidak terprediksi, maka membangun pondasi mental menjadi cara manjur mempersiapkan anak-anak.  Ketika tiba saat anak-anak lepas dari orang tua,  mereka siap menempuh perjalanan kehidupannya sendiri.
dokumen pribadi

dokumen pribadi

Mengatasi Masalah Anak
Saya pribadi biasanya berbagi pada teman, yang memiliki anak seusia anak saya. Ngobrol tentang cara menangani masalah anak, juga urun saran kalau terjadi masalah keseharian. Kalau ada seminar parenting tak segan datang, ilmu yang didapati tak enggan dibagikan. Meluangkan waktu khusus bersama anak, termasuk menemani jika mereka ingin ke warnet seperti temannya.
Namun tidak semua orang tua bersikap sama, ada yang abai tak mau tahu dan seenaknya. Bisa saja jumlahnya mereka lebih banyak, dibandingkan orang tua yang perhatian. Mungkin upaya saya ibarat setetes air di tengah sahara, mungkin saja efeknya tidak terlalu signifikan.  Namun setidaknya saya memulai yang saya bisa, minimal merubah sikap dari diri sendiri. Merujuk ulasan yang saya paparkan pada artikel ini, saya justru ingin focus pada orang tuanya.
Saya kira cukup menjadikan anak sebagai focus permasalahan, tanpa melihat sekian aspek yang berdiri dibelakangnya. Andai saja ada pihak yang mau merepotkan diri, melakukan kelas parenting dari lingkungan terkecil yaitu RT. Setiap bulan biasanya akan ada arisan untuk ibu-ibu, atau kegiatan kerjabakti bagi bapak bapak. Atau melaui majelis taklim di masjid terdekat, diselipkan pembahasan dengan tema pengasuhan dikaitkan agama. Misalnya saja tenaga sukarelawan parenting dihadirkan, meluangkan satu jam saja dalam kegiatan rutin tersebut. Siapa tahu upaya mulia ini bagai cahaya, dalam gelap pengetahuan dunia pengasuhan. Menurut saya sungguh tak adil terus menuntut sang anak, tanpa meminta orang tua memberi keteladanan. 
Coba kawan's mari kita bandingkan, antara dua strategi ini mana yang mujarab.
Cara pertama ;
"ayo nak segera tidur besok kamu musti bangun pagi" ujar ayah suatu malam.
Keesokan hari si anak benar bangun pagi, sementara ayahnya masih mendengkur. Kok saya gak yakin malam berikutnya si anak akan menurut, ketika dinasehati tidur cepat agar bangun pagi.
Cara kedua ;
Ayah membangunkan anaknya yang masih tidur, ketika pagi mulai menjelang datang. Sang anak pasti lebih termotivasi bangun, melihat ayahnya lebih dulu menyongsong fajar.
Pada cara kedua terdapat keteladanan, tanpa ajakan yang diabaikan sendiri oleh ayah.
Pada ujung artikel ini ingin saya cuplikkan, sebuah puisi abadi tentang anak dari kahlil Gibran.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian
Dia merentangkanmu dengan kekuasaan-NYA
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNYA busur yang mantap

Menjadi orang tua ibarat sebuah proses pembelajaran panjang, akan menuai hasil kelak ketika tiba masanya. Betapa anak panah (anak-anak) yang melesat jauh serta cepat, berasal dari busur (orang tua) yang kuat dan mantap. (salam)

Daftar Blog Saya